Misteri Gula Daging Merah dan Risiko Diabetes

, , No Comments
Misteri Gula Daging Merah dan Risiko Diabetes

Sebuah molekul gula alami bernama Neu5Gc yang tersembunyi di dalam daging sapi dan domba kini menjadi sorotan setelah dipaparkan dalam pertemuan European Association for the Study of Diabetes di Milan. Kita tentu akrab dengan aroma gurih sate domba yang mengepul di atas bara api atau kehangatan semur daging sapi berkuah pekat yang menemani hari hujan di meja makan bersama orang-orang tercinta. Namun, penelitian terbaru ini mengajak kita melongok lebih jeli ke balik kelezatan yang selama ini kita nikmati setiap hari.

Perjalanan gula kecil ini di dalam tubuh kita ternyata menyimpan kisah evolusi yang cukup unik karena jutaan tahun lalu manusia mengalami mutasi genetik yang membuat tubuh kita berhenti memproduksi Neu5Gc secara alami. Akibatnya, setiap kali kita melahap sepotong stik juicy atau irisan daging panggang yang lembut, molekul gula asing ini ikut masuk dan diam-diam menetap di dalam jaringan tubuh kita. Bukankah menarik bagaimana sistem kekebalan tubuh kita langsung mengenali si tamu tak diundang ini dan memicu reaksi perlawanan berupa peradangan tingkat rendah yang oleh para ahli disebut sebagai xenosialitis?

Untuk mengurai teka-teki mikroskopis ini, para peneliti bekerja keras menganalisis catatan pola makan dan data kesehatan dari hampir sembilan puluh ribu orang dewasa di Prancis yang berpartisipasi dalam studi NutriNet-Santé selama lebih dari tujuh tahun. Dengan menghitung secara cermat kadar Neu5Gc dalam berbagai jenis daging merah, daging babi, daging buruan, hingga produk susu, tim peneliti mengelompokkan para peserta berdasarkan perkiraan konsumsi harian mereka untuk melihat dampaknya pada tubuh dalam jangka panjang.

Hasil pengamatan tersebut memperlihatkan sebuah pola yang cukup mencolok di antara kelompok yang paling banyak menyerap gula dari daging ini, di mana mereka menghadapi risiko terkena diabetes tipe dua yang melonjak hingga enam puluh tiga persen lebih tinggi dibanding mereka yang paling sedikit mengonsumsinya. Angka yang mengejutkan ini tetap bertahan secara signifikan bahkan setelah para periset memperhitungkan berbagai gaya hidup seperti kebiasaan merokok, tingkat aktivitas fisik, kualitas makanan secara keseluruhan, hingga riwayat kesehatan yang ada.

Dr. Leopold Fezeu bersama rekan-rekannya di Universite Sorbonne Paris Nord menjelaskan bahwa respons peradangan kronis inilah yang tampaknya menjembatani konsumsi daging merah dengan diabetes tipe dua, terlepas dari seberapa banyak jumlah daging yang dikonsumsi maupun kadar lemak tubuh seseorang. Tidakkah temuan ini memberi kita sudut pandang baru yang lebih luas mengenai bagaimana tubuh kita berproses secara biologis dengan setiap suapan makanan favorit kita? Barangkali, saat kita merencanakan menu makan malam minggu ini, kita bisa lebih bijak meramu kecintaan kita pada hidangan daging tradisional dengan rasa ingin tahu yang sehat tentang apa yang terjadi di dalam tubuh kita.

sumber: sciencedaily.com/261017230031.htm

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: ScienceDaily Nutrition

0 comments: