
Suara berderik renyah dari kentang baji yang baru keluar dari oven panas selalu berhasil memanggil kita ke dapur, memberikan kebahagiaan sederhana yang membuat lelah menyiapkan bahan seolah tak ada artinya. Kelezatan itu justru terletak pada keputusan kecil yang menyenangkan, yaitu membiarkan kulitnya tetap utuh tanpa dikupas, memberi kita jalan pintas terbaik untuk mendapatkan kentang tumbuk bertepi renyah dan kentang panggang yang mengenyangkan di atas piring. Kita jadi bisa menghemat waktu di talenan sekaligus merayakan tekstur terbaik yang ditawarkan oleh umbi-umbian ini. Namun, seperti yang diingatkan oleh Marc Jonna, salah satu pendiri sekaligus presiden Plum Market, kita memang harus sedikit lebih teliti begitu memutuskan untuk ikut menikmati kulit kentang bersama bagian dalamnya yang lembut dan mengepul.
Bayangkan saja bagaimana kentang tumbuh bersembunyi jauh di dalam tanah, tempat mereka harus bertahan menghadapi berbagai hama yang membuat petani konvensional mau tak mau mengandalkan pestisida dalam jumlah besar. Jonna menjelaskan bahwa kulit kentang inilah tempat sisa-sisa bahan kimia tersebut secara alami terkonsentrasi dan bersembunyi dengan rapat. Faktanya, kentang bahkan mendarat di daftar Kotor Lusin atau Dirty Dozen versi Kelompok Kerja Lingkungan, sebuah daftar buah dan sayuran yang membawa residu pestisida terberat, menjadikan momen belanja di pasar hari ini sebagai waktu yang tepat untuk lebih peduli pada apa yang kita bawa pulang ke dapur.
Di Amerika Serikat, sebagian besar kentang konvensional membawa tingkat klorprofam yang cukup tinggi, yaitu zat kimia yang sengaja disemprotkan agar kentang tidak bertunas selama masa penyimpanan di gudang, ditambah lagi dengan fungisida bernama klorotalonil. Meskipun Badan Perlindungan Lingkungan masih mengizinkan penggunaannya dan tidak melihatnya sebagai ancaman langsung, zat-zat tersebut tetap saja mengundang kekhawatiran karena sifat beracunnya bagi hewan serta potensi mereka dalam mengganggu hormon manusia. Bukankah sangat lega mengetahui bahwa dengan beralih ke pilihan bersertifikat organik, kita bisa langsung mencoret kekhawatiran itu dari kepala? Saat kita membeli yang organik, kita secara otomatis menghindari paparan bahan kimia spesifik tersebut sejak awal mula perjalanannya ke dapur kita.
Tentu saja, bahkan ketika kita sudah membawa pulang sekantong kentang organik yang cantik, sedikit perhatian ekstra di dapur tetap diperlukan untuk hasil terbaik. Jonna mengingatkan kita bahwa kentang organik terkadang masih bisa membawa sedikit sisa residu kimia akibat pencemaran silang dengan kelompok kentang konvensional selama proses pengemasan atau penyimpanan di gudang penampungan. Itulah mengapa menggosoknya dengan teliti di bawah air dingin yang mengalir menggunakan sikat yang kaku menjadi ritual yang begitu penting sebelum potongan kentang itu menyentuh wajan. Beliau juga menyarankan agar kita mencuci tangan serta sikat tersebut sesudahnya, karena bagian kulit itu telah bersentuhan dengan banyak hal sebelum akhirnya dimasak.
Tanpa kehadiran zat penghambat tunas yang berat, kentang organik memang bisa lebih cepat menumbuhkan tunas kecil di keranjang dapur kita. Tenang saja, umbi-umbian ini tetap aman seratus persen untuk dimasak dan disantap selama tunasnya masih kecil dan kita mau sedikit bersabar untuk memotongnya bersih-bersih bersama bagian yang kehijauan akibat kelebihan klorofil. Dengan teliti memeriksa hasil bumi kita di toko dan dengan mantap memilih opsi segar bersertifikat organik, kita bisa dengan riang menikmati sajian kulit kentang favorit dan hidangan panggang bergaya pedesaan dengan ketenangan jiwa yang utuh.
sumber: tastingtable.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Tasting Table
0 comments:
Post a Comment