Plastik Tak Terlihat di Balik Piring Makan Kita

, , No Comments
Plastik Tak Terlihat di Balik Piring Makan Kita

Suara plastik pembungkus kue yang berkerincing saat kita mengupasnya atau dentingan gelas kertas sekali pakai di tempat sampah sudah begitu melekat dalam keseharian, sampai-sampai kita hampir tidak pernah berhenti sejenak untuk memikirkan ke mana perginya bahan-bahan itu. Mereka hadir begitu saja, membungkus camilan, menjaga minuman kita tetap tumpah, dan melebur dalam latar belakang hidup modern tanpa kita acuhkan.

Biasanya, saat kita membayangkan sampah plastik di alam, pikiran kita langsung melayang pada deburan ombak laut yang penuh dengan kemasan atau satwa liar yang kesulitan karena tumpukan sampah, alih-alih memikirkan reaksi kimia sunyi yang terjadi di dalam tubuh kita sendiri. Padahal, para peneliti di Texas A&M College of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences sedang serius mengamati satu material yang selalu kita temui setiap hari, yaitu polietilena. Membentuk sekitar sepertiga dari produksi plastik global, bahan ini adalah kerangka tak kasat mata di balik barang-barang harian seperti pembungkus makanan, wadah penyimpanan, hingga lapisan cangkir minuman.

Selama ini, polietilena dianggap aman karena para ahli dulunya mengira bahan tersebut bersifat lembam secara biologis, artinya ia dianggap hanya diam dengan tenang di dalam sistem tubuh kita tanpa memicu masalah apa pun. Namun, temuan baru dari Dr. Adi Joshi dan timnya justru membalikkan asumsi lama tersebut dan menunjukkan bahwa kita mungkin perlu memikirkannya ulang. Penelitian mereka mengungkapkan bahwa partikel-partikel plastik super kecil ini ternyata bisa mengganggu sistem pertahanan dan mekanisme perbaikan alami hati kita, bahkan membuka celah bagi munculnya penyakit perlemakan hati tanpa perlu adanya pemicu kesehatan lainnya.

Hal yang paling mencolok dari penemuan ini adalah bagaimana plastik tersebut bereaksi dengan apa yang kita santap di atas piring. Saat para peneliti menggabungkan paparan polietilena dengan pola makan yang sarat lemak, fruktosa, dan kolesterol—bayangkan saja menu harian ala barat yang penuh dengan burger lezat dan soda manis—tanda-tanda kerusakan hati terlihat jauh lebih parah. Bukankah selama ini kita selalu mengira bahwa kemasan makanan akan selalu terpisah rapi dari apa yang kita kunyah? Ternyata, polutan lingkungan dan kebiasaan makan yang kurang bijak bisa saling bekerja sama, memperkuat dampak buruk satu sama lain, dan memberi tekanan ekstra yang berat pada metabolisme tubuh kita.

Untuk memetakan bagaimana proses rumit ini terjadi, tim peneliti bekerja sama dengan para ilmuwan di University of Oklahoma menggunakan metode pemetaan canggih yang mampu melacak aktivitas genetik langsung ke sel-sel tertentu di dalam jaringan hati. Mereka mendapati bahwa mikroplastik tersebut mengacaukan protein seperti PPAR-alpha yang bertugas mengatur metabolisme lemak, sekaligus mengganggu gen-gen yang berkaitan dengan perbaikan jaringan seperti ANXA2. Sambil para peneliti terus menyelidiki apakah paparan ini bisa berujung pada kondisi yang lebih serius seperti fibrosis, mari kita terus mengobrolkan temuan-temuan menarik ini di meja makan kita berikutnya, agar kita selalu penasaran dan peduli pada apa yang benar-keluar masuk ke dalam tubuh kita.

sumber: sciencedaily.com/261008102718.htm

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: ScienceDaily Nutrition

0 comments: