udah lama banget enggak nulis di blog.
alasannya sibuk.
ngurusin tagihan.
ngirim barang.
pergi ke klien.
ngurus rumah.
kadang masak.
main game kompie.
online.
check e-mail.
nulis e-mail buat bro di Nantes.
browsing ke situs-situs ajaib.
jalan ke mal.
makan di luar.
belanja rutin.
weekend sama suami.
marah-marah.
nyanyi.
tidur.
ngurusin yang sakit.
baca buku-buku bagus.
baca Kompas.
telepon temen/ ortu.
ke rumah ortu/ mertua.
ada yang ultah.
beli kado.
arisan.
pengen sendiri.
makanya enggak sempet nulis di blog.

BSK, 18/9/03
posting pakai Konqueror di atas Linux Knoppix di rumah :-))
Dampak Negatif Aksi Terorisme Terhadap Kehidupan Warga


Wahai para TERORIS!!! FUCK YOU!!!

karena gara-gara bom kalian, kami harus menanggung :
1. kepiluan karena banyak keluarga yang kehilangan orang yang dicintai
2. macet, karena mobil berhenti di pinggir jalan karena harus antre pemeriksaan kendaraan sebelum masuk lobby gedung-gedung perkantoran atau pertokoan

Foto: pexels.com

Hikmah di Balik Menjalani Pernikahan Jarak Jauh


Aku di sini kau ada di sana
Membentang luas samudra biru
Memisahkan kita
Inginku berenang ke kotamu
Tapi pasti tenggelam dan kau sedih

Kirimi aku kabarmu di sana
Lewat telepon surat faksimili
Ngobatin rinduku
Kirim juga photo ukuran jumbo
Biar kupajang di kamarku

*
Ngurangin beban ini
Ngurangin sesak ini
Ngurangin rasa ingin bertemu

Nggak perlu curiga
Karna tahu kau masih
Memegang janji yang pernah kita sepakati

Reff :
Mungkin tak lama lagi
Aku hadir disana
Atau tak lama lagi
Kau yang ada disini

Aku disini kau ada disana
Membentang luas samudra biru
Memisahkan kita
Inginku terbang bersama angin
Tapi nanti tersesat dan kau sedih

(Kabari Aku, taken from Jamrud 'Ningrat')



dengar lagu ini jadi ingat beberapa waktu lalu saat gue dan suami masih terentang jarak Jakarta - New Hampshire. konyolnya gue bisa tercenung di mana saja berada pas ada alunan lagu ini. alhamdulillah kami sekarang sudah berkumpul kembali dalam satu negara, satu kota, satu rumah, satu tempat tidur :-))

ternyata di balik keletihan hati karena berjauhan dan memendam rasa rindu itu, kami menemukan hikmah. pada awalnya memang berat sekali. banyak penyesuaian yang harus kami lakukan sana-sini. belum lagi penyesuaian dengan keluarga besar kami. kalau kami terlalu peduli dengan suara di luar, bisa-bisa perkawinan kami yang baru seumur jagung mudah digoyang.

walaupun kenyataannya banyak masalah yang timbul di sana-sini, justru membuat kami jadi semakin dekat dan mengerti satu sama lain. mungkin kalau enggak ada kejadian 'pisah ranjang' ini, kami rasa harus memerlukan waktu yang lebih panjang untuk mengenal satu sama lain.

saat ini kami masih terus saling mencintai dan menyayangi. tak ada rasa penyesalan apa yang pernah terjadi di tahun-tahun lalu. kami hanya bisa menyempurnakan dengan menjadikan hari yang akan kami lalui dengan lebih baik.

ps: terimakasih kepada Tuhan yang telah mepertemukan dan mempersatukan kami.

Foto: pexels.com

Syukur Atas Kasih Sayang Orangtua Sepanjang Hidup


dulu aku hanya seorang bayi yang hanya bisa menangiskan segala sesuatu yang aku inginkan. lapar, buang air, bosan, sakit, kesepian, hanya bisa menangis. tertawa juga, sih, kalau ada ibu atau bapakku yang menemani atau mencandaiku.

saat sudah bisa protes dengan kata-kata, seringkali aku membuat orangtuaku tersinggung. aku bisa memprotes saat dilarang ikut-ikutan ke disko. aku menuduh mereka kurang menyayangi aku. atau belajar ogah-ogahan karena kurang menyukai pelajaran tertentu? padahal sebagai orang tua, mereka sudah bekerja keras mengumpulkan uang demi pendidikan anak, mencarikan sekolah yang baik, bahkan membelikan baju-baju gaul agar anak mereka enggak ketinggalan jaman.

saat mata hatiku mulai terbuka, aku bersyukur, aku dipelihara oleh orangtuaku dengan penuh kasih sayang. dengan segenap perhatian untuk membuat diriku menjadi manusia yang berguna. karena sampai kini masih saja ada orangtua yang tega menyia-nyiakan anak-anak mereka. ada yang membunuh bayi mereka yang baru lahir demi menutupi aib si orang tua. atau membuang bayi yang dibungkus tas plastik kresek ke dalam got. bahkan membiarkan anak-anak mereka berkeliaran di jalan-jalan menenggadahkan tangan kepada orang-orang yang lewat. tanpa pernah mengecap bangku sekolah dan memperoleh baju bersih untuk dikenakan sehari-hari.

terimakasih ibu, terimakasih papah, yang dari kecil hingga aku dewasa kini, masih mau memberikan segenap perhatian dan kasih sayang kalian kepadaku. tanpa ibu dan papah, rasanya aku bukan siapa-siapa. dengan dorongan dari kalian aku bisa menyelesaikan sekolah, memiliki ilmu yang dapat aku amalkan, memberikan contoh perilaku yang baik, mendorong memperoleh cita-cita yang aku inginkan. bahkan masih mau menegurku jika terlihat di mata kalian aku melakukan kesalahan. mohon ampun pula, jika aku masih sering membuat sedih ibu dan papah. aku tetap dan selalu sayang kepada kalian sampai kapanpun. terimakasih karena sejak dalam kandungan hingga terlahir di bumi, aku selalu dipelihara. diberi perhatian, kasih sayang bahkan hardikan untuk membuat diriku lebih baik dari sebelumnya. bahkan sampai aku sudah memiliki keluarga sendiri (aku masih berhutang 'mempersembahkan' junior), ibu dan papah tetap memperhatikan dan melimpahi diriku dengan kasih sayang. sekali lagi, terimakasih! karena kasih sayang ibu dan papah berdua, aku ada.

(dedicated to my Ibu dan Papah. sooo many thanks dan love to both of you!)

:today is my 32nd birthday, thx to my beloved hubby for caring dan loving.

Foto: commons.wikimedia.org

WINNIE the POOH'S HISTORY

The story of Winnie the Pooh started when a young vet living in Winnipeg, Canada, was stretching his legs on a train platform in Ontario. This man, Harry Colebourn, was serving in the Canadian Army at the time. He saw a man cradling a tiny orphaned black bear cub, and bought it for $20. The bear, who Harry called Winnie after his hometown in Winnipeg, became the Canadian Army's mascot. After coming to England, Harry Colebourn and the other Canadian soldiers had to go to France, so Winnie was put in the care of London Zoo. When Lieutenant Colebourn came back from France, he found that Winnie was having such a wonderful time at the Zoo that he decided to let him stay there forever. Winnie lived until 1934.

Christopher Robin was one of Winnie's greatest fans, and was allowed to go inside the cage with him. Here is a passage from the introduction to "Winnie the Pooh".
So when Christopher Robin goes to the Zoo, he goes to where the Polar Bears are, and he whispers something to the third keeper from the left, and doors are unlocked, and we wander through dark passages and up steep stairs, until at last we come to the special cage, and the cage is opened, and out trots something brown and furry, and with a happy cry of "Oh, Bear!" Christopher Robin rushes into its arms.

Since Christopher Robin loved Winnie so much, he renamed the bear that he had received for his 1st birthday, Edward Bear, and called him Winnie the Bear. A poem from "When We Were Very Young" tells that Christopher Robin met a swan, and called him Pooh, but the swan has gone now, so Christopher Robin changed Winnie the Bear to Winnie the Pooh in honor of the swan.

Christopher Robin's father, Alan Alexander Milne, loved to watch Christopher Robin and Pooh play together in Ashdown Forest, so he wrote stories about them, along with Christopher Robin's other toys, Piglet, Tigger, Eeyore, Kanga and Roo. He also made up the characters Rabbit and Owl, based on real animal living in the Forest. In the stories, Asdown Forest was called the Hundred Acre Woods. "Winnie the Pooh" was published in 1926, followed by "The House At Pooh Corner" in 1928.

In 1961 in America, Walt Disney was reading the Pooh stories to his children. He liked the idea of Winnie the Pooh and his friends, so he decided to use Pooh in a movie. After all of the neccesary paperwork, Walt set out to create his dream. In 1966, "Winnie The Pooh And The Honey Tree" was a big success, and in 1968, "Winnie The Pooh And The Blustery Day" won an Academy award. In 1974 another Pooh movie was made, called "Winnie The Pooh And Tigger Too".
*mwa-mwa-mwa*

The ending of Doraemon, the never ending story.

As you know, Doraemon is a story with no ending, but this small story is about the "last episode" of the famous cartoon. Someone made this story and uploaded it to his homepage, and it is now widely spread all around Japan through the internet.


Here it goes :

One day,a very normal day, Nobita came back from school and went upstairs of his house. Doraemon was there sleeping, just like the other normal day. "Hey, Doraemon, please wake up, lets play!" But Doraemon does not wake up. Nobita thought that Doraemon is tired, so he went out to play with Shizuka-chan and other folks. After few hours, he returned to his home, but Doraemon was still sleeping. Nobita felt something strange, and tried to wake him up. But there was no reply. He became to feel afraid, and tried to wake him up, but whatever he does, Doraemon did not wake up.

Nobita exactly knew that something was different. This never happened before. He began crying, but though he screamed or cried, the famous fat-cat-robot did not make a single move at all. He came up to one idea, and jumped into his desk -the time machine-and went to the future to meet Dorami-chan, Doraemon's sister. He begged her for help, and forced her to go with him back to 1998.

After a short trip again back to 1998 by the time machine, Dorami-chan looked all over his brother Doraemon to see what was wrong with him. After few minutes, she said "the battery is out" Nobita was relieved, and said, "battery? so he is not broken right? please replace or recharge his battery, and put him back like before."

But Dorami-chan shook her head and said, "Nobita-san, should I really do that?" Nobita said "what? what do you mean?" Dorami-chan replied; "His main battery is here, close to his pocket. And it ran out. But originally, he had a back-up battery in his ears, but as you know, his ears were eaten by a rat very many years ago, so he does not have a back-up battery now."

"so what do you mean?"

"I mean, if I replace his battery, every memory of you will be eternally lost from his brain program."

"WHAT?????"

"Shall I do that?"

Nobita closed his eyes. He cried, but after few minutes, he stopped crying, and quietly told Dorami-chan, "Dorami-chan, thanks for coming here. I will take care of the rest. You have to go back to your future time now."

Dorami-chan could not decide what to do, but anyway she hugged Nobiya quietly, and she went back home. After she went back, Nobita carried Doraemon and placed him into the shelf.

............TIME FLIES..........

Year 2010, Nobita grew up. Since that day, he changed. He studied hard, did not cry anymore, and he lived without Doraemon. He told Shizuka and other folks that Doraemon had to go back to his future, and could not meet him anymore.

Shizuka was impressed to Nobita's mysterious appearance which became completely different from 10 years ago. They fell in love, and married. Nobita became a scientist. He made a laboratory in his room, and was studying hard with his job all day. He told Shizuka not to come into the room, as it is very dangerous inside.

But one day, he called Shizuka and told her to come in to his room. It was the first time for her to enter his husband's room. The moment she went in, she lost her words ......

There was her friend Doraemon, who she used to play in her childhood days. Doraemon was not moving. It seemed as he was sleeping. "Look, Shizuka, I will plug in from now" Nobita turned on the main switch on Doraemon. Doraemon quietly, very quietly started to open his eyes. It was the moment the inventor of Doraemon became clear. It was Nobita. He studied hard and hard just to meet and talk with his old friend again. Going back and forth of time, Nobita was the one who made Doraemon. He discovered all the programs and archetecture of Doraemon-type-robot. Nobita and Shizuka was crying gently.

Doraemon opened his eyes. He looked around, and finally said, "Nobita-kun, did you finish your homework?" There was the same white clouds in the sky like the times they used to spend together...
hari ini capek. kerasa kalau enggak ada bedinde, kerjaan lagi banyak, cucian numpuk, lantai belum disapu dan dipel. bingung! caranya, ya harus dikerjakan satu-satu. akhirnya selesai juga...
masalah enggak ada bedinde sebenernya pada saat harus meninggalkan rumah kosong. berdoa sajalah kepada Tuhan dan memasrahkan diri, insya Allah Sang Gusti yang akan menjaga milik kita.