
Kantong kertas tahan minyak yang membungkus roti kita pulang dari toko sebenarnya adalah senjata rahasia terbaik melawan roti yang cepat keras. Kita pasti pernah berdiri termenung di dekat meja dapur, memandangi sepotong roti sourdough favorit yang tiba-tiba berubah menjadi sedih dan alot hanya dalam waktu semalam. Para ahli pembuat roti seperti Sophia Handschuh dari Sourdough Sophia di London dan Rachel Morgan dari Twelve Triangles di Edinburgh bilang, misteri di balik roti yang cepat basi ini berakar dari sifat pati yang suka menyerap air. Ketika roti dipanggang, bagian patinya mengembang dan menelan semua kelembapan, menghasilkan remah roti yang begitu lembut dan empuk di dalam. Tapi begitu ia keluar dari oven dan bersentuhan langsung dengan udara terbuka, proses pengeringan itu pun dimulai tanpa ampun.
Lalu, bagaimana caranya kita menjaga keajaiban roti ini tetap hidup tanpa harus merumitkan isi dapur kita? Jawabannya sungguh menyenangkan karena kita cukup membiarkan roti itu tetap berada di dalam kantong kertas aslinya di suhu ruang. Handschuh dan Morgan sangat kompak menyarankan kita untuk menghindari kantong plastik rapat atau pembungkus lilin lebah yang harganya lumayan itu. Kotak penyimpanan roti tradisional yang klasik juga sebaiknya kita lewati saja, karena tempat itu justru suka memerangkap kelembapan berlebih yang bikin kulit roti jadi lembek dan mengundang jamur datang berkumpul. Tapi bagaimana kalau ada yang bilang kulkas adalah tempat terbaik? Florin Grama dari Tarn Bakery langsung memberikan peringatan keras bahwa menyimpan roti di dalam kulkas adalah jalan pintas tercepat membuat roti basi hanya dalam waktu sehari, sebuah fakta ilmiah yang terbukti karena suhu dingin membuat roti menua enam kali lebih cepat.
Untungnya, menyulap kembali roti yang sudah mulai lelah itu sangatlah gampang jika kita tahu caranya memancingnya dengan sedikit panas. Handschuh menjelaskan bahwa menghangatkan roti akan membantu uap air di dalamnya menguap sekaligus membangunkan kembali patinya, sehingga roti yang telanjur kering karena sudah berumur dua hari hanya butuh waktu lima sampai sepuluh menit di dalam oven untuk mendapatkan napas segar selama beberapa hari ke depan. Tapi bagaimana kalau kita sadar tidak akan sanggup menghabiskan seluruh roti itu sebelum keburu basi? Grama merekomendasikan kita untuk memotongnya lebih dulu, membungkusnya rapat-rapat, lalu memasukkannya ke dalam freezer supaya kita bisa mengambil satu lembar saja kapan pun kita mau dan langsung memanggangnya dalam keadaan beku. Pilihan lainnya, kita bisa membekukan satu buah roti utuh lalu mencairkannya nanti sebelum menghangatkannya kembali secara perlahan pada suhu rendah.
Bahkan saat roti kita sudah berada di ambang hari terakhirnya, ia masih jauh dari kata berakhir di tempat sampah dapur. Handschuh punya ide bagus untuk merobek potongan-potongan roti tua itu menjadi crouton ukuran besar, lalu melumurinya dengan guyuran minyak zaitun yang berlimpah, garam laut kasar, bawang putih, serta daun thyme segar, sebelum dipanggang hingga warnanya berubah keemasan. Kita juga bisa mengiris roti tersebut setipis tisu untuk dijadikan keripik sourdough buatan sendiri menjelang musim menikmati semangkuk sup hangat. Di sisi lain, Morgan lebih suka menyimpan sekantong sisa pinggiran roti tua untuk diubah menjadi remah roti yang sedap sebagai taburan pasta, balutan chicken schnitzel, atau dicampurkan ke dalam adonan bakso. Sementara itu, Grama memberikan jurus pamungkas makanan pengenyal hati yang luar biasa dengan cara memerciki roti tua menggunakan air, mengirisnya, lalu menyisipkannya dengan mentega bawang putih berempah dan keju yang melimpah sebelum dipanggang kembali hingga hidup mulia dan lezat.
Semua trik kecil ini membuktikan bahwa merawat sepotong roti tidak perlu ribet, asal kita tahu bagaimana memperlakukannya dengan penuh cinta di dapur rumah kita. Kantong kertas sederhana yang tadinya kita anggap sepele ternyata memegang peranan besar menjaga tekstur renyah di luar dan kelembutan di dalam. Jadi, lain kali kita mendapati roti mulai kehilangan kelembutannya, kita tidak perlu panik atau buru-buru membuangnya ke tempat sampah. Cukup berikan sedikit kehangatan oven atau olah kembali menjadi camilan gurih yang menggugah selera makan seluruh anggota keluarga. Pada akhirnya, dapur kita selalu punya cara cerdas untuk menghargai setiap remah makanan yang ada.
sumber: theguardian.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Guardian Food
0 comments:
Post a Comment