Gula dan Antibiotik: Kisah di Balik Usus Kita

, , No Comments
Gula dan Antibiotik: Kisah di Balik Usus Kita

Saat badan terasa tidak enak karena sakit, semangkuk camilan manis sering kali menjadi pelipur lara yang paling dicari untuk mengembalikan suasana hati. Mengambil sepotong kue atau menyesap minuman manis memang terasa begitu menghibur di tengah hari-hari yang melelahkan. Namun, siapa sangka kalau apa yang kita suapkan ke mulut saat sedang menjalani pengobatan antibiotik justru bisa membuat perut kita bekerja jauh lebih berat daripada yang kita bayangkan.

Di dalam perut kita, tersembunyi sebuah kota kecil yang dihuni oleh miliaran bakteri baik. Pasukan tak kasat mata ini bekerja tanpa kenal lelah setiap hari untuk membantu mencerna makanan, menjaga pertahanan tubuh kita agar tetap kuat, dan mengatur berbagai proses penting lainnya. Antibiotik memang penyelamat hidup saat kita jatuh sakit, tetapi obat ini kerap menyapu bersih kuman-kuman baik bersama kuman jahat, sehingga keragaman mikrobiota di dalam perut kita jadi menyusut drastis.

Para peneliti dari NYU Langone Health, City of Hope, dan Memorial Sloan Kettering pernah meneliti hubungan erat ini dengan mengamati 9.419 porsi makanan dari 173 pasien kanker di rumah sakit, lengkap dengan sampel biologis harian mereka. Dari pengamatan tersebut, terungkap fakta menarik: setiap tambahan 100 gram gula yang dikonsumsi dalam 48 jam sebelum pengobatan, terjadi penurunan tambahan sebesar 21 persen pada keragaman jenis bakteri baik di dalam tubuh.

Bayangkan ekosistem di dalam perut kita itu seperti sebuah kebun yang subur dan penuh sesak dengan berbagai tanaman indah yang secara alami mencegah rumput liar mengambil alih. Ketika kebun itu dibiarkan kosong karena banyak tanaman yang mati, tanah yang tersisa justru memberi kesempatan bagi gulma untuk tumbuh subur. Pola makan yang tinggi gula sederhana berpadu dengan antibiotik ternyata memicu lonjakan populasi bakteri bernama Enterococcus faecium, jenis kuman yang dikenal kerap memicu infeksi yang cukup sulit diatasi. Percobaan pada tikus dengan pemberian sukrosa memperlihatkan hasil serupa, di mana populasi bakteri tersebut melonjak drastis hanya dalam hitungan hari.

Lonjakan ini terjadi karena gula dari makanan kita bertindak layaknya bahan bakar bagi sisa-sisa bakteri bandel yang berhasil bertahan dari gempuran obat, membuat mereka berkembang biak dengan sangat cepat. Seperti yang disampaikan oleh Dr. Jonas Schluter dan rekan-rekannya, mengatur asupan makanan kita selama dan setelah masa pengobatan dengan mengerem kegemaran akan makanan manis bisa menjadi cara bijak untuk melindungi keseimbangan mikrobiotik yang rapuh ini. Jadi, lain kali saat kita bersiap menikmati makanan manis di tengah masa pemulihan, tidak ada salahnya sejenak mengingat para pekerja keras di dalam tubuh yang sedang berjuang menjaga kesehatan kita.

Pernahkah terlintas di benak kita bahwa setiap suapan sederhana di piring makan ternyata terhubung erat dengan ekosistem mungil yang menjaga tubuh kita tetap bugar? Menjaga kebaikan di dalam perut tentu sama pentingnya dengan merawat apa yang kita rasakan di lidah. Yuk, rawat terus kesehatan kita dan sampai jumpa di obrolan meja makan berikutnya!

sumber: sciencedaily.com/261007042059.htm

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: ScienceDaily Nutrition

0 comments: