Pilih Kuarsa atau Marmer untuk Dapur Kita?

, , No Comments
Pilih Kuarsa atau Marmer untuk Dapur Kita?

Bunyi debum berat talenan kayu yang menimpa permukaan meja dapur yang sejuk dan halus mengawali ritme pagi kita di dapur, mengingatkan kita betapa kerasnya permukaan dapur kita bekerja setiap harinya. Saat kita akhirnya memutuskan untuk berinvestasi pada meja dapur baru, kita biasanya langsung jatuh cinta pada pola yang cantik atau kilau permukaannya terlebih dahulu, sebelum akhirnya sadar bahwa daya tahanlah yang membuat dapur kita terus berfungsi dengan mulus tanpa drama. Tidak ada dari kita yang ingin melihat uang hasil kerja keras tergores, bernoda, atau kusam begitu saja hanya karena material pilihannya tidak sanggup mengimbangi riuhnya kehidupan nyata di rumah.

Untuk membantu kita memahami berbagai pilihan berat yang ada di luar sana, pakar desain Kerrie Kelly mengingatkan bahwa baik kuarsa maupun marmer sebenarnya sama-sama punya potensi untuk bertahan hingga puluhan tahun lamanya, asalkan dipasang dan dirawat dengan benar. Secara struktur, marmer punya keunggulan menarik karena ia adalah batu alam utuh yang solid, sehingga berpotensi bertahan lebih lama dibandingkan kuarsa rekayasa yang merupakan campuran batu alam dan resin. Tapi, bukankah cara kita merawat permukaan-permukaan ini secara telaten dalam keseharian yang membuat penentuan usia pakai pastinya menjadi sedikit rumit?

Perbedaan nyata di antara keduanya ternyata bermuara pada material mana yang bisa mempertahankan tampilan cantiknya dengan kerepotan paling sedikit seiring berjalannya waktu. Kuarsa rekayasa umumnya memegang mahkota sebagai juara minim perawatan karena sifatnya yang tidak berpori, yang artinya ia menawarkan ketahanan luar biasa terhadap noda dan performa yang konsisten tanpa perlu repot melakukan penyegelan rutin. Karena kuarsa juga secara alami lebih keras daripada marmer, ia jauh lebih tangguh menghadapi goresan sehari-hari, meski kita tetap harus waspada dan berhati-hati terhadap risiko kerusakan akibat panas.

Di sisi lain, marmer tentu saja memiliki pesona klasik yang tak lekang oleh waktu serta umur panjang yang luar biasa, namun ia menuntut perhatian ekstra sebagai balasannya. Karena sifat marmer yang berpori, ia jauh lebih rentan terhadap noda membandel, kusam akibat cairan asam seperti jeruk nipis dan cuka, serta goresan dari aktivitas harian di dapur. Menjadi batu yang tergolong lunak juga membuatnya lebih mudah pecah atau retak, yang berarti kita harus selalu menyediakan alas panci, talenan, dan pembersih khusus batu dalam jangkauan tangan.

Tentu saja, sebagian orang benar-benar memuja tampilan menua yang terbentuk secara alami pada marmer seiring bertambahnya noda dan goresan dari waktu ke waktu. Namun, kerusakan yang terlihat jelas beserta banderol harganya yang tinggi sering kali membuat orang justru lebih cepat menggantinya dibanding kuarsa, yang rata-rata bisa bertahan melampaui tiga puluh tahun sementara marmer berada di kisaran dua dekade. Kita tentu penasaran, di antara kedua permukaan cantik ini, mana yang lebih mencuri hati untuk mengisi dapur impian kita, dan bagaimana kita biasanya menyikapi hiruk-pikuk kesibukan di area persiapan makanan?

sumber: tastingtable.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

0 comments: