folks... please enjoy this
mau liat poto-potoku hun?
*mwa*
engkaulah intan, permata hatiku
engkaulah yang pertama dan engkau yang terakhir selalu

engkaulah raja, mahkota cintaku
lebih luas dari luas lautan batas cintaku untukmu kasih

'pabila ku tiada
bawa daku bersama

seindahnya dunia fana dan sedamainya surga
tetap bagai neraka tanpamu
begitulah cinta
secerianya sinar mentari dan cahya rembulan
tetap dunia gelap tanpamu
begitulah cinta

(Begitulah Cinta, Oddie Agam)

HAPPY 9th MONTHLIVERSARY, hun...
Sorry hun, aku rubah lagi perwajahan webmu =)
I hope you like it..
*mua*
Ternyata kejadian ini udah hampir setahun yang lalu ya? hiks..
Betapa cepat sang waktu berjalan...
Eniwei, mari lho dibaca lagi =)
Diambil dari arsip parokinet.
Link aslinya silakan buka di sini.

Rgds,
-ivo

_____________________________________________________

Friday, Jul/21/2000 -- ParokiNet Online
*** Kebenaran Sejati * Keadilan Illahi * Kedamaian Jiwa ***
_____________________________________________________


JUJUR
=====

Jumat siang, 21 Juli 2000

Siang ini tadi yayangku tiba-tiba nelpon.
Makan siang yuk, ajaknya. Oke, jawabku.
So she picked me up at the lobby of
Jakarta Stock Exchange building.

Selepas SCBD, kami masih belum ada ide
mau makan dimana. Ide ke soto pak Sadi
segera terpatahkan begitu melihat bahwa
yang parkir sudah sampai sebrang-sebrang.

Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado
di Kertanegara. Bisa makan di mobil soalnya.
Sampai di sana masih sepi. Baru ada beberapa
mobil. Kami masih bisa milih parkir yang enak.
Mungkin karena masih pada jumatan.

Begitu parkir, seperti biasa, joki gado-gado
sudah menanyakan mau makan apa, minum apa.
Kami pesan dua porsi gado-gado + tehbotol.

Sambil menunggu pesanan, kami pun ngobrol.
So, ketika tiba2 ada seorang pemuda lusuh
nongol di jendela mobil kami, kami agak
kaget. "Semir om?", tanyanya.

Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya
terakhir aku nyemir sepatuku sendiri?
Aku sendiri lupa. Saking lamanya.
Maklum, aku kan karyawan sok sibuk...
Tanpa sadar tanganku membuka sepatu
dan memberikannya pada dia.

Dia menerimanya lalu membawanya ke
emperan sebuah rumah. Tempat yang
terlihat dari tempat kami parkir.
Tempat yang cukup teduh. Mungkin
supaya nyemirnya nyaman.

Pesanan kami pun datang. Kami makan
sambil ngobrol. Sambil memperhatikan
pemuda tadi nyemir sepatuku.
Pembicaraan pun bergeser ke pemuda itu.

Umur sekitar 20-an. Terlalu tua untuk
jadi penyemir sepatu. Biasanya pemuda
umur segitu kalo tidak jadi tukang
parkir or jadi kernet, ya jadi pak ogah.

Pandangan matanya kosong. Absent minded.
Seperti orang sedih. Seperti ada yang dipikirkan.
Tangannya seperti menyemir secara otomatis.
Kadang2 matanya melayang ke arah mobil-mobil
yang hendak parkir, (sudah mulai ramai).
Lalu pandangannya kembali kosong.

Perbincangan kami mulai ngelantur kemana-mana.
Tentang kira2 umur dia berapa, pagi tadi dia
mandi apa enggak, kenapa dia jadi penyemir dll.

Kami masih makan saat dia selesai menyemir.
Dia menyerahkan sepatunya padaku. Belum lagi
dia kubayar, dia bergerak menjauh, menuju
mobil-mobil yang parkir sesudah kami.

Mata kami lekat padanya.
Kami melihatnya mendekati sebuah mobil.
Menawarkan jasa. Ditolak. Nyengir.
Kelihatannya dia memendam kesedihan.
Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi.
Melangkah lagi dengan gontai ke mobil
lainnya. Menawarkan lagi. Ditolak lagi.
Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya
kami juga merasakan penolakan itu.
Sepertinya sekarang kami jadi ikut
menyelami apa yang dia rasakan.

Tiba-tiba kami tersadar.
Konyol ah. Who said life would be fair anyway.
Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa
semua orang harus menyemir ? hihihi...

Perbincangan pun bergeser ke topik lain.
Di kejauhan aku masih bisa melihat pemuda tadi,
masih menenteng kotak semirnya di satu tangan,
mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil
lainnya. Bahkan, selain penolakan, di beberapa mobil,
dia juga mendapat pandangan curiga.
Akhirnya dia kembali ke bawah pohon.
Duduk di atas kotak semirnya.
Tertunduk lesu...

Kami pun selesai makan.
Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar.

Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan
dari kantong kemejaku. Uang sisa parkir.
Lalu kuberikan kepadanya.
Soalnya setahuku jasa nyemir biasanya 2 ribu rp.

Dia berkata kalem "Kebanyakan om. Seribu aja".
BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku.
It-just-does-not-compute-with-my-logic!

Bayangkan, orang seperti dia masih berani
menolak uang yang bukan hak-nya.

Aku masih terbengong-bengong waktu nerima
uang seribu rp yang dia kembalikan.
Se-ri-bu Ru-pi-ah. Bisa buat apa sih sekarang?
But, dia merasa cukup dibayar segitu.

Pikiranku tiba-tiba melayang.
Tiba-tiba aku merasa ngeri.
Betapa aku masih sedemikian kerdil.
Betapa aku masih suka merasa kurang dengan gajiku.
Padahal keadaanku sudah -jauh- lebih baik dari dia.

Allah sudah sedemikian baik bagiku,
tapi perilaku-ku belum seberapa dibandingkan
dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya,
masih mau memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan.

Siang ini aku merasa mendapat pelajaran berharga.
Siang ini aku seperti diingatkan.
Bahwa kejujuran itu langka.

Sudahkah kita berani jujur?
Kepada diri sendiri,
kepada orang lain,
dan kepada Allah ?

Jakarta, 21 Juli 2000

Salam,
ivo@jsx.co.id
-------------------------------------------------------
[ Mohon hapus dan edit pesan yang tidak perlu, Save Bandwidth ! ]


_____________________________________________________

Unsubscribe? Send email to koster@parokinet.org; body: unsubscribe paroki
For other administrative questions, send email to admin@parokinet.org
_____________________________________________________


Happy 8th Montliversary dear =)
*hugsnkisses* :-x
Kompas, Sabtu, 30 Juni 2001

Memahami "Mimpi" Gus Dur
* Sindhunata

Tradisi Politik dan Pesan Gaib Kepemimpinan Nusantara


SUDAH bukan rahasia lagi bahwa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kiai itu suka berziarah ke tempat atau makam suci, dan percaya pada pesan-pesan gaib. Begitu terpilih sebagai presiden, ia langsung ziarah ke makam Kiai Mutamakin di Pati. Terakhir, sebelum berkunjung ke Australia, ia berziarah ke makam Sunan Ngundung di Trowulan, Mojokerto. "Saya datang ke sini memang karena dipanggil Mbah Usman Ngundung. Sebenarnya banyak juga ulama yang dimakamkan, tapi yang manggil saya cuma Mbah Usman Ngundung," kata Gus Dur apa adanya.Dua hari kemudian, Menteri Pertahanan (Menhan) Mohammad Mahfud MD membeberkan, ada tiga hal yang menjadi landasan bagi Presiden dalam setiap pengambilan keputusan. Pertama, realitas politik. Kedua, mendengar nasihat resmi maupun tidak resmi. Ketiga, demikian papar Mahfud sendiri, Presiden sering mendasarkan keputusannya pada pesan gaib dari langit yang datang melalui mimpi.

Mahfud mengaku, ia sendiri sering tidak paham dengan jalan pikiran Abdurrahman Wahid karena kelihatan aneh dan secara logika tidak masuk akal. Akan tetapi, Menhan yang profesor itu toh sempat berkomentar, Presiden ternyata dapat mengelola pesan dari langit itu secara baik dan apa yang dilakukan Presiden biasanya benar. (Kompas, 25/6/2001)


***
MENGHUBUNGKAN kekuasaan dan politik di satu pihak dengan mimpi atau pesan gaib di lain pihak bukanlah hal aneh dan baru dalam sejarah kekuasaan di Indonesia, khususnya Jawa. Ambil saja contoh kisah Jaka Tingkir alias Mas Karebet. Ia bermimpi bertemu dengan Sunan Kalijaga, yang menyuruhnya mengabdi pada Sultan Trenggono di Demak. Pesan gaib itulah awal yang menuntunnya menjadi Sultan Hadiwijaya, penguasa Kerajaan Pajang. Atau kisah Pangeran Mangkubumi yang bermimpi kejatuhan rembulan. Mimpi ini yang menguatkannya dalam pemberontakan melawan dinasti Paku Buwono, dan kemudian ia menyatakan dirinya sebagai Sultan Hamengku Buwono (HB) I yang merajai Mataram.

Kisah serupa berlanjut sampai ke zaman Bung Karno. Menjelang kemerdekaan, paling tidak sudah tiga kali Bung Karno berkunjung ke Menang, Kediri, yang kini dianggap sebagai petilasan Raja Jayabaya. Demikian pernah dikatakan saksi mata Lasi Suharjo, yang pada waktu itu menjabat kamituwo Dusun Menang, kepada penulis. "Sowanku mrene perlu nyuwun wahyune kraton, ayo padha bantunen (Saya datang ke sini untuk meminta wahyu keraton, kalian hendaknya membantu saya)," tutur Pak Lasi menirukan ucapan Bung Karno pada orang-orang yang menyertainya. Bung Karno hening sekitar tujuh menit, lalu bilang, "Wis kepareng, ayo padha mundur (Sudah dikabulkan, mari kita pergi)," kata Bung Karno lagi. Tak lama kemudian Pak Lasi mendengar kabar, Bung Karno sudah ngibaraken (mengumumkan) proklamasi (Sindhunata, Bayang-bayang Ratu Adil, 1999, hlm 22-23).

Zaman Presiden Soeharto pun wangsit itu tetap berperan. Demikian, misalnya, dituturkan Mbah Tomo, abdi dalem Keraton Yogyakarta, yang menjaga petilasan Kembang Lampir. Petilasan ini dipercaya sebagai tempat turunnya dua wahyu Kerajaan Mataram, yakni wahyu Gagak Emprit untuk Ki Ageng Pemanahan, yang membangun Mataram, dan wahyu Panca Purba untuk Senapati, Raja Mataram.

Waktu itu Mbah Tomo dimintai tolong oleh Sri Sultan HB IX, agar ia ikut membangun negara. Di Kembang Lampir ia mendapat wangsit, bunyinya, "Negaramu wis dadi. Gubuke dandanana, wringine siramana. Sri Narendra, Pak Harto, Sri Naranta, Sultan Kaping Sanga". Artinya: negaramu sudah jadi. Perbaikilah gubuknya, siramilah pohon beringinnya. Rajanya Pak Harto, wakilnya, Sultan IX. Menurut Mbah Tomo, negara menjadi kuat karena wahyu itu. Pak Harto dan Sri Sultan HB IX saling melengkapi. Pak Harto membangun negara, dan Sri Sultan HB IX menuntunnya untuk tidak meninggalkan kebudayaan (Ibid, hlm 39-40).

Atas beberapa alasan, Presiden Abdurrahman Wahid tidak dapat digolongkan ke dalam tradisi di atas begitu saja.

Pertama, jauh sebelum menjadi presiden, Gus Dur memang sudah suka berziarah dan percaya pada hal-hal yang gaib. Namun, hal itu dilakukannya bukan dalam rangka mengejar dan menumpuk kekuasaan, melainkan semata-mata demi kerinduan dan pengkayaan batin.

Kedua, lain dari Bung Karno atau Soeharto, Gus Dur bukan orang yang banyak hidup dari tradisi kejawen, tetapi lebih dari tradisi pesantren, yang justru sangat kritis terhadap kejawen.

Patut diingat bahwa hubungan pesantren dan kejawen tak bisa dilepaskan dari tradisi tasawuf Islam. Seperti dikemukakan oleh Mohammad Damami MA, dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pesantren adalah lembaga yang sangat berjasa dalam menyebarkan "Islam kultural". Namun, selain itu pesantren adalah lembaga yang menjaga dan memelihara tradisi tasawuf Islam.

Menurut Prof Dr Simuh, juga dosen pada Fakultas Ushuluddin di atas, sejak awal kedatangannya pada abad ke-13 Masehi, ajaran Islam yang masuk ke Indonesia sangat didominasi dengan ajaran dan tradisi tasawuf. Dominasi ajaran Islam tasawuf itu tampak jelas dengan munculnya sastra Islam Melayu seperti syair-syair Hamzah Fanzuri dan sastra Islam kejawen seperti pituture (ajaran) Seh Bari pada abad ke-16.

Menurut Damami, tasawuf Islam yang dikembangkan di dalam tradisi besar pesantren adalah counterpart (rekan imbangan) bagi mistik Islam kejawen. Patut diingat, kini Islam kejawen sebagaimana dikembangkan oleh tradisi besar kerajaan Jawa dalam arti tertentu telah mengalami kemandekan. Karena itu, di masa depan, lebih daripada sebagai rekan imbangan, tasawuf Islam kiranya perlu mengambil posisi eksposisif. Pengambilan posisi macam ini bukan dimaksudkan untuk menon-aktifkan hak hidup mistik Islam kejawen, melainkan justru untuk ikut mempertahankan reputasi bahwa kebudayaan Jawa pernah memiliki khazanah mistik yang bermanfaat bagi zamannya.

Sikap moderat Gus Dur terhadap kejawen dan Islam kejawen kiranya boleh dilihat dari kacamata di atas. Penghayatan teguh terhadap tradisi tasawuf Islam, serta sikap terbuka terhadap mistik Islam kejawen itulah yang membuat Gus Dur percaya pada hal-hal yang tak dapat diterangkan dengan akal semata-mata.


***
PADA manusia pendalaman, tasawuf jelas memberikan kemampuan "di luar" pengetahuan akal. Kemampuan inilah yang dimiliki banyak kiai NU selain Gus Dur. Dulu sebelum Gus Dur jadi presiden, penulis sudah kerap mendengar kisah-kisah yang rasanya "irasional" itu. Beberapa kiai menyampaikan simbol-simbol yang diterima dalam mimpinya. Gus Dur langsung menangkap apa makna dan bakal peristiwa apa yang terkandung dalam simbol itu. Kemudian, ia mewujudkan penangkapannya itu dalam tindakan sosial atau politik yang nyata. Ternyata, banyak tindakan Gus Dur yang waktu itu terbukti jitu.

Pendalaman tasawuf para kiai NU kiranya juga makin mendekatkan mereka pada kisah-kisah Quran, hadits dan hikmah-hikmah Islam yang dikemukakan dalam bentuk tamsil, i'tibar atau perumpamaan. Misalnya, peristiwa waktu Ketua PB NU Hasyim Muzadi datang ke Pondok Al Munawir, Krapyak, Bantul, Yogyakarta, April 2001. Di hadapan para kader NU setempat, Muzadi sempat menceritakan tentang firasat yang diterima oleh seorang ulama khos, sebelum warga nahdliyin mengadakan istigotsah akbar pertama di Surabaya tahun 1996. Menurut firasat ulama tersebut, Indonesia akan mengalami krisis panjang, seperti diriwayatkan dalam kisah Nabi Yusuf.

Seperti pernah ditulis Hairus Salim, alumnus Pondok Pesantren Al Falah, Banjar Baru, Kalimantan Selatan, para santri yang pernah belajar di pesantren akan dengan cepat dan mudah menangkap, bila mereka mendengar seorang kiai bercerita semacam itu (Lih. Hairus Salim, Hikmah Kisah Yusuf dalam Krisis, Ulama Jangan Diam, dalam Basis (1998), 47, hlm 28-34). Dalam Kisah Yusuf diceritakan, waktu itu Qifthir, Raja Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan oleh tujuh sapi kurus. Selain itu ia juga melihat tujuh tangkai gandum subur dan tujuh tangkai gandum kering. Raja tak mengerti arti mimpi itu, lalu ia meminta Yusuf mentakwilkannya.

Yusuf menjelaskan, tujuh tahun lamanya negara akan mengalami kemakmuran, ternak berkembang, tanaman subur, dan rakyat akan bahagia. Namun, tujuh tahun kemudian, rakyat akan mengalami kesengsaraan, tanaman tidak berbuah, ternak tak berkembang biak. Tetapi, setelah kedua masa itu berlalu, akan datanglah masa yang makmur, tenteram, dan bahagia. Yusuf berpesan, selama tujuh tahun makmur, hendaknya rakyat menyimpan gandum untuk mengatasi kelaparan yang akan datang pada tujuh tahun berikutnya.

Dalam terang kisah Yusuf ini, jelaslah apa yang ingin disampaikan oleh firasat ulama khos seperti didengar Hasyim Muzadi di atas: krisis Indonesia masih akan berlangsung, mungkin masih panjang, karena itu hendaknya rakyat makin berhati-hati.


***
SESUNGGUHNYA, kepercayaan pada mimpi atau pesan gaib, yang mungkin masih diyakini oleh banyak warga nahdliyin, adalah hal yang bisa dicari dasarnya dalam Quran. Demikian dikatakan oleh Nuruddin Amin, Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor DIY, dalam omong-omong dengan penulis seputar masalah "mimpi Gus Dur", di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, baru-baru ini.

Nuruddin memberi contoh, misalnya, dari kisah yang melatarbelakangi peringatan Idul Kurban. Suatu saat Nabi Ibrahim bermimpi, lalu ia bilang kepada anaknya, Ismail, "Wahai anakku, aku bermimpi menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?" (Surat As-Shaffat, ayat 102). Karena mimpi itu, kemudian Ibrahim hendak mengorbankan Ismail. Allah memandang kesetiaannya, lalu menggantikan Ismail dengan domba.

Atau dari kisah Nabi Yusuf. Diceritakan suatu hari Yusuf bilang pada Ya'qub, bapaknya, "Wahai Bapakku, aku melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadaku." (Surat Yusuf, ayat 4). Kelak, Yusuf memang menjadi pimpinan yang berkuasa dan bijak. Bahkan Raja Mesir pun takluk pada firasat kebijaksanaannya.

Tetapi patut diingat, tidak sembarang mimpi boleh dituruti. Di sini Nuruddin mengingatkan, dalam Islam ada yang disebut Al-Ru'ya al-shalihah, yang artinya adalah mimpi yang benar. Hanya mimpi yang benarlah yang boleh dituruti. Memang sulit menentukan, manakah mimpi atau firasat yang benar itu. Untuk menentukan kriteria mimpi yang benar itu, Nuruddin memaparkan kisah Syekh Abdul Qodir al-Jaelani, tokoh sufi, yang menjadi panutan tarekat Qadiriyah ini:

Suatu hari Abdul Qodir melihat tulisan di langit, bunyinya "Abahtu laka al-muharramat" (Aku halalkan untukmu perkara-perkara yang telah aku larang). Membaca tulisan itu, Abdul Qodir langsung membentak, "Ikhasya' ya la'in" (Keparat kamu-setan-yang terkutuk). Ketika santrinya bertanya, mengapa ia membentak seperti itu, Abdul Qodir menjawab, "Innallaha la ya'muru bil fahksya" (Sesungguhnya Tuhan tidak akan memerintahkan sesuatu yang keji). Memang, tidaklah mungkin Tuhan menghalalkan apa yang dilarang-Nya.

Kisah Abdul Qodir al-Jaelani itu menjelaskan bahwa baik buruknya suatu mimpi hanya bisa dilihat dari akibatnya untuk hidup sesama. Mimpi itu baik, karena ia membawa al-Maruf, kebaikan, bagi kehidupan sesama, karena itu boleh dituruti. Mimpi itu jelek, karena ia membawa al-Mungkar, kejelekan, bagi kehidupan bersama, karena itu tidak boleh dituruti.


***
DARI uraian-uraian di atas bolehlah kita menyimpulkan bahwa penglihatan, mimpi, dan pesan gaib adalah pengetahuan religius, yang lahir dari pengalaman mistik. Betapa pun "irasionalnya", pengetahuan religius-mistik itu adalah suatu pengetahuan, yang melekat pada hidup manusia religius.

Menurut teolog Perancis Henri de Lubac, pengetahuan mistik itu lokasinya adalah roh, lain dengan pengetahuan filsafat yang lokasinya adalah rasio. Sifat pengetahuan mistik itu adalah affektif dan vital, berbeda dengan pengetahuan filsafat yang rasional. Cara manusia memperoleh pengetahuan mistik itu adalah menunggu dan pasif, sementara pengetahuan filsafat diraih dengan mencari dan aktif. Kendati berbeda, kedua pengetahuan itu tidaklah bertentangan. Justru dalam pengetahuan mistiklah, pengetahuan manusia dapat melompat meraih kepenuhannya. Karena itu, dalam istilah De Lubac, lompatan mistik itu bukanlah suatu luxus.

Jadi betapa pun "irasionalnya", pengetahuan mistik itu sungguh nyata dalam realitas pengalaman manusia. Mungkin itulah pengalaman Gus Dur, sampai ia sebagai seorang intelektual dapat menerima segala wisik yang kelihatannya tak masuk akal. Mungkin pengalaman itu pula yang membuat Gus Dur yakin, bahwa realitas sosial dan politik di Indonesia tidak dapat diterangkan dengan akal semata-mata. Memang, jauh sebelum menjadi presiden, Gus Dur sering bilang, bahwa teori politik mana pun tidak bisa menjelaskan fenomena politik di Indonesia. Fenomena politik Indonesia demikian kompleks karena mencakup hal-hal mistis yang berada di luar rasionalitas politik.

Pendapat di atas kiranya bisa dipahami dengan lebih persis dengan mengacu pada pemikiran Emile Durkheim. Menurut Durkheim, institusi manusiawi seperti agama bukanlah akibat dari khayalan manusia saja. Bisa saja agama terbentuk karena mimpi, angan-angan dan visi manusia, yang mungkin bertentangan dengan akal. Tapi agama demikian ini paling tidak berfungsi dalam memenuhi suatu tuntutan atau tujuan pembentukan masyarakat.

Karena itu betapa pun irasionalnya, realitas yang rasanya mistis itu tidak boleh diabaikan begitu saja. Realitas macam ini mungkin yang mendukung Gus Dur, sampai ia begitu yakin akan posisinya. Sekaligus, ia minta, agar lawan-lawan politiknya tidak melalaikan realitas itu. Memang, melalaikan realitas itu bukan hanya berarti melalaikan sejarah dan meniadakan apa yang benar-benar ada, tapi juga membawa risiko perlawanan yang luar biasa. Maklum, mereka yang hidup dalam realitas itu tak lagi akan mempergunakan akal, tapi perasaan, angan-angan, firasat, yang bisa menjadi sumber inspirasi untuk bertindak nekat dan berani, bila mereka merasa ditiadakan.

Tetapi, di lain pihak patutlah diingat, jangan sampai Gus Dur dan pengikutnya menjadikan alasan di atas sebagai pembenaran untuk mengokohkan posisinya semata-mata. Memang, banyak orang maklum, selama Orde Baru banyak warga nahdliyin "dilukai" oleh kekuasaan yang mengandalkan rasionalitas akal semata-mata. Di zaman reformasi ini pun mereka masih merasa "dilukai" dengan cara serupa.

Tidaklah benar, jika untuk mengobati "luka" itu orang menggunakan hal-hal di luar rasio manusia. Kata Juergen Habermas, luka yang disebabkan oleh rasio, harus disembuhkan lewat rasio pula.

Rasio di sini bukanlah rasio kekuasaan yang bisa dengan mudah beralih rupa menjadi mitos kekuasaan, tetapi rasio yang toleran dan terbuka. Dengan rasio yang terakhir ini, mereka yang rasional akan makin menjadi rasional, jika mereka mau sabar dan menerima apa yang tidak atau belum terlalu rasional. Mereka yang mistis dan mungkin "irasional", akan menjadi makin rasional, jika mereka terbuka pada tuntutan rasio dan tidak mengukuhi hal-hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Tampak bahwa panggung politik, di mana sedang terjadi pertentangan kelompok Gus Dur dan kelompok lawan politiknya, bukanlah pertentangan politik semata-mata, tapi juga pertentangan penghayatan religius dan keyakinan rasional. Yang bisa mengatasi pertentangan ini bukanlah penghayatan dan keyakinan masing-masing pihak tetapi rasio yang terbuka dan toleran.

Memang saat ini panggung politik kita sedang menjadi ajang bagi fides quaerens intellectum, iman yang sedang menantang akal. Memutlakkan intellectum akan berakibat kejumawaan yang fatal. Memutlakkan fides akan berakibat kekanak-kanakan yang tidak masuk akal. Bila nanti dengan intellectum kita dapat memberi jawaban terhadap tantangan fides, saat itulah kita akan mengalami pencerahan. Wallahu a'lam!

* Sindhunata, Pemimpin Redaksi Majalah Basis, Yogyakarta.

Foto: pexels.com

pagi-pagi, belum sempat sarapan, langsung ngacir ke gym
pulang latihan, kok laper, yaa?
padahal masih banyak rencana harus dijalankan
daripada ngemil lebih baik makan sandwich dan beli aqua
mampir ke Holland Bakery. mahal sih… (masih jauh lebih murah sandwich bikin sendiri)
tapi… gaya hidup orang sibuk laa… mana sempat?

sepotong sandwich dan sebotol aqua nggak dingin dihargai Rp. 6.200
gue ulurkan selembar Rp. 10.000-an
pikir gue, males ah dikembaliin sama uang receh
mengorek isi dompet mencari selembar ribuan dan uang ratusan
ah, cuma ada 2 keping limaratusan logam
dan seratusan putih, dan empat keping uang duapuluhlima rupiah putih kinclong

“maaf, Mbak, tidak menerima pembayaran dengan uang ini,” ujar mbak kasir sambil melirik si 25 rupiahan empat biji itu.
ha? 4 kali 25 setahu gue dari dulu gue SD sampai sekarang berumur 30 tahun, kayaknya masih belum berubah deh, nilainya 100.
so?

