Manis Gurih Permen Cokelat Klasik Oklahoma

Aroma mentega yang meleleh pelan selalu berhasil menarik kita merapat ke sudut dapur, tempat guntingan resep lama tersimpan rapi di antara halaman buku catatan yang mulai menguning. Saat udara mulai terasa dingin di luar sana, orang-orang di Oklahoma punya cara tersendiri untuk menyambutnya, yaitu dengan sepiring manisan kaya rasa yang sudah lama jadi legenda bernama Aunt Bill's Brown Candy. Kue manis bertekstur lembut mirip permen praline ini ternyata sudah memikat hati banyak orang sejak pertama kali muncul di surat kabar lokal pada tahun 1936, membawa serta sejarah panjang yang begitu hangat untuk disimak.

Melihat cara pembuatannya yang diracik oleh penulis resep Ksenia Prints untuk Tasting Table, kita diajak bernostalgia lewat bahan-bahan sederhana yang biasa kita temukan di lemari dapur. Semuanya bermula dari krim kental serta paduan dua jenis kacang yang siap memberikan tekstur renyah di setiap gigitannya. Prosesnya dimulai dengan melelehkan sebagian gula secara perlahan di atas api kecil, sebelum akhirnya dicampur dengan krim kental dan sisa gula lainnya. Di sinilah kesabaran kita diuji, karena menaikkan suhu api secara perlahan, menambahkan sedikit soda kue, lalu menyusul mentega dan vanila adalah kunci utama agar teksturnya tidak berubah menjadi rapuh seperti karamel keras, melainkan tetap lembut menyerupai fudge yang lumer di mulut.

Sebelum adonan manis itu siap dicetak, ada satu ritual kecil yang membuat dapur kita langsung harum seketika. Kacang kenari dan pecan disangrai di atas wajan kering selama sekitar lima menit, memunculkan aroma gurih keemasan yang menggugah selera sekaligus membuat kacang menjadi ekstra renyah. Sambil menunggu campuran gula yang sedang bergejolak beristirahat selama dua puluh menit, kita bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk menyangrai kacang, sebuah cara pintar untuk meracik kudapan tanpa harus terburu-buru. Setelah semuanya menyatu, adonan tinggal dituang ke dalam loyang beralas kertas roti dan dibiarkan mendingin selama beberapa jam sebelum dipotong rapi menjadi kotak-kotak kecil yang menggoda.

Bayangkan betapa menyenangkannya saat membuka lemari es dan mendapati sekotak penuh permen manis ini siap menemani waktu santai kita. Hebatnya lagi, manisan tradisional ini bisa bertahan segar hingga dua minggu di dalam wadah kedap udara, atau bahkan bertahan sampai beberapa bulan jika kita menyimpannya di dalam freezer. Meskipun sebagian pembuat kue suka bereksperimen dengan mencairkan sedikit cokelat di atasnya atau menaburkan sejumput garam untuk menyeimbangkan rasa manis, resep aslinya tetap memancarkan keistimewaan lewat kesederhanaannya. Toh, ketika sebuah camilan manis sudah dicintai sejak dekade tiga puluhan, ia pasti tahu betul cara membuat siapa saja merasa betah di rumah.

Menjaga tradisi kuliner tetap hidup di meja makan kita tentu memberikan kebahagiaan tersendiri yang sulit dicari tandingannya. Kita bahkan bisa mengganti krim kental dengan susu biasa jika itu yang ada di dapur, atau memilih gula pasir biasa ketimbang gula merah demi menjaga teksturnya tetap sempurna. Kudapan klasik seperti ini seolah mengingatkan kita bahwa kelezatan sejati sering kali lahir dari resep-resep jujur yang diwariskan dari masa ke masa. Semoga cerita tentang manisan klasik Oklahoma ini bisa memberi sedikit inspirasi baru untuk mengisi sudut meja makan kita musim ini, dan tentu saja, kita selalu penasaran dengan cerita seru di dapur kalian masing-masing!

sumber: tastingtable.com

juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

Rahasia Semangkuk Sup Hangat yang Mengenyangkan

Suara desis lembut dari panci sup yang mengepul di atas kompor selalu berhasil memperlambat ritme sore kita yang sibuk. Saat kita sedang mengaduk semangkuk sup sayuran favorit, kadang terbersit keinginan untuk membuat hidangan hangat ini terasa lebih mengenyangkan tanpa harus membuat dapur berantakan. Siapa sangka, rahasia untuk membuat makanan penenang jiwa kita bekerja lebih optimal ternyata sudah menunggu dengan tenang di rak dapur.

Hanya dengan memasukkan satu cangkir kacang lentil kering ke dalam panci, kita bisa langsung memperkaya asupan serat sekitar 18 gram sekaligus membuat seluruh isi panci terasa jauh lebih mantap dan memuaskan. Yang membuat lentil ini begitu menyenangkan untuk diolah adalah betapa mudahnya mereka berbaur dengan berbagai bahan lain di dalam kuah kaldu. Mereka bertindak seperti spons kecil yang menyerap rasa, membawa kedalaman yang bersahaja serta aroma kacang yang lembut tanpa pernah mencoba merebut panggung dari bumbu andalan kita.

Paling seru, kita bahkan tidak perlu repot merendamnya semalaman seperti saat kita mengolah kacang kering pada umumnya. Menyimpan sekantong polong-polongan yang bisa diandalkan ini di lemari persediaan berarti kita selalu siap untuk memperkaya sup kapan saja sepanjang tahun. Namun, karena setiap jenis lentil punya karakter unik saat terkena kuah panas, sedikit pengetahuan dapur akan sangat membantu kita mendapatkan tekstur persis seperti yang kita idamkan di lidah.

Kalau kita sedang meracik sup sayuran klasik atau minestrone yang kaya rasa—di mana kita ingin butiran-butiran kecilnya berenang berdampingan dengan sayuran yang empuk—lentil cokelat dan hijau adalah sahabat terbaik. Mereka adalah pejuang tangguh yang tahu betul cara mempertahankan bentuknya meski harus direbus lama. Tapi, bagaimana jadinya kalau kita sedang membayangkan semangkuk sup kental lembut ala dal India atau sup labu kuning yang halus?

Saat itulah kita bisa beralih ke lentil merah atau lentil belah, yang secara alami akan melunak dan hancur saat direbus, sehingga mengentalkan cairan kuah dengan sendirinya tanpa bantuan blender. Mereka bahkan sangat cocok diberi sedikit perasan jeruk nipis segar untuk menyeimbangkan karakter gurihnya. Jadi, saat panci sup Anda kembali mengepul di atas kompor nanti, tidak ada salahnya mencemplungkan satu cangkir lentil dan melihat betapa mudahnya menyulap semangkuk sup menjadi jauh lebih istimewa.

sumber: tastingtable.com

juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

Resep Marbled Pumpkin Cheesecake Bars Lembut dan Manis

Daun-daun yang mulai menguning dan embusan angin dingin selalu membawa pesan sederhana bahwa musim gugur telah tiba, dan jujur saja, kita tidak pernah bisa menolak godaan untuk menyambutnya dengan aroma kue labu yang mengepul dari dapur. Mengapa harus repot membuat kue keju ukuran penuh yang rewel dengan teknik penangas air dan kesabaran tingkat tinggi, padahal kita bisa menikmati kelezatan rempah liburan dalam bentuk batang kue keju yang praktis? Kue ini memanjakan kita dengan tekstur yang lembut dan porsi siap santap yang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja bersama secangkir kopi favorit di pagi hari.

Semua kelezatan ini bermula dari lapisan paling bawah, sebuah fondasi renyah bermentega yang memeluk seluruh isi kue dengan pas. Kita menghaluskan biskuit graham bersama gula cokelat, lalu mencampurnya perlahan dengan mentega cair sendok demi sendok hingga teksturnya pas menyerupai pasta yang siap ditekan merata ke dalam loyang berukuran sembilan kali sembilan inci. Di atas lapisan renyah itulah bintang utamanya beraksi, yaitu adonan keju lembut yang dibuat dari kocokan keju krim suhu ruang, krim asam yang memberikan sedikit rasa segar, dan gula pasir. Setelah itu, ekstrak vanila dan tiga butir telur dimasukkan satu persatu secara perlahan hingga adonannya benar-benar menyatu tanpa terlalu banyak dikocok.

Pola marmer yang begitu cantik dan memanjakan mata tercipta saat kita membagi adonan menjadi dua mangkuk, lalu mencampurkan labu haluskan serta bumbu labu ke dalam salah satunya. Bayangkan betapa indahnya saat sendok demi sendok adonan polos dan adonan rempah labu dituang bergantian di atas dasar biskuit, lalu ditarik perlahan dengan pisau untuk menciptakan mozaik musim gugur yang menawan. Kue ini dipanggang dalam suhu seratus enam puluh derajat Celsius selama sekitar tiga puluh hingga tiga puluh lima menit, sampai bagian pinggirnya mengeras sementara bagian tengahnya masih menyisakan sedikit goyangan yang manis. Bukankah aroma rempah hangat yang menguar di seluruh rumah ini sudah terbayang jelas di benak kita?

Meski aroma harumnya menggoda iman, kesabaran tetaplah kunci utama karena kue ini harus dibiarkan dingin sepenuhnya sebelum dimasukkan ke dalam lemari es semalaman agar teksturnya kokoh sempurna. Saat saatnya tiba untuk memotong kue, ada trik kecil yang sangat cerdas untuk mendapatkan potongan rapi ala toko roti terkenal, yaitu dengan menyisakan kertas roti di pinggir loyang agar kita bisa mengangkat seluruh kue dengan mudah. Pernahkah kita membayangkan betapa tajam dan bersihnya potongan kue saat pisau yang kita gunakan dicelupkan ke dalam air panas lalu dilap kering sebelum setiap irisan dibuat?

Penyajiannya pun sangat fleksibel, mulai dari taburan gula halus sederhana di atasnya, hingga sentuhan ekstra berupa lelehan cokelat hitam dan sejumput garam laut serpih untuk mempertegas rasa labu yang hangat. Bagi yang ingin sedikit bereksperimen, menaburkan gula pasir di atas potongan kue dingin lalu menyemprotkannya dengan obor dapur akan menghasilkan lapisan atas karamel yang renyah dan berkilau indah. Menikmatinya seorang diri dengan tenang di pagi hari atau membagikannya kepada orang-orang terdekat tentu akan menjadi cara terbaik untuk menutup hari, jadi tidak ada salahnya mencoba resep menyenangkan ini di dapur kita sendiri.

sumber: tastingtable.com/easy-pumpkin-cheesecake-bars

juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

Membuat Roti Panggang Lembut dengan Kehangatan Rempah Chai

Suara hujan mengetuk kaca jendela dengan ritme yang menenangkan, sementara sepanci susu dan krim mendidih perlahan di atas kompor, mengepulkan uap beraroma rempah yang memenuhi dapur kita. Kita semua tentu pernah mengambil sepotong puding roti tradisional saat cuaca mulai dingin, mendambakan rasa manis sederhana yang telah bertahan selama berabad-abad di tengah zaman yang terus berubah. Namun, saat bulan-bulan musim gugur dan musim dingin tiba, menuntut camilan yang memeluk kita bagaikan selimut wol tebal, ada cara yang sangat mudah untuk memberikan sentuhan baru pada hidangan sederhana ini tanpa menghilangkan jiwa aslinya.

Kuncinya terletak pada dunia chai yang aromatik dan menenangkan, teh hitam berempah kesukaan dari tradisi kuliner India yang menghadirkan kedalaman rasa serta kehangatan yang pas di lidah. Saat kita merendam racikan custard dengan chai—cukup dengan memanaskannya bersama susu dan krim, baik menggunakan teh daun lepas maupun kantong teh praktis—sesuatu yang ajaib terjadi. Paduan rempah yang hangat itu memotong rasa manis yang biasa, menyeimbangkan setiap gigitan sehingga hidangan penutup ini tidak pernah terasa terlalu enek di mulut. Bukankah luar biasa bagaimana satu pertukaran sederhana bisa mengangkat kembali pamor makanan klasik yang sudah kita kenal?

Kita bahkan bisa memperkaya rasa tersebut dengan mudah menggunakan sedikit tambahan kapulaga, jahe bubuk, kayu manis, pala, atau bahkan secubit kunyit. Jika chai tidak tersedia di dapur, campuran rempah-rempah itu yang direbus bersama teh hitam biasa dan cengkeh juga bisa diandalkan sebelum disaring dan dikocok bersama telur serta gula. Untuk mendapatkan tekstur terbaik, kita sebaiknya menghindari roti tawar yang terlalu lembek dan beralih ke roti manis kaya mentega seperti brioche, atau roti Italia dan Prancis andalan, yang mampu menyerap seluruh cairan berempah tersebut dengan baik sekaligus tetap mempertahankan bentuknya di dalam oven.

Agar terasa semakin menggugah selera, kita bisa menaburkan kismis montok yang telah direndam air di atas roti, atau memilih versi yang lebih kaya rasa dengan mencampurkan kepingan cokelat dan kacang untuk memberikan sensasi renyah yang kontras. Olesan mentega yang royal pada roti akan memperkuat kelezatan legit yang diam-diam selalu kita dambakan, sementara sedikit vanila dan rum menyempurnakan profil rasa custard-nya. Hebatnya lagi, kita bisa merangkip seluruh hidangan ini lebih awal dan membiarkannya tersimpan manis di dalam lemari es, membiarkan rempah-rempah tersebut meresap sempurna ke dalam roti untuk persiapan akhir pekan yang sama sekali tidak merepotkan.

Ketika hidangan ini akhirnya keluar dari oven dalam keadaan keemasan dan mendidih berbuih, ada begitu banyak cara nikmat untuk menyajikannya kepada orang terdekat. Jika dinikmati pada pagi hari, cucuran sirup maple, sesendok yogurt, atau satu sendok krim kocok berdampingan dengan buah beri segar akan membawa kesegaran tersendiri di piring kita. Namun ketika malam menjelang dan kita ingin menjadikannya hidangan penutup sejati, menukar yogurt dengan sesendok es krim leleh dan siruan karamel asin akan mengubah seluruh pengalaman bersantap menjadi sesuatu yang sungguh berkesan saat kita bersama-sama menanti sisa dinginnya malam.

sumber: tastingtable.com

juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

Cara Memotong Keju Segitiga Rapi untuk Papan Sajian

Suara pisau yang beradu dengan balok parmesan selalu berhasil menciptakan keheningan kecil di dapur, tempat di mana kita sering kali mendapati diri kita menatap bongkahan keju keras dengan rasa ragu. Menata papan keju yang rapi memang seketika membuat sore biasa terasa istimewa, tapi jujur saja, memotong keju berbentuk segitiga agar tampak seragam sering kali berujung pada remahan berantakan dan ukuran yang tidak sama. Bukankah mengesalkan saat potongan pertama sudah miring dan merusak seluruh rencana estetika kita?

Untungnya, kita tidak perlu lagi membongkar buku geometri lama atau mondar-mandir membawa penggaris demi potongan yang sempurna. Ada trik cerdas yang membuat proses membagi sebongkah besar keju menjadi porsi-porsi yang sama rata terasa jauh lebih mudah dari yang kita bayangkan. Rahasianya dimulai dengan menempatkan ujung lancip keju menghadap tepat ke arah kita di atas talenan.

Langkah awalnya cukup lakukan satu potongan horizontal lurus di bagian tengah keju. Hasilnya adalah sebuah segitiga kecil di bagian ujung yang memiliki dimensi persis sama dengan bagian sisa di belakangnya. Dari situ, kita tinggal melipat segitiga kecil tadi ke atas balok utama dengan arah terbalik—sehingga ujung lancipnya kini menjauh—lalu jadikan ia cetak biru untuk membuat dua sayatan lurus di sisi luar.

Sekejap saja, bongkahan besar keju kita telah berubah menjadi tiga segitiga baru yang berukuran identik ditambah satu bagian ujung aslinya. Keempat potongan tebal ini kemudian bisa kita iris kembali menjadi irisan segitiga yang lebih tipis dan elegan. Kalau keju pilihan kita kebetulan berbentuk tinggi dan ramping alih-alih melebar, kita cukup membaringkannya terlebih dahulu di sisi samping agar lebih stabil saat pisau tajam menyayat.

Menata irisan tipis ini dengan pola selang-seling di atas papan saji langsung menghasilkan tampilan ala restoran yang mengundang siapa saja untuk mencicipinya. Teknik lipatan cerdas ini tentu paling pas dipraktikkan pada keju keras atau setengah keras seperti manchego, Comté, atau Asiago yang memang berwujud baji dan kokoh menghadapi tekanan pisau. Sedikit trik pendinginan singkat di kulkas sebelum memotong juga akan membuat keju jauh lebih padat dan tidak mudah lengket.

Namun, jangan lupa untuk membiarkan potongan-potongan cantik ini kembali ke suhu ruang sesudahnya, supaya cita rasa gurih dan kompleksnya bisa mekar sempurna di lidah. Tidakkah menyenangkan bagaimana sentuhan kecil pada tatanan makanan bisa membuat acara berkumpul bersama orang tersayang terasa jauh lebih berkesan? Siapkan keju favorit kita akhir pekan ini, coba sendiri metode lipatan praktisnya, dan nikmati indahnya papan sajian buatan tangan kita sendiri.

sumber: tastingtable.com

juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

Kenyataan Dibalik Tren Permen Gummy Tidur

Laci nakas kita sekarang sering kali kedatangan tamu baru yang manis, yaitu permen gummy warna-warni beraroma buah yang berjanji mengantar kita ke alam mimpi dengan lembut. Di lorong-lorong toko kesehatan atau linimasa media sosial, produk yang mengandung cannabinol atau CBN ini dipuja sebagai jalan pintas paling praktis untuk menutup hari yang panjang. Warnanya yang cerah dan rasanya yang manis membuat suplemen herbal ini terasa tidak lebih berbahaya daripada sebutir permen jeli biasa. Tapi, seberapa jauh kita benar-benar mengenal apa yang kita kunyah demi secercah ketenangan malam itu?

Di balik narasi pemasaran yang menenangkan dan kemasan yang memikat, para peneliti mulai mengurai cerita yang sedikit lebih rumit tentang bagaimana senyawa-senyawa ganja minor ini memengaruhi tubuh kita jika dikonsumsi setiap malam. Sebuah temuan dari para ilmuwan di Universitas Connecticut yang dipublikasikan dalam jurnal Drug and Alcohol Dependence menunjukkan bahwa paparan cannabinol secara berulang pada tikus percobaan membuat tubuh mereka membangun toleransi. Bukankah menarik bagaimana zat yang kita anggap sepenuhnya jinak ternyata bisa membuat tubuh beradaptasi hingga membutuhkan dosis yang lebih besar seiring berjalannya waktu?

Bukan hanya soal toleransi, penelitian tersebut juga mencatat adanya gejala-gejala fisik menyerupai sakau ketika penggunaan senyawa tersebut dihentikan secara tiba-tiba. Para ilmuwan mengamati reaksi seperti kedutan kepala dan kepakan cakar pada hewan uji, sebuah pengingat bahwa tubuh kita mencatat setiap zat asing yang masuk ke dalam sistem biologisnya. Senyawa ini ternyata berbagi jalur dengan THC yang lebih terkenal, bahkan memicu beberapa sistem reseptor yang sama persis di dalam tubuh, meskipun di sisi lain ia juga menunjukkan sedikit sifat antiradang.

Menariknya, para peneliti juga melihat adanya penurunan sementara pada pertahanan alami tubuh saat dihadapkan pada simulasi tantangan bakteri, meski tentu saja eksperimen ini baru diuji pada tikus dan belum pada manusia. Seperti yang diingatkan oleh penulis utama studi ini, Olivia Vanegas, gelombang pemasaran suplemen cannabinoid bergerak jauh lebih cepat daripada pemahaman ilmiah kita tentang dampak penggunaannya dalam jangka panjang. Sejarah kerap berulang ketika kita dihadapkan pada solusi instan tidur nyenyak yang ternyata menyimpan risiko ketergantungan di kemudian hari.

Temuan laboratorium ini pada akhirnya menjadi pengingat yang ramah bagi kita semua untuk lebih waspada dan cerdas sebagai konsumen di tengah maraknya tren kesehatan modern. Sebelum kita buru-buru memborong stok permen kenyal penidur di rak toko, tidak ada salahnya kita meninjau ulang apa saja yang kita masukkan ke dalam tubuh demi tidur yang lelap. Kalau malam sedang panjang dan mata enggan terpejam, bagaimana cara favorit kita biasanya melepas lelah? Mari kita terus saling berbagi cerita dan menavigasi lorong-lorong tren kesehatan ini bersama-sama sambil menikmati secangkir teh hangat di meja makan kita.

sumber: sciencedaily.com/261024221952.htm

juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com

Foto: ScienceDaily Nutrition

Ganti Salami Biasa dengan Soppressata untuk Sandwich Italia

Suara kertas pembungkus yang berkerincing saat kita membuka lipatannya selalu menjanjikan satu hal yang menyenangkan, yaitu tumpukan daging dingin di dalam roti lapis klasik kita. Kita semua tentu sudah akrab dengan barisan salami tipis yang biasa bersembunyi di balik etalase toko daging, tapi selalu ada ruang untuk sedikit peningkatan yang membuat makan siang kita terasa jauh lebih istimewa. Mengapa kita tidak melirik satu jenis salami babi kering tradisional dari Italia Selatan yang sebenarnya sangat layak mendapat tempat di dapur kita? Dengan menukar daging harian yang rasanya lebih ringan dengan soppressata, kita bisa langsung menyulap sandwich biasa menjadi hidangan berkarakter kuat yang membuat lidah tersentak senang.

Kehebatan pertukaran ini terletak pada tekstur dan tampilan dagingnya yang sangat khas begitu kita memperhatikannya lebih dekat. Berbeda dari capicola atau salami biasa, soppressata menawarkan profil rasa yang jauh lebih berani dengan tekstur gilingan yang lebih kasar dan memuaskan. Cara pembuatan tradisionalnya memadukan potongan bahu babi yang berlemak dengan bagian paha yang ramping dan gurih, dicincang dalam potongan cukup besar yang menciptakan pola marmer cantik dari butiran lemak putih. Bahkan, sedikit percikan anggur merah turut memberikan warna merah cerah hingga keunguan yang khas pada daging tersebut sebelum ditekan, diberi garam, dan digantung hingga kering selama proses fermentasi yang memakan waktu mingguan atau bulanan.

Proses yang sabar ini menghasilkan konsentrasi rasa yang kaya, tekstur kenyal yang menyenangkan di gigi, serta sedikit aroma fermentasi unik di langit-langit mulut yang tidak bisa ditandingi oleh salami biasa. Saat kita memotongnya, kita bisa memilih mengirisnya tipis-tipis atau memotongnya menyerong dari batang daging yang lebih padat untuk mendapatkan sensasi gigitan yang lebih membumi. Menyelipkan lembaran-lembaran lonjong yang padat ini ke dalam roti kita tentu akan memberikan karakter yang jauh lebih kokoh pada setiap gigitannya. Mencarinya pun sama sekali bukan hal yang rumit, karena toko-toko kelontong khusus Italia menyediakannya berdampingan dengan banyak supermarket besar, seperti kemasan nampan enam ons dari Columbus Charcuterie Trio seharga tujuh dolar sembilan puluh enam sen di Walmart.

Merakit bagian sisa dari sandwich ini justru menjadi saat paling menyenangkan, baik saat kita mengikuti resep klasik yang penuh tumpukan mortadella, prosciutto, keju provolone yang susu, tomat merah segar, selada iris, dan pepperoncini asin yang membantu memotong kekayaan rasa dagingnya. Bukankah mengasyikkan jika kita mencoba mengolesi roti kita dengan sedikit madu, selai buah ara, atau keju ricotta yang lembut untuk menghadirkan sentuhan manis yang kontras? Atau, kalau kita ingin merangkul aroma khas soppressata itu secara total, kita bisa memadukannya dengan keju biru, tomat kering matahari, dan olesan pasta cabai Calabrian yang menyengat.

Kita bisa dengan mudah menyesuaikan rasa sesuai selera cukup dengan memilih antara variasi pedas atau manis, sehingga sandwich ini bisa benar-benar mewakili apa yang sedang kita dambakan. Memilih soppressata pedas atau piccante akan mendatangkan kelezatan tendangan rempah ekstra dari infus cabai kering Calabrian, sementara versi manis atau dolce menjaga rasanya tetap ramah di lidah berkat bumbu seperti bawang putih, kayu manis, cengkeh, merica hitam, kapulaga, rosemary, atau adas manis. Bagaimana pun cara kita menyusun lapisannya nanti, coba ceritakan pada kita bagaimana hasil akhir sandwich buatanmu saat kamu mencoba mahakarya klasik asal Italia Selatan ini di rumah.

sumber: tastingtable.com

juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table