Sisi Manis dan Nyata Secangkir Apple Cider Musim Gugur

, , No Comments
Sisi Manis dan Nyata Secangkir Apple Cider Musim Gugur

Botol kaca berat bertengger di atas meja dapur, cairan hijaunya keruh dengan warna ambar tua yang seolah membisikkan bahwa udara dingin telah tiba. Begitu cuaca mulai menusuk tulang, pikiran kita langsung melayang pada manisnya *apple cider* berempah—apakah itu diaduk ke dalam *sangria* malam yang hangat, dikocok menjadi *margarita* meriah, atau sekadar dituangkan langsung dari karton dalam keadaan dingin menyegarkan. Ritual musiman yang satu ini selalu berhasil membuat hawa dingin terasa begitu ramah menyambut kita.

Namun, saat kita terus-menerus menuang cangkir demi cangkir dari stok di kulkas minggu demi minggu, bukankah menarik untuk mencari tahu seberapa sehat kebiasaan ini? Para ahli nutrisi mengingatkan bahwa karena minuman ini diperas langsung dari buah segar, ia tetap membawa sebagian kebaikan buah apel utuh. Amy Davis, seorang ahli diet terdaftar, menjelaskan bahwa minuman ini menyumbangkan polifenol—antioksidan cemerlang yang membantu meredakan peradangan dan melawan kerusakan sel—beserta sedikit kalsium, kalium, dan terkadang tambahan vitamin C.

Meski demikian, cerita aslinya berubah cukup drastis saat kita melihat apa yang terjadi selama proses pemerasan buah. Bayangkan saja, satu buah apel segar yang renyah memberi kita sekitar 19 gram gula alami yang dikemas bersama serat melimpah sebanyak 4 hingga 5 gram. Sebaliknya, segelas *apple cider* berukuran delapan ons justru menyimpan gula yang sedikit lebih tinggi, yakni setidaknya 24 gram, sementara hampir seluruh serat pelindungnya hilang di sepanjang jalan. Tanpa serat yang bertindak sebagai rem, cairan manis itu meluncur begitu cepat ke dalam tubuh, yang dengan mudahnya memicu lonjakan gula darah dan membuat kita ingin menenggak segelas lagi sebelum sadar berapa banyak yang sudah dihabiskan.

Belum lagi proses pemerasan yang sama ternyata juga mengurangi jumlah total polifenol yang bermanfaat, membuat minuman kesayangan kita ini tidak benar-benar memberikan manfaat nutrisi seutuhnya seperti saat kita menggigit buah apel secara langsung. Ada pula urusan keamanan yang perlu kita ingat saat berbelanja di pasar petani lokal atau kebun apel. Walaupun sebagian besar merek di supermarket sudah melalui proses pemanasan atau pasteurisasi untuk membunuh kuman, *apple cider* yang tidak dipasteurisasi terkadang bisa menyembunyikan bakteri berbahaya yang berisiko bagi anak-anak, lansia, dan siapa saja yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Tentu saja, semua fakta ini sama sekali tidak berarti kita harus melarang total kehadiran minuman musim gugur yang kita cintai ini. Konsultan nutrisi Jaclyn London menyarankan agar kita menjaga porsi tetap wajar, menikmati setiap tegukan secara perlahan, dan menjadikannya bagian yang penuh kesadaran dari pengalaman musiman ketimbang kebiasaan harian. Jadi, lain kali saat kita mendambakan cita rasa kebun buah yang sejati tanpa terjebak gelontoran gula yang terlalu berat, mungkin kita bisa meraih buah apel utuh yang renyah, dan menyimpan gelas *apple cider* kita untuk sore hari yang benar-benar spesial saja.

sumber: delish.com/apple-cider-health-benefits

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Delish

0 comments: