
Kopi hitam pekat, bacon asin, dan kacang panggang yang tak pernah habis memenuhi piring-piring kaleng dalam perjalanan menggiring sapi di abad kesembilan belas. Namun, di balik kerasnya jalur petualangan barat yang menantang, selalu ada celah bagi para koki kereta makan untuk meramu sesuatu yang manis. Ketika mereka punya sedikit waktu luang dan sisa gula di tangan, lahirlah sebuah hidangan penutup dengan nama yang unik, telinga anjing atau hound's ears. Tenang saja, sama sekali tidak ada hewan yang terluka demi camilan ini, karena nama itu sekadar menggambarkan bentuk adonan yang jatuh bergelombang dan tidak beraturan saat bersentuhan dengan minyak panas.
Proses pembuatannya melibatkan adonan sourdough yang diencerkan lalu langsung dicelupkan ke dalam minyak bacon yang mendesis gurih. Saat adonan berubah warna menjadi kecokelatan yang renyah di luar, kudapan ini disiram dengan saus whirlup yang hangat. Saus sederhana ini memadukan air dan gula dengan aneka rempah yang tersisa di gerobak, kadang diperkaya dengan potongan buah kering yang dihancurkan. Menurut mendiang penulis barat Stephen Bly yang sempat mengulasnya pada tahun 2009, kombinasi rasa manis ini menjadi favorit utama para cowboy yang kelaparan setelah berjam-jam diterpa pelana kuda.
Sourdough pada masa itu ibarat nyawa dari setiap perjalanan panjang, selalu hadir dalam hampir setiap waktu makan. Sejak Charles Goodnight merancang kereta makan yang layak pada tahun 1866, setiap rombongan selalu membawa juru masak khusus yang menyimpan biang roti atau starter berharga di dalam tong kayu berukuran lima galon. Begitu berharganya biang roti ini sampai-sampai para koki rela tidur tepat di sebelah tong pada malam-malam yang membeku, sebuah bukti betapa besar cinta yang dicurahkan ke dalam setiap tangkup roti dan camilan gorengan manis. Bukankah luar biasa bagaimana bahan-bahan paling sederhana mampu memberi arti begitu besar ketika kita sedang berada jauh dari rumah?
Makanan di jalur petualangan kala itu memang punya reputasi yang cukup beragam, untuk tidak bisa disebut buruk. Daging babi asin yang disebut sowbelly harus direndam berjam-jam agar layak dikunyah, sementara biskuit keras hardtack begitu digemari serangga sampai-sampai mendapat julukan kastil cacing. Dibandingkan semua itu, sepotong adonan goreng keemasan yang disiram sirup buah hangat tentu terasa bagaikan kemewahan yang luar biasa. Para koki sesekali memang memanggang hidangan buah cobbler, tetapi makanan manis adalah barang langka, sementara camilan goreng lain seperti tanda beruang atau bear signs hanya muncul sesekali saat situasi memungkinkan.
Kudapan seperti ini dulunya menuntut kelengkapan dapur berjalan yang memadai, meski kita bisa membayangkan betapa dinantikannya tekstur renyah dan rasa manis di dekat api unggun yang berderak. Hari ini, kita mungkin mengenalnya sebagai kerabat jauh dari kue jaring atau gorengan pedesaan yang disiram saus kompot buah. Mengingat banyak dari kita yang juga merawat toples berisi biang sourdough di atas meja dapur, kita pun bisa dengan mudah memanaskan wajan besi cor dan mencoba menggorengnya bersama saus buatan sendiri. Kalau akhir pekan ini kamu tertarik mencoba membuat sajian bersejarah tersebut, bagaimana cara meracik saus buah andalanmu di rumah?
sumber: tastingtable.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Tasting Table
0 comments:
Post a Comment