
Satu panci buah berkaramel yang mendidih lembut langsung dari dalam oven adalah definisi terbaik dari kenyamanan musim gugur yang bisa kita bawa ke meja makan. Koki asal London, Jackson Boxer, membagikan sebuah resep cemerlang yang merangkum semua keajaiban rasa manis dan sedikit pahit dari tarte tatin klasik, tapi dengan cara yang jauh lebih ramah untuk kita coba tanpa harus bergulat dengan adonan pastry yang rumit.
Bayangkan saja, semua kelezatan tart Prancis yang dicintai banyak orang itu hadir tanpa perlu direpotkan lapisan crust di atasnya. Boxer menjelaskan bahwa meskipun tatin tradisional adalah sebuah mahakarya mentega, gula, apel, dan pastry, butuh latihan luar biasa untuk mendapatkan karamel yang pas saat semuanya tersembunyi di balik selimut adonan. Dengan menyingkirkan pastry, kita bisa fokus sepenuhnya pada keajaiban pertemuan antara buah, mentega, dan gula yang melebur jadi satu.
Rahasia terbesar agar trik ini berhasil terletak pada satu langkah persiapan sederhana yang menjaga buah agar tidak berubah menjadi bubur yang lembek. Kita diminta untuk mengupas, memotong menjadi empat bagian, dan membuang bagian tengah dari enam buah apel keras—pilihannya jatuh pada jenis Braeburn atau Discovery—lalu membiarkannya terbuka di atas nampan dalam kulkas selama dua jam agar permukaannya mengering. Kalau kita sedang terburu-buru, ada jalan pintas yang sama cerdasnya yaitu mengeringkannya dalam oven bersuhu rendah di angka delapan puluh derajat Celsius selama tiga puluh menit saja. Bukankah trik kecil ini sangat jenius untuk membantu apel mempertahankan bentuk aslinya sekaligus memastikan karamelisasi gula berjalan sempurna?
Begitu apel selesai dikeringkan, saatnya kita menekan seratus gram mentega tawar yang sudah lunak di dasar wajan anti lengket tahan panas, menaburkan seratus gram gula pasir secara merata di atasnya, lalu menyusun potongan apel dengan rapi menghadap ke atas. Wajan ini kemudian kita letakkan di atas api sedang selama lima hingga sepuluh menit untuk melelehkan mentega dan mengaramelkan gula, sambil sesekali menggoyang wajan dengan lembut sampai cairannya berubah warna menjadi cokelat karamel gelap yang cantik memukau. Setelah itu, semuanya tinggal kita panggang dalam oven panas bersuhu dua ratus sepuluh derajat Celsius selama tiga puluh menit hingga mendidih dan berwarna kecokelatan yang menggugah selera.
Betapa menyenangkan membayangkan menyendok sajian hangat ini ke dalam mangkuk saji setelah membiarkannya dingin selama sepuluh menit saja, bukan? Boxer menyarankan kita untuk memadukan saus toffee yang hangat dengan sentuhan keasaman ringan serta buah yang empuk ini bersama sesendok penuh soured cream yang dingin untuk menyeimbangkan rasa manisnya. Tak lupa, taburan bubuk kayu manis dan seratus gram kenari panggang yang renyah siap melengkapi setiap suapannya, menjadikannya suguhan penutup paling pas setelah kita berjalan-jalan di luar pada malam yang dingin.
Entah kita memilih untuk membuatnya di dapur rumah atau—khusus bagi yang berjiwa petualang—memasaknya di atas api unggun di luar ruangan di mana aroma asap kayu memberikan dimensi rasa ekstra yang luar biasa, memiliki resep yang merayakan hasil bumi terbaik di musim ini sungguh sebuah berkah tersendiri. Bukankah asyik sekali menghadirkan kelezatan tanpa pastry ini di tengah jamuan hangat bersama orang terdekat kita berikutnya?
sumber: theguardian.com
juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com
Foto: Guardian Food
0 comments:
Post a Comment