
Sebotol bir dingin Meksiko nyaris selalu menjadi kawan setia di meja makan saat malam taco tiba, meski sebenarnya kita sedang melewatkan sebuah perjodohan rasa yang luar biasa gemilang. Padahal, wine yang dipilih dengan cermat tidak mengenal batas wilayah asal, dan kerumitan rasa yang membuat sebotol wine begitu menawan di samping sepotong steak berair ternyata mampu menciptakan keajaiban mutlak saat bertemu dengan taco daging sapi kesayangan kita, membuka gerbang dunia rasa yang sama sekali baru untuk makan malam akhir pekan.
Untuk menavigasi kelezatan paduan ini, Chef Geno Bahena dari restoran Manchamanteles di Chicago membagikan rahasia emas yang terletak pada sausnya terlebih dahulu. Makanan klasik Meksiko selalu berakar dari saus racikan mereka, dan karena cabai biasanya menjadi bintang utamanya, kita bisa menjadikan warna sebagai panduan paling mudah dengan memadukan wine putih untuk cabai hijau dan wine merah untuk cabai merah yang semarak.
Urusan tingkat keasaman dan rasa pedas juga memegang peran kunci ketika kita sedang merangkai piring taco terbaik, di mana Bahena menyarankan agar keasaman wine sejajar dengan sentuhan jeruk nipis, jeruk purut, atau cuka buah dalam saus tradisional. Pilihan seperti albariño atau sauvignon blanc yang segar dan tinggi asam, bersanding manis dengan pinot noir merah, terbukti sangat lihai menyeimbangkan hidangan berlemak kaya sambil tetap menjaga kesegaran gigitan yang lebih ringan.
Melangkah ke jenis buah anggur tertentu, tempranillo yang menjadi andalan Spanyol muncul sebagai rekomendasi utama untuk menyambut tacos al carbón dengan daging carne asada yang mengepulkan aroma bakaran. Karakter tempranillo punya struktur yang pas untuk merangkul daging sapi, sementara nuansa tanah dan buahnya dengan manis menyapa aroma arang, cabai panggang, bawang bombay, serta kehangatan tortilla jagung, tanpa terjebak pada ketegasan tannin berlebih seperti cabernet yang justru kerap bertarung melawan saus.
Bagi para pecinta daging babi, grenache dan rosé siap menghadirkan dimensi rasa yang sama sekali berbeda di atas meja makan kita. Grenache bertindak sebagai kawan serba bisa berkat semburat buah merah cerah yang dengan mudah memotong gurihnya lemak babi, sementara segelas rosé yang renyah menyumbang nada ringan yang selaras dengan kesegaran jeruk, salsa verde, serta daun ketumbar. Bukankah sangat menyenangkan ketika zinfandel yang kaya buah bisa meredam sengatan cabai paling pedas tanpa rasa manisnya mendominasi makanan, memberi kita alasan manis untuk menuang segelas lagi dan bereksperimen di jamuan makan berikutnya?
sumber: tastingtable.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Tasting Table
0 comments:
Post a Comment