Jejak Debu Kebakaran Hutan di Piring Makan Kita

, , No Comments
Jejak Debu Kebakaran Hutan di Piring Makan Kita

Ikan bakar yang tersaji di hadapan kita menyimpan cerita perjalanan yang jauh lebih panjang dari sekadar tangkapan nelayan pagi hari di pesisir. Selama ini, mata kita cenderung menengadah ke langit setiap kali musim kebakaran hutan tiba, cemas menatap kabut abu-abu pekat yang menyesakkan dada dan mengotori kaca jendela rumah. Kita sibuk merisaukan udara yang kita hirup tanpa menyadari ke mana sisa-sisa abu pembakaran itu akhirnya bermuara setelah api padam dan langit kembali biru.

Bayangkan saja, dari Januari hingga September 2026 kemarin, luas lahan yang hangus terbakar diperkirakan mencapai angka mencengangkan 1,91 juta hektar—luas yang hampir menyamai tiga puluh kali lipat wilayah Jakarta. Saat hujan turun membawa kelegaan untuk membersihkan udara, air hujan justru menghela partikel mikroskopis yang melayang di asap turun ke bumi. Partikel super halus yang disebut PM 2,5 ini ukurannya tiga puluh kali lebih tipis dari sehelai rambut manusia, dengan sebagian besar isinya berupa senyawa karbon, nitrat, amonium, dan logam berat yang siap terbawa aliran air.

Bagaimana bisa abu dari daratan yang hangus berakhir di sungai dan laut kita? Ketika hujan deras mengguyur lahan gambut bekas terbakar yang kini berubah menjadi kedap air, air bah meluncur deras membawa serta hidrokarbon aromatik polisiklik dan logam berat langsung ke badan air. Buktinya nyata dan tercatat jelas, seperti penurunan drastis tingkat keasaman atau pH di Sungai Sebangau, Kalimantan Tengah, pasca kebakaran besar 2015, di mana keasaman air melonjak hingga lima kali lipat. Di belahan bumi lain, tepatnya di Sungai Klamath California pada 2022, limpasan abu pasca-kebakaran bahkan membuat kadar oksigen terlarut terjun bebas ke titik nol, meninggalkan ribuan ikan mati mengapung di permukaan air yang keruh.

Lonjakan nutrisi dan abu yang tumpah ke perairan ini memicu efek domino yang merusak rantai makanan laut secara keseluruhan. Kelebihan nutrisi memicu ledakan populasi fitoplankton secara tiba-tiba, yang kemudian menyedot seluruh oksigen di dalam air saat mikroorganisme menguraikannya. Peristiwa muram ini pernah terekam di Kepulauan Mentawai pada 1997, tatkala asap kebakaran hutan di Sumatra berpadu dengan arus laut dan memicu ledakan alga yang mencekik terumbu karang serta ikan, meninggalkan jejak kimiawi yang bahkan masih tersimpan rapi di kerangka karang Laut China Selatan setahun kemudian.

Pada akhirnya, perjalanan tak kasat mata dari daratan yang terbakar ini menohok langsung kantong nelayan pesisir dan mangkuk nasi kita di rumah. Tangkapan ikan warga lokal di sekitar Sungai Sebangau sempat merosot tajam hingga tujuh puluh delapan persen setelah musibah 2015, memukul telak sumber penghidupan mereka. Saat polutan menumpuk di dalam tubuh ikan, dampaknya merambat perlahan hingga ke isi piring di meja makan kita. Bukankah ini saat yang tepat bagi kita untuk merenungkan betapa eratnya hubungan antara kesehatan hutan, kelestarian perairan, dan sepiring hidangan lezat yang kita nikmati setiap hari?

sumber: theconversation.com

juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com

Foto: The Conversation ID

0 comments: