mau nulis apa, ya?
tadi sih sewaktu masih dalam perjalanan, banyak banget ide bersliweran di kepala.
tiba-tiba menjadi buntu setelah berhadapan dengan halaman blogger-ku :-p
huehehehe...
enggak kreatif nih!
atau karena kepanasan?
masa pasang AC, sih? artinya... gue mengingkari janji dong...
gini, janji gue adalah anti pemasangan AC di rumah-rumah.
karena dengan pemasangan AC yang tidak disesuaikan kebutuhan dan iklim akan memicu global warming menjadi tak terkendali.
tapi, di lain pihak, AC memang sangat dibutuhkan.
contohnya saat berkendara dengan mobil di ibukota tercinta ini.
huah... makan cabai aja enggak sepanas ini. huehehehe... jelas, kalau makan cabainya cuma sebuah dan masih muda.
naik mobil berpendingin udara, berkaca gelap (yang katanya bisa menangkal panas matahari sekian puluh persen sekaligus mengurangi radiasi yang diakibatkan dari sinar mentari), terjebak di kemacetan Jl. Sudirman yang enggak jelas penyebabnya, jelas sedap sekali!
baiklah, kalau alasannya bermobil di Jakarta harus pakai AC. dengan berat hati gue terpaksa setuju.
walaupun dampaknya jelas-jelas juga kurang baik bagi kemaslahatan manusia di dunia.
tapi, pasang AC di rumah? jelas-jelas sudah ada statement berupa anti penggunaan AC di rumah.
tapi di musim yang harusnya sudah masuk musim penghujan ini, memiliki ruang kerja di lantai 2 yang sirkulasi cukup baik dibantu 2 kipas angin yang dinyalakan, dengan komputer Pentium 4 yang terkenal panas, ditambah lagi hardisk keluaran baru yang menurut review produk, sebaiknya diberi kipas khusus hardisk karena mudah panas, rasanya kamar berukuran 5 X 5 itu masih terlalu panas.
dalam hati, hitung-hitung sauna gratis. hahaha...
baiklah, mungkin bisa dibuat perkecualian. untuk ruang kerja bisa dipasang AC. toh kami tak setiap hari tidur di lantai 2. kecuali sedang banyak pe-er dari kantor untuk dikerjakan, atau sekadar main game, atau bertepatan dengan weekend (soalnya di kamar kerja tersebut selain seperangkat komputer bermodem, terdapat pula 'home theater'), atau memang harus tidur di lantai 2 pas musim penghujan karena lantai bawah kebanjiran. maka, dipasang AC harusnya tak menyalahi aturan, ya? setuju?
kalau di kamar tidur memang sebaiknya tak diberi pendingin udara, cukup kipas angin saja. sudah cukup, kok. kan lantai bawah sudah teduh karena di sekeliling kamar terdapat taman. apalagi kalau nanti punya anak. apapun alasannya, tak akan pasang AC di kamar bayi/ anak. jadi manja! toh kita sampai sekarang masih hidup walau sewaktu bayi kamarnya tak ber-AC. hehehe....
jadi kesimpulannya apa? pasang atau tidak, tergantung dana. tergantung pula offer dari toko elektroniknya. ada yang jual 1 PK dengan harga yang pantas (alias di bawah 2 juta rupiah), dengan merek yang sudah terkenal (minimal dast, deh), sepertinya lucu juga kamar kerja diberi AC.
setuju?
selama sekian puluh tahun bisa nyetir (let say, gue bisa nyetir sendiri sejak kelas 2 SMP, artinya itu gue berumur 14 tahunan. dan sekarang sudah 32 tahun. jadi bisa dibilang puluhan tahun, kan? huehehehe), selama itu pula gue pengguna setia mobil berbadan mungil. sempat naik Hardtop bokap juga sih. tapi nyaris dibilang cuma minjem...
ya kebanyakan memang hanya menaiki mobil jenis kecil yang cc-nya berkisar antara 1000 cc sampai 1600 cc.
yang pertama, Suzuki Katana 1991. hijau tua. 1000 cc. 1991-1996 dilanjutkan 2002-Oktober 2003. dengan mobil 'gagah' ini, gue udah melaju kesana kemari dari rumah di Cempaka Putih p-p ke kampus di Depok. mengantar kuliah, menaungi dari panas-hujan-colekan orang. ke rumah temen ngerjain tugas, sampai nyulik anak-anak Antrop 90 ke Blok M. buat pergi kencan sama pacar jaman kuliah (apa kabar lo?) ke penjuru kota. bantuin ke sana kemari untuk acara pengumpulan dana sarasehan JKAI ke Irian, dana inisiasi angkatan gue, acara seminar ilmiah jurusan, hingga part time jadi interviewer untuk lembaga-lembaga penelitian di Jakarta. tapi 'pahlawan' ini malah belum pernah ke luar kota sama gue, lho! hehehe... hingga akhirnya di tahun 1996, dia sempat nganter gue wawancara di kaWanku dan nemenin sebentar untuk bolak-balik Cempaka Putih-Kebon Jeruk. lantas si Katana dialih tugaskan untuk menemani adik gue bolak balik kampus yang sama (cuma beda fakultas) dan segala kegiatan adik gue.
kalau si Katana Hijau ini mampu berbicara, gue rasa dia udah marah-marah dan protes abis. dia sudah jadi saksi mati gue dengan segala kegiatan gue bahkan dengan segala cowok yang pernah pacaran atau sekadar kencan sekali dua. hahaha...
belum lagi saksi sewaktu marah-marah sama sopir metro mini karena bodi-nya disenggol. belum lagi diludahi sak truk tronton penuh berisi tentara di Kalibata, karena mereka enggak mau minggir dan gue protes marah-marah.
akhirnya, setelah menikah dan pindah rumah ke Bekasi, dia ikut gue lagi. hello again!!!
yang membuat gue jadi terharu, Katana ini pernah menyelamatkan keluarga kami (gue, suami dan pembantu) untuk mengarungi air deras yang mengepung rumah kami... alias banjir besar kemarin. thanks yaa...
akhirnya, dengan melihat segala kegigihannya, nyokap gue memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatan si Katana. "biar istirahat dulu. kamu pakai yang lain," ujarnya. jadilah sekarang Katana Hijau tercinta itu, sedang nongkrong dengan nyamannya di garasi rumah ortu gue. kangen sama macet Bekasi-Jakarta-Bekasi, enggak ya?
Toyota Starlet 1989. biru tua. 1300 cc, punya ortu. 1989-1991 dilanjutkan 1996-2000.
mobil cantik tapi gagah ini dipinjamkan ortu untuk membantu aktivitas gue waktu SMA (masih pakai supir :-p sampai kuliah awal. sebentar banget sih, tapi berkesan. karena gue berhasil membawa ke sana kemari tanpa cacat sedikitpun. beda sama si Katana.
hubungan gue dengan Starlet ini berlangsung lagi setelah kerja. nyokap memberikan mandat boleh mempergunakan Starlet ini sebagai alat transportasi. di kantor, Starlet ini fungsinya benar-benar cuma Cempaka Putih-Kebon Jeruk doang. jarang banget buat pergi ke sana kemari. soalnya di kantor disediakan mobil dinas.
tapi masa mengendarai Starlet ini, gue ketemu dengan bekas pacar alias suami gue!
hehehe... dengan Starlet ini pulalah ia menjadi saksi bisu cinta kami. huah.... dan membantu persiapan pernikahan kami di tahun 2000 lalu.
berbarengan dengan menikah, gue kembalikan mandat dari nyokap. Starlet kembali ke pangkuan ibu....
setelah menikah, barulah gue mencicipi Honda Civic 1976. putih. 1600 cc. punya suami. 2000-2001. mobil ini unik. karena bisa dikendarai tanpa menekan pedal gas atau rem bahkan kopling (soalnya matic :-p). tahu alasannya? soalnya ini mobil khusus punya suami gue yang di desain untuk tuna daksa. tuas kopling, rem, gas dipindahkan ke tangan! tapi buat gue dan yang lainnya masih bisa as usual, karena memang aslinya tetap ada. sedangkan buat suami, dia mempergunakan tangan untuk mengendalikan mobil tersebut.
mobil kecil mungil ini asli larinya kencang banget! enggak heran, suami gue pernah mengalami 'sedikit' kecelakaan saat mengendarainya. tapi yang nyebelin, entah karena memang sudah mobil lama, entah 1600 cc-nya, kalau urusan sama bensin, waduh, glek-glek aja tanpa mikir udah gajian atau belum... :-p
cacat mobil ini selain doyan minum bensin, juga sering batuk-batuk. makanya di tahun 2001, mobil ini kami relakan keberadaannya, dan dipindahtangankan kepada yang memerlukan.
selain si Civic putih, ada mobil lain lagi yang kami pergunakan bersama, Honda Excellent 1981. biru metalik. 1300 cc (kalau enggak salah, ya?), milik suami yang diberikan kepadaku....
hehehe... ini modal dari suami buat gue yang doyan ke sana kemari. setelah mengembalikan Starlet, untuk kerja sampai saat ini masih ada si biru ini. jujur aja, sekarang dia sudah enggak ada kece-kecenya lagi. huehehehe...
tapi lumayan lah, masih bisa buat ke pasar yang dekat rumah atau beli lauk di Perumnas I. ceritanya sih banyak, tapi honestly, I'm speechless. sorry... :-(
lantas, bintang saat ini adalah Daihatsu Ceria 2003, merah metalik. 1000 cc.
ceritanya ini pengganti Katana yang buat kami adalah 'gue banget' (sorry MTV, gue pinjem istilah elo!) Katana bisa bawa kursi roda. bisa muat pindahan. bisa bawa barang dagangan. sedangkan Ceria sejujurnya hanya muat kami berdua (dan masih pakai senggol-senggolan segala), kursi roda harus ditidurkan. enggak bisa muat belanjaan bulanan yang seabrek itu. fiuh... pengennya sih punya mobil gede, muat banyak. ada tempat kursi rodanya. wah, mimpinya tinggi! mampunya cuma segini ya diterima aja, lah. masih bisa bersyukur, masih bisa bawa mobil sendiri kemana-mana tanpa kena panas matahari dan tempias hujan.
hehehe... wilkommen, Ceria merah.... selamat menjalani hari-hari kita bersama...
posting di Milenia Net Cafe Pasaraya Grande yang mempergunakan Linux RedHat.
huh... gak bisa mempergunakan yahoo!messenger.... pakai Linux Knoppix duong....
mual-mual rasanya melihat tayangan eksklusif dari SCTV mengenai acara siksaan di balik tembok SPDN. kayak abis naik roller coaster 7 kali bolak-balik.
matanya berkunang-kunang.
menurut beberapa orang yang mengaku mengetahui keadaan sebenarnya di STPDN, tayangan tersebut tidak berimbang, karena pada akhir acara penyiksaan tadi, para senior-junior kumpul-kumpul bareng dan ketawa-ketawa. oh yeah?
mungkin pendapat gue tak berimbang. lebih banyak empati kepada para korban, alias anak-anak yunior di STPDN. artinya gue ber-empati kepada para senior yang nota bene dulunya pernah menjadi yunior juga dan mengalami penyiksaan juga, dong? ....
weks. sebenarnya apa yang terjadi di dalam kebiasaan-kebiasaan di STPDN adalah telah berakar dari angkatan doeloe sampai hari ini. penyakitnya udah dari dulu!
entah siapa yang memulai. enggak jelas. gelap. yang jelas para petinggi di STPDN maupun pejabat pemerintahan yang ada sangkut pautnya dengan 'pabrik' pamong praja sak Indonesia ini kelihatanya setengah mencak-mencak. dan kebakaran jenggot. bau kotoran yang selama ini ditutup-tutupi belakangan tercium juga.
ada yang protes nyinyir ke sana kemari mempersalahkan pihak SCTV yang dengan berani sudah menayangkan video tersebut. ada pula yang mencoba beradu argumentasi yang terlihat malah debat kusir mempertahankan pendapatnya mengenai pro-kontra dibubarkannya STPDN karena ketahuan belangnya sebagai 'sekolah penyiksaan'.
kita, lebih tepatnya gue, sebagai warganegara Indonesia (bayar pajak artinya ikut biayai mereka juga, kan?), sebagai masyarakat penonton televisi di Indonesia, sebagai manusia yang memiliki perasaan, awalnya cuek, karena sudah sehari-hari disuguhi tontonan kekerasan lewat layar televisi.
tapi akhirnya sadar juga, karena ini adalah fakta (sori, gue anggap hal ini adalah kenyataan sehari-hari di STPDN). oh God, bisa bantu apa? ini bukan korban perang Aceh atau korban tanah longsor yang bisa kita bantu lewat berbagai dompet peduli.
mau di bawa kemana negeri gemah ripah loh jinawi (katanya) ini??? mau cari adil lewat adu jotos?
man, ceritanya mereka yang bersekolah di STPDN (sekolah tinggi pemerintahan dalam negeri) nantinya setelah lulus (atau lolos? :-p) bakalan jadi pemimpin formal di masyarakat. biasanya sih jadi camat-lurah gitu lah.
enggak kebayang deh punya pimpinan yang dekat dengan masyarakat tapi tingkah lakunya waktu masih jadi anak sekolahan polahnya sedemikian rupa. marah-marah main tangan.
serem....
belum lagi kalau mereka berhasil meniti karir dan menjadi orang yang berada. ya minimal punya mobil keluaran baru. nanti nyetir di jalanan kayak punya nenek sendiri.
wawut-wawutan. enggak mau ngalah, lampu merah tancap aja. ditegur, marah. ngajak adu tinju.
hehe...
auk ah gelap.
mending cabs aja dari sokin :-p
setidaknya gue punya kesadaran, nanti kalau punya anak jangan dididik dengan kekerasan. apapun alasannya. ajak ngomong aja.
memaku batang kayu lebih mudah ketimbang nyabut. yang ada berbekas dan gak gampang ilang bekas pakunya.
tadi pagi gue nge-drop suami di tempat omprengan. hari ini gue enggak ngantor. lagi pengen di rumah. selepas cup-cup-muah sama suami, beli lauk (lagi males masak juga:-p), then home.
eh, tiba-tiba di depan jalan masuk perumahan tempat kami tinggal yang selalu penuh dengan tukang becak dan tukang ojek, ada lambaian tangan. da-da. si tukang becak langganan yang mangkal depan rumah. dengan senyumnya yang tulus dan lumayan manis itu dia melambai ke arah gue. ya gue balas aja dengan lambaian tangan dan senyuman. menengok ke kanan, ada si Unang, temer 58 sekaligus Polisi Cepek BSK shift kedua. senyum lagi dan da-da lagi :-).
di depan jalan gue ada sebarisan tukang ojek yang memandangi gue dengan takjub (atau takzim?). di wajah mereka ada tulisan: "siapa sih ibu-ibu ini? lambai sana, lambai sini..."
hahaha... rasanya kok jadi selebriti. enggak perlu kebanyakan bacot sana-sini enggak jelas ngasih statemen tertentu. tanpa perlu dandan menor dan meng-hair extension. tak usah kawin cerai enggak jelas sama siapa. pagi ini gue blessed banget. diberi senyuman tulus dari 'fans'.
bener-bener serasa selebriti.
dan gue bangga, bisa kenal sama tukang becak yang banyak senyum itu dan si Unang yang mau menyeberangkan jalan saat gue enggak bawa mobil. sama Pak Slamet tukang sayur, Pak Ali penjual bakso bening yang enak itu. sampai Aguslan pengecer majalah di Jakasampurna.
rasa bangga itu justru enggak tampil, pada saat hidup gue masih berdekatan dengan manusia-manusia berlabel selebriti itu. biasa aja rasanya bisa foto sama Dewa (d/h Dewa 19) walaupun ada setitik kesombongan bisa punya foto bareng dan semua record mereka ditandatangani langsung. rasanya datar bisa naik BMW merahnya Denada dan dia sendiri yang nyupirin Jakarta-Puncak-Jakarta. malah terbersit dalam hati, malah gue kayak jongos mereka aja. karena mereka akan baik pada saat mereka menginginkan kehidupan selebriti-nya terekspos dalam keadaan tak bercela.
bahkan pembantu gue-pun masih bisa hidup kayak yang punya rumah sendiri, ketimbang gue yang 'sekedar' jadi wartawan hiburan. celingak-celinguk di tengah gempita pesta ria kaum selebriti. hahaha... atau jangan-jangan memang enggak cocok jadi selebriti ya?
bsk, 18/9/03
postingnya udah pake IE di Win2000 lagi :-))
udah lama banget enggak nulis di blog.
alasannya sibuk.
ngurusin tagihan.
ngirim barang.
pergi ke klien.
ngurus rumah.
kadang masak.
main game kompie.
online.
check e-mail.
nulis e-mail buat bro di Nantes.
browsing ke situs-situs ajaib.
jalan ke mal.
makan di luar.
belanja rutin.
weekend sama suami.
marah-marah.
nyanyi.
tidur.
ngurusin yang sakit.
baca buku-buku bagus.
baca Kompas.
telepon temen/ ortu.
ke rumah ortu/ mertua.
ada yang ultah.
beli kado.
arisan.
pengen sendiri.
makanya enggak sempet nulis di blog.
BSK, 18/9/03
posting pakai Konqueror di atas Linux Knoppix di rumah :-))
Wahai para TERORIS!!! FUCK YOU!!!
karena gara-gara bom kalian, kami harus menanggung :
1. kepiluan karena banyak keluarga yang kehilangan orang yang dicintai
2. macet, karena mobil berhenti di pinggir jalan karena harus antre pemeriksaan kendaraan sebelum masuk lobby gedung-gedung perkantoran atau pertokoan
Aku di sini kau ada di sana
Membentang luas samudra biru
Memisahkan kita
Inginku berenang ke kotamu
Tapi pasti tenggelam dan kau sedih
Kirimi aku kabarmu di sana
Lewat telepon surat faksimili
Ngobatin rinduku
Kirim juga photo ukuran jumbo
Biar kupajang di kamarku
*
Ngurangin beban ini
Ngurangin sesak ini
Ngurangin rasa ingin bertemu
Nggak perlu curiga
Karna tahu kau masih
Memegang janji yang pernah kita sepakati
Reff :
Mungkin tak lama lagi
Aku hadir disana
Atau tak lama lagi
Kau yang ada disini
Aku disini kau ada disana
Membentang luas samudra biru
Memisahkan kita
Inginku terbang bersama angin
Tapi nanti tersesat dan kau sedih
(Kabari Aku, taken from Jamrud 'Ningrat')
dengar lagu ini jadi ingat beberapa waktu lalu saat gue dan suami masih terentang jarak Jakarta - New Hampshire. konyolnya gue bisa tercenung di mana saja berada pas ada alunan lagu ini. alhamdulillah kami sekarang sudah berkumpul kembali dalam satu negara, satu kota, satu rumah, satu tempat tidur :-))
ternyata di balik keletihan hati karena berjauhan dan memendam rasa rindu itu, kami menemukan hikmah. pada awalnya memang berat sekali. banyak penyesuaian yang harus kami lakukan sana-sini. belum lagi penyesuaian dengan keluarga besar kami. kalau kami terlalu peduli dengan suara di luar, bisa-bisa perkawinan kami yang baru seumur jagung mudah digoyang.
walaupun kenyataannya banyak masalah yang timbul di sana-sini, justru membuat kami jadi semakin dekat dan mengerti satu sama lain. mungkin kalau enggak ada kejadian 'pisah ranjang' ini, kami rasa harus memerlukan waktu yang lebih panjang untuk mengenal satu sama lain.
saat ini kami masih terus saling mencintai dan menyayangi. tak ada rasa penyesalan apa yang pernah terjadi di tahun-tahun lalu. kami hanya bisa menyempurnakan dengan menjadikan hari yang akan kami lalui dengan lebih baik.
ps: terimakasih kepada Tuhan yang telah mepertemukan dan mempersatukan kami.
dulu aku hanya seorang bayi yang hanya bisa menangiskan segala sesuatu yang aku inginkan. lapar, buang air, bosan, sakit, kesepian, hanya bisa menangis. tertawa juga, sih, kalau ada ibu atau bapakku yang menemani atau mencandaiku.
saat sudah bisa protes dengan kata-kata, seringkali aku membuat orangtuaku tersinggung. aku bisa memprotes saat dilarang ikut-ikutan ke disko. aku menuduh mereka kurang menyayangi aku. atau belajar ogah-ogahan karena kurang menyukai pelajaran tertentu? padahal sebagai orang tua, mereka sudah bekerja keras mengumpulkan uang demi pendidikan anak, mencarikan sekolah yang baik, bahkan membelikan baju-baju gaul agar anak mereka enggak ketinggalan jaman.
saat mata hatiku mulai terbuka, aku bersyukur, aku dipelihara oleh orangtuaku dengan penuh kasih sayang. dengan segenap perhatian untuk membuat diriku menjadi manusia yang berguna. karena sampai kini masih saja ada orangtua yang tega menyia-nyiakan anak-anak mereka. ada yang membunuh bayi mereka yang baru lahir demi menutupi aib si orang tua. atau membuang bayi yang dibungkus tas plastik kresek ke dalam got. bahkan membiarkan anak-anak mereka berkeliaran di jalan-jalan menenggadahkan tangan kepada orang-orang yang lewat. tanpa pernah mengecap bangku sekolah dan memperoleh baju bersih untuk dikenakan sehari-hari.
terimakasih ibu, terimakasih papah, yang dari kecil hingga aku dewasa kini, masih mau memberikan segenap perhatian dan kasih sayang kalian kepadaku. tanpa ibu dan papah, rasanya aku bukan siapa-siapa. dengan dorongan dari kalian aku bisa menyelesaikan sekolah, memiliki ilmu yang dapat aku amalkan, memberikan contoh perilaku yang baik, mendorong memperoleh cita-cita yang aku inginkan. bahkan masih mau menegurku jika terlihat di mata kalian aku melakukan kesalahan. mohon ampun pula, jika aku masih sering membuat sedih ibu dan papah. aku tetap dan selalu sayang kepada kalian sampai kapanpun. terimakasih karena sejak dalam kandungan hingga terlahir di bumi, aku selalu dipelihara. diberi perhatian, kasih sayang bahkan hardikan untuk membuat diriku lebih baik dari sebelumnya. bahkan sampai aku sudah memiliki keluarga sendiri (aku masih berhutang 'mempersembahkan' junior), ibu dan papah tetap memperhatikan dan melimpahi diriku dengan kasih sayang. sekali lagi, terimakasih! karena kasih sayang ibu dan papah berdua, aku ada.
(dedicated to my Ibu dan Papah. sooo many thanks dan love to both of you!)
:today is my 32nd birthday, thx to my beloved hubby for caring dan loving.
The story of Winnie the Pooh started when a young vet living in Winnipeg, Canada, was stretching his legs on a train platform in Ontario. This man, Harry Colebourn, was serving in the Canadian Army at the time. He saw a man cradling a tiny orphaned black bear cub, and bought it for $20. The bear, who Harry called Winnie after his hometown in Winnipeg, became the Canadian Army's mascot. After coming to England, Harry Colebourn and the other Canadian soldiers had to go to France, so Winnie was put in the care of London Zoo. When Lieutenant Colebourn came back from France, he found that Winnie was having such a wonderful time at the Zoo that he decided to let him stay there forever. Winnie lived until 1934.
Christopher Robin was one of Winnie's greatest fans, and was allowed to go inside the cage with him. Here is a passage from the introduction to "Winnie the Pooh".
So when Christopher Robin goes to the Zoo, he goes to where the Polar Bears are, and he whispers something to the third keeper from the left, and doors are unlocked, and we wander through dark passages and up steep stairs, until at last we come to the special cage, and the cage is opened, and out trots something brown and furry, and with a happy cry of "Oh, Bear!" Christopher Robin rushes into its arms.
Since Christopher Robin loved Winnie so much, he renamed the bear that he had received for his 1st birthday, Edward Bear, and called him Winnie the Bear. A poem from "When We Were Very Young" tells that Christopher Robin met a swan, and called him Pooh, but the swan has gone now, so Christopher Robin changed Winnie the Bear to Winnie the Pooh in honor of the swan.
Christopher Robin's father, Alan Alexander Milne, loved to watch Christopher Robin and Pooh play together in Ashdown Forest, so he wrote stories about them, along with Christopher Robin's other toys, Piglet, Tigger, Eeyore, Kanga and Roo. He also made up the characters Rabbit and Owl, based on real animal living in the Forest. In the stories, Asdown Forest was called the Hundred Acre Woods. "Winnie the Pooh" was published in 1926, followed by "The House At Pooh Corner" in 1928.
In 1961 in America, Walt Disney was reading the Pooh stories to his children. He liked the idea of Winnie the Pooh and his friends, so he decided to use Pooh in a movie. After all of the neccesary paperwork, Walt set out to create his dream. In 1966, "Winnie The Pooh And The Honey Tree" was a big success, and in 1968, "Winnie The Pooh And The Blustery Day" won an Academy award. In 1974 another Pooh movie was made, called "Winnie The Pooh And Tigger Too".
*mwa-mwa-mwa*
The ending of Doraemon, the never ending story.
As you know, Doraemon is a story with no ending, but this small story is about the "last episode" of the famous cartoon. Someone made this story and uploaded it to his homepage, and it is now widely spread all around Japan through the internet.
Here it goes :
One day,a very normal day, Nobita came back from school and went upstairs of his house. Doraemon was there sleeping, just like the other normal day. "Hey, Doraemon, please wake up, lets play!" But Doraemon does not wake up. Nobita thought that Doraemon is tired, so he went out to play with Shizuka-chan and other folks. After few hours, he returned to his home, but Doraemon was still sleeping. Nobita felt something strange, and tried to wake him up. But there was no reply. He became to feel afraid, and tried to wake him up, but whatever he does, Doraemon did not wake up.
Nobita exactly knew that something was different. This never happened before. He began crying, but though he screamed or cried, the famous fat-cat-robot did not make a single move at all. He came up to one idea, and jumped into his desk -the time machine-and went to the future to meet Dorami-chan, Doraemon's sister. He begged her for help, and forced her to go with him back to 1998.
After a short trip again back to 1998 by the time machine, Dorami-chan looked all over his brother Doraemon to see what was wrong with him. After few minutes, she said "the battery is out" Nobita was relieved, and said, "battery? so he is not broken right? please replace or recharge his battery, and put him back like before."
But Dorami-chan shook her head and said, "Nobita-san, should I really do that?" Nobita said "what? what do you mean?" Dorami-chan replied; "His main battery is here, close to his pocket. And it ran out. But originally, he had a back-up battery in his ears, but as you know, his ears were eaten by a rat very many years ago, so he does not have a back-up battery now."
"so what do you mean?"
"I mean, if I replace his battery, every memory of you will be eternally lost from his brain program."
"WHAT?????"
"Shall I do that?"
Nobita closed his eyes. He cried, but after few minutes, he stopped crying, and quietly told Dorami-chan, "Dorami-chan, thanks for coming here. I will take care of the rest. You have to go back to your future time now."
Dorami-chan could not decide what to do, but anyway she hugged Nobiya quietly, and she went back home. After she went back, Nobita carried Doraemon and placed him into the shelf.
............TIME FLIES..........
Year 2010, Nobita grew up. Since that day, he changed. He studied hard, did not cry anymore, and he lived without Doraemon. He told Shizuka and other folks that Doraemon had to go back to his future, and could not meet him anymore.
Shizuka was impressed to Nobita's mysterious appearance which became completely different from 10 years ago. They fell in love, and married. Nobita became a scientist. He made a laboratory in his room, and was studying hard with his job all day. He told Shizuka not to come into the room, as it is very dangerous inside.
But one day, he called Shizuka and told her to come in to his room. It was the first time for her to enter his husband's room. The moment she went in, she lost her words ......
There was her friend Doraemon, who she used to play in her childhood days. Doraemon was not moving. It seemed as he was sleeping. "Look, Shizuka, I will plug in from now" Nobita turned on the main switch on Doraemon. Doraemon quietly, very quietly started to open his eyes. It was the moment the inventor of Doraemon became clear. It was Nobita. He studied hard and hard just to meet and talk with his old friend again. Going back and forth of time, Nobita was the one who made Doraemon. He discovered all the programs and archetecture of Doraemon-type-robot. Nobita and Shizuka was crying gently.
