Jajanan-jajanan Solo Yang Bikin Lupa Diri

Dari segi daerah pariwisata, boleh jadi Solo kurang dikenal. Tetapi, toh, orang yang datang mengunjungi kota Bengawan Solo ini tidak sedikit jumlahnya. Sebagian datang untuk mencari batik. Sebagian lain untuk menikmati jajanannya yang aduhai lezatnya. Enaknya pula jenisnya luar biasa jumlahnya. Hingga membuat kita lupa diri. Jangan kaget bila baru tinggal 3 hari saja di Solo, bobot tubuh Anda sudah naik 3 kilogram pula.

 

DAWET
Menikmati Dawet di cuaca panas memang enak sekali. Nah, kalau kebetulan sedang mampir ke Pasar Gede Solo (sekarang pindah di samping Gladak, karena pasar lama sedang direnovasi dari musibah kebakaran, Red.), jangan lupa cicipi Dawet asal Solo. Dawet atau cendol dari Solo ini terbuat dari pati aren, atau disebut pula sebagai onggok. Air dawetnya pun berwarna putih bukan kecokelatan karena guyuran sirup gula kelapa.

Isi dawetnya selain cendol, biasanya diberi selasih dan pacar cina. Sebagai pemanisnya, sirup gula kelapa. Untuk mendapatkan kesegaran Dawet tadi, kita hanya perlu merogoh kantong sebanyak Rp. 1000 rupiah saja.

GEMPOL PLERET
Minuman segar ini sekarang sudah mulai susah dijumpai. Hanya di tempat-tempat tertentu gempol pleret yang manis-manis gurih ini baru bisa ditemui. Salah satunya, di depan Toko Abon Varia, di kawasan Coyudan. Gempol pleret terdiri dari bulatan-bulatan tepung beras seukuran ibu jari orang dewasa. Bulatan ini lantas diguyur dengan kuah santan, dan dikucuri gula kelapa cair. Rasanya? Wah, sedap sekali, apalagi dinikmati di pinggir jalan sambil berdiri.

SERABI NOTOSUMAN
Pergi jalan-jalan ke Solo, jangan lupa mencicipi serabi. Bedanya dengan serabi yang sudah kita kenal, serabi khas Solo tidak dimakan bersama saus santan manis. Tetapi rasanya memang sudah manis. Salah satu penjual serabi ternama di kota Solo adalah Serabi Notosuman. Letaknya di Jl. Mr. Moh. Yamin.

Awalnya di tahun 1920-an, pasangan Hoo Gieng Hok 1920-an memulai usaha serabi di Notosuman. Usaha ini ternyata berkembang, sampai-sampai bisa diwariskan kepada anak cucu. Makin terkenal lagi pada masa Ibu Margo Utomo. Karena serabinya yang kondang itu, beliau pernah di-booking oleh Bung Karno. Ibu Margo Utomo tidak boleh menjual serabinya selama sehari ke masyarakat. Dari membuat biangnya pertama jam 9 pagi sampai membuat serabi terakhir dijaga terus oleh tentara.

Saat ini usaha keluarga diteruskan oleh putra-putri Ibu Margo Utomo. Di Solo sendiri terdapat dua toko Serabi Notosuman. Keduanya dikelola oleh dua orang putri Ibu Margo, yaitu Ny. Handayani dan adiknya, Ny. Lidya. "Kedua toko ini saling mendukung, kok, tidak saling bersaingan," ujar Lidya kepada Sedap Sekejap. "Soalnya kalau salah satu dari toko kita bahannya habis, kita bisa back up. Hingga nyaris tak ada sisa adonan," lanjutnya lagi.

Serabi favorit kota Solo ini dalam sehari di satu toko bisa menghabiskan 20 kg beras. "Belum lagi kalau ada tambahan pesanan. Bisa lebih dari itu. Di hari libur, Sabtu, atau Minggu pesanan juga banyak," ujar Lidya sambil tersenyum. Tak heran kalau ingin mendapat serabi, kita memang harus pagi-pagi sekali datang memesan. Terlambat sedikit, bisa-bisa gagal membawa serabi. "Sebenarnya kita mulai siapkan bahan dari pukul 2 dini hari. Ke toko sekitar jam 2.30. Tapi herannya ada saja yang datang jam segitu, lo," kata Lidya.

