
Chris DeLisle, penulis buku masak Eat Your Meat, Love Your Life, punya satu rahasia menarik yang jarang dilirik orang saat kita mampir ke toko daging lokal. Di balik deretan etalase protein segar yang menggiurkan, toko-toko daging pilihan ternyata sering menyimpan deretan bahan dapur non-daging yang diracik penuh pertimbangan. Barang-barang titipan atau produk lokal ini bukan sekadar pajangan, melainkan kunci rahasia yang bisa mendongkrak rasa masakan kita secara drastis tanpa harus repot meracik saus yang rumit.
Pilihan pertama yang wajib kita intip di rak mereka adalah mentega kultur, produk susu aromatik dengan tekstur lebih lembut yang dibuat menggunakan kultur bakteri hidup. Bayangkan sensasi rasa kacang yang gurih berpadu dengan sedikit keasaman segar yang khas di lidah. Karena punya titik didih yang tinggi, mentega jenis ini adalah senjata rahasia terbaik untuk menciptakan warna kecokelatan yang dalam dan gurih pada daging tanpa perlu bantuan saus berat. Kata DeLisle, sepotong mentega yang bagus jauh lebih diandalkan untuk meja makan kita ketimbang sebotol saus steik kemasan. Jangan ragu untuk mengobrol dengan penjaganya, tanyakan siapa pembuatnya dan apakah mentega tersebut sudah mengandung garam. Untuk menyiram daging saat dimasak agar tidak mudah gosong, mentega tawar tanpa garam adalah pilihan paling aman, sementara sedikit sisanya bisa kita lelehkan di atas potongan daging babi hangat atau diaduk ke dalam saus sesaat setelah wajan diangkat dari kompor.
Bergeser sedikit ke rak pantry, mata kita harus jeli mencari deretan toples acar dan sayuran fermentasi yang renyah menggigit. Tidak semua toko daging menyediakannya, jadi menemukan toples berisi sayuran asam segar ini ibarat menemukan harta karun kecil. Keasaman yang cerah dari acar terbukti ampuh memotong kekayaan rasa dari hidangan daging yang berlemak tebal. Bukankah sangat menyenangkan membayangkan bagaimana kerenyahan sebuah acar mengimbangi juicy-nya burger, atau bagaimana kesegaran sauerkraut menjinakkan gurihnya sosis panggang? DeLisle menyarankan kita untuk bertanya langsung kepada si tukang daging apakah acar tersebut menggunakan cuka atau fermentasi alami, seberapa manis rasanya, dan bagaimana cara menyimpannya di rumah agar tetap awet. Kerenyahan yang cerah ini sebaiknya kita tambahkan persis saat makanan akan disajikan, bukan ikut dimasak di atas api, supaya teksturnya tetap segar dan hidup di piring kita.
Terakhir, ada mustard, bumbu dapur yang biasanya kita ambil begitu saja dari rak swalayan, namun ternyata jauh lebih istimewa jika kita beli langsung dari toko daging. Seorang tukang daging yang paham betul barang dagangannya bisa mengarahkan kita ke toples mustard yang paling pas untuk dipasangkan dengan ham asap, sosis gurih, atau potongan daging babi yang tebal. Kita akan mendapatkan perpaduan sempurna antara rasa asam yang menggigit, kehangatan rempah, dan tekstur renyah dari biji-biji mustard utuh. Bumbu yang satu ini bekerja diam-diam namun luar biasa sebagai bahan dasar marinasi, lapisan luar daging yang harum, atau pelengkap sederhana yang mengangkat makanan rumahan kita menjadi sesuatu yang berkesan. Jadi, lain kali kita melangkah ke toko daging lingkungan kita, mari luangkan waktu sejenak untuk melirik rak-rak non-daging di sudut ruangan, karena di sanalah toples dan blok kecil penyanyi makan malam kita bersembunyi.
sumber: tastingtable.com
juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com
Foto: Tasting Table





