
Kita semua pasti setuju, pisang adalah penyelamat terbaik di dapur kita. Siapa yang tidak suka tekstur lembut dengan rasa manis alami yang terbungkus kulit kuning cerah? Pisang selalu jadi camilan praktis saat pagi hari yang sibuk atau pengganjal perut yang pas di sore hari. Tapi, jujur saja, ada satu hal yang sering bikin kita menghela napas panjang: pisang itu seperti punya rencana sendiri. Baru saja dibawa pulang dari pasar dalam kondisi kuning mengkilap dan kokoh, eh, beberapa hari kemudian sudah muncul bintik-bintik cokelat, lalu teksturnya berubah jadi lembek dan kurang menggugah selera.
Rasanya sayang sekali, bukan, melihat buah yang kita beli dengan semangat justru berakhir di tempat sampah? Padahal, kita sudah membayangkan mangkuk buah di meja makan terlihat cantik. Nah, ada satu trik sederhana yang saya temukan, yang mungkin bisa jadi solusi untuk masalah ini. Ini bukan soal ilmu sihir, melainkan cuma butuh waktu sekitar lima belas detik saja. Kuncinya ternyata ada pada bagian tangkai pisang yang sering kita abaikan begitu saja.
Mari kita bahas sedikit soal sains di baliknya, karena ternyata cukup menarik. Pisang secara alami mengeluarkan gas yang disebut etilen selama proses pematangan. Gas inilah si biang kerok yang mempercepat perubahan dari buah yang segar dan kenyal menjadi terlalu matang atau mushy. Triknya? Kita cukup membungkus bagian pangkal atau mahkota tangkai pisang dengan rapat menggunakan plastik pembungkus makanan atau sedikit aluminium foil. Dengan cara ini, pelepasan gas etilen bisa ditekan, sehingga proses pematangan melambat. Hasilnya? Pisang kesayangan kita bisa bertahan lebih lama dalam kondisi prima.
Saking populernya trik ini, sekarang bahkan ada aksesori lucu berbentuk penutup silikon yang disebut Nana Hats. Bentuknya yang menggemaskan seperti topi kecil membuat meja dapur kita terlihat lebih berwarna sekaligus berfungsi menahan gas etilen tadi. Tapi tenang saja, mau pakai aluminium foil sisa atau penutup silikon yang dekoratif, fungsinya tetap sama. Yang penting adalah bagaimana kita mengendalikan 'pesta' pematangan pisang tersebut agar tidak berlangsung terlalu cepat.
Selain cara membungkusnya, lokasi penyimpanan juga sangat menentukan. Idealnya, simpan pisang di suhu ruang, jauh dari paparan sinar matahari langsung atau panas kompor. Satu tips tambahan untuk kita yang suka menata dapur: pisahkan pisang dari apel, alpukat, atau tomat. Buah-buah itu juga merupakan produsen gas etilen. Kalau mereka dikumpulkan di satu tempat, itu sama saja dengan mengundang pesta pematangan yang tidak kita inginkan. Jadi, lain kali saat kita membawa pulang sisir pisang segar, jangan lupa luangkan waktu lima belas detik untuk membungkus tangkainya. Kebiasaan kecil ini benar-benar membawa perubahan besar untuk mangkuk buah kita, bukan?
sumber: food.detik.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: detikFood
0 comments:
Post a Comment