Benarkah Minuman Diet Membantu Menurunkan Berat Badan?

, , No Comments
Benarkah Minuman Diet Membantu Menurunkan Berat Badan?

Suara desisan tajam saat kaleng aluminium dibuka pada siang hari yang terik selalu menjanjikan kesegaran berbuih yang akurat, meski tangan kita sering disergap rasa bersalah saat berusaha memangkas beberapa kilogram berat badan. Kita pasti sering mendengar bisik-bisik di meja makan tentang pemanis buatan yang konon bisa menipu tubuh, mengacaukan nafsu makan, atau diam-diam menggagalkan usaha terbaik kita. Bagaimana mungkin sesuatu yang terasa begitu manis bisa membawa nol kalori tanpa ada udang di balik batu? Namun, kita sepertinya bisa bernapas lega saat lain kali ingin menikmati sebotol kola diet di tengah hari.

Kabar baik ini datang dari tim peneliti di Universitas Liverpool yang baru saja merampungkan uji coba paling panjang dan teliti di jenisnya, khusus mengamati pemanis non-nutrisi atau yang biasa disebut NNS. Diterbitkan dalam British Journal of Nutrition, studi besar selama dua tahun ini mengikuti hampir lima ratus orang dewasa yang menghadapi kelebihan berat badan atau obesitas saat mereka menjalani program pengelolaan berat badan yang terstruktur. Sebagian peserta diminta meminum air putih, sementara yang lain diberi minuman diet komersial yang mengandung bahan-bahan seperti aspartam, sukralosa, dan acesulfame potassium. Dan tahukah kita apa yang mereka temukan di ujung pekan ke-104 itu?

Ternyata, minuman diet tersebut bekerja sama baiknya dengan air putih biasa dalam urusan menurunkan berat badan jangka panjang dan menjaga kilogram-kilogram itu agar tidak datang kembali. Dipimpin oleh Profesor Jo Harrold bersama Profesor Jason Halford dari Universitas Leeds, tim ini merancang uji coba untuk melihat apakah mengganti minuman bergula dengan pengganti rendah kalori akan mengganggu pengaturan nafsu makan atau memicu masalah metabolisme. Kabar ini tentu melegakan siapa saja yang mengandalkan soda diet untuk melewati rasa lesu pukul tiga sore, karena hasilnya menunjukkan sama sekali tidak ada tanda-tanda buruk tersebut. Jumlah pemanisnya tetap berada dalam batas aman panduan resmi Eropa, sehingga data ini memberi kejelasan klinis yang sangat kita butuhkan di tengah perdebatan global yang terus berjalan, terutama setelah panduan Organisasi Kesehatan Dunia yang menyarankan kehati-hatian belakangan ini.

Profesor Harrold pun menyoroti bagaimana temuan ini membalikkan kekhawatiran lama tentang pemanis yang memicu kenaikan berat badan saat diuji melalui penelitian jangka panjang yang ketat. Bagi siapa pun yang bekerja keras mengatur piring dan berat badan, memiliki alternatif tanpa kalori yang menyegarkan pengganti soda manis dan terbukti sejalan dengan air putih selama dua tahun penuh terasa seperti alat bantu yang sungguh berguna. Bukankah kita memang tidak butuh aturan hidrasi harian yang terasa seperti buku peraturan yang kaku? Kadang kala, sains memberi kita lampu hijau untuk menikmati gelembung desisnya tanpa perlu berpikir terlalu keras, dan itu adalah berita sedap yang bisa kita angkat bersama dalam gelas di jam makan kita berikutnya.

sumber: sciencedaily.com/261002080017.htm

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: ScienceDaily Nutrition

0 comments: