
Mertua saya punya cangkir bergambar kutipan jenaka bahwa mengganti kopi pagi dengan teh hijau bisa melunturkan separuh sisa kebahagiaan hidup, yang selalu berhasil mengundang tawa di meja makan kita karena teh hijau memang punya reputasi yang maju-mundur. Sebagian orang enggan meliriknya sama sekali, sementara sebagian dari kita mungkin hanya pernah menyesap teh celup kualitas rendah dari sisa remah daun utuh. Tapi siapa sangka, pengujian rak supermarket baru-baru ini membuka mata kita bahwa cara kita memperlakukan seduhan harian ini selama ini ternyata kurang tepat.
Dari sekadar kantong teh seharga dua sen yang sederhana sampai kantong piramida serat nabati mewah seharga tiga puluh tiga sen, para penguji menyusuri spektrum warna dan aroma yang luar biasa kaya. Kita bisa menemukan seduhan kuning mentega jernih asal pegunungan Nilgiri di India selatan yang berkarakter cerah, hingga racikan kuning keemasan yang memadukan teh hijau sencha dengan sentuhan matcha lembut. Ada pula yang menghasilkan warna kuning bunga kamomil beraroma gurih menyerupai kaldu, sementara yang lain memamerkan rasa kaldu beras panggang beraroma daun-daun musim gugur yang menenangkan.
Menariknya, dari seluruh kontestan yang diuji, luar biasa hanya satu merek saja yang benar-benar berisi lembaran daun utuh di dalam kantongnya. Meski begitu, bukan berarti pilihan teh celup yang lebih ekonomis lantas tidak layak minum sama sekali di dapur kita. Banyak di antaranya yang berstatus asal usul tunggal atau organik, dan terbukti sangat memuaskan asalkan kita memperlakukannya dengan kesabaran ekstra. Mengingat serpihan daun halusnya memiliki permukaan yang sangat luas, kita harus ekstra hati-hati agar tidak menyeduhnya terlalu lama hingga berubah menjadi pahit menyiksa.
Pernahkah terpikir oleh kita kalau air mendidih yang langsung disiramkan dari ceret selama ini adalah biang keladi rasa pahit itu? Kunci utama untuk mendapatkan secangkir teh yang nikmat ternyata terletak pada suhu air di angka delapan puluh derajat Celsius, bukan air yang sedang bergemuruh mendidih. Kita bisa mendapatkan suhu pas ini di rumah dengan cara menuangkan sedikit air dingin ke dalam cangkir hingga seperempat bagian, lalu menimpahnya dengan air yang baru saja mendidih sebelum memasukkan kantong tehnya.
Cukup biarkan kantong teh meresap selama kurang lebih sembilan puluh menit, eh, maksud saya sembilan puluh detik, dan saksikan bagaimana keajaiban kecil terjadi di atas meja makan. Teknik sederhana ini mengubah pengalaman minum teh secara total, menyajikan rasa yang jauh lebih manis dengan nuansa bumi yang khas seperti rumput laut, edamame, dan jerami panggang. Bahkan pada ujung spektrum yang lebih ramah di kantong, debu batang teh berwarna cokelat khaki menghasilkan seduhan yang mengejutkan penuh di badan, lengkap dengan aroma ranting panggang serta tekstur tanin yang manis sekaligus tajam.
Kabar baiknya lagi, kantong teh yang ramah lingkungan dan bisa diurai kini semakin lumrah kita jumpai di mana-mana, membuat ritual minum teh harian terasa jauh lebih tenteram di hati. Dengan begitu banyak kejutan rasa dan aroma dari rak belanjaan terdekat, bagaimana biasanya cara kita menyeduh teh di rumah, dan apakah kita tertarik menjajal trik suhu delapan puluh derajat ini untuk rehat sore berikutnya?
sumber: theguardian.com
juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com
Foto: Guardian Food





