Rahasia Di Balik Kilau Pembersih Panggang Jersey Mike's

Tumpukan daging gurih, lelehan keju yang meriah, dan sayuran lembut berdesis di atas pelat baja panas saat kita memesan cheesesteak favorit di Jersey Mike's, tempat semua keajaiban sandwich hangat itu diracik tepat di depan mata kita. Siapa sangka, di balik teater kuliner yang menggugah selera itu, ada sebuah rutinitas pembersihan yang sama menariknya ketika jam makan siang yang sibuk akhirnya usai dan panggangan datar tersebut harus kembali dibersihkan hingga berkilau.

Berdasarkan cerita seorang mantan pegawai yang membagikan rahasianya di platform Reddit, proses pembersihan ini dimulai seketika saat logam panggangan masih berada dalam suhu panas yang tinggi. Langkah awal dimulai dengan menggunakan pengikis untuk menyingkirkan sisa-sisa gosong berukuran besar yang masih menempel erat di permukaan baja. Setelah itu, cipratan air segar disiramkan langsung ke atas permukaan panggangan yang sedang membara, menciptakan seketika kepulan uap air panas yang membantu meluruhkan kerak membandel sebelum sisa air keruh tersebut didorong lurus menuju lubang pembuangan.

Pekerjaan belum usai sampai di situ, karena untuk menuntaskan pembersihan ala Jersey Mike's ini, sang narasumber Reddit menjelaskan bahwa kita perlu meneteskan sedikit minyak ke seluruh permukaan pelat baja. Dua buah spons gosok besar kemudian ditumpuk menjadi satu demi tenaga ekstra untuk menyikat permukaan tersebut dengan kuat. Setelah memastikan semuanya bersih dan sisa kotoran terakhir telah dikikis tuntas, permukaan logam dikeringkan secara menyeluruh menggunakan kain lap, lalu ditutup dengan lapisan tipis minyak sebagai pelindung.

Menariknya, teknik pembersihan yang tampak sederhana ini ternyata sejalan dengan panduan perawatan resmi dari merek panggangan datar Blackstone, membuktikan bahwa kebiasaan dapur yang baik bersifat universal, baik saat melayani ratusan pesanan sub maupun saat membalik panekuk akhir pekan di rumah sendiri. Tentu saja, menyiramkan air dingin ke atas logam panas selalu memicu perdebatan tersendiri, di mana sebagian orang khawatir akan risiko sengatan termal yang bisa melengkungkan atau bahkan meretakkan pelat baja, meskipun pengelolaan panas yang tepat rupanya menjadi kunci utama untuk menghindari bencana struktural tersebut.

Bahkan, para ahli dari saluran YouTube Blackstone menyarankan untuk membiarkan sisa-sisa makanan kecil mulai mengeluarkan asap sebelum kita menyentuhnya dengan spatula, membiarkan uap panas bekerja keras melawan kotoran cokelat yang membandel itu. Membersihkan pelat panggangan setelah pesta kuliner yang meriah ternyata tidak harus selalu terasa melelahkan, dan sedikit teknik yang tepat akan sangat membantu menjaga performa permukaan masak kita tetap prima. Mengapa tidak mencoba trik pembersihan ini saat kita menghidupkan panggangan berikutnya, lalu mari kita siapkan alat-alat tempur kita dan nikmati hidangan lezat yang membuat seluruh usaha bersih-bersih ini begitu sepadan pada akhirnya?

sumber: tastingtable.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

Resep Mudah Bikin Jeli Cokelat Klasik di Rumah

Cemilan jeli lapis cokelat punya cara ajaib untuk membawa kita melompat kembali ke masa lalu. Dulu, kue manis ini gampang sekali ditemukan di setiap pojok toko kelontong dengan harga yang sangat ramah di kantong. Mengingat jajanan tempo dulu memang selalu mengasyikkan, bukan? Rasanya mirip seperti bernostalgia dengan rokok permen jadul atau kacang pistachio merah yang kini sudah mulai langka. Di antara semua kenangan manis itu, jeli cincin berbalut cokelat selalu punya ruang tersendiri di hati berkat teksturnya yang lembut dan kejutan rasa buah segar yang langsung menyebar begitu gigitan pertama meretakkan cangkang cokelatnya.

Bukan cuma soal rasa, kudapan mungil ini ternyata menyimpan sejarah menarik yang bermula dari tahun 1960-an di Amerika Serikat. Saat itu, sebuah merek makanan halal bernama Joyva mulai memproduksinya secara massal dan langsung merebut hati banyak orang. Kue ini bahkan menjelma jadi tradisi manis yang selalu dinanti saat perayaan Paskah karena sama sekali tidak mengandung ragi. Bukankah menyenangkan mengetahui bahwa makanan favorit masa kecil punya cerita yang begitu kaya? Walau sekarang kita masih bisa menemukannya di beberapa toko khusus atau lorong khusus di supermarket, sensasi kelezatannya ternyata bisa kita hadirkan sendiri di dapur rumah kita.

Proses pembuatannya ternyata tidak sesulit bayangan kita dan hanya membutuhkan beberapa bahan sederhana yang mudah didapat. Kita hanya perlu menyiapkan bungkus gelatin tawar, sekotak jeli instan berasa buah, gula pasir, serta cokelat hitam berkualitas baik. Rasa frambos adalah pilihan paling klasik untuk memulai petualangan dapur ini, dan kita bisa memperkuat aroma buahnya dengan sedikit ekstrak frambos ke dalam adonan jeli. Cukup campurkan jeli bubuk tersebut bersama setengah cangkir gula putih dan tambahan gelatin, lalu tuangkan cairan manis beraroma harum itu ke dalam cetakan silikon berbentuk cincin mini.

Setelah adonan beristirahat dan memadat dengan sempurna di dalam kulkas selama beberapa jam atau bahkan semalaman, tibalah bagian paling seru dari seluruh proses ini. Kita melelehkan cokelat hitam hingga mengilap, lalu mencelupkan satu per satu cincin jeli yang kenyal ke dalam kubangan cokelat yang lembut sebelum mendiamkannya hingga mengeras. Siapa yang bisa menolak aroma cokelat leleh yang berpadu dengan manisnya buah? Kalau ingin tampil sedikit lebih cantik, kita bahkan bisa menambahkan hiasan garis-garis cokelat di atasnya begitu lapisan pertamanya mulai kaku.

Kabar baiknya, resep dasar ini sangat ramah untuk dikreasikan sesuai dengan selera dan suasana hati kita hari ini. Kita bisa mengganti jeli frambos dengan varian rasa jeruk yang segar lengkap dengan tetesan ekstraknya, atau bahkan bereksperimen mencelupkan cincin jeli ke dalam perpaduan cokelat putih dan cokelat hitam. Bikin jajanan jadul sendiri ternyata sesederhana dan seseru itu, ya? Selamat mencoba di dapur kesayangan kita, dan semoga jeli lapis cokelat buatanmu berhasil memikat siapa saja yang mencicipinya!

sumber: tastingtable.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

Puding Nasi Labu Praktis Nan Hangat Menenangkan

Aroma rempah hangat yang berpadu dengan manisnya susu langsung tercium begitu kita meracik semangkuk pencuci mulut di tengah udara malam yang mulai mendingin. Hari-hari yang semakin pendek dan hembusan angin senja yang menusuk kulit memang paling pas dilawan dengan makanan yang bisa kita dekap erat di dalam mangkuk di antara kedua telapak tangan. Selama ini, puding nasi selalu diandalkan untuk menghadirkan ketenangan jiwa tanpa menuntut banyak tenaga di dapur, dan beberapa juru masak kreatif di internet baru saja membongkar cara cerdas untuk meracik versi labu musim gugur yang super kilat dan nyaris tanpa repot sama sekali.

Rahasia di balik trik kilat ini ternyata sangat praktis, bermodal sebungkus nasi instan siap saji dan sekaleng susu kental manis. Bagi yang belum familier, nasi siap saji itu adalah bungkus nasi praktis dalam kemasan yang tinggal dihangatkan di microwave dan mudah kita temukan di rak-rak toko. Karena nasinya sudah matang sempurna dari dalam kemasan, waktu persiapan kita jadi terpangkas jauh tanpa harus repot menanak dari mentah. Untuk menyatukannya menjadi hidangan lezat, kita hanya perlu sedikit susu biasa untuk merebus nasinya, sesendok penuh lumatan labu kuning yang memberikan rasa bumi yang dalam dan gurih, sejumput rempah pai labu untuk kehangatan aroma, serta susu kental manis yang memperkaya rasa sekaligus mengentalkan kuahnya.

Bukankah menyenangkan sekali saat kita bisa menyajikan hidangan penutup mewah tanpa perlu berdiri berjam-jam di depan kompor? Proses pembuatannya sangat sederhana, hanya membutuhkan rebusan singkat di atas kompor agar seluruh bahannya panas merata dan rasa gurih manisnya melebur menjadi satu. Berdasarkan takaran pas yang dibagikan oleh kreator TikTok Danica Krizia, resep ini hanya memerlukan satu bungkus nasi siap saji, satu cangkir susu, setengah cangkir lumatan labu, seperempat cangkir susu kental manis, dan setengah sendok teh rempah pai labu saja.

Tentu saja, kita selalu bebas membubuhkan sentuhan pribadi pada resep apa pun yang sedang kita coba di dapur rumah. Memodifikasi puding nasi labu ini semudah menaburkan kacang pecan panggang cincang untuk sensasi renyah di setiap gigitan, mencampur potongan buah apel segar, memasukkan segenggam kismis, atau menambahkan camilan favorit lain yang biasa kita nikmati dalam semangkuk puding nasi. Kalau bungkus nasi siap saji itu terasa sedikit mahal di kantong, sisa nasi matang sisa kemarin malam pun bisa dipakai dan memberikan hasil akhir yang sama lembut dan nyamannya. Atau, kalau kita ingin membuat seluruh bahannya awet disimpan lama sambil menambah lapisan tekstur yang lebih creamy, kita bisa dengan mudah mengganti susunya dengan susu evaporasi.

Kabar baiknya, trik cerdas ini tentu tidak harus berhenti sampai di labu saja. Kita bahkan bisa menggunakan dasar yang sama untuk meracik puding nasi santan dan teh rempah chai di lain hari, atau menciptakan sajian ala cokelat panas Meksiko yang kaya rasa. Meski variasi tersebut mungkin butuh sedikit penyesuaian kecil, memadukan nasi dalam kemasan dengan susu kental manis benar-benar membuka pintu seluas-luasnya menuju berbagai kemungkinan lezat yang siap kita hias dengan bahan-bahan favorit. Kabari kita ya kalau kamu jadi berniat menyiapkan semangkuk kehangatan ini minggu ini, dan ceritakan juga apa saja topping menggiurkan yang ingin kamu aduk ke dalamnya!

sumber: tastingtable.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

Kisah Nyata Perawatan Talenan Kayu di Dapur Kita

Irisan bawang putih berhamburan di atas permukaan kayu maple yang bersandar tenang di dinding dapur kita, membawa sentuhan hangat alami setiap kali kita menyiapkan bahan masakan harian. Kayu asli memang punya daya tarik tersendiri, menawarkan bidang kokoh yang terasa ramah di mata pisau dan siap menemani berbagai kesibukan memasak. Namun, di balik pesona pedesaan dari kayu akasia, jati, atau beech ini, memilih bahan alam berarti kita sedang melangkah masuk ke dalam sebuah komitmen jangka panjang yang butuh perhatian lebih dari sekadar bilasan air.

Tidak seperti talenan plastik praktis yang biasa kita lempar begitu saja ke dalam bak cuci piring, kayu ternyata meminta sedikit kelembutan dan perawatan yang rutin. Tantangan utamanya terletak pada cara material ini bereaksi terhadap kelembapan, karena siklus basah dan kering yang terus-menerus bisa membuat serat kayu lama-kelamaan retak atau pecah. Untuk mencegahnya, kita perlu membiasakan diri mengoleskan minyak mineral khusus makanan secara berkala guna merawat kelembapan seratnya. Produsen biasanya menyarankan ritual ini dilakukan setidaknya sebulan sekali, tergantung cuaca dan seberapa sering kita memasak, dengan memastikan seluruh permukaannya bersih dan kering sempurna sebelum minyak diratakan ke setiap jengkalnya.

Pernahkah kita berpikir betapa pentingnya memilih jenis minyak yang tepat untuk ritual perawatan ini? Mengambil sebotol minyak sayur atau minyak zaitun biasa dari rak dapur mungkin terlihat paling praktis saat ini, tetapi minyak dapur tersebut lambat laun akan tengik di dalam pori-pori kayu dan meninggalkan aroma kurang sedap yang mengganggu. Bukankah lebih baik kita berinvestasi pada minyak khusus <i>food-grade</i> atau kondisioner talenan, mengubah apa yang tadinya hanya urusan sepele menjadi sebuah bentuk apresiasi terhadap alat masak kita?

Urusan membersihkannya setelah memasak juga menuntut kehati-hatian yang sama tingginya, karena kita sama sekali tidak boleh merendam talenan kayu di dalam bak penuh air sabun sambil bersantai menikmati makan malam. Terlalu banyak air yang meresap pasti akan membuat kayu melengkung dan membelah materialnya secara perlahan. Sebagai gantinya, kita harus mencucinya dengan tangan menggunakan air hangat bersabun, membilasnya dengan cepat, lalu langsung mengeringkannya dengan handuk bersih. Memasukkan talenan kayu ke dalam mesin pencuci piring adalah pantangan mutlak, sebab panas tinggi dan genangan air di dalamnya bakal merusak kayu tanpa bisa diperbaiki lagi.

Bahkan proses pengeringannya pun butuh sedikit strategi agar talenan tidak berubah bentuk menjadi melengkung. Selepas dilap dengan handuk, cara terbaik adalah menegakkan talenan tersebut agar udara bisa bersirkulasi dengan bebas di kedua sisinya, membantu sisa kelembapan menguap merata alih-alih terjebak di bagian bawahnya. Walaupun langkah-langkah ini tidak sampai membuat punggung kita pegal, jelas semuanya menuntut usaha yang jauh lebih besar ketimbang sekadar memasukkan talenan plastik ke mesin pencuci piring lalu meninggalkannya begitu saja. Jadi, sebelum kita terpikat memboyong balok kayu tebal yang cantik ke atas meja dapur, sudah siapkah kita meluangkan waktu dan perhatian ekstra untuk merawatnya seiring waktu berjalan?

sumber: tastingtable.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

Kenapa Cangkir Kopi Pagi Kita Terasa Makin Berat

Aroma roti panggang dan seduhan kopi hangat selalu menjadi cara terbaik untuk menyambut pagi, menemani kita melangkah melewati kesibukan harian tanpa banyak berpikir panjang. Kita biasanya hanya menuang, menyeruput, lalu melanjutkan hari, seolah cangkir di tangan kita tidak pernah berubah sejak dulu. Tapi tahukah kita, di balik ritual pagi yang sangat akrab ini, ada sebuah pergeseran diam-diam yang terjadi di dalam cangkir kopi di seluruh penjuru Amerika, dan para peneliti akhirnya berhasil menghitung angka-angka di balik perubahan tersebut?

Cerita ini bermula ketika tim peneliti dari Universitas Tufts meneliti kebiasaan pola makan lewat survei kesehatan nasional yang merentang dari tahun 2003 hingga 2018. Mereka menemukan fakta yang cukup menarik bahwa jumlah rata-rata kopi yang diminum orang sebenarnya tetap stabil di angka sekitar tiga belas ons sehari. Namun, kalori yang bersembunyi di dalam cairan hitam itu justru melompat naik hingga hampir empat puluh persen, merayap dari rata-rata empat puluh tiga kalori menjadi sekitar enam puluh kalori per hari. Kita mungkin langsung menduga bahwa gula atau sirop manis yang menjadi biang keladi bertambahnya energi ekstra ini, tetapi data justru mengungkap cerita lain yang cukup mengejutkan.

Ternyata, gula dan sirop bukan lagi penyumbang kalori terbesar di dalam cangkir kopi kita sekarang. Mahkota penambah kalori terbanyak kini justru dipegang oleh krimer non-susu yang rasanya gurih dan memanjakan lidah. Dari data yang melibatkan tiga puluh ribu orang dewasa Amerika, terungkap bahwa susu sapi memang masih menjadi bahan tambahan yang paling banyak dipakai berdasarkan beratnya, tetapi krimer non-susu mengalami lonjakan popularitas yang luar biasa seiring orang-orang beralih ke pilihan nabati. Selama kurun waktu limabelas tahun tersebut, konsumsi krimer non-susu melonjak lebih dari dua kali lipat, membuat sumbangan kalorinya melesat dari yang tadinya hanya 7,71 kalori menjadi 18,5 kalori, dan sukses mengalahkan gula yang berada di angka 16 kalori serta susu sapi di angka 11 kalori.

Lonjakan kalori ini tentu bukan tanpa alasan, sebab krimer non-susu pada dasarnya memang kaya akan lemak jenuh yang membuatnya begitu padat kalori. Peneliti utama, Yongyi Pan, mencatat bahwa meskipun krimer jenis ini sudah ada sejak tahun 1950-an, lonjakan penggunaannya baru-baru ini mencerminkan perubahan budaya yang lebih luas menuju gaya hidup bebas susu. Menariknya lagi, studi tersebut juga melihat kebiasaan kecil kita sehari-hari, di mana orang dewasa yang bekerja lebih lama atau kurang tidur ternyata cenderung menuang cangkir kopi lebih banyak, meskipun kualitas makanan mereka secara keseluruhan tidak memengaruhi seberapa banyak kopi yang mereka nikmati.

Bukankah selalu mengasyikkan melihat bagaimana kebiasaan kecil kita berubah tanpa kita sadari sepenuhnya? Tidakkah kita terkadang lupa seberapa cepat tambahan sesendok demi sesendok itu menumpuk di dalam cangkir pagi kita? Tentu saja tidak ada keharusan untuk meninggalkan rutinitas yang memberi kenyamanan ini, tetapi memahami apa yang sebenarnya kita tuang ke dalam cangkir tentu membuat waktu minum kopi terasa lebih menyenangkan. Coba ceritakan, apakah kita lebih suka menikmati kopi hitam pekat tanpa tambahan apa pun, atau justru diam-diam menyukai krimer gurih untuk mengawali pagi dengan sempurna?

sumber: sciencedaily.com/261021231224.htm

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: ScienceDaily Nutrition

Rahasia Bumbu Steak Lezat Ala Chef Ruth's Chris

Desisan lembut daging yang bertemu wajan panas selalu berhasil menghentikan obrolan di meja makan, memancing kita untuk segera mengambil garpu dan pisau. Tapi jujur deh, menghadirkan kelezatan ala restoran mewah di dapur sendiri terkadang terasa seperti teka-teki yang sulit dipecahkan. Kita sering berdiri terpaku di depan potongan daging sapi, botol bumbu di tangan, diliputi keraguan apakah kita sudah menaburkannya di waktu yang tepat. Untungnya, rahasia dapur ini akhirnya dibongkar oleh Chef A.J. Graf, kepala juru masak di Ruth's Chris Steak House yang ada di Rogers, Arkansas, lewat perbincangannya baru-baru ini dengan Tasting Table.

Menurut Chef Graf, kunci utama dari sepotong steak yang benar-benar berair dan lezat terletak pada ketepatan waktu. Ia menyarankan kita untuk membumbui daging tepat sebelum daging itu bersentuhan dengan panas. Di restoran mereka, potongan daging langsung dimasukkan ke dalam broiler super panas bersuhu 1.800 derajat begitu bumbu menempel di permukaannya. Kalau kita memasak steak seketika seperti ini, kita bisa menghindari kesalahan fatal yang sering terjadi saat daging dibiarkan bersentuhan dengan garam selama beberapa menit saja. Membiarkan daging yang sudah diberi garam berdiam diri antara lima hingga empat puluh menit justru akan menarik kelembapan keluar ke permukaan, mengubah potongan daging kita yang cantik menjadi basah dan akhirnya malah mengukus alih-alih memanggang, sehingga kita kehilangan kerak kecokelatan keemasan yang sangat kita dambakan itu.

Tentu saja, dunia dapur punya jalan lain menuju kesempurnaan. Chef Graf juga mencatat bahwa jika kita punya waktu luang yang berlimpah, memberi garam jauh-jauh hari sebelum memasak juga memberikan hasil yang luar biasa indah. Jika kita membumbui daging setidaknya empat puluh menit sebelum dimasak, atau bahkan membiarkannya beristirahat semalaman di dalam kulkas, sesuatu yang cukup ajaib terjadi pada serat daging. Diberi waktu beberapa jam, daging akan menyerap kembali seluruh kelembapan yang tadinya ditarik keluar oleh garam, sekaligus menarik bumbu meresap jauh hingga ke bagian tengah daging sehingga rasanya merata sempurna.

Namun, jika kita memutuskan untuk langsung memasak tanpa menunggu lama, urutan menaburkan rempah-rempah ternyata sama pentingnya dengan jam di dinding. Chef Graf membagikan tip praktis yang bisa langsung kita tiru di rumah, yaitu selalu menaburkan garam terlebih dahulu sebelum menambahkan lada atau bumbu lainnya. Bayangkan kalau kita menaburkan lada terlebih dahulu—butiran garam yang lebih kasar justru akan meluncur jatuh dan gagal menempel pada daging. Memakai garam kosher kasar juga memberikan perbedaan yang besar, karena butiran tebalnya sangat mudah kita jumput dengan jemari dan disebar secara merata, sementara garam meja biasa larut terlalu cepat dan berisiko membuat daging sapi kita menjadi terlalu asin.

Dibekali dengan panduan sederhana dari para ahli ini, kita bisa melangkah ke dapur untuk makan malam akhir pekan berikutnya dengan rasa percaya diri yang jauh lebih tinggi. Bukankah hal-hal kecil dalam rutinitas memasak seperti ini sangat menarik untuk direnungkan sebelum kita menyalakan kompor? Coba praktikkan trik waktu dan susunan bumbu ini di dapur rumah kita, lalu lihat bagaimana keajaiban rasa tercipta di atas piring saji kita masing-masing.

sumber: tastingtable.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

Kue Koboi: Keajaiban Manis Tanpa Telur dan Mentega

Aroma kayu manis dan pala yang direbus perlahan di atas kompor terbukti mampu mengubah suasana dapur menjadi hangat seketika, bahkan saat rak persediaan makanan di rumah sedang kosong melompong. Sejarah kue membuktikan bahwa manusia selalu punya cara cerdas untuk memuaskan lidah yang mendambakan rasa manis, terlepas dari seberapa sulit kondisi yang mereka hadapi di masa lalu.

Bayangkan kehidupan di kawasan American West tempo dulu, saat para koboi dan perintis harus menjalani perjalanan berbulan-bulan di bawah terik matahari yang kejam. Mereka tentu tidak mungkin membawa kandang ayam demi mendapatkan sebutir telur segar setiap pagi, apalagi menyimpan mentega atau susu segar yang akan langsung basi di tengah padang rumput yang panas. Namun, tekad untuk menikmati sepotong kue yang lezat selalu berhasil menemukan jalan keluar dari segala keterbatasan bekal yang ada.

Kuncinya ternyata ada pada si buah kismis yang tampak sederhana dan berkerut. Para pembuat roti zaman dahulu menemukan trik luar biasa dengan merebus kismis kering hingga mekar, lalu menyaring airnya untuk dijadikan sirup manis yang pekat. Bukankah terdengar unik bagaimana air rebusan buah bisa diandalkan untuk menggantikan lemak dan mentega dalam panggangan? Hasilnya adalah kue rempah yang padat dan kaya rasa, tanpa memerlukan satu pun butir telur, tetes susu, atau lemak tambahan.

Keajaiban dari resep masa lalu ini, yang kemudian lebih dikenal sebagai Poor Man's Cake saat Depresi Besar dan War Cake di era penjatahan ketat, bertumpu sepenuhnya pada keajaiban kimiawi dari sirup kismis tersebut. Air rebusan buah yang harum berkat rempah hangat seperti kayu manis dan pala tadi, ketika dicampur dengan soda kue, mampu menciptakan struktur adonan yang mengembang dan terjaga kelembapannya secara alami tanpa bantuan bahan pengembang modern.

Tentu saja, kita perlu sedikit menyesuaikan bayangan sebelum mulai memanaskan oven di dapur rumah. Kue ala koboi ini jelas tidak akan bertekstur seringan kue ulang tahun spons yang lembut, dan jika tidak teliti, hasilnya bisa terasa agak padat. Meski demikian, bagi kita yang sedang mencari kudapan nabati, penasaran dengan jejak rasa dari masa-masa sulit, atau sekadar kehabisan bahan di pagi hari, kue bersejarah rendah lemak ini sangat seru untuk dicoba akhir pekan ini.

sumber: tastingtable.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table