
Gelas berisi air putih segar di pagi hari sering kali ditemani deretan botol kecil berwarna kuning amber di sudut meja dapur, tempat kita biasa mengambil satu butir suplemen untuk menjaga tubuh tetap bugar. Selama ini, kita mungkin berjalan di lorong toko obat dengan asumsi bahwa semua vitamin D itu sama saja, sekadar jalan pintas menuju kebaikan sinar matahari di kala hari sedang mendung. Kita mengandalkan vitamin ini agar tulang tetap kuat karena kalsium terserap dengan baik, sekaligus membuat otot dan saraf berdendang harmonis menjalani hari. Terutama saat musim dingin yang kelam menyelimuti tempat-tempat seperti Inggris, di mana sang surya enggan memancarkan kehangatan, anjuran harian sepuluh mikrogram terasa begitu menenangkan.
Pilihan di botol-botol itu biasanya jatuh pada dua jenis, yaitu vitamin D2 yang sering kali berasal dari jamur atau ragi yang berjemur di bawah sinar ultraviolet, atau vitamin D3 yang serupa persis dengan zat yang diproduksi kulit kita saat tersapu hangatnya matahari musim panas. Dahulu, kita jarang ambil pusing jenis mana yang tertelan bersama air minum pagi, asalkan kebutuhan harian terpenuhi. Namun, sebuah studi dari tahun dua ribu dua puluh lima yang diterbitkan dalam Nutrition Reviews oleh para peneliti dari Universitas Surrey, John Innes Centre, dan Quadram Institute Bioscience mengajak kita melihat lebih jeli label mungil tersebut. Setelah membedah dua puluh penelitian, mereka menemukan fakta mengejutkan pada hasil tes darah para partisipan yang rutin menenggak vitamin D2.
Ternyata, kadar vitamin D3 alami yang mengalir di pembuluh darah mereka justru merosot cukup drastis, dengan penurunan rata-rata berkisar antara sembilan hingga delapan belas nanomol per liter jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsinya. Jangan buru-buru panik lalu membuang botol suplemen itu ke tempat sampah, karena vitamin D2 sama sekali bukan racun yang merusak tubuh. Zat ini tetap berkontribusi menaikkan status vitamin D secara keseluruhan lewat metabolitnya sendiri. Hanya saja, seperti yang dijelaskan oleh ketua peneliti Dr. Emily Brown, saat kita memasok satu jenis vitamin ke dalam tubuh, mesin biologis kita bisa jadi bekerja ekstra untuk mengurai dan membersihkan senyawa yang ada, sehingga tanpa sengaja mempercepat pembuangan D3. Bukankah tubuh kita memang selalu punya cara yang begitu rumit dan berlapis dalam menyeimbangkan apa pun yang kita telan?
Lebih menarik lagi, penelitian terpisah yang dipimpin oleh Profesor Colin Smith menunjukkan bahwa D2 dan D3 memicu aktivitas gen yang berbeda di dalam tubuh. Si D3 terbukti merangsang pertahanan imun yang penting, seperti sinyal interferon tipe satu, yang rupanya tidak disentuh sama sekali oleh si D2. Bagi kita yang menjalani pola makan nabati, urusan memilih suplemen ini dulu berarti harus pasrah memilih D2 lantaran D3 konvensional lazimnya bersumber dari lanolin bulu domba. Untungnya, dunia kesehatan bergerak ke arah yang lebih ramah, di mana pilihan D3 bebas hewani yang bersumber dari lumut kerak kini semakin mudah kita temukan di rak-rak toko. Menjelang hari-hari yang lebih dingin di depan, penyesuaian kecil apa yang rasanya perlu kita lakukan pada rutinitas harian agar tubuh mendapatkan jenis kebaikan matahari yang paling pas untuknya?
sumber: sciencedaily.com/261007232940.htm
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: ScienceDaily Nutrition
0 comments:
Post a Comment