
Aroma besi tua yang khas berpadu dengan debu tipis toko barang antik selalu berhasil memancing rasa penasaran kita di akhir pekan. Kalau kita suka menyusuri lorong-lorong pasar loak demi mencari barang lama yang ramah di kantong sekaligus ramah lingkungan, ada satu harta karun dapur abad kesembilan belas yang layak kita cari, yaitu loyang kue besi cor antik buatan Nathaniel Waterman yang dipatenkan sejak tahun 1859 dengan desain potongan cerdas untuk meratakan panas oven.
Bentuknya sekilas mirip cetakan muffin modern yang sering kita pakai sekarang, tetapi loyang antik ini punya karakter pedesaan yang jauh lebih kuat dengan lekukan-lekukan kecil untuk memanggang kue porsi mini yang dulu dikenal sebagai gem. Pada era tahun 1800-an, para pembuat roti mengandalkan loyang bertekstur berat ini untuk menghasilkan kue gandum utuh yang manis dengan taburan buah, dan entah dari mana nama gem itu bermula, bentuk kuenya yang kecil berkilau sungguh menyerupai permata mungil yang keluar dari dalam oven panas.
Tentu saja, menemukan cetakan asli buatan Waterman yang lengkap dengan stempel bertuliskan Boston dan tahun 1859 adalah sebuah keberuntungan besar, meski pasar barang bekas tetap menyimpan banyak kejutan dari pembuat legendaris lain seperti Griswold, Lode, hingga Wagner. Kolektor biasanya mengincar berbagai bentuk cetakan yang sangat bervariasi, mulai dari lingkaran sederhana, kotak, lonjong, sampai bentuk keriting menawan yang disebut loyang kepala Turki, dengan kisaran harga pasar yang membentang dari di bawah lima puluh dolar hingga mencapai tiga ratus tujuh puluh lima dolar tergantung pada tingkat kelangkaan dan kondisi besi hitamnya.
Sebelum kita terlalu bersemangat membayangkan kepulan asap harum dari oven dapur kita, ada baiknya kita sedikit berhati-hati dengan perkakas masak besi cor masa lampau. Mengingat peralatan dapur lama kadang kala mengandung timbal sebelum tahun sembilan belas delapan puluh, melakukan uji timbal sederhana pada temuan loak kita adalah langkah bijak, selain tentu saja memeriksa dengan teliti apakah ada karat yang membandel, retakan, atau bagian besi yang rompal pada permukaan loyangnya.
Bahkan jika loyang antik temuan kita ternyata lebih cocok untuk dipajang daripada dipakai memanggang kue, warna besi gelapnya yang pekat dan teksturnya yang kokoh tetap bisa menjadi hiasan bergaya pedesaan yang hangat di sudut rumah kita. Kita bisa menyandarkannya begitu saja di atas meja dapur berdampingan dengan talenan kayu usang dan vas bunga segar, atau memasangnya di dinding untuk memberi sentuhan seni yang menenangkan. Pernahkah kita tanpa sengaja melihat loyang bertekstur unik ini bersembunyi di rak terbawah pasar loak, menunggu untuk kita bawa pulang dan hidupkan kembali di dapur rumah kita?
Entah pada akhirnya kita memilih untuk menggantungnya sebagai pajangan dinding yang mencuri perhatian atau dengan sabar merestorasinya demi seloyang muffin hangat di pagi hari, kepingan sejarah dari abad kesembilan belas ini selalu punya cara manis untuk memperkaya rutinitas harian kita. Jangan lupa ceritakan di kolom komentar ya, kalau-kalau kita pernah berpapasan dengan loyang besi cor antik ini di tengah petualangan berburu barang bekas kita!
sumber: tastingtable.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Tasting Table
0 comments:
Post a Comment