Kalau sedang banyak pesanan, bisa saja kita yang datang pukul 5.00 baru bisa dilayani pukul 7.00. Di hari biasa memang kita bisa datang sedikit lebih siang, tetapi tetap tidak bisa lebih dari pukul 10.00.

Biarpun ada 2 toko, tapi pengaduk adonannya cuma satu, lo! "Kita masih satu resep. Bahan-bahannya sama. Cuma tempat jualannya saja beda. Begitu juga yang di Yogya. Biarpun pengaduknya beda, tapi bahan dan resep masih sama. Jadi dari segi rasa tak ada perbedaan."

OLEH-OLEH KHAS SOLO
Tidak perlu bingung memilih buah tangan bila datang dari Solo. Di kota ini tersedia segudang pilihan. Dari toko kue modern macam Toko Orion tersedia kue dan roti. Salah satunya yang terkenal adalah sus kering dan lapis Surabaya. Tempatnya di Jl. Urip Sumoharjo.

Sementara di Pasar Klewer, pusat batik Solo, kita bisa menjumpai berbagai penganan khas Solo. Dari ampyang kacang, sampai intip goreng. Yang paling unik adalah intip goreng, karena bahan bakunya dari kerak nasi yang dijemur, lalu digoreng baru dikucuri gula kelapa cair.

Tempat yang lain adalah Pasar Jongke. Kalau ke tempat ini terlalu jauh, pilihan lainnya adalah Jl. Coyudan. Di sana ada sebuah toko oleh-oleh yang terkenal, Toko Varia. Di samping menjual berbagai oleh-oleh, kue basah tradisionalnya seperti sosis Solo dan Semar Mendhem dikenal enak. Selain itu Toko Varia kondang dengan abonnya. Jenisnya pun bermacam-macam ada ayam dan sapi, dengan rasa manis atau pedas.

Bagi yang suka berkunjung ke pasar tradisional, jangan lupa mampir ke Pasar Gede. Sayang sekali Pasar Gede lama habis terbakar. Walaupun pindah sementara, tapi masih ada oleh-oleh khas yang dijual di sana. Salah satunya jeruk Tawangmangu. Di Pasar Gede ada pula penjual karak (kerupuk nasi) mentah. Pas sekali untuk oleh-oleh. Kalau ingin memberi oleh-oleh yang bisa langsung dinikmati, kita bisa pilih usus goreng atau kulit ayam goreng. Jangan salah, lo, gorengan usus dan kulit ini sangat kering dan renyah. Jadi pasti awet dan cocok untuk oleh-oleh.

TIMLO
Makanan satu ini jangan tidak diicipi. Rasanya belumlah sampai Solo kalau belum mencoba yang namanya Timlo ini. Sajian yang berupa potongan hati dan ampla ayam ditambah irisan sosis Solo dan telur pindang manis disiram kuah kaldu bening yang segar ini memang banyak ditemukan. Tapi yang paling banyak penggemarnya adalah Timlo Solo di Jl. Urip Sumoharjo dan satu warung Timlo Sastro di belakang Pasar Gede lama,tepatnya di daerah Ketandan. Biasanya Timlo dinikmati bersama nasi putih yang ditaburi bawang goreng.

Untuk warung Timlo Jl. Ketandan, kita hanya bisa mendapatkannya selama pagi hingga siang hari saja. Sedangkan untuk Timlo Solo Jl. Urip Sumoharjo bisa dinikmati kapan saja. Uniknya, penjual Timlo Sastro, dalam menghitung makanan yang kita santap tidak mempergunakan kertas nota seperti yang kita kenal. Kita hanya menyebutkan makanan dan minuman yang kita santap, lalu sang penjual menghitung dengan sabak (serupa papan tulis kecil, Red.).

sdp@Rika Eridani, foto-foto: Rika
MENYUSURI JAJANAN SERBA MENGGODA DI BANGKOK

 

Baru-baru ini reporter Sedap Sekejap berangkat ke Bangkok, Thailand, antara lain untuk menengok sekaligus belajar kue-kue yang sedang tren di dunia. Kesempatan ini tentu juga digunakannya untuk melongok jajanan yang tersebar di pelosok Bangkok. Nah, inilah oleh-olehnya

 

TOD MAN PLA
Kalau kita sempat mengunjungi restoran tradisional Thailand, jangan lupa untuk memesan tod man pla. Ini adalah semacam otak-otak ikan. Hanya, adonan ikan yang dihaluskan ini bukan dibungkus daun pisang dan dibakar, melainkan langsung digoreng.

Tod man pla biasanya dijadikan sebagai lauk bersama-sama nasi dan sayuran sejenis capcay. Bakwan ikan ini juga enak dimakan begitu saja dengan saus manis yang dikentalkan.

PHAD
Jangan lupa cicipi juga phad. Kita mengenal makanan ini sebagai kuetiau siram. Isi lainnya terdiri dari sayuran berupa sawi dan taoge, potongan daging ayam atau sapi. Semua ini ditumis, dibubuhi kaldu, dan dikentalkan dengan telur ayam.

Dari segi rasa, phad jelas beda dengan kuetiau siram ala Indonedia. Penjual kuetiau di Thailand tidak takut-takut mencemplungkan gula pasir sebagai penyedap. Paling tidak si penjual memasukkan 3 sendok makan gula pasir untuk tiap porsi. Sebagai pelengkap, kuetiau goreng tadi dimakan bersama-sama dengan potongan daun ketumbar dan sambal asam manis pedas.

KARI
Jangan heran kalau di Thailand mengenal juga masakan kari. Bumbunya pun serupa dengan kari yang biasa kita makan. Masakan berbumbu dan mempergunakan santan ini termasuk salah satu favorit hidangan Thai.

Bahan untuk isi kari Thai bukan hanya daging ayam saja. Variasinya cukup banyak, selain berbagai hidangan laut, juga ada kari sapi. Kuetiau atau bihun yang direbus biasanya dijadikan teman makan kari. Tidak lupa juga menambahkan lalapan berupa daun selada atau daun kemangi sebagai teman santapan.

SUKI
Kalau hidangan di atas bagi Anda kurang menggugah selera, lantas ke mana mata harus berpaling? Cobalah shabu-shabu ala Thailand. Namanya Suki. Salah satu tempat makan jenis suki yang paling terkenal di Bangkok adalah MK. Letaknya di berbagai mall terkenal di Bangkok, seperti Mah Boon Klong atau Central Shopping Plaza Complex. Selain MK, ada satu lagi restoran Suki yang disukai, yaitu Coca Suki.

Sebenarnya Suki memang tidak jauh dengan sejenis shabu-shabu yang sering kita jumpai di Indonesia. Suki dikenal juga sebagai steam boat. Ada panci besar dengan kuah kaldu di dalamnya dan dipanaskan di atas kompor di meja kita duduk. Isi dari suki sendiri meliputi berbagai potongan daging dan hidangan laut. Daging yang disukai berupa daging ayam, daging sapi, atau daging babi. Kita tinggal memilih daging yang menjadi pilihan kita saja. Kalau kita menyukai hidangan laut, kita bisa pula memesan berbagai jenis hidangan laut seperti ikan, cumi-cumi, kerang, dan lain-lain.

Tiap restoran suki juga menyediakan nasi meski kebanyakan orang lebih suka menyantapnya bersama bihun yang diberi warna hijau. Untuk orang Thai, menyantap Suki ada caranya tersendiri. Berbagai potongan ikan, daging, dan sayur-sayuran dimasak sendiri-sendiri sehingga tidak ada bahan-bahan yang dimasak terlalu matang. Sebagai pelengkapnya bahan-bahan yang sudah direbus, tadi dimakan bersama bumbu celup rasa manis pedas dengan potongan-potongan kecil bawang putih sdp@Rika Eridani, Foto-foto: Rika


Kalau mau jajan enak di Yogyakarta & Kota Gede



Mau makan enak di Yogya dan sekitarnya? Gampang sekali. Kota ini punya segudang hidangan lezat yang mulai digelar dari pagi sampai malam hari. Yang tempatnya nyaman di dalam restoran ber-AC sampai yang lesehan di atas tikar. Anda tinggal memilih sesuai selera dan suasana hati Anda saat itu.

 

GEPLAK
Geplak boleh jadi merupakan oleh-oleh yang paling sering dibawa pengunjung. Dibuat dari parutan kelapa, gula, perasa, dan warna. Daerah pembuat geplak adalah Bantul. Konon Ny. Pawirodinomo yang pertama kali memperkenalkan geplak sejak tahun 1912. Sampai saat ini ia masih tinggal di kota Bantul, sekitar 15 kilometer dari Yogyakarta. Tokonya di Jl. Jend Sudirman No. 192 dikelola oleh putrinya, Ny. Suharti.

Geplak yang lain bisa Anda temukan di Jl. Wahid Hasyim, Bantul. Namanya Geplak Yu Tumpuk. Pemiliknya adalah Bpk. Ciptodiharjo yang meneruskan usaha Yu Tumpuk, sang istri yang kini sudah almarhum.

Geplak Yu Tumpuk sangat terkenal karena ia menyediakan rasa gula jawa. Beda dengan penjual geplak lainnya, Geplak Yu Tumpuk tetap mempergunakan besek (kotak dari anyaman bambu, Red.) untuk kemasannya. Tiap kilonya dijual seharga Rp. 7500. Selain gula jawa, di situ juga tersedia geplak rasa vanili, frambos, dan jeruk.

Dalam perluasan usahanya, Yu Tumpuk juga membuat rempeyek kacang tanah. Peyek ini sangat terkenal karena gurih, renyah, dan mumbul ke atas. "Padahal bentuknya tidak bagus. Saya heran juga kenapa orang-orang sangat menyukai," ujar Cipto di belakang tokonya.

Kedai yang sebentar lagi akan diteruskan oleh sang menantu, Kelik, belakangan ini sudah mulai memperluas usaha dengan menjual bakpia dan beberapa jenis kue basah.


BAKPIA
Siapa tak kenal bakpia Patuk? Bakpia khas Yogya ini bisa ditemui di mana-mana. Mereknya beragam. Mulai dari Bakpia Patuk 75, sampai 25, 55, dan 35. Tak kita sangka, awalnya bakpia cuma ditawari dari rumah ke rumah oleh sang pemilik, Ny. Lie Bok Sing. Saat itu tidak hanya bakpia yang dijual, tetapi karena banyak peminatnya, akhirnya ia mengkhususkan diri pada bakpia.

Karena tanpa bahan pengawet, bakpia Patuk 75 tidak dapat bertahan terlalu lama. Paling-paling hanya sekitar 3 hari saja.  "Sebaiknya kalau mau dibawa ke luar kota, diangin-anginkan dulu, jangan panas-panas langsung ditutup dan dibawa pergi," jelas Ny.Wenny, pengawas cabang Bakpia Patuk di jl. H.O.S. Cokroaminoto.

Saat ramai, produksi bakpia bisa mencapai 4 sampai 5 karung tepung terigu. Pembuatannya pun bisa lembur sampai pukul jam 7 malam. Di hari-hari biasa mereka hanya membutuhkan 2 karung tepung saja. Bakpia Patuk 75 hanya menyediakan bakpia isi kumbu/ kacang hijau yang diambil dari Blora.


PASAR BRINGHARJO
Bukan cuma batik yang ada di Pasar Bringharjo. Pasar yang letaknya di Jl. Malioboro ini juga menjual berbagai macam jajanan, makanan kecil, sampai buah tangan untuk yang di rumah. Di sini Anda bisa mencicipi pecel atau urap lezat. Pelengkapnya pun cukup komplet yakni tahu dan tempe bacem atau tempe gembus (tempe yang dibuat dari ampas tahu). Para penjaja pecel ini bisa ditemui di pelataran depan Pasar Bringharjo.

Selain membeli daster atau kain batik sebagai oleh-oleh, kita bisa membelikan teman atau kerabat gula jawa. Jangan salah lo, gula kelapa yang dijual per kilo sekitar Rp. 3000-an ini warnanya kuning keemasan. Ada pula gula aren yang terbuat dari nira pohon aren. Pembuat gula jawa terbaik dan paling terkenal di Yogya adalah dari Wates.

Ada juga penganan yang harus kita coba kalau mampir ke Bringharjo. Ada mendut, yaitu bulatan ketan diwarnai merah dan hijau disiram dengan kuah santan. Kalau mau yang lebih khas, pilih mega mendung, yaitu makanan kecil yang terbuat dari hunkue yang diwarnai biru dan putih. Jadi serupa dengan lapisan langit yang biru. Rasanya, jelas nikmat, deh!

 

JAJANAN DI KOTA GEDE 

Dahulu Kota Gede yang terletak di sebelah selatan Yogyakarta pernah menjadi ibu kota Daerah Istimewa Yogyakarta. Di daerah ini pun kita tak akan kekurangan makanan lezat. Beberapa di antaranya bisa jadi petunjuk untuk Anda.


KIPO
Makanan ini adalah khas Kotagede. Bentuk dan rasanya mirip kue bugis. Bahan dasarnya memang sama-sama tepung ketan dan unti kelapa. Tetapi kipo menjadi khas karena proses pembuatannya yang berbeda. Kue tidak dikukus seperti bugis, tetapi dibakar di atas wajan tanah liat. Hingga keharumannya jadi khas.

Salah satu penjual kipo adalah Ny. Endah yang meneruskan usaha mertuanya, Ibu Djito almarhum di Jl. Mondorakan No. 27.


YANGKO
Yangko adalah salah satu jenis oleh-oleh yang disukai. Selain rasanya enak, juga tahan lama. Kalau menginginkan yangko yang enak, mampirlah di toko Ngudi Roso Jl. Masjid Besar 1. Di toko inilah, kita bisa memperoleh yangko asli dengan merek Yangko Ibu Darto.

Saat ini yangko tampil dalam berbagai rasa. Ada rasa durian, stroberi, dan frambos. "Itu permintaan pasar, kok," jelas Pak Ketut, putra Ibu Darto, yang kini juga turut memproduksi yangko.

Industri yangko di Kota Gede masih merupakan industri rumah tangga."Saya hanya punya 2 tenaga untuk bisa memproduksi sekitar 300 dos dalam sehari. Bahkan untuk memotong dan mengemas, kita masih pakai tangan, lo," tambah Ketut bangga.


SATE KARANG
Sate karang bisa ditemui di wilayah Kota Gede di malam hari. Disebut Sate Karang karena lokasi penjualannya di Lapangan Karang, Kota Gede. Sate ini dibuat dari daging sapi yang dibumbui saus kacang lalu disajikan bersama lontong dan kuah lodeh. Unik dan lezat.

Di kedai ini tidak disediakan tempat duduk seperti pada umumnya. Para pembali duduk lesehan di atas tikar yang digelar di lapangan. Tentu saja, pantat kita agak terasa basah saat menduduki tikar, tapi begitu mulai menikmati satai dan wedang ronde, badan jadi terasa hangat.

Nah, kalau malam Minggu atau bulan purnama, sebaiknya kita datang sebelum pukul 7 malam. Kalau tidak, kita harus rela antre! "Minimal kita harus menyediakan 30 kilogram daging sapi, kalau pas ramai. Untuk ketupatnya dibutuhkan sekitar 20 kilogram beras," jelas Bpk.Prapto Hartono, penerus dan pemilik Sate Karang.

Jangan salah kira, lo. Sate Karang ini sudah terkenal sejak tahun 1948. Cuma saja saat itu masih dijual berkeliling oleh Pak Karyo Semito, ayah Prapto. Baru mulai tahun 1955, Karyo memutuskan menetap di Lapangan Karang.


JAJAN PASAR
Masih ada jajanan khas lain dari Kota Gede yakni Legomoro. Penganan yang terbuat dari beras ketan dan diisi daging yang dicacah ini sebenarnya serupa dengan lemper yang dibungkus daun pisang dan dikukus. Bedanya dengan lemper, setelah dibungkus daun, masih diikat tali bambu. Soal rasa, tidak jauh dengan lemper.

Ada juga lo, wajik dan sagon ala Kota Gede. Rasanya serupa dengan wajik dan sagon yang sudah kita kenal selama ini dengan penyajian berbeda. Kalau selama ini kita mengenal wajik yang diiris berbentuk kotak-kotak, di Kota Gede, kedua makanan ini dicetak bundar berdiameter 10 cm, dan dialasi daun pisang.

sdp @Rika Eridani, foto-foto: Rika

Para Chef Dunia Unjuk Kebolehan

PENAMPILAN OKE, TAPI TAK BISA DIMAKAN

 
Sejak tahun 1978, Food&HotelAsia juga menggelar SalonCulinaire di dalamnya. Kegiatan ini merupakan wadah berkompetisi paling bergengsi di kalangan chef profesional seluruh dunia. Yang diperlombakan adalah Hot Cooking Classes, untuk Main Course, Asian Cuisine dan New Asia Cuisine. Ada salah satu kelas perlombaan, yaitu The Apprentice Competition yang sangat ditunggu-tunggu oleh para chef muda. Acara ini merupakan tolok ukur kemampuan para chef muda. Dengan bisa mengikuti kompetisi ini, mereka mempunyai pengalaman yang bisa dibanggakan.

Jangan harap bisa menemukan hidangan sederhana di sini. Steak pun tampil beda. Salah satu peserta misalnya, memotong daging steaknya dalam bentuk bulat lalu disusun tinggi ke atas. Di sekitar daging disiramkan saus lalu dihiasi dengan sayuran. Di sebelahnya tampak salad yang ditata indah dengan rangkaian daun selada. Dressingnya sendiri di siram di seklilingnya dengan alur-alur yang membentuk pola yang indah.

Selain masakan, juga dilombakan membuat cake, pastry, dan kue pengantin. Penataan dan hasil kue mereka sungguh membuat kita kagum. Dengan adonan pastry yang diberi warna, para chef pastry membuat rangkaian dan ukiran yang berbentuk sebuah taman istana kerajaan Cina dengan putri-putri cantik yang berpakaian warna-warni. Percaya tidak, semua itu dibuat dari kulit pastry!

Bukan itu saja, ada juga yang membentuk adonan pastrynya menjadi bentuk burung dan mengukirnya hingga terlihat seperti bulu-bulu si burung tersebut. Ada pula yang membuat taman bermain plus permainan ferris whell. Yang membuat kita makin kagum karena dalam ferris whell tersebut diletakkan miniatur manusia yang dibuat dari adonan pastry dan betul-betul mirip boneka manusia.

Di sini juga bisa Anda lihat kreasi peserta lomba Ice Carvings, Fruit & Vegetables Carvings. Naga menjadi inspirasi salah seroang peserta. Meski dari es, kita bisa melihat tubuh naga yang meliuk indah dengan sisiknya yang tajam dan mirip. Kalau ukiran es tampak sangat variatif dan inovatif, tidak demikian di ukiran buah. Para peserta masih menampilkan ukiran standar dari semangka atau labu kuning. Namun tampak jelas dikerjakan dengan serius dan rapi.

Meski penataan para peserta begitu indah, toh, tak lepas dari kritik Franz W. Faeh, juri SalonCulinaire2000 "Kreasi peserta SalonCulinaire2000 di Singapore ini memang jauh lebih baik dengan yang diadakan tahun lalu. Kreasinya kreatif, tapi sayangnya mereka lupa kalau makanan yang mereka hias itu nantinya harus dimakan," jelas Executive Chef Badrutt's Palace St. Moritz, Swiss ini.

Makanan, lanjutnya, bukan cuma harus kelihatan indah, tetapi juga bisa menimbulkan selera orang yang melihatnya. "Percuma kalau indah dan bikin kagum, tetapi sulit memakannya. Bukankah makanan ada untuk dimakan?" cetusnya.

Maka menurutnya, ia tidak akan memberi nilai tinggi terhadap makanan yang dihias terlalu berlebihan. "Bagus sih bagus, tapi siapa yang mau makan?" tegasnya.

Dalam SalonCulinaire2000 ini, secara tim yang unjuk kebolehan adalah dari Yokohama Bay Sheraton, Raffles Culinary, Singapore Chefs' Association, dan The Westin Chosun. Sedangkan yang bertanding secara individu sebanyak 466 orang dari 16 negara peserta. Sedangkan yang dipertandingkan meliputi 3-Tier Wedding Cake, Confectionery Buffet Composition, Pastry Showpiece, Desserts, Pralines, Appetizers, Set Dinner Menu, Plate Dishes, Buffet Meal Composition, Fruit & Vegetable Carving, Ice Carving (team & individual), Apprentice Competition, Main Course, Asian Cuisine, New Asia Cuisine, dan Norwegian Salmon.

