Mentega Gurih dari Guncangan Kereta Jalur Oregon

, , No Comments
Mentega Gurih dari Guncangan Kereta Jalur Oregon

Suapan roti hangat berlapis mentega selalu berhasil menyelamatkan pagi kita yang muram, tapi bayangkan jika sepotong kecil mentega itu harus diperjuangkan lewat perjalanan darat berbulan-bulan yang mengocok perut. Para penjelajah di Jalur Oregon tempo dulu terpaksa meninggalkan kenyamanan rumah mereka—termasuk lemari pendingin dan ruang bawah tanah tempat menyimpan bahan makanan segar—demi menempuh perjalanan melelahkan selama empat hingga enam bulan melintasi bentang alam Amerika dengan kereta tertutup.

Dari catatan harian para pelancong pemberani yang tersisa, terselip cerita cerdik tentang cara mereka menyiasati rindu pada makanan rumahan. Pada tahun 1852, seorang musafir bernama Eliza McAuley menuliskan dalam jurnalnya bagaimana mereka menuangkan susu segar pagi hari ke dalam wadah timah yang digantungkan begitu saja di sisi gerobak. Saat roda kayu berderit dan gerobak terantuk-antuk melewati jalur tanah yang kasar dan berbatu, guncangan konstan itu ternyata melakukan pekerjaan berat untuk mereka. Hebatnya, menjelang siang atau malam hari, goyangan berirama tersebut secara alami mengubah cairan susu menjadi sepotong mentega segar dan segelas mentega cair yang menyegarkan.

Bayangkan betapa jeniusnya adaptasi cerdas ini di tengah kelelahan jalan kaki yang panjang, bukan? Di rumah-rumah abad kesembilan عشر, orang biasanya membuat mentega dengan tangan menggunakan wadah kayu berpencolek atau pengaduk engkol, yang tentu saja menguras tenaga. Memanfaatkan guncangan keras kereta kuda yang menyiksa tubuh justru menjadi cara brilian untuk menghasilkan sesuatu yang begitu menenangkan dan lezat. Bukankah luar biasa bagaimana ketidaknyamanan perjalanan bisa berbuah manis di atas piring makan?

Mentega hasil kocokan gerobak ini menjadi penyelamat lidah dari kebosanan menu harian yang itu-itu saja. Sebagian besar waktu makan mereka praktis hanya diisi roti dan daging bakon. Helen Carpenter, salah satu musafir, bahkan sempat menuliskan keluhan jenaka dalam buku harian bahwa satu-satunya variasi makanan mereka hanyalah mengubah roti dan bakon menjadi bakon dan roti. Mengoleskan sedikit mentega segar di atas sepotong roti, atau bahkan mencairkannya ke dalam secangkir kopi hangat, pasti terasa seperti kemewahan dunia yang tak ternilai harganya.

Tentu saja, tidak semua rombongan membawa sapi perah untuk menyuplai susu segar setiap hari, sehingga mengawetkan mentega untuk perjalanan panjang butuh trik ekstra. Sebuah buku panduan populer dari tahun 1859 menyarankan untuk merebus mentega sampai jernih seperti minyak lalu menyegelnya dalam kaleng timah. Ada pula kisah malang sebuah keluarga yang menyimpan mentega di dalam karung tepung untuk melindunginya dari sengatan panas matahari, yang berujung pada lelehnya mentega ke seluruh penjuru tepung. Tapi dasar jiwa pejuang yang tangguh, mereka sama sekali tidak panik dan langsung mengolah adonan tepung bermentega itu menjadi kue mangkuk pendek yang lezat.

Makanan selalu punya cara untuk bercerita tentang ketangguhan manusia, dan kisah mentega kocok kereta ini mengingatkan kita bahwa kreativitas sering kali mekar subur di tengah kesulitan. Lain kali saat kita menikmati seiris roti hangat dengan olesan mentega yang gurih, mungkin kita bisa sejenak mengenang para pelancong ulet itu beserta perjalanan gerobak mereka yang berlubang-lubang. Mengingat betapa praktisnya camilan perjalanan modern kita sekarang, kira-kira camilan mana yang bakal paling juara jika diadu dengan kecerdikan mereka di jalur masa lalu? Yuk, ceritakan pikiranmu sambil menikmati suapan makananmu berikutnya.

sumber: tastingtable.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: Tasting Table

0 comments: