Warisan Rasa Roma dan Ayam Jeruk yang Menggugah

, , No Comments
Warisan Rasa Roma dan Ayam Jeruk yang Menggugah

Piatto Romano menghidupkan pagi di Via Bodoni jauh sebelum jam makan siang tiba. Sambil menikmati sisa sunyi pagi hari, sayuran seperti sawi sendok, artichoke, dan daun poppy dibersihkan dengan teliti di dekat meja bundar dekat jendela. Irama kehidupan tetangga yang mengakar kuat inilah yang menjadi detak jantung sebuah trattoria klasik khas Roma, tempat di mana makanan terikat erat pada pasar harian sekaligus sejarah keluarga.

Kisah sudut jalan ini membentang melewati berbagai papan nama dan wajah-wajah akrab, bermetamorfosis dari sajian jeroan di Da Rafaelle menjadi Piatto Romano di bawah asuhan Francesca dan Augusto D'Alfonsi, sebelum akhirnya sang adik, Andrea, mengambil alih kemudi. Tumbuh besar di dalam dan di sekitar dapur restoran—mulai dari tempat ikan milik orang tuanya, La Torricella, hingga neneknya yang memasak di Da Antonio dan kakeknya di Da Giovanni—Andrea mewarisi lanskap kuliner kaya yang berakar dari tradisi Abruzzese dan dedikasi keluarga.

Warisan restoran yang begitu mendalam ini diimbangi dengan komitmen tinggi terhadap bahan-bahan segar, mulai dari sayuran pasar yang dipetik dengan tangan setiap pagi hingga hidangan tradisional seperti kelinci yang direbus perlahan dalam anggur dan buah jeruk. Kepala koki Umberto Mussato, yang bekerja berdampingan dengan Andrea, belum lama ini menyesuaikan resep tersebut untuk sebuah kolom di koran The Guardian dengan mengganti daging kelinci dengan ayam, menghasilkan hidangan yang membawa kedalaman rasa gurih dan segar yang sama.

Betapa menyenangkan ketika sebuah masakan rebusan sederhana mampu merangkai kisah keluarga yang begitu kaya. Untuk membawa sepotong tradisi Roma ini ke dapur kita sendiri, paha ayam bertulang digoreng kecokelatan dalam minyak zaitun, disiram sedikit anggur putih kering, lalu direbus perlahan dalam campuran segar jus buah jeruk—seperti perpaduan jeruk manis, lemon, jeruk nipis, dan mandarin—bersama oregano atau thyme kering hingga dagingnya menjadi sangat empuk di mulut.

Sebelum disajikan ke meja bersama sayuran hijau dan kentang, saus masakannya diberi sentuhan akhir yang cemerlang dari pasta teri yang dihaluskan dan cuka anggur merah, diaduk bersama sebatang dedaunan herbal segar lalu dibiarkan meresap selama setengah jam. Bukankah luar biasa bagaimana proses sederhana ini menciptakan kuah mengkilap yang begitu lezat, membuat kita ingin segera merobek sepotong roti renyah untuk mencelupkan setiap tetes terakhirnya, dan saya tentu sangat ingin tahu jika kalian segera mencoba resep keluarga Roma yang indah ini di dapur masing-masing?

sumber: theguardian.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Guardian Food

0 comments: