
Butternut squash sering kali berguling di atas talenan kayu dengan keras kepala, menolak pisau kita dan mengingatkan kenapa kita kadang ragu membawanya pulang dari pasar. Padahal, kita semua tahu betapa nyaman rasa hasil bumi musim gugur ini saat udara mulai dingin, membawa keseimbangan sempurna antara kedalaman rasa tanah dan manis alami yang membuatnya selalu jadi kesayangan di dapur. Bahan ini masuk ke dalam segalanya, mulai dari sup berkrim sampai hidangan pendamping berbumbu, tidak pernah membosankan dalam menu mingguan kita. Tapi, tahu tidak apa yang cepat sekali membosankan? Persiapannya.
Di antara kulitnya yang terkenal keras, bentuknya yang memanjang canggung dan ogah diam, serta daging buahnya yang sangat padat, mengolah sayuran ini jujur saja bisa terasa seperti gulat kecil yang mengancam keselamatan jari-jari kita. Untungnya, menurut panduan dapur baru-baru ini, urusan ini tidak harus jadi pertempuran yang melelahkan. Hanya dengan pisau yang tajam dan berat, pengupas sayur yang bisa diandalkan, serta beberapa gerakan mantap, memotong mentah-mentah butternut squash jadi jauh lebih sederhana dan aman dari yang kita bayangkan.
Rahasianya bermula di atas talenan dengan menahan buahnya secara mantap menggunakan tangan yang tidak dominan, lalu mengiris sekitar seperempat inci dari bagian atas dan bawahnya untuk menciptakan dasar yang stabil. Dari situ, kita tinggal mengupas kulitnya yang membandel memakai pengupas berkualitas, membuat beberapa gerakan sampai lapisan putih pucatnya hilang dan daging buahnya yang berwarna kuning jingga cerah terpampang sempurna. Bukankah mengagumkan melihat warna terang itu akhirnya tersingkap bersih?
Begitu kulitnya lenyap, keajaiban teknik ini berlanjut saat kita membelah labu tepat di titik pertemuan antara badan bawah yang gemuk dan leher atas yang langsing. Bagian leher atas dipotong memanjang lalu diiris menjadi bentuk setengah bulan setebal satu inci yang rapi, sementara badan bawahnya hanya butuh kerukan cepat dengan sendok untuk membuang bijinya yang ternyata bisa disimpan untuk dipanggang nanti. Setengah bagian yang sudah bersih dari biji itu kemudian mengikuti jalur yang sama menjadi bentuk setengah bulan, sebelum akhirnya dicincang jadi kubus-kubus kecil satu inci yang ceria.
Kalau memotong dadu terasa terlalu melelahkan di tengah malam pekan yang sibuk, ada jalan pintas yang sangat mudah di mana seluruh buah labu langsung dimasukkan ke dalam oven dalam keadaan utuh tanpa dikupas dan dipotong, membiarkan panas oven bekerja keras untuk kita. Saat kita memilih jalur dadu, melumuri potongan-potongan tersebut dengan sedikit minyak zaitun, garam, merica, dan rempah harum seperti rosemary dan thyme—atau menghangatkannya dengan jintan dan bubuk cabai—akan membawa kita pada sesuatu yang benar-benar istimewa di dalam oven.
Menyebarkannya di atas loyang dan Memanggangnya pada suhu empat ratus dua puluh lima derajat selama sekitar empat menit, dengan satu kali adukan cepat di tengah waktu memasak, mengubah daging labu secara total. Sambil dipanggang, warna jingga cerah itu menggelap menjadi amber karamel yang kaya, teksturnya melunak hingga pas digigit, dan dapur pun dipenuhi aroma manis menenangkan yang membuat setiap detik persiapan tadi benar-benar terbayar lunas. Saat nanti kamu memutuskan membawa pulang salah satu kecantikan musim gugur ini, bagaimana biasanya kamu membumbui labu ini untuk dipanggang?
sumber: delish.com/how-to-peel-butternut-squash
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Delish
0 comments:
Post a Comment