Analisis Penyebab Sepinya Restoran All You Can Eat Dipitdeep

, , No Comments
Analisis Penyebab Sepinya Restoran All You Can Eat Dipitdeep


resto dipitdeep soakit yummy

tempat makan sepuasnya yang menyajikan makanan shabu-shabu dan barbeque ini terlihat mati enggan hidup pun tak mau. seperti salah satu outletnya di Metropolitan Mall Bekasi. dari pagi-pagi buka sampai malam kayaknya customernya enggak lebih dari sepuluh meja per harinya. melihat keadaan seperti itu cuma sebersit rasa kasihan. perasaan iba ini lebih banyak untuk pegawainya. kalau kayak gini terus menerus, bisa-bisa mereka bisa kena phk, kan?

sebenarnya untuk menyelamatkan keadaan resto yang memiliki 5 cabang di Jakarta dan Bekasi ini adalah mengadakan promosi. ya harga, ya menu makanan atau promosi dengan majalah-majalah dan enggak lupa pasang iklan. sedikit banyak rasanya mereka cukup mengerti dengan keadaan resto yang nafasnya senen-kemis ini. buktinya mereka sudah memberikan harga yang lumayan murah di antara resto yang menyajikan makanan serupa. untuk full menu ambil dan masak sendiri ini, hanya mematok harga Rp. 50.000 nett. murah, kan? bandingkan dengan Nanabantei atau Pa'regu. jauh banget, dua yang terakhir gue sebutkan tadi memasang tarif sekitar Rp. 65.000++ daaaan... belum termasuk menu minuman, lho! berbeda dengan dipitdeep, Rp. 50.000 tadi sudah termasuk minuman yang bebas ngambil sampai pipis-pipis. minumannya juga lumayan, ada aneka softdrink dan lipton ice lemon tea yang syedap banget itu (i really love this lipton ice lemon tea) belum lagi aneka es campurnya yang lumayan juga. promo iklan radio, masih ada. soalnya kalau kita makan di sana, dipasang radio yang menyiarkan iklan dipitdeep. lalu di koran-koran ibukota kadang sekali dua masih ada iklan kecil mungilnya.

tapi dengan harga segitu, kok masih saja resto tadi sepi pembeli, ya? beberapa kali mengunjungi tempat makan tersebut pada jam makan siang, dari sekitar 20-an meja hanya terisi 3 meja yang masing-masing paling banyak berisi 3 orang penikmat. rasanya gue bisa sedikit memberikan kesimpulan tentang sepi pengunjung resto dipitdeep dari pengalaman makan di sana;
1. rasanya biasa saja
2. bahan-bahan sudah tidak terlalu fresh, tapi belum busuk
3. ada kecoa kecil-kecil keluar dari kompor
4. bumbunya begitu-begitu saja, dulu-dulu sih enak, belakangan a little bit too salty
5. pelayannya agak menganggu karena ikut memasakkan bahan makanan dan meramukan bumbu-bumbu yang rasanya agak ajaib, dengan dalih membantu. hakekat memasak makanan sendiri makanan anda jadi lari deh.
6. kami berlima (ortu, gue, suami dan adik gue) pernah makan siang di salah satu resto dipitdeep di daerah utara jakarta, sepulang dari sana kami murus-murus dan harus bersahabat dengan wc. yang paling parah suami gue karena sakit perutnya paling hebat, dia mengalami diare sampai 2 hari.
mungkin saja penilaian gue di atas enggak bener. tapi beberapa tahun yang lalu, di surat pembaca Kompas pernah ada keluarga yang complain terhadap resto ini. mereka menemukan kecoa di bagian sayur-sayuran. sayangnya dari pihak dipitdeep enggak ada tanggapan.

sampai detik ini, resto tersebut masih buka dan sedang menunggu pembeli. entah orang yang tidak tahu atau orang penasaran macam gue yang akan masuk ke resto tersebut.
kalau enggak ada perbaikan apapun, rasanya dipitdeep enggak bakal lama eksis. lagi-lagi kasihan pegawainya... dan ada pengangguran lagi....

pertanyaan: siapa sih pemodal atawa pemiliknya? anda hebat sekali masih bisa mempertahankan dan mengelola dipitdeep ini. salut deh! kalau saya jadi anda, kayaknya udah tahun dulu resto ini saya tutup :-p hehehe...

Foto: pexels.com

0 comments: