*mwa-mwa-mwa*

The ending of Doraemon, the never ending story.

As you know, Doraemon is a story with no ending, but this small story is about the "last episode" of the famous cartoon. Someone made this story and uploaded it to his homepage, and it is now widely spread all around Japan through the internet.


Here it goes :

One day,a very normal day, Nobita came back from school and went upstairs of his house. Doraemon was there sleeping, just like the other normal day. "Hey, Doraemon, please wake up, lets play!" But Doraemon does not wake up. Nobita thought that Doraemon is tired, so he went out to play with Shizuka-chan and other folks. After few hours, he returned to his home, but Doraemon was still sleeping. Nobita felt something strange, and tried to wake him up. But there was no reply. He became to feel afraid, and tried to wake him up, but whatever he does, Doraemon did not wake up.

Nobita exactly knew that something was different. This never happened before. He began crying, but though he screamed or cried, the famous fat-cat-robot did not make a single move at all. He came up to one idea, and jumped into his desk -the time machine-and went to the future to meet Dorami-chan, Doraemon's sister. He begged her for help, and forced her to go with him back to 1998.

After a short trip again back to 1998 by the time machine, Dorami-chan looked all over his brother Doraemon to see what was wrong with him. After few minutes, she said "the battery is out" Nobita was relieved, and said, "battery? so he is not broken right? please replace or recharge his battery, and put him back like before."

But Dorami-chan shook her head and said, "Nobita-san, should I really do that?" Nobita said "what? what do you mean?" Dorami-chan replied; "His main battery is here, close to his pocket. And it ran out. But originally, he had a back-up battery in his ears, but as you know, his ears were eaten by a rat very many years ago, so he does not have a back-up battery now."

"so what do you mean?"

"I mean, if I replace his battery, every memory of you will be eternally lost from his brain program."

"WHAT?????"

"Shall I do that?"

Nobita closed his eyes. He cried, but after few minutes, he stopped crying, and quietly told Dorami-chan, "Dorami-chan, thanks for coming here. I will take care of the rest. You have to go back to your future time now."

Dorami-chan could not decide what to do, but anyway she hugged Nobiya quietly, and she went back home. After she went back, Nobita carried Doraemon and placed him into the shelf.

............TIME FLIES..........

Year 2010, Nobita grew up. Since that day, he changed. He studied hard, did not cry anymore, and he lived without Doraemon. He told Shizuka and other folks that Doraemon had to go back to his future, and could not meet him anymore.

Shizuka was impressed to Nobita's mysterious appearance which became completely different from 10 years ago. They fell in love, and married. Nobita became a scientist. He made a laboratory in his room, and was studying hard with his job all day. He told Shizuka not to come into the room, as it is very dangerous inside.

But one day, he called Shizuka and told her to come in to his room. It was the first time for her to enter his husband's room. The moment she went in, she lost her words ......

There was her friend Doraemon, who she used to play in her childhood days. Doraemon was not moving. It seemed as he was sleeping. "Look, Shizuka, I will plug in from now" Nobita turned on the main switch on Doraemon. Doraemon quietly, very quietly started to open his eyes. It was the moment the inventor of Doraemon became clear. It was Nobita. He studied hard and hard just to meet and talk with his old friend again. Going back and forth of time, Nobita was the one who made Doraemon. He discovered all the programs and archetecture of Doraemon-type-robot. Nobita and Shizuka was crying gently.

Doraemon opened his eyes. He looked around, and finally said, "Nobita-kun, did you finish your homework?" There was the same white clouds in the sky like the times they used to spend together...
hari ini capek. kerasa kalau enggak ada bedinde, kerjaan lagi banyak, cucian numpuk, lantai belum disapu dan dipel. bingung! caranya, ya harus dikerjakan satu-satu. akhirnya selesai juga...
masalah enggak ada bedinde sebenernya pada saat harus meninggalkan rumah kosong. berdoa sajalah kepada Tuhan dan memasrahkan diri, insya Allah Sang Gusti yang akan menjaga milik kita.


he he he


kemaren siang liat si melly ex "putri malam" lagi diwawancara di acara infotainment betis di anteve. bangga dia menyebut dirinya sebagai pencipta icon "ayuk mang".

setau gue sih, "yuk mang" itu jargon. sebuah frasa tidak bisa disebut sebagai icon. kalau yang disebut sebagai icon itu adalah tokoh, nah ini baru bener. mungkin dia bermaksud untuk menyebut bahwa dia bangga telah berhasil menciptakan dirinya sebagai icon yang mempopulerkan jargon "ayuk mang". sayangnya kayaknya dia kurang mengerti perbedaan mendasar arti kata icon dan jargon, sampai-sampai waktu diwawancara, kata tersebut keluar begitu saja seperti memang seperti itulah seharusnya.

lagi pengen protes aja sama banyak selebritis (artis, aktris, aktor, penyanyi, tokoh masyarakat, pembaca berita, pembawa acara, dll) yang suka salah pakai kata, tapi nggak ngeh kalo salah. contoh lain yang paling sering, kata 'event' dibaca seperti melafalkan kata 'even'. dulu smp waktu dapet basa inggris pada kemana seeeh? orang-orang di sekeliling kalian itu ngapain aja sih kerjanya? tau salah kok nggak ada yang mencoba mbenerin? apa sama nggak taunya? apa cuma pada menjilat aja?

satu hal yang pasti: bikin malu aja. soalnya jadi ketauan begonya.
setidaknya, kalo gue, karena merasa belum pinter, ya belajar untuk jadi lebih tau.
and keep my mouth shut kalo emang gue nggak tau!
Analisis Penyebab Sepinya Restoran All You Can Eat Dipitdeep


resto dipitdeep soakit yummy

tempat makan sepuasnya yang menyajikan makanan shabu-shabu dan barbeque ini terlihat mati enggan hidup pun tak mau. seperti salah satu outletnya di Metropolitan Mall Bekasi. dari pagi-pagi buka sampai malam kayaknya customernya enggak lebih dari sepuluh meja per harinya. melihat keadaan seperti itu cuma sebersit rasa kasihan. perasaan iba ini lebih banyak untuk pegawainya. kalau kayak gini terus menerus, bisa-bisa mereka bisa kena phk, kan?

sebenarnya untuk menyelamatkan keadaan resto yang memiliki 5 cabang di Jakarta dan Bekasi ini adalah mengadakan promosi. ya harga, ya menu makanan atau promosi dengan majalah-majalah dan enggak lupa pasang iklan. sedikit banyak rasanya mereka cukup mengerti dengan keadaan resto yang nafasnya senen-kemis ini. buktinya mereka sudah memberikan harga yang lumayan murah di antara resto yang menyajikan makanan serupa. untuk full menu ambil dan masak sendiri ini, hanya mematok harga Rp. 50.000 nett. murah, kan? bandingkan dengan Nanabantei atau Pa'regu. jauh banget, dua yang terakhir gue sebutkan tadi memasang tarif sekitar Rp. 65.000++ daaaan... belum termasuk menu minuman, lho! berbeda dengan dipitdeep, Rp. 50.000 tadi sudah termasuk minuman yang bebas ngambil sampai pipis-pipis. minumannya juga lumayan, ada aneka softdrink dan lipton ice lemon tea yang syedap banget itu (i really love this lipton ice lemon tea) belum lagi aneka es campurnya yang lumayan juga. promo iklan radio, masih ada. soalnya kalau kita makan di sana, dipasang radio yang menyiarkan iklan dipitdeep. lalu di koran-koran ibukota kadang sekali dua masih ada iklan kecil mungilnya.

tapi dengan harga segitu, kok masih saja resto tadi sepi pembeli, ya? beberapa kali mengunjungi tempat makan tersebut pada jam makan siang, dari sekitar 20-an meja hanya terisi 3 meja yang masing-masing paling banyak berisi 3 orang penikmat. rasanya gue bisa sedikit memberikan kesimpulan tentang sepi pengunjung resto dipitdeep dari pengalaman makan di sana;
1. rasanya biasa saja
2. bahan-bahan sudah tidak terlalu fresh, tapi belum busuk
3. ada kecoa kecil-kecil keluar dari kompor
4. bumbunya begitu-begitu saja, dulu-dulu sih enak, belakangan a little bit too salty
5. pelayannya agak menganggu karena ikut memasakkan bahan makanan dan meramukan bumbu-bumbu yang rasanya agak ajaib, dengan dalih membantu. hakekat memasak makanan sendiri makanan anda jadi lari deh.
6. kami berlima (ortu, gue, suami dan adik gue) pernah makan siang di salah satu resto dipitdeep di daerah utara jakarta, sepulang dari sana kami murus-murus dan harus bersahabat dengan wc. yang paling parah suami gue karena sakit perutnya paling hebat, dia mengalami diare sampai 2 hari.
mungkin saja penilaian gue di atas enggak bener. tapi beberapa tahun yang lalu, di surat pembaca Kompas pernah ada keluarga yang complain terhadap resto ini. mereka menemukan kecoa di bagian sayur-sayuran. sayangnya dari pihak dipitdeep enggak ada tanggapan.

