Membongkar Rahasia Lezat Steak Arang Murah Meriah

, , No Comments
Membongkar Rahasia Lezat Steak Arang Murah Meriah

Pernahkah kita berdiri termenung di depan konter daging, ngiler membayangkan sepotong steak juicy yang gurih, tapi langsung meringis begitu melihat harganya yang selangit akhir-akhir ini? Kita semua pasti pernah berada di posisi itu, bertanya-tanya apakah malam akhir pekan kita harus rela tanpa steak demi menghemat dompet. Untungnya, sebelum kita menyerah pada dada ayam rebus, ada dunia potongan daging hemat di luar sana yang menunggu untuk kita temukan bersama, dan salah satunya punya nama yang cukup bikin penasaran: steak arang.

Kalau kita belum pernah mendengar tentang steak arang sebelumnya, tidak usah berkecil hati sama sekali. Dunia pemotongan daging memang sering kali membingungkan dengan segudang istilahnya, dan nama yang satu ini pun tergolong agak samar di pasaran. Kita mungkin harus sedikit rajin mampir ke beberapa toko untuk menemukannya dengan label tersebut. Tapi, inilah rahasia kecilnya: kita cukup mencari nama yang lebih familier di telinga, yaitu blade steak atau top blade steak. Bagian paling manisnya? Berdasarkan laporan dari Traeger Pellet Grills, potongan ini biasanya dibanderol dengan harga yang sangat ramah di kantong, sekitar lima sampai sepuluh dolar per ponnya.

Lalu, dari mana sebenarnya asal potongan misterius ini? Apapun label yang tertera di bungkusnya, steak arang berasal dari area chuck atau bagian bahu si sapi, yang merupakan salah satu dari delapan potongan utama meliputi area bahu, lengan atas, dan leher bagian bawah. Lebih spesifik lagi, steak arang ini diiris tepat dari bagian atas tulang belikatnya. Kita mungkin familier dengan saudaranya yang terkenal, yaitu flat iron steak, yang berasal dari area yang persis sama. Cara paling gampang untuk membedakannya adalah dengan mencari garis jaringan liat atau gristle yang melintang persis di tengah steak arang, sementara flat iron diiris rapi dari sisi kiri dan kanan jaringan ikat tersebut.

Kita mungkin langsung menebak bahwa daging yang lebih murah berarti kita harus berkompromi soal rasa atau kelembutannya, tapi tunggu dulu! Meskipun area bahu ini adalah otot yang bekerja keras dan secara alami lebih tangguh dibanding filet mignon yang lembut, top blade justru dikenal sebagai otot urutan kedua yang paling empuk pada sapi. Ditambah lagi dengan limpahan lemak dan marbling yang cantik di area ini, kita jadi sadar bahwa steak arang bisa menyaingi mahalnya iga bertulang asalkan kita tahu cara memperlakukannya di dapur. Supaya tetap lembut, daging ini paling pas dimasak tingkat kematangan rare sampai medium rare, cukup dengan panaskan wajan dengan api besar lalu sear selama dua hingga tiga menit di setiap sisinya.

Tentu saja, kalau kita berencana menyalakan panggangan di halaman belakang, caranya sedikit berbeda. Kita perlu memotong dulu garis jaringan ikat yang membandel itu, lalu memasaknya dengan api kecil secara perlahan lewat teknik smoked atau braised di atas panggangan, sebelum ditutup dengan searan cepat di akhir proses. Ada juga satu tip menarik untuk rasa yang maksimal: selalu gunakan arang asli! Banyak juru masak juga menyarankan rendaman bumbu atau marinade bercita rasa asam dari buah jeruk untuk membantu melunakkan daging lebih jauh. Jadi, lain kali saat kita merencanakan makan malam akhir pekan yang hangat namun tetap ingin menjaga isi dompet, yuk kita intip konter daging untuk mencari steak arang atau potongan bahu lainnya seperti chuck eye dan flat iron. Mau coba memasaknya bersama untuk menu kita berikutnya?

sumber: tastingtable.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

0 comments: