sedangkan kalo teleponan sih udah pasti wajib tiap sabtu sore atau minggu sore, adik gue rutin nelpon ibu gue.
nice to hear Andromeda's family this weekend. nice to see beautiful Maissa. seneng liat dia pamer mainannya. tapi Bude masih bingung, nanti kalo kalian pindah atau pulang ke Indonesia, mainan yang menuhin apartemen kalian itu mau dikemanain? paling dibagi-bagi sama temen atau jual di e-bay? hehehe...
biar enggak kalah sama Maissa, Bude dan Yangti pamerin makanan yang ada di meja makan. bapake Maissa yang protes. "ngiler nih!" katanya.
heard another great news also. Tika diterima jadi local staff untuk Kedutaan Besar Indonesia di Perancis. good luck, sis!
kami di Jakarta hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kalian bertiga. sukses terus ya...
beda sama blog Rachel Halim ini. very inspiring. cerita keseharian dia dengan keterbatasan yang ia miliki. but she's good. she's doing well.
buat kita yang 'utuh' tak berkekurangan, jangan lupa bersyukur atas karuniaNya.
mohon maaf jika ada kesalahan yang sudah aku perbuat, baik disengaja atau tak sengaja.
XXXXX sent you a message.
--------------------
Subject: tolong dong
mbak2... maaf ya boleh minta tolong?
tolong dong foto2 lama suami ku, namanya XXXXX, yang tergabung dalam satu foto dengan pacar2 lamanya ga usah dipasang di public space. semua orang bisa akses, istrinya bisa lihat. ga enak aja gitu sebagai istri perasaannya. belum kalau dikomentarin rame2 berderet2 dibawah fotonya: ...inget nggak...YYYYY dan XXXXX...ZZZZZ dan XXXXX...bla...bla....
terserah mbak aja sih. lagian ini negara bebas kok. cuma aja kalau keadaan dibalik gimana? enak juga nggak?
terima kasih ya.
XXXXXXX
--------------------
baru. mencoba menyelami dan menyenangi barang baru memang enggak mudah.
nyemplungin suami untuk menyukai sushi-sashimi juga perlu waktu. bahkan dulunya
saat aku belajar makanan Jepang jenis ini harus berani menghadapi gempuran pedasnya
wasabi atau merem melek karena kebanyakan membubuhi shoyu jadi keasinan enggak keruan.
untungnya aku enggak ada masalah menyantap irisan mentah daging ikan salmon-ikan
tuna-ikan ekor kuning sampai tentakel cumi yang alot bener. rasanya sih enak-enak aja. penyesuaiannya justru pada tata cara menikmati sushi terutama sashimi.
lama kelamaan seiring berjalannya waktu (dan sering makan sushi-sashimi), perut jadi
terbiasa dan jadi nagih. untungnya perutku sadar diri, nagih makan sushi atau sashimi
pada saat abis gajian. hehehe... tiap hari sih mau aja, tapi apa daya dompetku saat itu belum bisa kompromi.
dulu, untuk menikmati makanan ini belum terlalu banyak gerai yang menjual sushi apalagi sashimi. kalau pun ada yang jual makanan Jepang, paling-paling makanan Jepang 'palsu'. alias disesuaikan dengan lidah orang Indonesia yang kaya bumbu.
kebetulan, di food court Plaza Senayan ada gerai Ichiban Sushi. lumayanlah. varian sushi-nya cukup lengkap, dan good news-nya mereka menyediakan sashimi yang standar dan menurutku harganya cukupan deh.
saat itu aku sudah pacaran sama suamiku. pacarku itu dulunya anti banget sama
acara coba-coba makanan baru. kalau pas lagi pacaran nyangkut di PS, biasanya makan
di food court dan pesannya selalu yang itu-itu aja :-p. misalnya, harus yang ada kuahnya. hangat, enggak pedes. bosen deh...
alhasil setelah merayu sedikit, kadang dia mau makan di Ichiban Sushi. tanpa menghiraukan tatap aneh dari matanya, aku tetap pesan sushi atau sashimi set. sedangkan si pacar memesan yakiniku set. "emang enak ya makan sushi?" tanya dia. aku sih cuma angguk-angguk kepala aja. mencoba menawarkan potongan sushi dari piringku. "enggak ah. kapan-kapan aja," tolaknya.
hingga suatu saat sewaktu kami makan lagi di Ichiban Sushi dengan menu yang kurang lebih sama, dia berucap, "boleh coba sushi-nya?"
bagaikan dilamar di tengah mall, aku langsung mengangguk dan mengangsurkan piring sushi set-ku. sambil sok pintar menjelaskan ini itu, "yang ini sushi ikan salmon.
enak deh. menurutku seperti melt in your mouth. yang ini tuna sushi. enak, tapi salmon lebih enak," terangku dengan penuh percaya diri.
akhirnya dia memutuskan memilih salmon sushi. alhamdulillah enggak ada reaksi yang aneh dari wajahnya. "enak. pantesan kamu seneng banget makan sushi," komentarnya pendek. aku tawarkan potongan lain. kali ini dengan rayuan untuk membubuhi wasabi dalam sushi-nya. "rasanya gimana?" tanya pacarku. enggak berani bohong, aku terpaksa jujur, "kalau menurutku sih agak pedes menyengat dalam hidung." "ah, enggak dulu lah. aku enggak mau merusak rasa," dia menolak tawaranku.
lama-lama pacar mulai order sushi atau sashimi set. dan sejalan dengan waktu, aku mencari informasi tentang salmon, wasabi dan segala sesuatu tentang sushi atau sashimi. hingga suatu waktu sambil menikmati (lagi-lagi) sashimi set. "Mas, tahu enggak kalau ikan salmon banyak mengandung lemak yang baik untuk tubuh? ini makanan sehat, ada kandungan zinc dan omega 3. bagus untuk melindungi kekebalan tubuh terhadap penyakit. aku pengen kamu jangan sering sakit."
tambahku lagi, "wasabi. ini banyak vitamin c-nya. enggak ada salahnya nyoba kok."
hehehe... namanya juga usaha.
awalnya wasabi emang bikin tersedak. tapi anehnya pacarku ini kok malah seneng.
"pedas memang. tapi lebih bisa dinikmati ketimbang sambel terasimu yang pedes itu," kilahnya. ada-ada aja. tapi who cares deh. yang penting suka dari dirinya sendiri tanpa paksaan.
kesukaan terhadap makanan khas jepang ini sempat menyurutkan langkah kami
untuk makan sashimi atau sushi di sembarang tempat.
pasalnya suatu waktu kami iseng beli sashimi set di sebuah gerai Japanesse food di
sebuah hypermart terkenal di Jakarta. berbekal coolbox untuk menampung belanjaan fresh di mobil, tenang saja kami membawa sashimi tersebut untuk dinikmati di rumah. makan punya makan, lha malemnya kok kami berdua murus-murus. terpaksa kami menelan norit berbutir-butir malam itu.
asli kapok setengah mati. bukaaannn.... bukan kapok makan sashimi. tapi kapok beli sashimi bukan di tempat yang khusus menyediakan sashimi atau sushi!
saat ini kami selektif sekali untuk mencoba restoran Jepang yang menjual raw food. terutama kebersihannya.
kalau di foodcourt mall ya dilihat dulu penampilan gerainya. cukup meyakinkan atau kelihatan kotor. apakah sudah biasa menyediakan makanan khas jepang yang segar seperti Cosmo Supermarket di Grand Wijaya.
bukan cuma membandingkan irisannya generous atau enggak, wasabinya fresh atau enggak, ocha-nya free flow atau enggak.
sekitar 2 tahun ke belakang, makin banyak resto baru yang menjual aneka macam-aneka rasa-aneka bentuk sushi yang dicap sebagai fusion sushi. sisi baiknya kami mensyukuri atas 'kesadaran' penikmat kuliner dengan masuk ke wilayah yang disebut fusion.
berkat label fusion, semua makanan yang tadinya 'diharamkan' menjadi bisa lebih dinikmati semua kalangan. artinya makin banyak resto yang menyediakan sushi-sashimi! artinya kami jadi makin dalam membenamkan tangan ke dalam kantong!!! cihuy. hidup konsumerisme!
kesukaan kami adalah sashimi dan sushi gaya klasik, bisa ditebak kami anti dengan pilihan fusion sushi. setiap mengunjungi SushiGroove (salah satu resto favorit), jarang sekali kami pesan menu fusion. walau waiter-nya selalu menawarkan, dengan terpaksa kami menolak. kecuali kami memang lagi lapar banget dan membutuhkan asupan karbo & protein lebih :-D. barulah kami sedikit berdamai dengan fusion sushi. syaratnya jangan pake mayo, jangan yang digoreng, jangan pake bumbu yang berlebihan aja. menurut kami after taste-nya beda banget. "kurang bisa masuk wasabi-nya,"
menurut suami mengenai penggunaan mayonaise dalam sushi.
demi meikmati sushi dan sashimi dengan harga ekonomis, kami tak segan 'berburu' resto yang memberikan potongan harga dengan kartu kredit yang kami miliki. lumayan juga karena diskonnya bisa mencapai 30-50% untuk setiap pembelanjaan.
dengan adanya discount card, discount soft opening, promosi kartu kredit (tentu saja terbatas pada kartu yang kami miliki saja) atau apalah asalkan meringankan pembelanjaan kami untuk menikmati sushi-sashimi, sangat menyenangkan bagi kami.
jadi, siapa yang mau traktir kami? ditunggu kapan saja :-D
katanya, "enggak ada alasan lagi buat males nulis lagi."
selain males masih ada banyak alasan absen nulis.
misalnya aja sibuk banyak kerjaan.
atau kecapaian.
mungkin juga lagi enggak mood.
jadi udah punya jalur unlimited kok cuma main fesbuk? ngobrol di YM?
hehehe... kan sambil ngumpulin teman-teman lama yang susah jumpa?
anyhow, once again thank you so much to my lovely husband...
jakarta, august 21st 2008 (on Maissa 2nd birthday. happy birthday, dear. hope you enjoy the present :-) that we sent)
Today is H-7.
7 more days.
Hope all will go well...
takkan ada habisnya
membuat diriku menggila
bila hati ini menjatuhkan pilihan
apapun akan kulewati
hari ini sayang
sangat penting bagiku
kau jawaban yang aku cari
kisah hari ini kan kubagi denganmu
dengarlah sayang kali ini
permintaanku padamu
reff:
dengarlah sayangku
aku mohon kau menikah denganku
ya... hiduplah denganku
berbagi kisah hidup berdua
cincin ini sayang
terukirkan namamu
begitu juga di hatiku
hujan warna-warni
kata orang tak mungkin
namun itu mungkin bagiku
sebagai tanda cintaku
dinyanyikan dan ditulis oleh : Glenn Fredly
setiap kali gue dengar lagu ini, rasanya dada gue berdesir.
jantung memompa darah lebih kencang dari biasanya,
dan langsung di distribusikan ke seluruh nadi di tubuh gue.
terasa hangat dan adrenalin menguasai otak gue. macam kita naik
roller coaster, deh.
keringat dingin juga membasahi telapak tangan, diikuti detak jantung
yang cepat. begitu lagu ini berakhir, tubuh gue akhirnya mendingin dan
merinding. hiii...
perasaan ini gue rasakan waktu itu di saat selesai nonton film Cinta Silver
yang soundtrack-nya lagu ini. sore hari menjelang senja, gue keluar dari
gedung Mitra 21 Surabaya. sendirian.
dan lagu milik Glenn ini terngiang di kepala gue selama seminggu penuh.
walaupun pakai berdebar-debar dan merinding, akumulasi dari ketegangan tubuh gue
adalah rasa setitik bahagia.
padahal jelas-jelas saat itu gue sendiri, tidak memiliki hubungan yang mengharuskan
gue menginginkan ikatan perkawinan.
tidak pula sehabis atau menjelang dilamar. sama sekali enggak.
gue juga enggak punya pengalaman pernah dilamar dengan suasana lagu se romantis
Kisah Romantis itu. belum pernah.
sewaktu masih remaja dulu, gue pernah memimpikan ada cowok yang melamar gue untuk jadi istrinya dengan cara yang romantis. menurut ukuran gue saat itu tentunya.
si cowok berlutut di depan gue, sambil memberikan seikat bunga warna mawar merah, dan
sebentuk cincin (boleh pake berlian, emas aja, emas putih atau platina).
sambil menanyakan "will you marry me" di tengah fancy restaurant dengan iringan biola
melagukan nyanyian cinta. semua orang memandang iri ke arah gue, tentunya, sambil
bertepuk tangan memberikan semangat. itu duluuuu....
sekarang setelah dewasa, acara lamar-melamar terasa biasa aja.
ada yang berupa rayuan, "I'm still dreaming about us. Our child will be just like me, with my curly hair and your beautiful eyes. Please stay with me, forever. I can't marry you right now, but I guess we can living together before we get marry."
