
Suara sendok dan garpu yang berderik di piring pada jam sepuluh malam sepertinya sudah jadi bagian dari ritme santai kita melepas lelah, entah saat menikmati sisa pizza kemarin atau sepiring mi instan hangat berkuah gurih. Selama ini, kita mungkin hanya sibuk menghitung kalori di atas piring, memastikan porsi makan malam tidak berlebihan agar timbangan tidak protes keesokan harinya. Tapi, ada satu hal penting yang sering kita lewatkan begitu saja tanpa sadar.
Sebuah penelitian besar yang melibatkan hampir dua ratus ribu orang dari tiga studi nasional membawa kabar yang cukup membuat kita menghentikan suapan sejenak. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology ini menunjukkan bahwa kebiasaan makan camilan larut malam atau menyantap hidangan utama tepat sebelum tidur ternyata menyimpan ancaman tersembunyi bagi tubuh. Risiko terkena penyakit hati pada mereka yang gemar makan larut ternyata melonjak hingga dua puluh sampai tiga puluh persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang-orang yang memilih makan lebih awal di malam hari.
Dr. Robert Wilechansky selaku penulis utama penelitian ini menjelaskan bahwa sebelumnya kita sudah sering mendengar bagaimana kebiasaan makan malam buta memicu obesitas serta masalah jantung. Nah, analisis jangka panjang ini membuka mata kita lebih lebar karena secara khusus menghubungkan kebiasaan tersebut dengan kondisi perlemakan hati atau yang medisnya disebut metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease, serta risiko sirosis yang jauh lebih serius.
Pernahkah kita berpikir mengapa jam dinding di dapur ikut menentukan kesehatan organ dalam kita? Jawabannya terletak pada jam biologis tubuh kita yang bekerja di balik layar, di mana hati kita ternyata sangat sensitif terhadap ritme sirkadian yang mengatur metabolisme selama dua puluh empat jam penuh. Dr. Andrew McHill, salah satu peneliti dalam tim tersebut, menambahkan bahwa makan di malam hari saat tubuh semestinya bersiap untuk tidur membuat organ pencernaan kita bekerja di luar jam kerjanya. Akibatnya, makanan tidak bisa diproses dengan efisien, mirip seperti beban kerja berat yang dirasakan oleh para pekerja shift malam yang pola tidurnya berantakan.
Tentu saja, kondisi perlemakan hati sendiri terjadi saat lemak berlebih menumpuk di organ vital ini, meski tidak semua kasus berujung pada jaringan parut yang parah seperti sirosis. Para peneliti juga mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional berdasarkan laporan mandiri, sehingga ini menunjukkan kaitan erat dan bukan hubungan sebab-akibat langsung, serta belum menguji apakah sekadar memajukan jam makan bisa mencegah penyakit secara total.
Meski catatan kehati-hatian itu ada, pesan utamanya tetap terasa melegakan dan sederhana untuk kita terapkan. Kita tidak perlu merombak total isi piring atau menjalani diet super ketat, melainkan cukup menutup sesi makan harian kita jauh sebelum jam tidur tiba sebagai langkah ramah untuk melindungi kesehatan jangka panjang. Bagaimana dengan kebiasaan kita di meja makan malam nanti, sudah siap untuk memajukan jam makan demi tubuh yang lebih bahagia?
sumber: sciencedaily.com/261014015503.htm
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: ScienceDaily Nutrition
0 comments:
Post a Comment