sampai detik ini, resto tersebut masih buka dan sedang menunggu pembeli. entah orang yang tidak tahu atau orang penasaran macam gue yang akan masuk ke resto tersebut.
kalau enggak ada perbaikan apapun, rasanya dipitdeep enggak bakal lama eksis. lagi-lagi kasihan pegawainya... dan ada pengangguran lagi....

pertanyaan: siapa sih pemodal atawa pemiliknya? anda hebat sekali masih bisa mempertahankan dan mengelola dipitdeep ini. salut deh! kalau saya jadi anda, kayaknya udah tahun dulu resto ini saya tutup :-p hehehe...

Foto: pexels.com


gile! keren banget situs ini. it's about leisure time. i wish i could make this for me.
Menikmati Jalan-Jalan Sendirian di Pusat Perbelanjaan Jakarta


hari ini gue sudah mulai beraktivitas. masih sekeliling rumah aja sih. melakukan hal-hal yang minggu lalu belum bisa gue lakukan. bayar listrik, ke satelindo, ke bank, belanja bahan buat bikin coklat, dan... JALAN-JALAN KE MOL.

apa sih sebenarnya hakekat jalan ke mol? sekadar window shopping atau memang ada keperluan membeli sesuatu? terus terang, ke mol (mana aja) dari duluuuu sampai sekarang tetap menyenangkan. padahal yang didatangi akhirnya hanya mol atau pusat perbelanjaan yang itu-itu aja. soalnya pertumbuhan mol dan kekerapan mengunjungi mol sak Jakarta pertambahannya enggak sesuai deret ukur. :-p
window shopping? ya. tapi kalau sekadar untuk dilihat dan melihat macam abg di Plaza Senayan atau Cilandak Town Square sih enggak deh au. jadi kebutuhan nge-mol buat gue window shopping sekaligus shopping sekalian. walaupun kadang yang dibeli juga sekadar barang tak berguna atau sekantong buah-buahan. yang ajaib, kenikmatan ngider di mol ini bukan jalan-jalan sak rombongan ibu-ibu atau suami. gue suka banget ke mol di hari biasa siang atau sore hari, sendirian. ya, sendiri aja. beda lagi kalau jalan ke pusat perbelanjaan dengan suami. kami lebih menyebut sebagai eksplorasi berkursi roda di berbagai pusat perbelanjaan jakarta. jadi, kita cari tahu di mol mana yang 'tidak mengijinkan' pekursi roda menikmati mol-nya, dan pusat belanja mana yang 'welcome' betul dengan kaum difabel.

seperti siang tadi, sebenarnya alasan gue ke mol karena membelikan titipan teman. kebetulan barang yang diinginkan enggak ada di tempat perbelanjaan di sekitar ia tinggal. alasan kedua, karena sekalian parkir untuk bayar listrik. alasan lainnya, udah seminggu lebih enggak lihat mol. what a stupid reason, huh?

setelah di mol, gue baru merancang kebutuhan yang harus gue jalani. yang pasti: beliin titipan sinta, beli buah, nge-check vcd indonesia terbaru untuk dikoleksi, mau potong rambut (karena rambut gue abis sakit rontok berat dan mulai kepanasan karena sudah terlalu panjang) dan lihat-lihat aja. setelah selesai melakukan hal-hal pokok tadi, akhirnya beli majalah dan makan siang. terus pulang.

gitu aja? hehehe, i'm happy enough with that. mungkin gue seneng ke mol karena bau mol yang khas dan masing-masing berbeda satu sama lain? walahualam, biarkan jadi misteri.

hidup mol!

Foto: pexels.com