
Denting botol soda dingin yang dibuka pada siang hari yang lembap selalu menghadirkan bunyi mendesis yang khas, sebuah janji kesegaran instan di tengah teriknya cuaca tropis yang seakan tak mau kompromi. Kita tentu sangat akrab dengan kenikmatan kecil ini, apalagi saat berbagi makanan dan minuman manis bersama orang-orang tercinta di sekeliling meja makan. Namun, di balik kenyamanan yang kita rasakan setiap hari, para ilmuwan baru saja membuka tirai untuk menunjukkan bagaimana tubuh kita bekerja sebagai sebuah mesin rumit yang saling terhubung dengan cara-cara yang baru mulai kita pahami.
Bicara soal kesehatan di akhir pekan sering kali membuat kita terpaku pada satu kambing hitam saja, seperti terlalu banyak menyantap gula atau merasa lesu akibat stres menumpuk. Padahal, sebuah studi baru yang diterbitkan dalam American Journal of Physiology-Endocrinology and Metabolism menunjukkan bahwa teka-teki kesehatan kita sebenarnya soal kerja sama tim, khususnya di dalam organ hati. Sekelompok peneliti di Graduate School of Agriculture yang dipimpin oleh Hiroki Takahashi dan Associate Professor Naoki Harada,, tertarik mengamati bagaimana kadar testosteron yang rendah dan konsumsi fruktosa tinggi bisa berkolaborasi memengaruhi kesehatan hati, terutama terkait kondisi yang disebut penyakit hati berlemak terkait disfungsi metabolik atau MASLD.
Selama ini, masalah hati berlemak kian menjadi sorotan global dan memengaruhi sekitar empat puluh persen pria dewasa di seluruh dunia akibat penumpukan lemak berlebih. Biasanya, para dokter menunjuk faktor-faktor seperti obesitas, diabetes tipe dua, rendahnya hormon testosteron, atau terlalu banyak asupan fruktosa dari makanan olahan dan minuman manis sebagai pemicu terpisah. Bukankah menarik untuk tahu apakah faktor-faktor ini sebenarnya saling memperburuk ketika terjadi secara bersamaan? Untuk menjawabnya, tim peneliti merancang sebuah percobaan menggunakan tikus jantan yang dibagi menjadi enam kelompok dengan variasi kadar hormon dan pola makan fruktosa, bahkan sebagian diberi antibiotik.
Begitu hasil laboratorium keluar, ceritanya menjadi jauh lebih terang. Saat testosteron rendah atau fruktosa datang sendirian, perubahan lemak di hati hanya terjadi secara moderat saja, tetapi begitu keduanya digabungkan, efeknya berubah drastis dan memicu penumpukan lemak yang jauh lebih parah. Para peneliti menemukan bahwa kombinasi ganda ini merombak mikrobioma usus, yang kemudian memicu lonjakan senyawa bernama piruvat di dalam usus. Pengujian lanjutan pada sel hati terisolasi membuktikan bahwa piruvat dan fruktosa ini bekerja secara sinergis, mendorong sel-sel tersebut untuk menyimpan lebih banyak lemak netral.
Temuan ini memang berpijak dari penelitian laboratorium pada tikus dan bukan dari dapur manusia yang sibuk, tetapi hasil tersebut tetap memberikan jendela yang berharga tentang bagaimana hormon kita dan apa yang kita santap saling berbisik satu sama lain. Professor Harada beserta timnya berharap bahwa pemahaman mendalam tentang bagaimana bakteri usus dan piruvat memicu penyimpanan lemak ini nantinya dapat membuka jalan bagi metode pencegahan serta pengaturan pola makan yang lebih baik. Jadi, saat kita menuangkan segelas minuman manis berikutnya, mungkin kita bisa sambil merenungkan betapa terhubungnya pilihan harian kita dengan kimia tubuh yang bekerja tanpa henti di dalam sana.
sumber: sciencedaily.com/261026225622.htm
juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com
Foto: ScienceDaily Nutrition
0 comments:
Post a Comment