
Botol Jim Beam Black 7 Year meluncur mulus dari rak toko minuman, membawa serta cairan berwarna ambar hangat yang memantulkan cahaya lampu dapur. Kita pasti pernah berdiri di depan rak toko yang menjulang tinggi, merasa kewalahan di tengah lautan pilihan botol yang berbaris rapi. Saat setiap label menjanjikan kesempurnaan dan harganya bikin kepala cenat-cenut, menebak-nebak mana yang pantas dibeli rasanya seperti berjalan di dalam labirin tanpa peta.
Supaya kita tidak salah langkah, situs Tasting Table berinisiatif menggandeng Chris Blatner, seorang pengurus bourbon senior sekaligus direktur eksekutif di Bourbon Charity. Saat ditanya ke mana para pemula harus melangkah, jawabannya ternyata sangat membumi dan membuktikan bahwa kita tidak perlu menguras dompet untuk menikmati sesuatu yang luar biasa di dalam gelas kaca.
Pilihan utama Blatner jatuh pada Jim Beam Black 7 Year, sebotol kebaikan yang biasanya dibanderol sekitar tiga puluh dolar saja. Tidakkah menyenangkan mengetahui kualitas jempolan tidak selalu harus mahal? Berbagai ulasan secara konsisten memberi nilai di atas delapan puluh dari seratus untuk racikan ini, pas banget di titik temu antara harga ramah kantong dan rasa yang bikin puas. Waktu tujuh tahun di dalam tong memberikan kedalaman rasa yang menarik tanpa bikin lidah pemula merasa kewalahan.
Anggap saja botol ini sebagai kompas rasa kita yang paling andal, karena Blatner menyebutnya sebagai patokan emas untuk mengenali karakter dasar bourbon. Begitu tegukan pertama menyapa, indra kita langsung disambut karamel manis, vanila lembut, aroma ek bakar yang hangat, rempah kue yang menenangkan, serta sentuhan kacang yang menjadi ciri khas produsennya. Bukankah mengasyikkan jika kita bisa mengenali fondasi rasa ini sebelum mulai menjelajahi dunia wiski yang lebih luas?
Keistimewaan lain dari botol ini adalah karakternya yang sama sekali tidak jaim dan siap menemani suasana hati apa pun yang sedang kita rasakan. Blatner menyarankan untuk mencobanya murni tanpa campuran terlebih dahulu, membiarkan vanila dan rempahnya menyapa lidah kita sebelum bahan lain ikut campur. Mau dituangkan di atas es batu yang besar atau diracik menjadi old fashioned klasik pun ia tetap tampil memikat tanpa menuntut perayaan khusus. Jadi, botol apa sih yang dulu pertama kali membuka mata kita ke dunia wiski, dan bagaimana biasanya kita menikmatinya di penghujung hari yang panjang?
sumber: tastingtable.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Tasting Table
0 comments:
Post a Comment