Rahasia Dapur Nonna Italia Membuat Gnocchi Sempurna

, , No Comments
Rahasia Dapur Nonna Italia Membuat Gnocchi Sempurna

Tepuk tangan kecil dan aroma tomat yang mendidih perlahan memenuhi udara dapur kapal pesiar Celebrity Ascent saat sebuah kelas memasak langsung dimulai di atas geladaknya. Steven Morea awalnya melangkah masuk ke dapur kapal itu dengan ekspektasi mengikuti kelas pembuatan pasta yang biasa saja, tetapi yang kemudian tersaji di hadapannya justru sebuah kelas master penuh tradisi kuliner Italia yang dipimpin langsung oleh seorang nonna asli. Sang nenek membimbing para peserta meracik gnocchi dari nol, menghasilkan sepiring pasta rumahan yang hangat sekaligus membongkar berbagai trik praktis untuk menaklukkan masakan Italia tanpa keribetan.

Momen pencerahan pertama sudah hadir bahkan sebelum adonan sempat tercampur di meja dapur berlapis baja tahan karat. Pernahkah kita berdiri kepanasan sambil mengupas kulit kentang yang menempel keras? Sang nonna membagikan trik sederhana bahwa kentang ternyata jauh lebih mudah dikupas selagi masih panas mengepul. Setelah kentang siap, tangan kita sendiri disebut sebagai alat dapur paling krusial karena menguleni adonan secara langsung jauh lebih efektif untuk meraba apakah adonan butuh tambahan tepung atau telur. Meskipun sebagian purist memilih tanpa telur, penggunaannya adalah tradisi yang ditemani aturan emas sederhana: taburan tepung yang royal agar adonan yang digulung panjang tidak lengket.

Proses membentuk bantal-bantal kecil adonan gnocchi ini pun menghadirkan kesenangan tersendiri di meja kerja kita. Menggunakan punggung garpu secara tradisional untuk menggulingkan adonan akan menciptakan gurat-gurat penting, atau kita cukup memakai ujung jari untuk menekan sedikit cekungan. Bukankah tujuan utamanya sederhana, yaitu memberi ruang bagi saus untuk meresap sempurna di setiap gigitan? Urusan memasaknya pun sama sekali bebas tebakan karena kita cukup memasukkan gnocchi ke dalam air mendidih dan mengawasinya. Begitu gnocchi mengapung ke permukaan air, saat itulah mereka siap diangkat tanpa perlu repot membelahnya atau cemas menatap jam.

Bagian pembuatan saus dalam kelas tersebut ternyata menyimpan banyak kejutan tentang cara kita memperlakukan rempah dan bumbu aromatik. Daun basil yang sering kali kita cemplungkan begitu saja ke dalam wajan panas rupanya membuat aroma segarnya menguap sia-sia. Sang instruktur membagikan aturan main yang mengubah segalanya: matikan api kompor terlebih dahulu sebelum memasukkan daun basil agar aromanya terjaga utuh. Ia juga mewajibkan kita menyobek basil dengan tangan atau pisau keramik alih-alih logam agar daunnya tidak berubah kecokelatan, serta menyarankan untuk memetik daun-daun muda di bagian pucuk ketimbang daun tua di bawah.

Satu aturan paling tak terduga yang diajarkan adalah pantangan klasik Italia seputar bumbu aromatik dasar. Menurut sang nonna, kita boleh memakai bawang putih atau bawang bombay, tetapi tidak pernah keduanya secara bersamaan karena rasa keduanya akan saling bertarung di dalam masakan. Saus tomat pedesaan itu akhirnya dibuat tanpa sebutir pun bawang putih, melainkan hanya mengandalkan tomat segar, bawang bombay, minyak zaitun, dan basil segar. Tomat dicelup sebentar ke air mendidih agar kulitnya mudah dikupas dengan tangan, lalu ditekan lembut di dalam mangkuk agar teksturnya tetap berbulir kasar saat dimasak bersama bawang dan minyak zaitun. Hidangan ini menjadi pengingat manis bahwa kelezatan terbaik sering kali lahir dari perhatian kita pada bahan-bahan sederhana.

sumber: delish.com

juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com

Foto: Delish

0 comments: