
Letupan kecil yang tenang saat kita menusuk kuning telur setengah matang, membiarkannya tumpah keemasan ke dalam semangkuk kuah yang mengepulkan uap hangat, adalah sihir dapur sederhana yang membuat kita ingin berlama-lama di meja makan. Siapa sangka, di balik kerumitan yang sering kita bayangkan dari kedai-kedai mie Jepang, tersimpan sebuah kebenaran yang sangat membumi. Seperti yang diulas oleh tim Guardian Food, rahasia seporsi ramen yang luar biasa ternyata bersandar pada keseimbangan lima elemen dasar saja.
Lalu, apa saja fondasi penting yang membangun semangkuk kelezatan ini? Kita membutuhkan kaldu yang kaya rasa, tare atau saus bumbu rahasia yang memberikan karakter, mie yang kenyal, sentuhan lemak yang melapisi lidah, dan tentu saja, aneka topping yang membuat mangkuk kita terasa istimewa. Tentu saja, di tengah malam hari kerja yang melelahkan, tidak ada yang akan menghakimi jika kita memilih menggunakan kaldu instan atau mie siap pakai dari rak supermarket. Namun, keajaiban terbesar justru bersembunyi pada pilihan topping, cara tercepat untuk mengubah bahan seadanya di dapur menjadi hidangan yang layak dipamerkan, sambil kita bebas memadu-padankannya sesuai selera.
Menariknya lagi, fleksibilitas ini tidak berhenti pada daging saja, karena saus tare yang penuh rasa ternyata bisa digunakan untuk apa saja di seluruh penjuru dapur kita. Kita bisa mencampurkan tare tantanmen yang gurih dan berempah ke dalam orak-arik telur pagi hari, mengoleskan tare miso di atas jagung bakar, atau mencipratkannya untuk memperkaya rasa hampir semua hidangan gurih di piring kita. Bayangkan saja bagaimana sepotong daging babi gulung bisa memberikan tiga elemen sekaligus, yakni topping, tare, dan lemak. Setelah direbus perlahan selama dua jam dalam balutan sake, shoyu, mirin, air, gula, bawang putih, dan jahe, cairan rebusannya bisa berubah fungsi menjadi saus bumbu, sementara lapisan minyak yang disendok dari permukaannya siap memperkaya kuah ramen.
Suasana di dapur menjadi semakin seru ketika kita mulai berpetualang melampaui rezeki klasik, seperti mencicipi ramen bergaya Sichuan dan dan yang menggantikan daging biasa dengan soboro babi cincang pedas yang dimasak bersama saus cabai hingga mengkilap menggoda. Bahkan ada kreasi unik dari Cardiff yang mendobrak aturan dengan mengabaikan kuah sama sekali, memadukan mie tebal dengan saus kari Jepang yang pekat dan asin, paha ayam shio koji, taburan bawang goreng renyah, dan sejumput keju parut yang nakal. Bukankah hal-hal kreatif seperti ini yang dulu membuat kita jatuh cinta pada dunia masak-memasak?
Bagaimana, mangkuk seperti apa yang ingin kita racik untuk meja makan akhir pekan ini? Entah kita memilih menghabiskan waktu berjam-jam merebus daging dengan sabar atau sekadar meracik makan malam kilat menggunakan dashi instan dan deretan topping favorit di dalam jar, ramen pada dasarnya diciptakan untuk dinikmati tanpa rasa pusing. Tarik kursi kita mendekat, ambil sumpitnya, dan nikmati setiap detik kehangatan yang mengepul dari mangkuk di hadapan kita.
sumber: theguardian.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Guardian Food
0 comments:
Post a Comment