
Dua kotak karton berminyak yang berjajar di atas meja dapur sering kali menyimpan kisah yang jauh lebih seru daripada sekadar urusan mengganjal perut. Sekilas pandang, ember merah khas KFC dan kotak oranye dari Popeyes tampak bagaikan anak kembar dari semesta makanan cepat saji yang siap menemani akhir pekan kita. Padahal, kalau kita teliti lebih jauh, kedua jagoan renyah ini melewati jalur perjalanan rasa yang sama sekali berbeda sebelum akhirnya mendarat di piring kita.
Kisah di balik gerai berlambang Kolonel Sanders bermula dari lembaran resep rahasia legendaris yang berisi sebelas bumbu dan rempah. Konon, tulisan tangan aslinya tersimpan sangat rapat di dalam brankas digital berdinding beton setebal dua kaki untuk menjaga keasliannya. Racikan gurih beraroma merica itu langsung dicampur ke dalam tepung kering, sehingga kelezatan utamanya menempel erat di bagian luar balutan kulit ayam yang berwarna keemasan.
Sebaliknya, kubu Popeyes memilih jalan yang membutuhkan sedikit kesabaran lewat proses rendaman marinasi bergaya Cajun selama minimal dua belas jam sebelum ayamnya menyentuh minyak panas. Bumbu rempah khas Louisiana yang berani itu meresap jauh ke dalam serat daging, bukan sekadar singgah dipermukaan kulit saja. Mau kita pilih varian klasik yang hangat atau versi pedas yang menggigit, sensasi rasanya benar-benar menembus sampai ke bagian tulang.
Perbedaan paling krusial justru terjadi saat potongan ayam bersentuhan langsung dengan minyak goreng di dapur masing-masing. Sang penemu KFC, Harland Sanders, sudah menemukan sejak tahun 1939 bahwa teknik memasak dengan mesin bertekanan bisa mengunci kelembapan daging dan matang hanya dalam waktu delapan hingga sembilan menit. Itulah alasan mengapa ayam orisinal mereka memiliki kulit tipis dan lembut, sementara kita harus beralih ke menu Extra Crispy jika mendambakan suara kriuk yang nyaring.
Di sisi lain, Popeyes sengaja melewatkan panci bertekanan tinggi itu dan lebih memilih merendam ayam dalam adonan basah lalu dibalur tepung sebelum digoreng selama dua belas menit pada suhu tertentu. Ada cerita menarik bahwa mereka masih menggunakan minyak padat dari lemak sapi, yang memberikan kedalaman rasa gurih pada kulitnya dan langsung dikenali para penggemar setianya. Jadi, di antara kenangan akrab bertabur merica ala KFC atau kerenyahan berbumbu tajam dari Popeyes, mana yang biasanya jadi pilihan utama kita saat singgah di jalur Drive-Thru?
sumber: tastingtable.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Tasting Table
0 comments:
Post a Comment