Keindahan kreasi mereka bisa Anda lihat dalam gambar berikut. Memang betul kata juri tadi. Indah, tapi tegakah kita memakannya kalau pastry sudah berwarna merah darah dan berbentuk boneka? Itulah sulitnya menerapkan seni kuliner. Makanan harus indah, tetapi menggugah selera, dan mudah pula memakannya. Coba bayangkan kalau Anda disuguhi makanan tinggi menggunung karena hiasannya, wah, bagaimana memotongnya? sdp@Rika Eridani, Foto-foto: Rika


Sedap Sekejap Edisi 11/I-Oktober 2000

 

 

Meja Jamuan Extravaganza 2000

Belum lama ini di Jakarta diadakan Pameran Meja Jamuan Extravaganza 2000, di Bidakara Hall, Jakarta Selatan. Pameran ini menampilkan aneka table setting etnik Indonesia. Gelaran meja jamuan terbentang dari nuansa Aceh, Padang, Keraton Jawa, Bali, hingga meja jamuan gaya Asmat.

Dengan tema Indonesia Merangkul Dunia, acara ini dimaksudkan menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki beragam gaya dalam menata hidangan di atas meja makan. Keindahan tiap daerah di Indonesia terwakili dalam meja yang ditata apik. Tak kurang perancang ternama Iwan Tirta turut meramaikan acara ini dengan menampilkan tata hidang jamuan makan malam resmi ala Keraton Yogyakarta.

Acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Sekar Saji Nusantara dari tanggal 14 hingga 17 September 2000 ini juga menampilkan acara demo masak mi dan talk show How To Dress Up Your Table.  sdp@Rika, foto: Rika



Sedap Sekejap Edisi 8/I-Juli 2000


Preanger Combo Roast dari Grand Hotel Preanger Bandung

Bagi pembaca yang tinggal di Bandung dan menyukai makanan jenis daging panggang, tiap hari Sabtu sejak 27 Mei 2000, sudah bisa menikmati santapan jenis barbeque ini di Grand Hotel Preanger.

Berbagai jenis daging impor berkualitas diolah menjadi santapan menggugah selera, seperti US Top Prime Ribs, Stuffed Herb Lamb Shoulder, Chicken Cajun Spiced, dan US Turkey yang dimasak dengan cara dipanggang dalam oven. Kelezatan hidangan makin terasa, begitu daging panggang pilihan kita tiba di hadapan kita, terutama saat daging yang berbau harum itu diiris dengan ketebalan sesuai keinginan.

Semua sajian barbekyu ini bisa dinikmati secara prasmanan dengan harga Rp. 65.000 di TD's Cafe mulai pukul 19.00 tiap hari Sabtu dalam nuansa Amerika latin yang kental. Berbarengan dengan peluncuran Preanger Combo Roast, diperkenalkan pula Caipirinha, minuman khas Brazil serta 4 jenis cocktail, yaitu Mexican Sangria, Frozen margarita, il Primo dan CafeLatino. sdp@Rika, foto: dok. Sedap Sekejap


Jakarta Tempoe Doeloe di Hotel Mulia Senayan Jakarta

Untuk meperingati hari ulang tahun ke-473 kota Jakarta, The Cafe Hotel Mulia Jakarta menggelar hidangan khas Betawi, 9 - 25 Juni. Selama hari yang cukup panjang itu kita bisa menemukan antara lain Kerak Telor, Rujak Juhi, Nasi Betawi, Nasi Begana, Nasi Uduk, Asinan Jakarta, dan lain-lain. Tersedia pula beberapa cemilan tradisional Betawi semacam Gemblong, Ongol-ongol, Kue Lupis, Kue Pepe, Kembang Goyang, Geplak, sampai Kue Klepon.

Untuk menyemarakkan suasana, sekitar The Cafe dan lobi hotel dihiasi aneka pernak-pernik khas Betawi. Suasana Betawi juga muncul berkat kehadiran pedagang jajanan tadi berikut gerobaknya. Acara ini dibuka secara resmi oleh Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya, Drs. H. Jaelani Hidayat. sdp@Rika, foto: Rynol


CHEESE FESTIVAL di La Brasserie

Tak pelak lagi orang Perancis memang menyukai keju sebagai makanan pembuka, makanan penutup, sampai cemilan. Buktinya, sempat ada penelitian yang mengungkapkan bahwa satu orang Perancis mampu menghabiskan 24 kilo keju per tahun! Untuk menularkan kegemaran akan makanan yang baunya cukup menyengat ini, Hotel Le Meridien Jakarta bekerja sama dengan Air France kembali mengadakan Cheese Festival yang sudah lima kali diadakan tahunan ini.

Kali ini festival aneka keju ini diadakan di La Brasserie, 6-14 Juni 2000 lalu. Dalam acara ini diperkenalkan lebih dari 65 jenis keju yang semuanya diimpor langsung dari Perancis. Semuanya adalah keju pilihan Chef Master Claude Lauxerrois. Untuk melengkapi sajian keju Perancis ini, chef makanan Perancis Le Meridien, Brice Borin menyiapkan buffet makanan tradisional Perancis yang bikin kita semakin bergairah. sdp@Rika

Sedap Sekejap Edisi 9/I-Agustus 2000

 

Clarke Quay
food court hidangan laut
   

Ketika melongok Food Festival di Singapore beberapa waktu lalu, Rika Eridani, wartawati Sedap Sekejap menggunakan kesempatan itu untuk berkeliling mencari makanan enak. Di pinggir Singapore River, ia menemukan pusat jajan sea food yang lezat sekali. Nah, inilah "oleh-oleh"nya yang belum dibagikan untuk Anda.

Ternyata rugi besar juga kalau pergi ke Singapore cuma untuk berbelanja. Karena makanan enak pun bertebaran di negri Singa ini. Salah satunya adalah Clarke Quay yang letaknya di tepi Singapore River. Di sini kita bisa makan enak sambil menikmati suasana malam Singapura.

Clarke Quay menampung berbagai restoran dan warung makan. Karena lokasinya dekat dengan sungai, maka tidak salah kalau jenis makanan yang dijual pun berupa makanan hasil laut dalam berbagai olahan. Tapi yang paling banyak adalah berbagai macam satai dan panggang-panggan hidangan laut.

Pepper Crab termasuk hidangan Singapura yang ditawarkan salah satu restoran di Clarke Quay. Hidangan ini cukup banyak penggemarnya. Rasanya sudah bisa dibayangkan pedas menyengat, tetapi sedapnya masih bisa Anda bayangkan setelah berhari-hari kemudian.

Ada lagi JP Bastiani Mediterranean Restaurant. Nah, yang ini jangan sampai lupa disinggahi kalau berkunjung ke negri tetangga kita ini. Soalnya resto ini pernah mendapatkan penghargaan Best Dining Experience.

Masih seafood dan berbau serbadipanggang, kita juga dapat mencicipi satai sea food atau sosis. Penjualnya adalah orang-orang India. Tentu rasanya sarat dengan rempah dan keharuman. Di kedai-kedai ini, mereka juga menjual martabak asin. Rasanya, ya, kurang lebih miriplah dengan martabak buatan negri kita.

Bagaimana dengan minumannya? Jangan khawatir. Aneka minuman segar ditawarkan di situ. Banyak warung yang menjual shake buah-buahan atau es kelapa muda utuh. Pokoknya Anda tinggal pilih sesuai selera.

Pengunjung Clarke Quay bisa juga mendapatkan berbagai cinderamata khas Singapura karena sepanjang kompleks banyak toko-toko suvenir. Bagi yang ingin mencoba makan di atas perahu, ada beberapa resto terapung yang bisa dicoba. Dijamin Anda akan mendapat pengalaman bersantap yang lain dari biasanya.

Makan malam di bawah langit malam Singapura ini hanya sampai pukul 10 malam saja. Kalau masih ingin menghabiskan malam, kita bisa mampir ke pub dan bar yang menyajikan berbagai aliran musik. Untuk makan malam di Clarke Quay paling tidak kita harus merogoh kocek di atas 10 dolar Singapura untuk sekali makan. Nah, kalau Anda memang gemar mencoba makanan, pusat jajan ini sangat dianjurkan untuk dicoba. sdp@Rika, foto-foto: Rika