
Suara gigitan pertama yang renyah dan cipratan air buah yang segar selalu berhasil menyapa saat kita meraih buah dari keranjang belanjaan. Di rak toko buah, dua nama besar hampir selalu berdampingan dan mencuri perhatian: Honeycrisp yang berukuran agak besar dengan kulit hijau kekuningan berhias rona merah muda, serta Fuji yang tampil lebih bulat dengan balutan warna merah merata. Keduanya memang lahir dari tangan manusia yang sengaja merancang buah agar sesuai dengan selera lidah kita, tetapi saat kita cermati lebih dalam, rasa dan karakternya ternyata jauh berbeda.
Kalau yang kita cari adalah rasa manis yang pekat di lidah, apel Fuji sering diandalkan sebagai salah satu juara manis di dunia. Tingkat keasamannya yang rendah membuat setiap gigitan terasa padat dan langsung memberikan sensasi manis yang mantap. Di sisi lain, Honeycrisp tidak kalah menarik dengan keseimbangan rasa manis dan sedikit asam yang membuatnya terasa jauh lebih hidup. Ada ledakan kerenyahan yang begitu segar setiap kali gigi kita menembus daging buahnya, memberikan sensasi yang sama sekali berbeda.
Di balik kerenyahan itu, cerita perjalanan kedua apel ini ternyata sangat unik dan melalui jalan yang panjang. Honeycrisp merupakan hasil riset puluhan tahun dari University of Minnesota yang dirilis pada tahun 1991, dirancang khusus untuk bertahan di musim dingin yang ekstrem dengan fokus utama pada kelezatan rasa. Karena sifatnya yang agak manja, rentan terhadap sengatan matahari, dan mudah memar, perawatannya membutuhkan kerja keras dari para petani. Biaya produksi yang tinggi ini membuat harganya di pasaran kerap membuat kantong kita terasa lebih ringan, hingga sebagian orang bahkan berseloroh menyebutnya moneycrisp.
Sebaliknya, cerita tentang Fuji membawa kita terbang jauh ribuan mil ke masa lalu, tepatnya di Jepang pada tahun 1939 di sebuah pusat penelitian hortikultura di kota Fujisaki. Para peneliti saat itu menyilangkan dua jenis apel Amerika untuk mencari kombinasi rasa manis, kandungan air yang melimpah, dan daya tahan penyimpanan yang luar biasa. Sempat hampir hilang karena Perang Dunia II, apel ini akhirnya resmi dinamai pada tahun 1962, mengambil inspirasi dari nama kota asalnya sekaligus Gunung Fuji yang ikonik.
Sifat fisik masing-masing buah juga menentukan bagaimana sebaiknya kita menikmatinya di dapur rumah. Daging buah Honeycrisp terkenal tidak mudah berubah kecokelatan, menjadikannya pilihan sempurna untuk piring keju yang cantik sepanjang pesta makan malam, selain tentu saja lezat langsung disantap atau diperas menjadi segelas jus segar. Sementara itu, Fuji dengan teksturnya yang padat dan rasa manis pekat tidak hanya enak dimakan begitu saja, tetapi juga sangat andal diolah dalam panggang-pangngangan tanpa menjadi lembek, serta manis menggoda dalam selai apel. Dari dua jagoan renyah ini, mana yang biasanya lebih dulu berpindah ke keranjang belanjaan kita minggu ini?
sumber: tastingtable.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Tasting Table
0 comments:
Post a Comment