
Suara denting gelas dingin di meja makan pada Selasa malam tidak harus selalu dibayar mahal dengan kepala pening keesokan paginya, terutama sekarang karena bir pucat ala Inggris sedang mengalami revolusi rasa yang begitu menarik. Kita tentu ingat masa-masa ketika pilihan bir rendah alkohol terasa hambar seperti air cucian, namun segalanya telah bergeser jauh ke arah yang lebih menyenangkan. Sekarang, para pembuat bir berhasil meracik minuman dengan karakter hop yang kuat dan menyegarkan, tanpa membuat kita kehilangan fokus untuk melanjutkan produktivitas di sisa hari.
Kisah perubahan ini sebenarnya sudah dimulai sejak satu dekade lalu, ketika seorang penulis menemukan terobosan luar biasa dari The Kernel Brewery yaitu Table Beer yang kadar alkoholnya berada di kisaran tiga persen saja. Dulu, bir ringan ini langsung menjadi penyelamat bagi siapa saja yang harus menyeimbangkan kesibukan kerja dan kehidupan keluarga, tapi tetap mendambakan tegukan segar yang mantap di lidah. Menariknya lagi, kesetiaan pada rasa ini kini semakin diamini oleh banyak orang di luar sana. Evin O’Riordain, otak di balik pembuatan Table Beer, menceritakan bagaimana angka penjualan mereka terus merangkak naik hingga akhirnya mencapai titik balik yang manis, di mana bir ringan ini justru dinobatkan sebagai produk dengan jumlah produksi terbanyak.
Mencari botol-botol istimewa ini di rak supermarket juga semakin gampang, meskipun pilihan tanpa alkohol masih merajai lorong utama toko. Kita sekarang bisa dengan mudah menemukan deretan bir cerdas seperti IPA 2.3 persen dari Small Beer, Everyday Pale Ale 3.8 persen racikan Jiddler’s Tipple, Satellite 2.8 persen buatan Beavertown, hingga Hophead 3.4 persen milik Dark Star. Tapi, bagaimana sebenarnya para pembuat bir ini bisa menjaga kekayaan rasa dan tekstur tubuh bir tetap utuh saat kadar alkoholnya dipangkas begitu drastis? Bagaimana mereka mencegah bir ringan ini terasa encer dan mengecewakan saat mendarat di lidah?
Rahasianya ternyata terletak pada teknik pembuatan bir yang cerdas, khususnya metode yang disebut penumbukan bersuhu tinggi atau high-temperature mashing. Ketika biji gandum yang telah dihancurkan dicampur dengan air panas, pengaturan suhu yang cermat membuat mereka bisa menyisakan cukup banyak gula residu untuk memberikan tubuh bir ketebalan yang mengejutkan, sekaligus menghentikan ragi mengubah seluruhnya menjadi alkohol. Di The Kernel Brewery, mereka bahkan memilih melakukan fermentasi kedua langsung di dalam botol alih-alih memakai karbonasi buatan, yang kemudian menghasilkan lapisan kedalaman rasa yang luar biasa indah pada setiap tuangan. O’Riordain bahkan sempat melirik sejarah pembuatan bir Inggris dari abad kedelapan belas hingga kesembilan belas, dan menemukan satu keluarga utuh bir makan malam serta bir meja yang memang dirancang khusus untuk dinikmati bersama makanan, bukan sekadar diminum sendirian.
Karakter yang begitu ramah dengan berbagai hidangan inilah yang barangkali menjadi bagian paling menyenangkan dari seluruh gerakan kuliner ini. Bir-bir ringan tersebut berpasangan dengan sangat serasi bersama apa saja, mulai dari mattar paneer berempah hangat, mangkok donburi yang gurih kaya rasa, hingga taco ikan yang renyah segar. Bukankah menyenangkan mengetahui bahwa ini bukan sekadar pengganti rasa yang pas-pasan, melainkan bir sejati yang berdiri megah dengan segala keunggulannya, penuh dengan aroma jeruk yang cerah, sentuhan buah yang lembut, serta sisa rasa hop yang memikat? Lain kali saat kita merencanakan makan malam santai di rumah, mengapa tidak coba menarik kursi, membuka sebotol bir dingin dengan kadar alkohol ramah ini, dan menikmati kejutannya di lidah?
sumber: theguardian.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Guardian Food
0 comments:
Post a Comment