
Satu sentimeter jahe segar ternyata setara dengan tiga gram beratnya, membuat sepotong jahe standar sepanjang lima sentimeter pas berada di angka lima belas gram. Fakta praktis ini dibongkar oleh tim kuliner Guardian saat menjawab rasa penasaran seorang pembaca bernama Nick yang kebingungan menghadapi salah satu kebiasaan paling unik di dapur kita. Kenapa ya, resep-resep kesayangan kita sering banget menyuruh kita mengambil sepotong ibu jari jahe alih-alih menyuruh kita menimbangnya di timbangan dapur? Padahal, kita semua pasti pernah kan berdiri termenung di pasar, menatap akar cokelat yang berbenjol-benjol dan berbentuk aneh itu, sambil bertanya-tanya bagaimana mungkin ketidakaturan botani bisa berubah jadi satuan ukur internasional?
Menurut para kolumnis kuliner Guardian, pesona dari kebiasaan ini sebenarnya terletak pada keinginan kita untuk menjaga suasana dapur tetap santai dan jauh dari rasa stres. Felicity Cloake, salah satu penulis kuliner mereka, mengakui bahwa tidak ada rahasia ilmiah yang rumit di balik takaran ini, dan semua itu mungkin hanyalah masalah tradisi turun-temurun. Lagipula, kecuali kalau kita sedang berniat meniru koki laboratorium super canggih, mengeluarkan timbangan digital hanya untuk menimbang secuil rimpang jahe rasanya kok terlalu merepotkan ya. Kalau sebuah resep kari hangat atau panci berisi dal yang nyaman membutuhkan sejumput bumbu, selisih beberapa gram saja jarang sekali akan merusak atau menggagalkan kelezatan masakan kita di akhir.
Rekan sesama kolumnis, Georgina Hayden, juga mengingatkan bahwa memasak seharusnya terasa lebih mengandalkan insting ketimbang aturan yang kaku, mirip seperti saat kita memperkirakan sepotong mentega atau sejumput garam yang royal. Berbeda dengan dunia membuat kue alias baking, di mana perbandingan tepung dan gula menuntut ketepatan matematika yang ketat, masakan rumahan sehari-hari yang bersahaja justru memberi kita banyak ruang untuk mengikuti selera pribadi. Kalau kebetulan kita sangat menyukai sensasi pedas hangat yang menggigit dari jahe segar di dalam kuah kaldu yang mengepul, tidak akan ada seorang pun yang melarang kita untuk memasukkan ekstra satu atau dua sentimeter jahe lagi ke dalam panci.
Ravinder Bhogal menambahkan satu alasan yang membuat kita semakin tenang, yaitu karena rasa tajam khas jahe justru akan melunak seiring proses memasaknya, sehingga sedikit perbedaan ukuran di sana-sini sama sekali tidak jadi masalah besar. Tentu saja, jahe punya kebiasaan tumbuh dengan bentuk bercabang-cabang yang aneh, yang kadang membuat kita kesulitan menyamakannya dengan anatomi tubuh manusia. Ketika bentuknya lebih mirip ranting pohon yang berkerut alih-alih jari manusia yang rapi, Cloake menyarankan kita untuk melihat total daging umbinya saja agar ukurannya kurang lebih pas. Bhogal sendiri mengandalkan ukuran panjang lima sentimeter sebagai patokan rata-rata untuk ukuran ibu jari orang dewasa, mengingatkan kita bahwa takaran yang samar seperti ini sebenarnya adalah cara yang brilian untuk mendorong juru masak rumahan agar lebih percaya pada lidah dan indra perasa mereka sendiri.
Jadi, lain kali saat kita berdiri terpaku di depan talenan dengan pisau kecil di tangan, kita bisa menarik napas panjang dan membiarkan timbangan tetap manis di dalam lemari. Resep-resep makanan itu diciptakan untuk memandu kita, bukan untuk mengekang kita, dan menyesuaikan bahan-bahan masakan agar cocok dengan selera lidah kita sendiri adalah separuh dari kesenangan saat menyiapkan makan malam di rumah.
sumber: theguardian.com
juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com
Foto: Guardian Food
0 comments:
Post a Comment