Doraemon opened his eyes. He looked around, and finally said, "Nobita-kun, did you finish your homework?" There was the same white clouds in the sky like the times they used to spend together...
hari ini capek. kerasa kalau enggak ada bedinde, kerjaan lagi banyak, cucian numpuk, lantai belum disapu dan dipel. bingung! caranya, ya harus dikerjakan satu-satu. akhirnya selesai juga...
masalah enggak ada bedinde sebenernya pada saat harus meninggalkan rumah kosong. berdoa sajalah kepada Tuhan dan memasrahkan diri, insya Allah Sang Gusti yang akan menjaga milik kita.
he he he
kemaren siang liat si melly ex "putri malam" lagi diwawancara di acara infotainment betis di anteve. bangga dia menyebut dirinya sebagai pencipta icon "ayuk mang".
setau gue sih, "yuk mang" itu jargon. sebuah frasa tidak bisa disebut sebagai icon. kalau yang disebut sebagai icon itu adalah tokoh, nah ini baru bener. mungkin dia bermaksud untuk menyebut bahwa dia bangga telah berhasil menciptakan dirinya sebagai icon yang mempopulerkan jargon "ayuk mang". sayangnya kayaknya dia kurang mengerti perbedaan mendasar arti kata icon dan jargon, sampai-sampai waktu diwawancara, kata tersebut keluar begitu saja seperti memang seperti itulah seharusnya.
lagi pengen protes aja sama banyak selebritis (artis, aktris, aktor, penyanyi, tokoh masyarakat, pembaca berita, pembawa acara, dll) yang suka salah pakai kata, tapi nggak ngeh kalo salah. contoh lain yang paling sering, kata 'event' dibaca seperti melafalkan kata 'even'. dulu smp waktu dapet basa inggris pada kemana seeeh? orang-orang di sekeliling kalian itu ngapain aja sih kerjanya? tau salah kok nggak ada yang mencoba mbenerin? apa sama nggak taunya? apa cuma pada menjilat aja?
satu hal yang pasti: bikin malu aja. soalnya jadi ketauan begonya.
setidaknya, kalo gue, karena merasa belum pinter, ya belajar untuk jadi lebih tau.
and keep my mouth shut kalo emang gue nggak tau!
resto dipitdeep soakit yummy
tempat makan sepuasnya yang menyajikan makanan shabu-shabu dan barbeque ini terlihat mati enggan hidup pun tak mau. seperti salah satu outletnya di Metropolitan Mall Bekasi. dari pagi-pagi buka sampai malam kayaknya customernya enggak lebih dari sepuluh meja per harinya. melihat keadaan seperti itu cuma sebersit rasa kasihan. perasaan iba ini lebih banyak untuk pegawainya. kalau kayak gini terus menerus, bisa-bisa mereka bisa kena phk, kan?
sebenarnya untuk menyelamatkan keadaan resto yang memiliki 5 cabang di Jakarta dan Bekasi ini adalah mengadakan promosi. ya harga, ya menu makanan atau promosi dengan majalah-majalah dan enggak lupa pasang iklan. sedikit banyak rasanya mereka cukup mengerti dengan keadaan resto yang nafasnya senen-kemis ini. buktinya mereka sudah memberikan harga yang lumayan murah di antara resto yang menyajikan makanan serupa. untuk full menu ambil dan masak sendiri ini, hanya mematok harga Rp. 50.000 nett. murah, kan? bandingkan dengan Nanabantei atau Pa'regu. jauh banget, dua yang terakhir gue sebutkan tadi memasang tarif sekitar Rp. 65.000++ daaaan... belum termasuk menu minuman, lho! berbeda dengan dipitdeep, Rp. 50.000 tadi sudah termasuk minuman yang bebas ngambil sampai pipis-pipis. minumannya juga lumayan, ada aneka softdrink dan lipton ice lemon tea yang syedap banget itu (i really love this lipton ice lemon tea) belum lagi aneka es campurnya yang lumayan juga. promo iklan radio, masih ada. soalnya kalau kita makan di sana, dipasang radio yang menyiarkan iklan dipitdeep. lalu di koran-koran ibukota kadang sekali dua masih ada iklan kecil mungilnya.
tapi dengan harga segitu, kok masih saja resto tadi sepi pembeli, ya? beberapa kali mengunjungi tempat makan tersebut pada jam makan siang, dari sekitar 20-an meja hanya terisi 3 meja yang masing-masing paling banyak berisi 3 orang penikmat. rasanya gue bisa sedikit memberikan kesimpulan tentang sepi pengunjung resto dipitdeep dari pengalaman makan di sana;
1. rasanya biasa saja
2. bahan-bahan sudah tidak terlalu fresh, tapi belum busuk
3. ada kecoa kecil-kecil keluar dari kompor
4. bumbunya begitu-begitu saja, dulu-dulu sih enak, belakangan a little bit too salty
5. pelayannya agak menganggu karena ikut memasakkan bahan makanan dan meramukan bumbu-bumbu yang rasanya agak ajaib, dengan dalih membantu. hakekat memasak makanan sendiri makanan anda jadi lari deh.
6. kami berlima (ortu, gue, suami dan adik gue) pernah makan siang di salah satu resto dipitdeep di daerah utara jakarta, sepulang dari sana kami murus-murus dan harus bersahabat dengan wc. yang paling parah suami gue karena sakit perutnya paling hebat, dia mengalami diare sampai 2 hari.
mungkin saja penilaian gue di atas enggak bener. tapi beberapa tahun yang lalu, di surat pembaca Kompas pernah ada keluarga yang complain terhadap resto ini. mereka menemukan kecoa di bagian sayur-sayuran. sayangnya dari pihak dipitdeep enggak ada tanggapan.
sampai detik ini, resto tersebut masih buka dan sedang menunggu pembeli. entah orang yang tidak tahu atau orang penasaran macam gue yang akan masuk ke resto tersebut.
kalau enggak ada perbaikan apapun, rasanya dipitdeep enggak bakal lama eksis. lagi-lagi kasihan pegawainya... dan ada pengangguran lagi....
