
Sebuah setengah tangkup roti gandum utuh yang perlahan mengeras di atas meja dapur sama sekali belum waktunya berakhir di tempat sampah. Kita bisa belajar dari koki Tom Hunt bahwa sisa pinggiran roti yang terlupakan ini sebenarnya adalah senjata rahasia untuk menghidupkan kembali waktu makan penutup lewat hidangan klasik Inggris yang sangat hemat bernama brown betty. Bagi kita yang menyukai pesona pedesaan yang menenangkan dari crumble buah, cobbler, atau buckle, kerabat yang satu ini benar-benar layak mendapat tempat di dapur akhir pekan kita.
Hidangan ini bersandar nyaman di antara keluarga besar camilan buah panggang yang menggugah selera. Hebatnya lagi, sajian ini jauh lebih mudah dibuat dibandingkan crumble biasa sekaligus menjadi cara cemerlang untuk menyelamatkan sisa makanan dari pemborosan. Keajaiban sesungguhnya mulai terajut dari lapisan-lapisan rasa, dimulai dengan dasar buah musim gugur yang nantinya akan mendidih lembut di dalam oven.
Potongan dadu buah apel berpadu mesra dengan segenggam buah blackberry yang sarat sari manisnya, setetes esens vanila, sedikit air, atau bahkan percikan brendi jika kita menginginkan sentuhan rasa yang lebih dalam dan kompleks, serta siraman sirup maple. Sebelum masuk ke dalam oven, kita cukup menaburkan sedikit mentega di atas campuran buah tersebut, dan seketika itu juga kita sudah memiliki fondasi untuk sesuatu yang istimewa. Siapa sangka bahan-bahan sederhana bisa berubah seanggun itu?
Di sinilah kontras tekstur yang brilian mulai beraksi dan memanjakan indra kita. Irisan roti gandum sisa tadi dihaluskan menjadi remahan kasar berwarna keemasan, lalu dicampur dengan biji-bijian atau kacang cincang untuk memberikan sensasi renyah yang memuaskan, sejumput besar kayu manis bubuk, tambahan sirup maple, mentega cair, dan satu sentuhan cerdas berupa garam laut. Tidakkah kita takjub bagaimana garam laut punya cara ajaib untuk membangunkan rasa manis yang tertidur? Di sini, kehadiran garam adalah pembeda permainan yang membuat lapisan atasnya terasa begitu adiktif bahkan sebelum bersentuhan dengan panas api.
Semua kebaikan ini dipanggang bersama di dalam wajan tahan panas atau wadah khusus oven pada suhu dua ratus derajat Celsius sampai bagian atasnya berubah menjadi cokelat keemasan yang cantik dan sari buahnya mendidih pekat di pinggirannya. Setelah membiarkannya beristirahat selama sepuluh menit di atas meja agar suhunya bersahabat, kita bisa mengambil porsi-porsi murah hati ke dalam mangkuk dan menyempurnakannya dengan sesendok yogurt dingin, krim yang kaya rasa, es krim vanila, atau bahkan semangkuk custard hangat yang lembut.
Jadi, saat lain kali kita mendapati diri kita kebingungan menghadapi ujung roti yang mengeras, mari singkirkan rasa bersalah itu dan ubah ia menjadi sajian yang manis, renyah, serta sangat memuaskan. Bukankah akhir pekan ini adalah waktu yang paling pas untuk memanaskan oven bersama-sama?
sumber: theguardian.com
juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com
Foto: Guardian Food
0 comments:
Post a Comment