
Kulit pretzel raksasa yang berwarna mahoni gelap dan mengkilap pecah saat digigit, memperlihatkan bagian dalam yang pucat, kenyal, dan memanggil kita untuk mencicipinya dengan cara yang tidak biasa. Selama ini, ingatan kita tentang camilan panggang berukuran jumbo ini selalu tertuju pada mangkuk kecil berisi mustard kuning yang tajam atau keju bir hangat yang bergejolak. Padahal, jika kita melipir ke Jerman bagian selatan, khususnya di wilayah Bavaria, warga lokal justru meninggalkan mangkuk saus tersebut dan beralih pada bahan sederhana yang mungkin sedang tersimpan di dalam kulkas kita saat ini, yaitu mentega.
Kuliner khas daerah ini dikenal dengan nama Butterbrezel atau Butterbrezn, sebuah sajian yang mengubah total cara kita menikmati sepotong pretzel. Alih-alih merobeknya untuk dicocol ke dalam saus, roti pretzel yang masih segar dibelah menjadi dua bagian dan diolesi mentega dengan royal, lalu ditangkupkan kembali seperti sebuah roti isi yang menenangkan. Terkadang, kita juga bisa menemukan taburan daun lokio atau chives segar yang terselip di dalamnya untuk memberikan sentuhan rasa herbal yang ceria. Berbagai diskusi daring tentang tradisi asli Jerman menyebutkan ada dua gaya berbeda tergantung daerahnya, mulai dari membelah pretzel di bagian paling tebal hingga menggunakan mesin khusus yang menyuntikkan mentega langsung ke bagian tengahnya. Tentu saja, karena sebagian besar dari kita tidak memiliki mesin penyuntik mentega di dapur rumah, metode membelah dan mengoles biasa sudah bekerja dengan sangat luar biasa.
Rahasia kelezatan sajian ini ternyata terletak pada suhu dan jenis lemak yang kita pilih untuk digunakan. Meskipun kita terbiasa membiarkan mentega melunak di suhu ruangan sebelum dioleskan, tradisi justru mewajibkan pembuatan Butterbrezel menggunakan mentega yang benar-benar dingin dari kulkas. Bukan sembarang mentega yang kita ambil dari rak pendingin supermarket, sebab dalam hidangan ini mentega adalah bintang utama pertunjukan. Kita bisa memilih mentega bergaya Eropa yang kaya rasa, yang memiliki kandungan lemak mentega lebih tinggi dibandingkan jenis mentega standar. Kandungan lemak ekstra tersebut menghasilkan tekstur yang jauh lebih lembut dan mewah, yang meleleh pas di atas adonan roti yang hangat.
Memilih antara mentega asin atau tawar sebenarnya adalah permainan keseimbangan yang seru dengan butiran garam kasar yang sudah menempel di kulit pretzel. Jika kita lebih menyukai rasa yang tidak terlalu pekat, mentega tawar yang creamy akan membiarkan rasa susunya bersinar tanpa keasinan berlebih. Pernahkah kita tergiur membelah roti panggang yang masih segar hanya untuk menimbunnya dengan mentega paling lembut yang ada di rumah? Menyiapkan seikat daun lokio segar berdampingan dengan sebatang mentega gaya Eropa di sore hari bisa menjadi camilan sederhana yang sangat nyaman, dan siapa tahu, ini bakal menjadi kegemaran baru kita di dapur.
Jadi, lain kali saat kita sedang membayangkan suasana kedai bir di Bavaria, kita sebenarnya bisa dengan mudah membawa sepotong kehangatan Jerman selatan itu langsung ke dapur rumah sendiri. Bukankah selalu ada kepuasan tersendiri saat kita menyingkirkan resep yang rumit dan menemukan keajaiban rasa hanya dari dua bahan berkualitas yang dipersatukan? Coba ambil balok mentega dingin itu langsung dari kulkas, belah pretzel lembut kita, dan rasakan sendiri kelezatannya.
sumber: tastingtable.com/soft-pretzels-german-style
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Tasting Table
0 comments:
Post a Comment