Bayangmu hantui malamku
Bayangmu cumbui nafasku
Bayangmu menghentak sukmaku
Mengajak nikmati tepian asmara
Detak jantungku tak beratur kenang kerling nakal narasimu
Wahai pemuda nakal,
Bilakah enyah dari pikirku?

Harum Dana Sekuritas, Menteng Raya 62, 8 Oktober 2005

Re-write from deepest thought.
Story about friend’s love affair.


Aku sungguh menggilaimu
Aku sungguh menginginkanmu
Aku sungguh ingin memilikimu
Aku sungguh mau menemanimu
Aku sungguh mencintaimu

Tapi aku silau akan sinarmu
Silau dengan kebeninganmu
Silau dengan keindahanmu

Hingga aku tak mau menyentuhmu
Tak mau memilikimu
Hingga aku selalu menyakitimu
Untuk mengusirmu

Tapi kilaumu selalu menerangi
Kilaumu membawaku kembali
Kilaumu selalu berada di sisiku


Harum Dana Sekuritas, Menteng Raya 62, 8 Oktober 2005

This poem create to @rie
Inspired from her love story

Sudah 2 minggu belakangan ini klakson mobil tercinta mogok total. Sebelumnya klakson ini masih bisa bersuara, tapi bunyinya tergantung mood si Merah. Mood? Iya, mood. Macem kita ajalah manusia. Kalau menurut si Merah pengen bunyi, ya tanpa usaha mencet klason keras-keras, pasti bisa berbunyi dengan mulus seakan engak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Biasanya mood begini timbul pada saat memang aku memerlukan suara klakson. Misalnya ada motor nyaris nyerempet atau ada orang nyeberang sembarangan. Nah, mood bunyi klakson ini enggak akan timbul pada keadaan ‘biasa-biasa aja’, misalnya terjebak di belakang mikrolet/ metromini yang sedang ngetem cari penumpang, atau lagi kebut-kebutan dan nyuruh minggir mobil lain yang dianggap nutupin jalan.

Karena 2 minggu lalu si Merah harus check 35.000, otomatis dia diperiksa seluruh fisik. Salah satu yang aku komplain ke bengkel adalah kesulitan dengan klakson yang acuh-acuh butuh ini. Periksa punya periksa, waktu untuk service mesin enggak selama nge-check kesehatan si klakson. Akhirnya pihak bengkel angkat tangan dan mengusulkan untuk klaim horn si Merah sebagai barang cacat produksi. “Tapi harus nunggu sekitar 2 mingguan, ya Mbak. Ini enggak bener, harus diganti yang baru dan Mbak enggak perlu bayar, ini kesalahan pabrik,” ujar Mas Faturrochman dari bengkel Asco Bekasi Timur. Iya deh, ketimbang enggak bisa pakai klakson saat sedang memang dibutuhkan, ngalah aja deh.

Keluar dari bengkel, klakson masih bisa bunyi, tapi masuk Jakarta tiba-tiba klakson mati sendiri sampai sekarang. Huhuhu… jadi bisu sudah si Merah. Udah enggak bisa teriak-teriak lagi kalau protes sama pengendara motor yang ugal-ugalan. Hikmah yang aku dapat dari kebisuan ini adalah membuat jadi lebih sabar dan cermat. Kalau terjebak di ‘antrian’ mikrolet ya diem aja. Pasrah. Tapi kalau bisa sebelumnya ya menghindar dong. Tapi paling enggak belajar enggak menggantungkan diri sama klakson, kalau nanti dapat kerja di abroad (lagi) udah biasa enggak main klakson. Hehehe…

p.s.: btw, kabar klaksonku kok belum ada ya? Padahal janjinya 2 minggu. Hiks… L

Harum Dana Sekuritas, Menteng Raya 62, 8 Oktober 2005

Susah mau nulis apa. Bingung. Banyak yang di kepala mau ditulis, tapi kok enggak mau keluar. Rasanya menggedor-gedor nurani untuk menumpahkan perasaanku, tapi tangan ini enggak mampu melukiskannya. Berat. Entah kenapa.

Kamar cpkpth, 15 September 2005.

Lagu-lagunya Peter Pan memang sungguh dahsyat.

Isinya tentang kekecewaan terhadap cinta yang terkhianati. Rasa sakitnya dinyatakan dengan indah. Melankolik. Getir. No bright future about love. Don’t trust to love. Love is pain. Menyayat hati.

Kamar cpkpth, 14 September 2005.

cita-cita

bisnis. kata ini enggak pernah terlintas di benak gue semenjak mengenal kata-kata sebagai salah satu pilihan karir. sewaktu masih SD gue tergila-gila dengan karya-karya Chairil Anwar. yang akhirnya menggiring gue kepada pilihan menjadi penyair saat mengisi kolom cita-cita pada buku kenangan milik teman gue saat itu. menulis puisi jadi salah satu opsi hobi gue. bengong dikit, narik kertas dan pensil, coret-coret, jadilah puisi tentang ayam, ibu atau kampung halaman.

menginjak masa SMP, lain lagi pilihan karir gue. jadi guru. alasannya sih simpel banget, jadi guru itu pasti pinter karena punya ilmu lebih ketimbang murid-murid yang diajarnya. kayaknya cool banget.

beda lagi setelah masuk SMA, saat itu gue sarat banget dengan kegiatan ekskul. dari OSIS sampai PMR. dari pengurus mushalla sampai panitia kurban. dari pengurus kelas sampai wakil lomba baris-berbaris. pendeknya, kenyang kegiatan. kayaknya opsi jadi penyair dan guru agak terlupakan. saat itu gue cita-citanya jadi mahasiswa dan kalau udah lulus mau jadi ibu rumah tangga yang baik kayak Ibu gue! hahaha...

selepas SMA masuklah perguruan tinggi. begitu berhasil masuk PT negeri, cita-cita gue adalah: pacaran direstui ortu! huehehehe... alhamdulillah terkabul! bosen pacaran karena sibuk kuliah dan ikutan proyek penelitian di sana sini, membuat kolom cita-cita gue berisikan menjadi peneliti. lumayan juga CV gue karena ikut penelitian di berbagai institusi. enggak malu-maluin, deh. tapi 'karir' sebagai peneliti sempat terhenti karena harus berprioritas menyelesaikan skripsi.

belum juga maju sidang, ada seseorang menanyakan cita-cita gue. saat itu yang terlintas di kepala gue adalah 'being a journalist is a coolest thing', so, spontan gue jawab aja "mau jadi wartawan." dan gue melihat tampang orang yang bertanya kaget seolah tak percaya.

tapi harus percaya, karena setahun kemudian gue akhirnya berhasil jadi wartawan juga. wartawan-hiburan-di-sebuah-majalah-remaja-ibukota-yang-sedang-mencari-jati-diri.
huah.
walaupun pekerjaanya keras, tapi gue seneng banget (waktu itu...) diberi kesempatan bekerja di sana, malah sempat menyelesaikan skripsi gue yang terhambat. waktu itu gue janji sama boss besar, akan menyelesaikan skripsi dalam waktu 3 bulan. alhamdulillah gue sanggup dan bener-bener bisa lulus dalam waktu 3 bulan setelah gue sign kontrak kerja. cihui!

waktu bergulir, tak terasa sudah 4 tahun lebih gue kerja sebagai wartawan-hiburan-di-sebuah-majalah-remaja-ibukota-yang-sedang-mencari-jati-diri.
bosen, deh. ditengah kebosanan itu, ada seseorang (lagi?!) yang bertanya tentang cita-cita gue. saat itu gue sedang bosen mak-nya bosen. dengan asal gue jawab aja gini, "mau jadi ibu rumah tangga yang baik dan punya kegiatan yang bisa dikendalikan dari rumah." ho-ho... jujur aja, jawaban itu ngawur buanget!!! tapi kalau sampai kejadian ya berkah banget. biarpun saat itu gue masih lajang, tapi kebutuhan beli baju beli tas tetap ada, kan. biar bosan gue coba bertahan kerja di majalah-remaja-ibukota-yang-sedang-mencari-jati-diri tersebut, hingga akhirnya rasa bosan itu semakinmengkristal. gue harus keluar! lirik sana lirik sini, akhirnya gue melamar (masih di satu klan) sebagai
wartawan-di-sebuah-majalah-kuliner-yang-sedang-naik-daun-dan-digilai-ibu-ibu.
sampai akhirnya gue dipinang oleh mantan pacar (yang enggak pernah tanya cita-cita gue apa), dan beberapa bulan kemudian gue diboyong mengikuti kepindahan tugas suami.

di sinilah titik balik dari segala cita-cita gue. I'm totally changed. gue menemukan kenyataan bahwa cita-cita bukanlah menjadi siapa atau menjadi sesuatu. cita-cita adalah mimpi di masa depan. menjadi something adalah alatnya. percuma aja jadi direktur kalau keluarga di rumah berantakan. percuma juga sampai harus berangkat kerja datang pagi pulang malam kalau esensi kehidupan yang kita inginkan malah enggak pernah kita raih. well, saat ini cita-cita gue adalah jadi orang baik dan hidup sehat bahagia. dan bisnis hanyalah menjadi 'kendaraan' gue menuju cita-cita hidup gue. and now, I'm happy healthy woman.

hurray!!!