Aroma mentega yang mendesis di atas wajan baru selalu berhasil membuat kita tidak sabar untuk segera memasak, sampai-sampai stiker kecil berisi petunjuk penggunaan yang tertempel di bagian bawahnya langsung kita kelupas dan buang begitu saja tanpa sempat melirik isinya.
Kebiasaan kecil melempar kertas petunjuk ke tempat sampah ini kadang berujung pada hal yang membuat kita mengelus dada, seperti lapisan wajan besi cor kesayangan yang terkelupas karena kita sembarangan memakai spatula logam, atau alat dapur lain yang rusak akibat abai membaca aturan perawatannya.
Urusan dapur ternyata tidak berhenti pada alat memasak saja, karena saat kita beralih ke botol-botol cairan pembersih, label di bagian depan botol sering kali langsung menarik perhatian kita dengan janji manisnya padahal produk seperti pembersih dasar dari jenama tertentu hanya bertugas merontokkan minyak dan kotoran agar mudah dilap.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa mengusap tumpahan sisa makanan saja tidak serta-merta membuat meja dapur kita bebas dari kuman, sebab kita membutuhkan cairan disinfektan khusus dan pembersihan dua tahap jika benar-benar ingin membasmi kuman, bukannya sekadar menyemprot cairan di atas tumpahan lengket yang justru membuat kuman terperangkap di dalamnya.
Di sinilah rahasia penting yang kerap terlewat tertera pada cetakan kecil di bagian belakang botol, di mana cairan pembunuh kuman tersebut ternyata harus dibiarkan basah dan dibiarkan meresap selama dua hingga sepuluh menit agar klaim ampuh pada kemasan benar-benar bekerja secara maksimal.
Kebiasaan kita yang gemar langsung mengelap cairan pembersih sesaat setelah disemprotkan mungkin terasa sangat efisien, tetapi bukankah memberi sedikit waktu bagi cairan tersebut untuk bekerja tenang di atas meja dapur bisa menjadi kebiasaan baik yang paling mudah kita terapkan minggu ini?
sumber: bonappetit.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
0 comments:
Post a Comment