pertanyaan: siapa sih pemodal atawa pemiliknya? anda hebat sekali masih bisa mempertahankan dan mengelola dipitdeep ini. salut deh! kalau saya jadi anda, kayaknya udah tahun dulu resto ini saya tutup :-p hehehe...
gile! keren banget situs ini. it's about leisure time. i wish i could make this for me.
hari ini gue sudah mulai beraktivitas. masih sekeliling rumah aja sih. melakukan hal-hal yang minggu lalu belum bisa gue lakukan. bayar listrik, ke satelindo, ke bank, belanja bahan buat bikin coklat, dan... JALAN-JALAN KE MOL.
apa sih sebenarnya hakekat jalan ke mol? sekadar window shopping atau memang ada keperluan membeli sesuatu? terus terang, ke mol (mana aja) dari duluuuu sampai sekarang tetap menyenangkan. padahal yang didatangi akhirnya hanya mol atau pusat perbelanjaan yang itu-itu aja. soalnya pertumbuhan mol dan kekerapan mengunjungi mol sak Jakarta pertambahannya enggak sesuai deret ukur. :-p
window shopping? ya. tapi kalau sekadar untuk dilihat dan melihat macam abg di Plaza Senayan atau Cilandak Town Square sih enggak deh au. jadi kebutuhan nge-mol buat gue window shopping sekaligus shopping sekalian. walaupun kadang yang dibeli juga sekadar barang tak berguna atau sekantong buah-buahan. yang ajaib, kenikmatan ngider di mol ini bukan jalan-jalan sak rombongan ibu-ibu atau suami. gue suka banget ke mol di hari biasa siang atau sore hari, sendirian. ya, sendiri aja. beda lagi kalau jalan ke pusat perbelanjaan dengan suami. kami lebih menyebut sebagai eksplorasi berkursi roda di berbagai pusat perbelanjaan jakarta. jadi, kita cari tahu di mol mana yang 'tidak mengijinkan' pekursi roda menikmati mol-nya, dan pusat belanja mana yang 'welcome' betul dengan kaum difabel.
seperti siang tadi, sebenarnya alasan gue ke mol karena membelikan titipan teman. kebetulan barang yang diinginkan enggak ada di tempat perbelanjaan di sekitar ia tinggal. alasan kedua, karena sekalian parkir untuk bayar listrik. alasan lainnya, udah seminggu lebih enggak lihat mol. what a stupid reason, huh?
setelah di mol, gue baru merancang kebutuhan yang harus gue jalani. yang pasti: beliin titipan sinta, beli buah, nge-check vcd indonesia terbaru untuk dikoleksi, mau potong rambut (karena rambut gue abis sakit rontok berat dan mulai kepanasan karena sudah terlalu panjang) dan lihat-lihat aja. setelah selesai melakukan hal-hal pokok tadi, akhirnya beli majalah dan makan siang. terus pulang.
gitu aja? hehehe, i'm happy enough with that. mungkin gue seneng ke mol karena bau mol yang khas dan masing-masing berbeda satu sama lain? walahualam, biarkan jadi misteri.
hari ini gue ikut suami yang sehari-hari mempergunakan omprengan untuk bisa sampai ke tempat kerjanya. ini adalah kali pertama gue menjajal kendaraan omprengan ini. asyik banget! sampai Jakarta tanpa nyetir sendiri!
FYI aja, kendaraan omprengan dari Bekasi - yang mangkal di dekat perumahan Galaksi - menuju Jakarta ini, melayani beberapa jurusan. salah satunya yang kami tumpangi, Blok M, lalu ada yang arah Jl. Thamrin, Grogol dan Kuningan. kebetulan pagi ini kami ikut di mobil Pak Azril(?), yang sehari-hari bekerja di Kejaksaan Agung, di Jl. Sisingamangaraja.
tarif sekali naik angkutan alternatif ini adalah Rp. 3.500. mahal? enggak juga. soalnya kita tak harus berdiri sampai di tempat tujuan, bisa duduk tenang di mobil pribadi. soal nyaman atau enggak itu relatif. kalau untung, kita bisa naik kendaraan pribadi yang ber-AC dan fully music. agak apes kalau dapat mobil yang berangin cuma-cuma. tapi lebih sial lagi kalau si pengangkut memaksakan kita para penumpang berdesak-desakan dalam sebuah kijang long tahun 90-an, depan 2 orang (3 orang termasuk sopir), tengah 4, belakang 6. itu rajanya sial, ditambah lagi enggak ada AC plus jalanan macet, sedangkan bos udah menelepon berkali-kali mengingatkan meeting dengan klien tinggal 15 menit lagi.
yang sedap ya pagi ini. kebetulan kami bisa menumpang di kijang Pak Azril yang dipenuhi penumpang in a normal way. depan 1 (2 dengan sopir), tengah 3, belakang 4. hehehe.... biarpun enggak pakai AC, tapi semilir angin melewati jendela dengan ramah menjamah kami. masih ditambah pula jalanan absolutely enggak macet! (tumben banget, deh. biasanya kalau Senin pagi bisa-bisa sampai di pintu tol Halim Cawang memakan waktu satu sampai satu setengah jam dari pintu masuk tol Jatibening) kalau lagi ketiban hoki seperti hari ini sih bisa 15 menit doang! "ini rejeki kamu, karena pertama ngompreng," goda suami gue.
karakteristik penumpang omprengan adalah pekerja kantoran, mahasiswa atau ibu-ibu (macem gue) yang mau ngeluyur ke Jakarta. kegiatan terbesar yang dilakukan para penumpang dalam perjalanan sebanyak 90% adalah TIDUR! sisanya ngobrol atau melamun.
lucunya para sopir yang menjajakan alternatif transport para suburban ini ada yang sekadar nambahin penumpang di mobilnya untuk menuju 3 in 1, ada juga yang sekalian jalan menuju kantor macam pak Azril ini, dan sebagian besar adalah profesi! untuk menjalankan bisnis ini mereka tidak sendirian. untuk pengaturan 'lalu lintas' dipercayakan kepada beberapa orang yang dijadikan timer. biasanya timer ini memungut bayaran Rp. 3000 sekali angkut. gue dan suami pernah memanfaatkan bisnis ini untuk memasuki kawasan 3 in 1. berhubung mobil kami sangat mungil, kami hanya tega mengangkut 3 orang saja dalam mobil kami. lama-lama kok enggak tega, belakangan kami hanya mengambil penumpang secukupnya, 1 orang saja! dan tidak kami pungut biaya sama sekali. sang timer mah, tetap kami bayar, dia mana ngurus penumpang mau bayar berapa. soalnya niat kami hanya mencari teman untuk menembus kawasan 3 in 1.masih mending daripada bayar 4000(!) untuk joki. that's right. ada beberapa joki yang gak mau kalo 'cuma' dikasih 3000.
pengalaman naik omprengan pagi ini, rasanya membuka mata gue bahwa omprengan bisa jadi alternatif untuk membantu mengatasi kemacetan. kalau gue bawa mobil sendiri setidaknya kan menambahi kesesakan jalanan berebut dari bottleneck pintu masuk tol Jatibening menuju jalan bebas hambatan namun macet.
yang jelas hari ini gue seneng banget naik omprengan dan gue belum kapok untuk naik lagi dan naik lagi.
rekor baru! enggak nyetir selama 8 hari!!!! biasanya tiada hari tanpa nyetir. rasanya gatel kalo enggak duduk di belakang kemudi. minimal ngedrop suami.
hello world!
di hari ke-3 setelah tumbangnya gue, akhirnya bisa juga gue sapa dunia yang indah ini (walau ada perang dan wabah SARS).
pesan gue: banyak makan sayur, jangan kebanyakan jajan, dan konsumsi suplemen kesehatan jika perlu, untuk menghadapi cuaca pancaroba saat ini. itung-itung ikut mencekal virus SARS yang berkeliaran.
hari ini bikin chocolate candy lumayan banyak. sekitar sekiloan. besok diterusin di rumah Sinta. mau kita pamerin di acaranya anak-anak TK Percik hari Sabtu nanti. iseng aja, kali aja ada yang suka...
coklat itu enak, tapi gue enggak terlalu suka makan coklat. bukan masalah takut gemuk, karena menurut penelitian enggak apa makan coklat asal sesuai dosis. cuma enggak suka aja.
yang gue suka dari bikin chocolate candy adalah : MELATIH KESABARAN. kalau bikinnya buru-buru dan pikirannya kemana-mana, permennya pasti jelek, menggumpal.
dengan sedikit memberikan kesabaran, membuat warna coklatnya menjadi berkilauan dan indah.
just met with an old friend. sharing old memories. inget jaman pulang liputan malam-malam, sambil stress release sepanjang perjalanan nyanyi-nyanyi lagu-lagunya KLa Project. melewati Taman Lawang dengan jajaran etalase bencong-bencong nan mulus.
kangen, euy!
hi, world.
mungkin hari ini bukan saatnya bersuka ria.
karena ada banyak orang yang tinggal di Irak sedang panik dan kebingungan.
saat ini kita hanya bisa berdoa.
bisa-bisa besok, lusa, 2 minggu, 3 bulan, atau tahun depan giliran kita.
Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang. Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan. Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan. Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran. Semua itu haruslah berasal dari hati anda.
Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula. Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa tajam otak anda, namun juga betapa lembut hati anda dalam menjalani segala sesuatunya.
Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat. Atau, membujuknya dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis. Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang jauh di dalam dada anda.
Mulailah dengan melembutkan hati sebelum memberikannya pada keberhasilan anda.
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
tadi kulihat
tadi pagi seorang tukang ketupat sayur antre telpon umum.
kangen sama kerabat, katanya.
siapa tahu ada kerjaan yang lebih menjanjikan ketimbang ini, ujarnya sambil melirik pikulan tempat ia bergantung nasib.
siang tadi seorang pembantu rumah tangga masuk ke bilik wartel.
pengen ngobrol sama teman dari desa, ucapnya.
kali aja di tempat dia kerja ada lowongan dan gajinya lebih baik, cibirnya sambil membuang dagunya ke arah rumah majikannya, tempat ia memeras keringat demi uang sekolah adik-adiknya.
sore datang seorang remaja menaikkan kaki ke atas sofa empuk di rumah orang tuanya yang sejuk berpendingin udara sambil bicara lewat wireless phone.
lagi ngelaba, nih. gue dapet gebetan baru, anak kampus lain. dikenalin temen. kayaknya berprospek dijadiin pacar baru. kikiknya sambil merancang bagaimana caranya memutuskan pacar lama.
petang menjelang, seorang ibu muda sedang berjalan-jalan di pertokoan mewah sambil menggenggam SL50 terkekeh lembut.
iya jeng, harga berlian ikut-ikutan naik, keluhnya. sembari matanya menerawang mengingat-ingat koleksi berliannya di safe deposit box.
malam bergayut, seorang eksekutif muda mengendarai sedan Eropa seri 7 terbahak-bahak lewat N7650.
kemana aja lo? tgif, nih. jalan, ya? kita ketemuan di sana. pokoknya abis dari sana kita cari tempat lain yang lebih asyik, deh, ajaknya sambil membayangkan keriuhan dunia malam pelepas stres-nya.
moral of the story:
petani cabe di kampung butuh telpon sebagai alat pemasaran bagi produknya, demikian iklan layanan masyarakat buatan Telkom yang terpampang separuh halaman media massa nasional. oleh karena itu tarif telpon perlu dinaikkan.
betul tidak?! (baca dengan pelafalan Aa Gym)