Membedah Rasa Manis Hershey dan Cokelat Lily

, , No Comments
Membedah Rasa Manis Hershey dan Cokelat Lily

Bungkus merah ikonik dengan huruf-huruf putih melintang selalu berhasil memanggil kita kembali ke malam akhir pekan, siap menemani waktu santai di depan layar televisi. Cokelat susu klasik memang menyimpan kenyamanan nostalgia yang sulit tergantikan, tetapi lorong toko swalayan kini juga dipenuhi warna-warni cerah dari merek Lily yang menjanjikan pengalaman serupa tanpa tambahan gula. Di balik rak-rak pajangan itu, kita tentu penasaran, seberapa jauh kedua bilah cokelat ini berbeda saat kertas pembungkusnya kita sobek dan aromanya mulai menguar di udara.

Perbedaan paling mendasar antara cokelat susu tradisional Hershey dan versi krim susu dari Lily terletak pada apa yang membuat lidah kita mengecap rasa manis. Hershey tetap setia pada gula rafinasi klasik, menyumbang kalori sekitar lima belas sendok teh dan indeks glikemik di angka enam puluh. Sementara itu, Lily memilih jalur yang sama sekali berbeda dengan menggandeng eritritol, pemanis alternatif dengan nyaris nol kalori dan indeks glikemik nol, dipadu isomalt dari buah bit serta ekstrak daun stevia yang manis alami.

Jika kita intip tabel nutrisi untuk porsi standar seberat tiga puluh satu gram, angka yang tertera ternyata bersisian sangat dekat. Sebatang cokelat Hershey memberikan seratus lima puluh kalori, sedangkan Lily menyusul dengan seratus tiga puluh kalori, plus catatan kolesterol, natrium, dan total lemak yang nyaris serupa. Namun, begitu kita meneliti daftar bahan di baliknya, barulah kita mengerti bagaimana racikan tanpa gula konvensional ini tetap bisa mempertahankan tekstur renyah dan padat yang memuaskan.

Menghilangkan gula tentu membuat cokelat kehilangan massa alaminya, sehingga Lily menyiasatinya dengan inulin, serat larut dari akar chicory yang mengembalikan sensasi gigitan mantap, ditemani lesitin bunga matahari agar adonannya tercampur lembut. Di sisi lain, Hershey mempertahankan lesitin kedelai serta PGPR, pengemulsi sintetis yang menjaga bentuk cokelat sekaligus menekan biaya produksi, meski bahan inilah yang kadang meninggalkan jejak tekstur sedikit berlilin di mulut kita.

Tapi, bukan berarti mengganti gula dengan pemanis nabati lantas mengubah kudapan manis menjadi makanan super yang bebas dinikmati tanpa batas. Para ahli mengingatkan bahwa asupan eritritol yang berlebihan tetap membawa risiko tersembunyi bagi kesehatan jantung, sehingga bijak mengendalikan diri tentu menjadi kunci utamanya. Bukankah menikmati sepotong kecil cokelat berkualitas sambil menyesap teh hangat di sore hari selalu menjadi cara terbaik untuk merayakan hari kita?

sumber: tastingtable.com

juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

0 comments: