Kue Pisang Vegan Miso Cokelat Ciptaan Tom Hunt

Aroma manis karamel dari setandan pisang yang kulitnya sudah berbintik cokelat tua dan tampak hampir menyerah selalu berhasil menghentikan langkah kita di sudut toko kelontong. Sembilan tahun lamanya chef Tom Hunt menulis kolom kulinernya di Guardian tanpa pernah membagikan resep kue pisang, sampai akhirnya ia melihat tumpukan pisang matang berlebih yang dijual murah meriah. Dari sinilah sebuah penyelamatan makanan yang cerdas dimulai, terinspirasi dari karya indah Laura Wright di situs web The First Mess, menghasilkan satu loyang camilan nabati yang rasanya benar-benar juara.

Bukan mentega atau telur yang berjasa menyatukan adonan kali ini, melainkan si pisang super matang yang lembut berpadu dengan minyak zaitun extra virgin, menghadirkan kelembapan yang mendalam di setiap gigitannya. Tepung gandum utuh spelt menggantikan tepung terigu putih biasa, membawa nuansa rasa kacang yang gurih alami sekaligus memperkaya pilihan bahan di dapur kita. Siapa sangka, alih-alih sekadar sejumput garam biasa, satu sendok makan pasta kedelai fermentasi alias miso justru dimasukkan untuk mendongkrak rasa gurih umami yang berpadu genit dengan manisnya sirup maple.

Sebelum adonan masuk ke dalam loyang, kita melipat masuk tumpukan potongan cokelat hitam yang pekat bersama renyah kenari cincang, menyisakan sedikit untuk ditata di atasnya bersama sebelah pisang utuh yang dibelah memanjang. Bayangkan bagaimana panasnya oven selama kira-kira satu jam mengubah semua bahan itu menjadi keharuman kayu manis, vanila, dan lelehan cokelat yang menguar ke seluruh ruangan. Karena sepenuhnya berbasis nabati, kue ini sangat ramah untuk dinikmati bersama siapa saja tanpa perlu pusing memikirkan pantangan makanan.

Begitu kue selesai dipanggang dan cukup dingin untuk diiris, pisau kita akan membelah tekstur remah yang padat dan cantik, bertabur kantung-kantung cokelat leleh serta gurihnya kacang tanah bumi. Ini adalah jenis panggangan rumahan yang sangat bisa diandalkan, memberikan kehangatan instan untuk menemani sore yang santai atau secangkir kopi hangat di pagi yang lambat. Mari kita coba membangkitkan pisang-pisang terlantar di dapur minggu ini dan menikmati setiap potongannya bersama orang-orang tersayang.

sumber: theguardian.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Guardian Food

Sihir Tiga Susu untuk Roti Mentega Super Lembut

Rak toko kue di supermarket selalu punya cara sendiri untuk memanggil kita lewat aroma keemasan dan remahan mentega yang manis. Roti pound cake siap saji yang ramah di kantong itu sering jadi penyelamat sore hari, tapi siapa sangka kalau sebatang roti sederhana bisa kita sulap jadi hidangan istimewa ala Amerika Latin? Hanya dengan ketelatenan kecil di dapur, kita bisa mengubah kudapan biasa ini menjadi sajian penutup yang lumer di mulut.

Rahasianya ada pada siraman tres leches yang berarti tiga susu dalam bahasa aslinya. Kita hanya perlu mencampur susu kental manis, krim kental, dan santan kelapa dalam satu mangkuk hingga menyatu menjadi cairan lembut yang kaya rasa. Karena tekstur pound cake cenderung padat dan kokoh, kita butuh trik khusus supaya cairannya meresap sempurna. Pernahkah kita menusuk-nusuk permukaan kue dengan garpu atau tusuk sate sampai rasanya puas? Nah, lubang-lubang kecil inilah yang membuat si cairanan susu masuk dan meresap rata ke setiap sudut remahan kue, bukan sekadar menggenang di permukaannya.