Gosh, hell, NO! itu jawaban gue. suasananya juga enggak romantis, cuma di taman belakang rumah. sambil mandiin anjing.
terus ada yang ngasih hadiah perhiasan emas, sambil berkata, "Semoga Adik panjang umur, cepat lulus, terus kerja. Aku belikan ini, (sambil memakaikan benda tsb) untuk menunjukkan aku serius sama Adik." terus di minggu berikutnya, si dia berkata, "Adik percaya kan kalau perhiasan yang aku belikan ini asli? Adik enggak perlu cek ke toko emas." uhh... bikin ilfil aja! untung enggak jadi serius. belum kawin aja udah enggak percaya.
ada yang mencoba meyakinkan tapi malah enggak bikin yakin, "kalau kita udah di tingkat 3, aku yakin banget sama kamu. kita bakalan nikah. biar kamu percaya dan enggak akan ninggalin aku, nanti aku akan kasih persekot sama kamu duluan," hah?! maksud lo???
catatan: persekot di sini maksudnya diperawanin duluan sebelum nikah. ah gila juga ni bocah.
ada juga yang sok romantis, telepon SLJJ malam-malam pakai fasilitas Kantor ke hotel
tempat gue nginap di Surabaya, "aku sayang sama kamu. tanpa kamu ngomong aku juga tahu kamu sayang sama aku. walau Ibu kamu menentang hubungan kita, aku pikir kita bisa bersama. kamu berani kawin lari sama aku, kan? kita bisa nikah di Bali. bulan depan ada rencana liputan di Bali. kamu bisa nyusul, terus kita nikah. nanti setelah kembali ke Jakarta kamu tetap kerja seperti biasa, pulang ke rumah kamu. kita belum bisa bareng, hingga waktunya siap, kita ngomong sama orang tua kamu." ini yang cupu siapa?
atau yang satu ini lebih unik dan suprisingly, "mmm... aku dapat tawaran kerja di Amerika. aku harus ngisi formulir-formulir ini untuk kelengkapan visa. salah satunya ada kolom spouse. aku pengen ngisi dengan namamu. kamu mau enggak? kalau mau, kita nikah 3 bulan lagi, ya? November. masih bagus, kan, bulannya? kamu tanda tangan di sini. aku tulis namamu, ya?"
praktis dan teknis banget.
lantas, di antara pejantan-pejantan tadi, siapa yang gue pilih? ada. cuma satu, dan
satu-satunya, demi pernikahan satu kali dan hidup sekali di dunia fana ini.
7 April 2006
Merasakan dirinya padaku.
Inikah rasanya?
11 Januari 2006
-----------------------------------
Dari sepotong pesan pendek ucapan panjang umur
Jadi tak berkesudahan
Tak pernah selesai
Menjadi janji jumpa
13 Januari 2006
-------------------------------
Janji jumpa terlaksana.
Sebuah kisah tanpa tepi terjalin.
Tak peduli pantaskah diriku untuknya.
Angin sore menerbangkan mimpi-mimpi.
Mencari kesempatan jumpa.
4 April 2006
--------------------------------------
Halus rambutmu usap pipiku.
Temu pandang penuh rayu.
Dentam dadaku tak henti usik nurani.
Membuatku ingin usir dirimu.
Jauh menjauh bayangmu gegas enyah dari hadapku.
Paras manismu tak henti hantuiku.
Senyum godamu buatku terbangun dari lelap malam.
Wahai angin usir wajah indah itu dari malamku.
4 April 2006
------------------------------------------
Hai hatiku,
hati-bekas-remuk redam-yang-kini-sudah-sembuh-namun-nyaris-berkeping-lagi.
Aku bertanya kepadamu, hatiku.
Tak bisakah hati, menahan rasamu?
Tak dapatkah hati, gentar dari goda?
Tak sakitkah hati, jatuh kecewa karena kasih tak sampai?
4 April 2006
All poems inspired from heart, broken wings, love stories, and friends.
Memberati bola mataku yang berusaha terus terjaga
Laptop terbuka di pangkuanku seakan tak mampu sirnakan kuap sore itu
Tawa ceria gadis-gadis kecil di sekitarku makin membuatku makin merana
Aroma wangi mandi sore anak-anak beranjak remaja, makin menyulitkan otakku menerima oksigen murni
Wahai sang kantuk, ku mohon enyah dari hadapku
Presentasi sore masih menantiku
Alihkan goda sang kantuk dengan mengingat kekasih hati makin membuatku lena
Memori kelonan hangat pastikan aku benar-benar hanyut
Hanyut akan rayuan sang kantuk yang tak mau ditawar
Segelas frappucinno double caramel less ice benar tak mampu aku tawarkan pada sang lena
Hirupan dalam-dalam aroma kopi makin membuatku tenang
Setenang nafas bayi tidur dalam buaian
Canda sobat jejaring dunia maya tak sanggup menahan laju kantukku
Teriakan musisi kenamaan dalam telingaku makin menarik diriku ke alam mimpi
Kepalaku makin berat dan berat
Berat, hingga tak mampu lagi leherku menjaganya
Haruskah sore ini aku kalah dalam pertempuran ini?
Rumah Sinta, Sunter Jaya, 8 Oktober 2005
Lagi nunggu buat ketemu calon investor
Waiting your phonecall
Ring-ring
Waiting your whisper
Ring-ring
Waiting your laugh
Ring-ring
Waiting your magic words
Ring-ring
Waiting your dinner invite
Ring-ring
Waiting your cuddle up
Ring-ring
Nothing
Rumah Sinta, Sunter Jaya, 8 Oktober 2005
This story tells about Eka
Lelah
Lapar
Dahaga
Ini cuma puasa fisik
Gimana kalau puasa enggak pernah ada buka puasa
Yang ada cuma sahur belaka dengan apa yang ada
Sebaiknya kita juga puasa hati
Jangan karena bulan puasa jadi baik hati
Jangan karena ramadhan lantas menggelar sajadah
Jangan karena bulan penuh ampunan banyak bersedekah
Berlaku seperti ini tiap saat tanpa harus menunggu bulan penuh berkah
Rumah Sinta, Sunter Jaya, 8 Oktober 2005
Lagi puasa, nunggu, dan ngantuk.
Tangis di nada suaramu, membuatku ingin meledak
Hampa di pelukmu, membuatku ingin merengkuhmu
Aku tahu, aku cinta kamu
Rumah Sinta, Sunter Jaya, 8 Oktober 2005
This one also for @rie
Inspired (again) her dalphin
Aku sungguh menginginkanmu
Aku sungguh ingin memilikimu
Aku sungguh mau menemanimu
Aku sungguh mencintaimu
Tapi aku silau akan sinarmu
Silau dengan kebeninganmu
Silau dengan keindahanmu
Hingga aku tak mau menyentuhmu
Tak mau memilikimu
Hingga aku selalu menyakitimu
Untuk mengusirmu
Tapi kilaumu selalu menerangi
Kilaumu membawaku kembali
Kilaumu selalu berada di sisiku
Harum Dana Sekuritas, Menteng Raya 62, 8 Oktober 2005
This poem create to @rie
Inspired from her love story
Sudah 2 minggu belakangan ini klakson mobil tercinta mogok total. Sebelumnya klakson ini masih bisa bersuara, tapi bunyinya tergantung mood si Merah. Mood? Iya, mood. Macem kita ajalah manusia. Kalau menurut si Merah pengen bunyi, ya tanpa usaha mencet klason keras-keras, pasti bisa berbunyi dengan mulus seakan engak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Biasanya mood begini timbul pada saat memang aku memerlukan suara klakson. Misalnya ada motor nyaris nyerempet atau ada orang nyeberang sembarangan. Nah, mood bunyi klakson ini enggak akan timbul pada keadaan ‘biasa-biasa aja’, misalnya terjebak di belakang mikrolet/ metromini yang sedang ngetem cari penumpang, atau lagi kebut-kebutan dan nyuruh minggir mobil lain yang dianggap nutupin jalan.
Karena 2 minggu lalu si Merah harus check 35.000, otomatis dia diperiksa seluruh fisik. Salah satu yang aku komplain ke bengkel adalah kesulitan dengan klakson yang acuh-acuh butuh ini. Periksa punya periksa, waktu untuk service mesin enggak selama nge-check kesehatan si klakson. Akhirnya pihak bengkel angkat tangan dan mengusulkan untuk klaim horn si Merah sebagai barang cacat produksi. “Tapi harus nunggu sekitar 2 mingguan, ya Mbak. Ini enggak bener, harus diganti yang baru dan Mbak enggak perlu bayar, ini kesalahan pabrik,” ujar Mas Faturrochman dari bengkel Asco Bekasi Timur. Iya deh, ketimbang enggak bisa pakai klakson saat sedang memang dibutuhkan, ngalah aja deh.
Keluar dari bengkel, klakson masih bisa bunyi, tapi masuk
p.s.: btw, kabar klaksonku kok belum ada ya? Padahal janjinya 2 minggu. Hiks… L
Harum Dana Sekuritas, Menteng Raya 62, 8 Oktober 2005
Kamar cpkpth, 15 September 2005.
