
Uap mengepul dari sisa hidangan sebuah pesta pernikahan indah yang mulai dibereskan dari meja saji, meninggalkan rasa menyesakkan dada saat kita menatap nampan-nampan lezat itu dan bertanya-tanya mengapa kita tidak boleh meminta sedikit kotak untuk dibawa pulang. Padahal, kita tahu betul berapa banyak tenaga, pikiran, dan uang yang sudah dikeluarkan untuk merancang menu-menu istimewa tersebut, yang kerap membuat kita sempat berpikir bahwa aturan ini cuma akal-akalan pihak gedung atau katering supaya mereka bisa menyimpan makanannya sendiri. Padahal, aturan ketat soal sisa makanan ini sama sekali bukan dibuat untuk mengecewakan kita.
Di balik aturan yang kelihatannya kaku itu, ada alasan utama yang jauh lebih penting, yaitu menjaga keselamatan perut kita semua. Para ahli keamanan pangan punya istilah khusus untuk hal ini, yaitu zona bahaya atau danger zone. Berdasarkan panduan dari Departemen Pertanian Amerika Serikat, zona ini adalah rentang suhu tertentu antara 40 hingga 140 derajat Fahrenheit, tempat di mana bakteri jahat sangat suka tumbuh dan berkembang biak dengan cepat. Makanan yang tersaji di meja prasmanan punya batas waktu yang sangat ketat; hidangan dingin harus tetap berada di bawah 40 derajat, sementara makanan panas terutama daging dan unggas wajib dijaga aman di atas 140 derajat. Makanan mudah rusak bahkan tidak boleh dibiarkan di suhu ruang tanpa pendingin selama lebih dari dua jam, dan waktu aman itu akan menyusut lebih cepat lagi di hari yang hangat.
Coba kita bayangkan bedanya pesta katering besar dengan makan malam biasa di restoran. Di restoran yang bagus, piring makan kita datang langsung dari dapur ke meja, jadi meminta kotak pembungkus untuk sisa makanan tentu bukan masalah besar. Tapi di acara prasmanan atau pesta katering berskala besar, makanan-makanan itu sudah tersaji lama sekali sejak selesai dimasak. Begitu acara usai dan piring-piring mulai dibersihkan, hidangan tersebut biasanya sudah terlalu lama nongkrong di zona suhu yang berisiko tinggi atau bahkan sudah mendekati batas bahaya kesehatan.
Tentu saja, melihat makanan yang kelihatannya masih sangat bagus terpaksa masuk ke tempat sampah tetap saja bikin kita mengelus dada. Kita mungkin merasa sudah dewasa dan tahu cara mengurus sisa makanan sendiri, tapi kenyataannya tidak semua orang dibekali pelatihan profesional soal keamanan pangan untuk bahan-bahan yang sensitif terhadap suhu. Belum lagi urusan tanggung jawab hukum yang nyata. Pihak penyedia jasa boga dan gedung acara tidak akan mau mengambil risiko ada tamu yang jatuh sakit akibat keracunan makanan begitu kotak makanan itu berpindah tangan ke luar pengawasan mereka. Yang menarik, para staf katering yang sudah paham betul cara menangani dan memanaskan ulang bahan seperti daging biasanya justru diperbolehkan membawa pulang sisa makanan karena mereka paham betul protokol keamanannya.
Jadi, lain kali kalau kita menghadiri perayaan besar dan melihat tim katering merapikan meja tanpa membagikan kotak bekal, kita bisa bernapas lega karena semua itu semata-mata demi kesehatan bersama. Memang butuh sedikit waktu untuk terbiasa, tapi setidaknya kita bisa lebih santai menikmati pesta tanpa rasa penasaran yang mengganjal. Pernahkah kalian mendapati aturan ini di sebuah acara besar, dan bagaimana perasaan kalian waktu itu? Mari kita ngobrol santai soal ini di meja makan kita berikutnya!
sumber: tastingtable.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Tasting Table
0 comments:
Post a Comment