Pesona Anggur Keruh dan Kembalinya Teknik Kuno

, , No Comments
Pesona Anggur Keruh dan Kembalinya Teknik Kuno

Geoffrey Chaucer pernah berkata berabad-abad lalu bahwa tidak ada hal yang benar-benar baru di dunia ini, melainkan sekadar kebiasaan lama yang dikemas ulang untuk kita sambut dengan gegap gempita sebagai sebuah inovasi. Kita telah melihat siklus ini berulang pada anggur jingga yang eksotis, anggur dalam tong kayu, hingga tren mendinginkan anggur merah sebelum diteguk. Sekarang, giliran anggur keruh yang mencuri panggung utama. Marks and Spencer baru saja meluncurkan botol rosé organik berpendar warna buah persik dari Prancis selatan yang diberi nama Trouble, sebuah istilah Prancis yang secara harfiah berarti keruh.

Kehadiran Trouble menandai sejarah sebagai anggur tenang yang keruh pertama di rak supermarket Inggris, sebuah langkah yang terasa sangat wajar menyusul meroketnya popularitas pét-nat. Singkatan dari pétillant naturel ini adalah metode leluhur kuno untuk meracik anggur bersoda dengan cara membotolkan saripati buah sebelum proses fermentasinya benar-benar tuntas. Uniknya, botol-botol ini biasanya tidak melalui proses pembuangan endapan, sehingga sisa-sisa sel ragi mati dari proses fermentasi dibiarkan tetap meringkuk di dalam botol kaca. Siapa sangka, sisa ragi yang menari-nari di balik dinding kaca inilah yang menyumbangkan tampilan berkabut nan memesona, lengkap dengan karakter rasa segar dan sedikit asam yang begitu nikmat saat cuaca sedang hangat.

Selama ini, bayangan kita tentang anggur yang sempurna selalu lekat dengan cairan bening berkilau, hasil dari proses penyaringan dan penjernihan yang panjang. Penjernihan melibatkan penambahan zat pengikat protein dan tannin agar kotoran menggumpal dan mengendap, sementara penyaringan secara fisik menyaring partikel tersuspensi dari cairan. Bukankah menarik mengetahui bahwa kejernihan sebenarnya bisa tercapai hanya melalui proses pengendapan sederhana saja, bahkan anggur yang keruh pun bisa saja telah disaring sebelumnya, sementara anggur yang tampak jernih justru belum tentu melewatinya?

Lalu, apa sebenarnya rahasia di balik daya tarik botol-botol keruh yang kini begitu memikat hati kita di meja makan? Zainab Majerikova, kepala urusan anggur untuk kelompok restoran Ottolenghi, membisikkan sebuah alasan bahwa melewatkan proses penyaringan yang berat justru menghadirkan tekstur yang kaya, rasa buah yang bulat, dan kedalaman rasa yang luar biasa di lidah. Menurutnya, karakteristik seperti ini membuat tegukan demi tegukan terasa jauh lebih menggoda dan sangat pas dipadukan dengan hidangan yang kaya akan bumbu dan rempah yang kompleks.

Ketika kita membiarkan anggur berlama-lama bersentuhan dengan sisa ragi yang disebut lees ini, karakternya berubah menjadi lebih padat seperti makanan, menghadirkan bobot yang menyenangkan dan gigitan rasa yang renyah di langit-langit mulut. Untuk menikmati keajaiban rasa ini secara maksimal, Majerikova bahkan menyarankan kita untuk memutar atau menggoyang botolnya secara perlahan sebelum dibuka agar endapannya tercampur merata kembali ke dalam cairan. Entah kita sedang menuangkan rosé asal Prancis, chardonnay pét-nat dari Argentina, atau house red keruh ala Ottolenghi, gaya pembuatan anggur ini membawa kembali jiwa, kehangatan, dan keseruan masa lalu yang patut kita sediakan tempatnya di rak dapur kita.

sumber: theguardian.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Guardian Food

0 comments: