Kue Cokelat Walnut dan Espresso Tanpa Tepung Karya Helen Goh

, , No Comments
Kue Cokelat Walnut dan Espresso Tanpa Tepung Karya Helen Goh

Aroma seduhan espresso pekat dan lelehan cokelat hitam yang kaya langsung meruap di dapur bahkan jauh sebelum pintu oven tertutup rapat. Kita sedang membicarakan sebuah resep istimewa yang dibagikan oleh Helen Goh di The Guardian, yaitu kue walnut, kurma, dan espresso tanpa tepung yang seketika membuat kita ingin segera mendidihkan air untuk secangkir teh. Resep ini mengandalkan teknik cerdas yang menggantikan tepung terigu biasa dengan gilingan kacang halus serta buah yang dihaluskan, membuktikan sekali lagi bahwa kue bebas gluten bisa sama memuaskannya dengan kue tradisional.

Meskipun ada banyak cokelat hitam yang dilebur ke dalam adonan hingga menempatkannya di wilayah kue cokelat sejati, bintang utama dari hidangan ini sebenarnya adalah kacang walnut. Resep ini menggunakan walnut kupas segar yang dihaluskan sampai lembut untuk menghasilkan rasa manis dan gurih krimi yang menjadi karakter di setiap gigitannya. Kita tentu tidak ingin melewatkan kesegarannya, karena walnut yang sudah lama atau tengik bisa terasa pahit, padahal kita hanya menginginkan rasa yang paling nyaman di lidah kita. Selain walnut, kurma tanpa biji direndam dalam espresso panas sampai lunak, lalu diblender menjadi pasta halus yang memberikan kedalaman rasa karamel yang pekat.

Bayangkan betapa cantiknya perpaduan rasa yang saling melengkapi ini. Kopi espresso bekerja dengan cerdas untuk menyeimbangkan rasa manis agar tidak berlebihan, sementara sejumput kayu manis bubuk, kakao bubuk, dan sedikit garam laut halus menghadirkan kehangatan serta kedalaman rasa. Mentega dan cokelat hitam dilelehkan perlahan di atas air mendidih sebelum akhirnya dicampur dengan kocokan kuning telur dan gula cokelat muda, menciptakan adonan yang kental, berkilau, dan mengeluarkan aroma yang begitu menggugah selera.

Untuk mendapatkan tekstur yang terasa ringan di balik kekayaannya yang luar biasa, cara pembuatannya mengharuskan kita memisahkan lima butir telur ukuran besar. Bagian putih telurnya dikocok bersama gula kastor hingga membentuk puncak yang lembut, dan busa putih telur yang berangin ini kemudian dilipat perlahan ke dalam adonan secara bertahap. Sepertiga bagian dimasukkan terlebih dahulu untuk melonggarkan adonan, disusul sisanya dengan perlahan agar gelembung udara yang berharga itu tetap terjaga sebelum adonannya dituangkan ke dalam loyang berukuran dua puluh sentimeter yang telah dialasi kertas.

Kue ini dipanggang pada suhu seratus delapan puluh derajat selama kurang lebih lima puluh lima hingga enam puluh menit, hingga akhirnya keluar dari oven dengan bagian pinggir yang matang dan bagian tengah yang masih sedikit bergoyang ketika digoyang. Saat ditusuk dengan lidi, tusuknya akan keluar dengan sedikit remahan basah yang menempel, bukan yang benar-benar bersih. Setelah dingin sempurna, taburan tipis kakao bubuk menjadi penyelesaian yang manis, meskipun kita juga bisa menyajikannya bersama sesendok krim segar atau buah pir Rebus jika ingin menjadikannya hidangan penutup yang lebih mewah. Siapa tahu kita ingin mencoba memanggang kue cantik ini di akhir pekan, dan menikmati setiap potongannya bersama orang-orang tersayang.

sumber: theguardian.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Guardian Food

0 comments: