
Buah pir memiliki masa kematangan yang begitu singkat hingga komedian Eddie Izzard pernah berkelakar bahwa buah ini hanya sempurna selama sekitar setengah jam saja dan kita tidak pernah benar-benar ada di sana untuk menangkapnya. Sifat buah yang unik ini membuat pembuatan perry, minuman fermentasi dari sari buah pir, menjadi sebuah seni yang luar biasa rumit dan penuh tantangan. Para produsen harus berjuang mengurus pohon-pohon tua di kebun-kebun Inggris Barat dan Prancis utara dengan dahan-dahan meliuk yang sulit dipanen, ditambah buah pir yang kerap mulai membusuk dari bagian dalam. Felix Nash dari Fine Cider Company bahkan menyebutkan bahwa membuat perry dengan kualitas prima adalah pekerjaan yang sangat sulit, yang sekaligus menjelaskan mengapa minuman ini tetap menjadi karya kerajinan skala kecil jika dibandingkan dengan dunia sari buah apel.
Bagi sebagian dari kita yang tumbuh dengan botol-botol pesta retro Babycham beberapa dekade lalu, mendengar tentang sari buah pir mungkin langsung memunculkan senyum nostalgia penuh tawa. Namun, di balik botol-botol produksi massal tersebut, tersembunyi industri kecil perry artisanal yang kualitasnya sangat memukau untuk dituangkan di samping hidangan lezat. Suara letupan gabus yang lembut dan buih berwarna emas pucat di dalam gelas kerap membuat kita mengira itu adalah anggur perayaan, padahal ada cerita kebun buah yang sama sekali berbeda di sana. Minuman bersejarah yang konon pernah disukai oleh Ratu Elizabeth I ini dibuat dari varietas pir kuno dengan nama-nama yang terdengar unik seperti hendre huffcap, butt, dan green horse.
Apa yang membuat perry berkualitas tinggi ini begitu menarik bagi kita para penikmat kuliner modern adalah betapa ramahnya minuman ini saat disandingkan dengan berbagai hidangan di meja makan. Karena buah pir secara alami mengandung sorbitol, yaitu sejenis alkohol gula yang tidak dapat berfermentasi, bahkan perry berjenis kering sekalipun tetap bisa meninggalkan kesan manis yang lembut di lidah kita. Dengan kadar alkohol yang bersahabat di kisaran lima hingga enam persen, sebotol perry yang baik bertindak seperti kanvas kosong yang fleksibel. Pernahkah kita membayangkan minuman yang bisa menjelma dari sajian pembuka yang menyegarkan hingga pendamping hidangan penutup yang manis, semuanya dalam satu tegukan?
Karakter ramah pangan dari perry artisanal ini benar-benar bersinar ketika kita mulai merencanakan paduan rasa untuk makan malam bersama orang terkasih. Sambil menikmati keju-keju gurih atau tiram segar, bayangkan betapa nikmatnya menuangkan sebotol perry setengah kering berkilau buatan Tom Oliver berdampingan dengan piring cabai paneer yang masih mengepul hangat. Minuman ini terbukti mampu menjinakkan rasa pedas dengan jauh lebih anggun dibandingkan anggur biasa, persis seperti botol Little Pomona Fausset Pét Nat Perry yang juga lezat dinikmati bersama mapo tofu pedas. Karakter rasanya yang kaya dengan sedikit tanin bahkan bisa menjadi pengganti yang sempurna untuk anggur pencuci mulut yang manis.
Menariknya lagi, rahasia kecil ini belum tersiar seluas demam anggur mewah di pasaran, sehingga kita bisa menikmati aroma bunga elder, tingkat keasaman yang renyah, dan lapisan tanin yang kompleks tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Berkat biaya transportasi yang lebih ramah dan pajak yang lebih ringan daripada anggur, botol-botol kerajinan tangan ini menawarkan nilai luar biasa bagi lidah kita yang penasaran. Bukankah ini alasan yang sempurna untuk merayakan akhir pekan? Coba bisikan pada kita, botol mana yang akan kalian bawa ke meja makan untuk jamuan istimewa berikutnya?
sumber: theguardian.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Guardian Food
0 comments:
Post a Comment