Proses menuangkannya pun butuh sedikit kesabaran, dilakukan bertahap agar kue punya waktu untuk meminum setiap tetes kebaikan itu sebelum kita masukkan ke kulkas. Setelah beberapa jam beristirahat di lemari es, roti sederhana tadi berubah total menjadi mahakarya yang sangat lembap dan kaya rasa. Sebagai penyeimbang, kita bisa mengocok sisa krim kental bersama gula dan sedikit vanila hingga kaku dan mengembang lembut seperti awan putih di atas kue. Taburan kelapa parut di atasnya juga langsung membangkitkan aroma santan yang harum.

Bagian paling seru dari trik dapur ini adalah kebebasannya untuk berkreasi sesuai selera di meja makan kita. Kalau kita memilih dasar kue rasa cokelat, kita bisa mencampur bubuk kakao ke dalam cairan susu dan menghiasnya dengan butiran cokelat meses yang manis. Pecinta rasa kayu manis bisa menambahkan bubuk rempah itu ke dalam campuran susu ala horchata, sementara buah stroberi segar atau selai beraroma lemon siap memberi sentuhan asam yang menyegarkan di lidah.

Sentuhan akhirnya bisa kita buat sesederhana taburan kacang badam panggang atau pecan karamel yang renyah di setiap gigitan. Sungguh menyenangkan bagaimana bahan-bahan di dapur bisa menulis ulang nasib sepotong roti toko menjadi hidangan pesta yang meriah. Jadi, lain kali kita melihat roti pound cake keemasan di rak belanjaan, maukah kita membawanya pulang malam ini dan membiarkannya berendam dalam kemewahan susu yang manis?

sumber: tastingtable.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

Kelezatan Hangat Chile Colorado, Rebusan Daging Sapi Meksiko

Sepanci Chile Colorado yang mengepul harum di atas kompor selalu berhasil mengusir dingin saat angin mulai bertiup menusuk tulang. Nama hidangan ini sering bikin salah paham karena sama sekali tidak ada hubungannya dengan negara bagian Colorado di Amerika sana, melainkan berasal dari kata dalam bahasa Spanyol, colorado, yang berarti berwarna merah untuk menggambarkan rona pekat dan menggoda dari sausnya yang sedang mendidih perlahan. Bayangkan potongan daging sapi yang dimasak begitu sabar hingga teksturnya luruh begitu menyentuh lidah, berpadu dengan kuah kaya rempah yang menghangatkan sekujur tubuh dari tegukan pertama.

Resep klasik yang lahir dari wilayah utara Meksiko ini menawarkan harmoni rasa gurih daging dan sengatan pedas hangat yang punya karakter tersendiri, jauh berbeda dari gaya chili ala Tex-Mex yang lahir di jalur koboi Old West. Apa sih sebenarnya rahasia di balik kuah merahnya yang begitu memikat? Jawabannya terletak pada cabai kering yang didapuk sebagai bintang utama sekaligus jiwa dari hidangan ini. Cabai-cabai tersebut tidak sekadar dicemplungkan begitu saja, melainkan direndam hingga lunak lalu diblender bersama kaldu, tomat, dan rempah pilihan untuk menciptakan saus kental yang meresap sempurna ke dalam setiap serat daging.

Meracik saus yang pas ternyata dimulai dari pemilihan cabai kering yang teliti di pasar, di mana varietas seperti guajillo, ancho, pasilla, dan chiles de arbol diandalkan untuk membangun kedalaman rasa yang khas. Kita bahkan bisa memadukan beberapa jenis cabai sekaligus demi mendapatkan lapisan rasa yang lebih kaya dan kompleks, tentu setelah memastikan bijinya dibuang terlebih dahulu agar kuahnya tetap terasa halus di mulut tanpa rasa pahit yang mengganggu. Aroma wangi cabai yang berpadu dengan gurihnya kaldu akan memenuhi dapur kita, menciptakan suasana rumahan yang langsung bikin perut keroncongan sebelum makan malam siap disajikan.

Menariknya lagi, hidangan ini sangat fleksibel untuk disesuaikan dengan isi laci dapur kita masing-masing. Daging sapi empuk memang menjadi bintang utamanya, tetapi banyak juga yang menggantinya dengan daging babi, atau bahkan menambahkan potongan kentang, wortel, dan kacang polong ke dalam panci agar sepiring makan malam terasa semakin mengenyangkan. Saat tersaji hangat di atas meja, kita sebenarnya tidak butuh banyak pendamping selain mangkuk dan sendok, meski selembar tortilla gandum yang hangat, sepiring nasi ala Meksiko, dan kacang refried yang lembut tetap menjadi teman setia yang sulit ditolak.

Sepanci penuh kehangatan ini membuktikan bahwa tradisi kuliner dari belahan dunia lain selalu punya tempat istimewa di dapur kita saat kita mendambakan makanan rumahan yang jujur dan mengenyangkan. Yuk, ambil sendokmu, cicipi kepekatan saus merahnya yang kaya rempah, dan ceritakan pada kita bagaimana eksperimen memasak ini bersemi di dapurmu!

sumber: tastingtable.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

Rahasia Saus Worcestershire untuk Kelezatan Daging Babi

Aroma daging babi yang mendesis di atas wajan panas selalu berhasil membawa kehangatan yang gurih ke meja makan kita. Apalagi saat kita mengolah potongan daging yang ramah di kantong namun tetap mengenyangkan. Taburan garam dan lada sederhana tentu sudah cukup untuk menemani malam sibuk kita, tetapi terkadang protein andalan di rumah ini layak mendapat sedikit perhatian ekstra agar rasanya benar-benar bersinar. Kita baru saja mengulik cara membuat hidangan klasik ini naik kelas dan menemukan berbagai wawasan cemerlang yang dibagikan oleh Charlie Torgerson, seorang chef eksekutif, pemilik Charlie T's Foods, dan chef mitra National Pork Board.

Menurut Chef Torgerson, kunci untuk membuka kedalaman rasa yang luar biasa pada daging babi terletak pada satu bahan cair saja, yaitu saus Worcestershire. Alih-alih hanya menuangkannya di permukaan pada saat terakhir, merendam daging dalam cairan gelap yang kompleks ini bertindak sebagai penambah rasa umami instan. Saus ini menyumbang ledakan rasa berkat perpaduan harmonis antara ikan teri fermentasi, tetes tebu atau molase, asam jawa, dan bawang putih. Berbagai elemen ini bekerja sama untuk menghadirkan catatan rasa yang gurih, sedikit tajam, dan manis yang berpadu sempurna dengan kekayaan alami daging babi.

Di balik kedalaman rasanya yang luar biasa, ada ilmu sains yang serius di dalam botol rendaman tersebut. Cuka asam yang terkandung dalam saus Worcestershire bertindak sebagai pengempuk daging, menguraikan serat-seratnya untuk memastikan daging tetap sangat berair dan menghasilkan tekstur yang meleleh di mulut saat dimasak. Berapa lama sebenarnya kita perlu membiarkannya meresap? Meskipun banyak resep menyarankan untuk membiarkan daging babi berendam di dalam kantong tertutup di dalam kulkas selama enam hingga delapan jam, sang chef mencatat bahwa hanya dengan waktu satu jam saja sudah cukup untuk meresapkan bumbu ke dalam daging secara menyeluruh.

Keajaiban tersebut benar-benar berlanjut begitu potongan daging itu bersentuhan dengan panasnya wajan. Karena saus ini mengandung gula alami dari tetes tebu dan asam jawa, bahan ini membantu membentuk kerak karamel yang indah dan pekat di bagian luar daging. Untuk mendapatkan hasil terbaik saat menggorengnya, Chef Torgerson menyarankan untuk memulai dengan api yang lebih kecil lalu menyelesaikannya dengan api besar demi membangun tekstur cantik tanpa membuatnya gosong. Mengingat kandungan tetes tebunya, ia menyarankan agar saus ini digunakan secara ketat pada tahap rendaman saja dan tidak dijadikan cairan dasar di dalam wajan, demi mencegah terbentuknya kerak yang pahit.

Tentu saja, kita selalu bisa memperkaya fondasi gurih ini dengan beberapa bahan tambahan dari dapur. Sang chef menyarankan untuk menyeimbangkan profil umami yang kaya dengan memasukkan rasa manis seperti madu, gula merah, sirup maple, atau buah segar, serta bahan aromatik seperti bawang putih segar, bawang merah, atau bawang bombay tumis. Jika kita lebih menyukai sedikit sensasi pedas, percikan mustard pedas, saus cabai, atau kecap asin akan menghadirkan kontras kelezatan yang menyenangkan. Pernahkah kita mencoba sedikit memodifikasi rendaman ini untuk melihat bagaimana ia mengubah gigitan terakhir di piring kita?

sumber: tastingtable.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

Kisah Pizza Tipis Ala Kedai Midwest yang Mendunia

Pizza gaya Amerika sering kali langsung diasumsikan dalam bentuk irisan lebar gaya New York yang harus dilipat saat digigit, atau pai tebal menjulang ala Chicago yang butuh usaha ekstra untuk menikmatinya. Padahal, ada satu jenis pizza lain yang diam-diam menyusup dan merajai berbagai daftar menu dari satu pantai ke pantai lain di Amerika. Brittany dan Brennan Grosvenor, penulis kuliner sekaligus pengelola kedai Proof di Portland, Oregon, tumbuh besar di pinggiran kota Chicago di mana memesan pizza berarti memilih antara kulit tipis, deep dish, atau adonan ganda. Bagi mereka dan banyak warga Midwest lainnya, pizza sehari-hari bukanlah deep dish yang penuh turis, melainkan pizza kulit tipis yang kini terkenal secara nasional sebagai gaya kedai atau tavern style.

Membentang dari Chicago, Milwaukee, Minnesota, hingga St. Louis, pizza gaya kedai ini punya ciri khas kulit tipis mirip biskuit kering yang menghasilkan gigitan ringan nan renyah. Bukannya dipotong jadi segitiga tradisional seperti yang biasa kita lihat, pizza ini diiris dengan pola kotak-kotak atau kisi. Potongan pesta yang cerdas ini menghasilkan potongan persegi yang jauh lebih kecil. Bradley Shorten, pemilik Kim's Uncle Pizza dan La Merna, menjelaskan bahwa ukuran kecil ini sangat pas untuk teman minum karena bisa ditaruh dengan nyaman di atas serbet koktail. Selain sangat mudah dibagikan ke banyak orang, Shorten juga mencatat bahwa pizza gaya kedai yang dibuat dengan matang memastikan taburannya tersebar sampai ke bagian paling pinggir.

Bayangkan betapa setiap kotak kecilnya kaya akan rasa, lengkap sampai ke bagian sudut yang paling diperebutkan itu. Selama beberapa tahun terakhir, gaya potongan kotak ini mulai bermunculan di mana-mana, mulai dari New York dan Texas hingga Colorado, memberikan kesempatan emas bagi warga Midwest untuk memamerkan budaya pizza daerah mereka ke seluruh penjuru negeri. Tentu saja, para koki di berbagai penjuru Amerika Serikat tidak mau ketinggalan dan mulai meracik versi mereka sendiri. Ketika Mike Fadem dari pizzeria Ops di New York ingin mencoba sesuatu yang baru, ia mengambil inspirasi dari akar masa kecilnya di St. Louis serta tradisi kulit tipis New Jersey, hingga akhirnya menciptakan menu adonan sourdough biji utuh buatannya sendiri yang dinamakan tavernetta.

Bukankah sungguh menarik melihat bagaimana sebuah hidangan bisa berkelana dan beradaptasi sejauh itu? Apa yang awalnya bermula sekadar sebagai tradisi santai malam Jumat di pinggiran kota Midwest kini telah bertransformasi menjadi sebuah gerakan kuliner nasional, membuktikan bahwa kenikmatan bersantap terbaik terkadang justru hadir dalam bungkusan kotak kecil yang renyah. Lain kali saat kita berkumpul mengelilingi meja bersama sahabat untuk menikmati malam santai di rumah, mungkin kita bisa melupakan sejenak bentuk segitiga biasa dan ikut merayakan tren pizza gaya kedai ini satu kotak mungil demi satu kotak mungil.

sumber: eater.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Eater