“pokoknya nggak bisa Mbak, ini peraturan perusahaan!”
perusahaan? perusahaan sebesar apa? perusahaan REPUBLIK INDONESIA?
ini kan cuma Holland Bakery yang katanya jualan roti terenak di seluruh negeri?
terdengar suara dari arah lain…
“buat belanja di Hero aja, Mbak?”
yeee… namanya duit ya buat belanja di mana aja.
uang (katanya) alat pembayaran yang sah. uang Indonesia yang asli berarti alat pembayaran sah di seluruh negeri bernama Indonesia, toh?

dengan tolol, gue amati si-duapuluhlima-perakan-tak-bersalah-itu berulang-ulang
dengan geram terpaksa gue menjawab, “setahu saya ini uang asli Indonesia. dan uang Indonesia bisa dibelanjakan di seluruh negeri ini. kalau saya di luar negeri saya tahu uang Indonesia memang nggak laku. terus sekarang saya di mana, ya?

sedemikian tak berharganya uang Rp. 25? apalagi dibandingkan dengan kurs dolar Rp. 11.300 per 1 US$???
Rp. 1.000.000 bukan senilai satu juta rupiah jika kurang si dua puluh lima perak.

moral of the story:
1. jangan sia-siakan uang biarpun HANYA Rp. 25, nyarinya susah, nek!
2. kalau kita miskin uang berapapun pasti ada nilainya
3. yang tolol siapa ya? gue? pegawai Holland Bakery Dwima Plaza Cempaka Putih, peraturan Holland Bakery, rakyat Indonesia, atau pemerintahnya? atau semua?
nonton Madame Dasima kemarin malam…
gak dapet apa-apa, kecuali menonton orang-orang yang belum pernah nonton teater… sedih, yak!
gimana kalau mereka nonton teater taraf internasional?
melihat penonton datang terlambat saat pertunjukkan sudah dimulai
mendengar beep SMS yang diterima
mendengar kunyahan makanan dari bioskop tuentiwan sebelah
mendengar celaan macam nonton bioskop pinggiran
ah, mendingan nonton layar tancep yang lebih membumi…
... kita sebenarnya kaya, kalau bisa merasakan dan bisa mensyukuri...

(ucap Abah kepada Euis, Ara, Agil dan Emak - Serial Keluarga Cemara di RCTI tiap pukul 17.00 - episode 19/6/2001)
Bletak!
Potongan kayu diayunkan ke arah kepalanya
Darah mengucur dari pelipis…
Menggeliat antara hidup dan mati
Bergulat menghadapi sang el maut yang sudah menunggu di sampingnya
Rintihnya… “duh, Gusti, kenapa hidupku selesai begini saja?”
Ayunan parang, tegas menghabisi nyawa yang sekarat
Tiadakah rasa hiba?
Ah, satu lagi nyawa melayang
Dengan tenangnya potongan demi potongan tubuh yang sudah bersimbah darah dimasukkan dalam kantong plastik hitam
Sisa-sisa jiwa masih tersisa dan bergeliat
Memberati kantong plastik hitam
Menggeliat…
Menggeliat…
dan
berhenti untuk mati…
Ah, nasibmu si ikan mas, berhenti dalam kuali berbumbu gulai

(pulang belanja ikan untuk lauk…)
Pemuda Yang Banyak Bicara

Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta berusaha selama berbulan-bulan untuk mengambil hati pujaannya, namun gagal. Ia merasa sakit hati karena ditolak. Namun akhirnya si jantung-hati menyerah. “Datanglah di tempat anu pada jam anu,” katanya.

Pada waktu dan di tempat anu tersebut, akhirnya si pemuda sungguh jadi duduk bersanding dengan jantung-hatinya. Lalu ia merogoh saku dan mengeluarkan seberkas surat-surat cinta, yang telah ia tulis selama berbulan-bulan, sejak ia mengenal si jantung-hati. Surat-surat itu penuh kata-kata asmara, mengungkapkan kerinduan hatinya dan hasratnya yang membara untuk mengalami kebahagiaan karena dipersatukan dalam cinta. Ia mulai membacakan semua suratnya itu untuk jantung-hatinya. Berjam-jam telah lewat, namun ia masih juga terus membaca.

Akhirnya si jantung-hati berkata tentang aku dan rindumu padaku. Sekarang aku di sini, bahkan duduk di sampingmu. Dan kamu masih juga membacakan surat-suratmu yang membosankan itu!”


“Inilah aku, duduk di sampingmu,” sabda Tuhan kepada penyembahnya, “dan engkau masih juga berpikir-pikir tentang aku di dalam benakmu, berbicara tentang Aku dengan mulutmu, dan membaca tentang Aku dalam buku-bukumu. Kapankah engkau akan diam dan mulai menghayati kehadiranKu?”

(taken from Burung Berkicau, Anthony de Mello, SJ)

God opened this page (124-125) from Burung Berkicau for me…
Mencintai seseorang bukan hanya merupakan suatu perasaan kuat – tetapi juga merupakan ketegasan dari suatu keputusan, suatu janji.

(Erich Fromm – The Art of Loving)

Hun, makasih ya untuk semuanya.
Untuk telingamu pada saat aku berkeluh kesah..
Untuk matamu pada saat membaca emailku..
Untuk jarimu pada saat menuliskan ceritamu..
Untuk kesabaranmu menunggu...
Dan untuk hatimu yang selalu melimpahkan kasihmu..
Untukku...

Peluk cium untukmu seorang.
Menanti Kembalinya Semar

Oleh Sindhunata


DUA tahun lalu, penulis diminta oleh harian ini untuk menulis pendapat orang-orang kecil tentang pemilu. Dari seorang mantan pemain ludruk di Malang, penulis memperoleh secarik ramalan, yang dituturkan oleh almarhum Mbah Begawan Rajasuwala dari Brongkos, Kesamben, Blitar. Mantan pemain ludruk tersebut menerima ramalan itu pada tanggal 11 Juni 1994.

Tertulis dalam ramalan itu urutan demikian. Tahun 1996: Wong main dadu ana latar (Orang bermain dadu di pekarangan). Maknanya, tahun 1996 banyak orang berspekulasi menghamburkan uang. Tahun 1997: Mangan jambu kluthuk (Makan jambu mentah). Maknanya, perut menjadi senep, dan orang-orang pun mulas karena krisis. Tahun 1998: Ana pasar gedhe (Ada pasar besar). Maknanya, uang orang kecil kalah dengan uang dollar.

Tahun 1999: Akeh wong dhodhol dawet mikul (Banyak orang menjual dawet dengan pikulan). Maknanya, banyak partai politik bermunculan menawarkan dirinya. Tahun 2000: Wong padha jotosan (Orang-orang saling berjotosan). Maknanya, warga masyarakat saling berkelahi. Dan tahun 2001: Wong lungguh pating plongo (Orang duduk bingung terlongong-longong). Maknanya, warga masyarakat, lebih-lebih orang kecil, jadi korban, bingung, tak tahu apa yang harus dikerjakan.

Mbah Rajasuwala memberikan ramalan itu tahun 1994. Ternyata sejak tahun 1996 terjadilah rangkaian peristiwa ini: Karena kita menghamburkan uang, kita pun terjerumus ke dalam krisis dan utang, dan kita pun dihimpit oleh kekuatan uang dollar. Pemilu 1999 datang, lebih dari seratus partai bermunculan, tahun 2000 kita bertikai terus menerus, elite politik kita saling jotosan. Dan karena pertikaian itu diteruskan, maka pada tahun 2001 ini kelihatan gejala, rakyat kecil jugalah yang bakal terlongong-longong susah.

Menurut kebatinan Jawa, ramalan bukan pertama-tama menunjuk pada kebenaran atau kepastian. Ramalan pada pokoknya hanyalah mengingatkan, agar kita mau senantiasa eling lan waspada (ingat dan berhati-hati). Sayang sejak merekahnya reformasi, kita takabur dan lupa diri. Maka tak heran, jika sekarang kita terperosok ke dalam kejadian seperti diramalkan oleh Mbah Rajasuwala itu, atau ke dalam zaman yang penuh kutukan, yang biasa disebut Kalabendu.


***
KALABENDU, itulah lakon yang digarap dan kemudian dipentaskan oleh Ki Manteb Sudharsono di Solo, menyambut perayaan 1 Suro lalu. Adegan paling dramatis dan tragis dalam pentas itu adalah perang Bharatayudha, yang dihabiskan oleh Ki Manteb hanya dalam beberapa jam saja. Perang Bharatayudha adalah lakon angker. Tak banyak orang berani mementaskannya. Kalaupun mementaskan, hanya satu episode saja yang diambil, misalnya episode Bisma Gugur, atau Karno Tanding, atau Dorna Gugur.

Malam itu Ki Manteb menggebrakkan semua episode Bharatayudha sekaligus dan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Satu persatu tokoh Kurawa terbunuh dan mati, demikian juga anak-anak Pandawa. Ketika Prabu Suyudana, tokoh terakhir Kurawa gugur, tak kelihatan di mana kemenangan Pandawa. Yang diperlihatkan justru kesepian seorang Destarata, ayah Kurawa, yang kehilangan semua anaknya, bahkan ditinggalkan oleh Dewi Gendari, istrinya.

Jika dipentaskan dalam salah satu episodenya saja, Bharatayudha memang bisa menjadi permenungan tentang kemenangan kebaikan atas kejahatan. Tetapi, jika semua episode dihabiskan sekaligus dalam sekali pentas, Bharatayudha menjadi panggung kengerian, di mana orang terheran-heran bahwa ternyata kebaikan pun bisa menjadi kejam dalam memenangkan diri atas kejahatan. Ya, apa arti kemenangan, jika ia hanya menyisakan kebaikan dalam kesendirian dan kesepiannya? Memakai bahasa realis-magis Gabriel Garcia Marquez, pengarang novel Seratus Tahun Kesunyian, kemenangan macam itu hanyalah sebuah tumpukan kotoran, dan pemenang yang berkubang di atasnya hanyalah seperti seekor babi.

Seusai pentas, penulis sempat menemui Ki Manteb dan menggurauinya, "Pak Manteb, kok Anda tega menghabiskan Bharatayudha hanya dalam semalam saja? Kalau lakon ini benar-benar jadi kenyataan, nanti Anda ikut bersalah lho." Ki Manteb menjawab serius, "Hati saya gregetan. Saya mau mengungkapkan kenyataan, supaya kita takut akannya lalu tak ingin membuatnya."

MENGAMATI kejadian akhir-akhir ini, apa yang dipentaskan dalam lakon Bharatayudha, juga apa yang diramalkan Mbah Rajasuwala itu rasanya sudah menjadi ancaman yang hampir terjadi.
Lihatlah peristiwa di Pasuruan (Jatim). Bagaimana peristiwa itu bisa terjadi, padahal dalam sejarah kita terbukti, bahwa kaum nahdliyin dan marhaen, santri dan nasionalis itu bisa rukun bersatu? Tidakkah di tengah ketegangan apa pun selalu bisa terjalin hubungan akrab antara Soekarno dan Hasyim Asyari? Setelah Pemilu 1999, hubungan saudara itu diaktualkan kembali dalam keakraban Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Sekarang, dengan peristiwa perusakan di Pasuruan, yang mungkin saja merebak di kota-kota Jawa Timur lainnya, hubungan itu kelihatan retak. Jika kedua kelompok besar, yang bersaudara secara tradisional ini benar-benar jotosan, tidakkah "Bharatayudha" tak terelakkan lagi?

Kita memang sedang dalam zaman Kalabendu. Pada zaman ini, roh-roh jahat gentayangan merasuki siapa saja. Karena itu, orang yang dulunya kelihatan baik pun bisa terkena kutukan Kalabendu dan menjadi jahat. Dalam ritual wayang, krisis dan kemelut Kalabendu digambarkan dalam adegan gara-gara. Tetapi, dalam wayang, gara-gara bukanlah kata akhir. Justru karena gara-gara-lah, kita bisa masuk ke dalam alam ketenteraman. Tetapi, gara-gara itu tak mungkin reda, jika tiada Semar.

Siapakah Semar yang kita harapkan, yang bisa meredakan gara-gara, yang sedang kita alami? Perkenankan di sini, penulis mengutarakan suatu pengalaman yang sifatnya personal. Dalam suatu seminar wayang di Yogyakarta tahun 1994, penulis berbicara mengenai Semar, lalu ada yang bertanya: Menurut Anda, siapakah Semar itu? Spontan penulis menjawab, "Semar itu pasti bukan Pak Harto. Semar itu adalah Gus Dur (Abdurrahman Wahid)."

Waktu itu, dan kiranya sampai detik ia belum jadi presiden, Gus Dur memang mengkorporasikan Semar. Perawakan dan wajahnya seperti Semar. Seperti Semar, ia adalah pengembara, berkelana ke mana-mana, tak terikat oleh tempat mana pun. Seperti Semar, ia tidak terikat pada bentuk. Kendati tidak rupawan, ia memikat, dan dengan humor kritisnya ia bisa mendekonstruksi segala kemapanan. Seperti Semar, ia tidak terikat pada posisi, malahan ia adalah pengkritik keras kekuasaan. Seperti Semar, ia adalah pembela dan pengejawantahan aspirasi wong cilik. Dan seperti Semar, Gus Dur yang kiai itu adalah mediator, yang bisa memperantarakan jeritan wong cilik di Bumi pada Yang Ilahi di Surga.

"Bharatayudha" sedang di depan mata. Kalabendu sedang jahat-jahatnya. Gara-gara sedang minta diakhiri. Gus, inilah saat di mana wong cilik paling mengharapkan datangnya Semar. Sampeyan pernah dihinggapi "wahyu Semar", Gus. Janganlah Sampeyan mengingkari panggilan Semar-mu. Gus, justru inilah saat, di mana Sampeyan diuji untuk membuktikan ke-Semar-an Sampeyan yang sejati.


* Sindhunata, budayawan, tinggal di Yogyakarta.

Kompas, 30 Mei 2001
--------------------------------------------------------------------------------
I want to spent my times here with you...
ada lagu menyayat hati
berisikan syair cinta dan kerinduan
ragaku terasa tak bertuan
kosong dan dingin

ada lagu menyayat hati
tentang kangen dan pelukan
jiwaku tak lagi menari-nari dalam tingkah dan suara
diam membisu

ada lagu menyayat hati
di tengah malam gerimis
memandang bidang kosong di sampingku
tak ada pelukan hangat yang menenangkan

satu bulan setengah kok lama beneeeeeeeerrrrrrrr.......
aku kangen sama kamu cintakuuuuuuuuuuu.....
kangen sama gelitikanmu
kangen sama hembusan nafasmu
kangen sama geliat dan wangi tubuhmu
kangen sama ciumanmu yang panas menggoda
kangen sama gaya cuddling kita yang ajaib :)
kangen sama gaya marahan kita
kangen sama gila-gilaan keliling kota
kangen sama acara berdoa kita
kangen sama kepanikan kita
kangen sama malas bangun tidur

aku cuma kangen sama kamu...

Jakarta, 7 Maret 2001
sepinya jiwaku
merana hatiku
sekosong sosokmu di sisiku
tubuh dan jiwaku menggigil merindukan hadir dirimu
mengisi hari
mengisi rasa
mengisi tawa dan tangis
bersama lagi...

(kangen, nek!)
I'm proud of you, Bro! Go get it!
Le Ragazze

le ragazze si lanciano ad occhi chiusi nelle avventure
qualche volta confondono la bugia e la verita'
seguono l'istinto e l'istinto le auitera'
sono treni in corsa che nessuno fermera'

le ragazze decidono il destino dei loro amori
i ragazzi s'illudono ma non contano un gran che...
quando ti sorridono e'probabile che sia un si
ma quando so allontanano e'no! e tu...

ci devi stare inutile sperare di recuperare se hanno detto no
meglio sparire non telefonare per sentrisi dire un'altra volta no
come se non t'importasse piu' senza farti mai vedere giu'
si puo' amare da morire ma momire d'amore no!

le ragazze che ispirano tutti testi delle canzoni
sono sempre al centro dei discorsi di tutti noi
che non conosciamo nemmeno la meta'
di tutti quel che pensano e dei segreti che ognuna ha

le ragazze volteggiano sulle ali degli aquiloni
e noi innamorati che le seguiamo da qua aggiu'
guarda come planano... qualcuna scendera'
ma quando si allontanano e'no! e tu...

ci devi stare inutile sperare di recuperare se hanno detto no
meglio sparire non telefonare per sentirsi dire un'altra volta no
come se non t'importasse piu' senza farti mai vedere giu'
si puo' amare da morire ma morire d'amore no!

le ragazze che sfidano le opinioni della gente
hanno gli occhi limpidi di chi dice la verita'
senza compromessi ne' mezze misure
sono piu' sincere le ragazze della nostra eta'

- Neri Per Caso

(aku persembahkan untuk dia tersayang di balik bumi Indonesia)
andai kau jadi bunga
aku pasti jadi kumbangnya
andai kau putri Raja
aku pasti sang Pangeran

andai kau pantai yang indah
kan ku belai dengan ombakku
andai kau sebuah pelangi
aku akan jadi langitmu

walau takkan nyata
ku ingin kau mengerti
untuk 1000 puisi
takkan cukup ungkapkan cintaku dan rindu
takkan cukup ungkapkan sayangku padamu

walau sederhana, ku ingin kau mengerti
walau apa adanya, ku cipta puisi untukmu


(BIP-bongky-indra-pay) - a raising star band is born...
capek euy... siapa bilang PENGANGGURAN itu cuma nonton telenovela doang???
listrik mati, PAM macet. hanya problem biasa atau sabotase?

(orang Jakarta makin paranoid)
aku terlalu mencintaimu...

(I'm so sorry, hun... I luv you... :x)
di tengah rumitnya jaringan kutemui dirimu
antara ada dan tiada
meski dirimu hadir hanya melalui ruwetnya kabel-kabel
nyatanya makin mendekatkan kita
pertemuan dan janji kita jalani
sambil menunggu waktu pertemuan kita nanti...

(kangen deh sama suamiku...)
kecewa,
sedih,
bingung,
pengen protes,
mau marah...
tapi cuma bisa diam...
this evening... really touched my heart. I couldn't give them million... I just wanna share laughs, jokes, crazyness...

(thanks lots to all my friends at Majalah Sedap Sekejap. I love you all... )
suatu hari sahabatku mengadu. "aku tak suka kalau orang-orang di sekitar kita membicarakan hal yang buruk kepadamu," ungkapnya dengan berapi-api. lanjutnya lagi dengan penuh emosi, "aku ingin bilang kepada mereka bahwa engkau tak seburuk itu. aku ingin mereka tahu bahwa engkau lebih unggul dibandingkan mereka."

aku hanya bisa diam. mengolah kembali kata-kata sahabatku. mencoba instropeksi kesalahan yang telah aku buat. aku hanya manusia, rasanya tiap langkah telah aku kelola dengan baik. keputusan dan kata-kata keluar dengan segala perhitungan resiko.

ya, aku hanya manusia.
sengaja maupun tidak aku hanya bisa mohon maaf.
maafkan aku teman...

(you're great buddy of mine)
Kemarin siang, gue makan siang di gado-gado Kertanegara, setelah jemput yayang di Jakarta Stock Exchange Building. Kebetulan juga kita dapat parkir yang enak pas di bawah pohon rindang. Jadilah kita pesan dua porsi gado-gado dan teh botol. Sewaktu menunggu pesanan, tiba-tiba kita ditawari oleh cowok berusia sekitar awal 20-an. "Semir, Oom," tawarnya. Karena merasa males nyemir sepatu, dan kebetulan sepatu cowok gue memang belum tersentuh semir lagi, serta merta dia menyanggupi.

Kita masih ngobrol terus, sambil nunggu gado-gado datang. Sementara itu si tukang semir sepatu yang sedang bekerja menyemir sempat masuk juga dalam perbincangan kita siang itu. Eh, gado-gadonya udah datang. Ya sambil makan dan ngobrol dong. Belum abis gado-gado, sepatunya udah kelar. Hmm… rapi juga kok kerjaannya. Herannya, anak itu malah ninggalin kita setelah menyerahkan sepatu yang sudah tersemir tadi. "Lho kok malah cabut sih?’ tanya cowok gue. Sambil lalu gue jawab, "Kan dia lagi cari pelanggan lain?"

Ternyata si penyemir sepatu tadi masih jadi salah satu topik pembicaraan. Menilik bajunya yang agak dekil, kayaknya dia enggak mandi beberapa hari. Kami pun mafhum, siapa tahu dia anak jalanan, siapa tahu dia homeless, dan banyak perkiraan lainnya. Gue masih takjub dengan anak ini. Soalnya tiap kali dia menawarkan jasanya, dan orang-orang menolak, dia cuma nyengir. lalu dia kembali ke depan pintu rumah, yang sepertinya dijadikan markasnya sambil menunggu mobil yang datang. Setelah ditolak, dia akan balik ke tempat semula. Lalu dia seolah merenung, matanya agak kosong dan menerawang jauh. Bener juga gue pikir, cowok gue sempat mengomentari pekerjaannya itu. "Untuk anak sebesar dia, harusnya dia sudah alih profesi. Pekerjaan menyemir sepatu terlalu mudah buat dia. Seharusnya dia mungkin sudah jadi kernet, atau tukang parkir. Minimal jadi pak ogah, lah," katanya.

Akhirnya, kita sudah tandaskan gado-gado yang makin ramai pengunjungnya itu. Mungkin udah pada selesai Jumat-an, kali, ya? Sementara itu, mata gue masih menatap si penyemir sepatu tadi. Terlihat dia berdiri dan memandangi mobil-mobil yang keluar masuk. Gue lambaikan tangan untuk memberikan uang semir sepatu tadi. Eh, dia malah memanggil si joki gado-gado. SI penyemir sepatu tadi malah kembali memandangi jalan. Mau dibayar enggak, sih? Kok santai amat, ya? Joki gado-gado yang memanggil anak tadi. Baru dia beranjak ke arah mobil kita dan langsng menuju tempat cowok gue duduk. Gue sendiri masih sibuk membayar makanan yang sudah kami makan. Gue cuma tahu kalau cowok gue lagi menyiapkan dua lembar uang ribuan, karena sempat bertanya-tanya kira-kira berapa harga menyemir sepatu. Barulah gue meoleh ke samping kiri, ke arah cowok gue, karena mendengar kata-kata, "Kebanyakan, Oom. Seribu aja," kata si penyemir. Gue juga sempat melihat cowok gue insist memberikan dua lembar ribuan, tapi anak itu cuma menggeleng ramah. Kata-kata si penyemir sepatu tadi seakan tidak bisa masuk akal gue! Di belantara Jakarta yang kata orang amat kejam ini, untuk bisa menyelesaikan masalah harus pakai uang, anak ini tidak tergoda untuk mengambil uang yang bukan haknya.

Kata-kata tadi sedemikian ‘keras’nya menghantam dinding perasaan gue. Gue merasa diinggatkan olehNya. Betapa sering kita tidak jujur, dia masih bisa memberi dari kekurangannya.

Ya, paling enggak ini bisa buat refleksi buat gue dan yayang. Betapa kecilnya kita nilai ukhrowinya ketimbang penyemir sepatu yang kita yang katanya lebih maju, lebih modern, pintar, bla-bla-bla…
Allah mengirim dia, agar kita bisa belajar dari orang lain.

Jl. Kertanegara, Jumat siang, 21 Juli 2000
(satu lagi tentang kejujuran)
laki-laki diambang 30-an, dengan seragam Hansip. duduk tercenung di trotoar di sebuah perempatan jalan memandangi mobil-mobil yang bersliweran di depannya. sambil sesekali menghembuskan asap rokoknya ke udara yang terkena polusi asap knalpot dan debu. dibelakangnya tersandar sepeda yang mungkin seusia dirinya.
matanya masih nanar memandangi jalan yang rapat dengan mobil. entah apa yang ada dalam benaknya. mungkin ia terpikir dengan permintaan anak, istrinya atau ibunya, kalimat-kalimat yang mengandung tuntutan. beberapa pesan yang menyiratkan kebutuhan hidup.
gajinya yang tigaratus ribu sebulan, penuh dengan potongan kas bon untuk menutupi kebutuhan hidup. sementara itu kebutuhan pokok di pasar harganya makin melambung.
siapa yang harus disalahkan? ia yang tak pernah mengecap sekolah tinggi? hingga mendaftar menjadi Hansip, Kamra or whatever they called? hingga ia terdampar di sebuah perempatan jalan untuk mengatur lalu lintas. kita yang berlalu lalang di depannya, mengharapkan bantuannya untuk memberi jalan mobil kita agar bisa segera melaju ke sebuah mal? makan minum belanja sepuasnya? atau kepada pemerintah yang terhormat? yang korup, yang nepotis, yang mementingkan kepentingan pribadi, di atas kepentingan publik?
hatiku sedih/ hatiku gundah/ tak ingin pergi berpisah/ hatiku bertanya/ hatiku curiga
mungkinkah kutemui/ kebahagiaan seperti di sini/ sahabat yang selalu ada/
dalam suka dan duka/ sahabat yang selalu ada/ dalam suka dan duka/ tempat yang nyaman/
kala ku terjaga/ dalam tidurku yang lelap/ pergilah sedih/ pergilah resah/
jauhkanlah aku dari salah prasangka/ pergilah gundah/ jauhkanlah resah/
lihat segalanya lebih dekat/ dan kubisa menilai lebih bijaksana/
mengapa bintang bersinar/ mengapa air mengalir/ mengapa dunia berputar/
lihat segalanya lebih dekat/ dan ku akan mengerti.....
(Mira Lesmana)

(I was there...)
dengar suara musik
mengawali pawai
seruling mengalun dan gendrang bertalu
pemain lincah, seragamnya elok
sambil berbaris memainkan lagu

suasanapun riang, siapapun senang
sorak sorai para penonton mengelukan
suasanapun riang, siapapun senang
sorak sorai para penonton terkesan
.......
(A.T. Mahmud)

(senangnya jadi anak kecil... damai dan indah melihat dunia sekitar...)
puja-puji hanya bagiNya semata
bagiku, cintamu yang tulus cukuplah sudah...

(peluk cium untuk Mas Ivo)
garing neh...
kangen sama yayang...

(pas kangen sama yayang, nun jauh di sana...)
Tuhanku...
Engkau Maha Tahu
Engkau Maha Baik
semua pengalaman dijalani
semua rencana dikedepankan
pasrah dan berserah ujud doa kami
wahai Sang Arah yang Maha Tahu dan Maha Adil
bawalah kami menuju tempat terindah pilihanMu...

(berserah, pasrah, menunggu pemberangkatan ke negeri harapan)

I look around
I fly to find
Place to lay
My head upon.... (Ahmad Dhani)

---rika---