
Dua puluh empat sen adalah selisih harga yang kita pegang saat menimbang antara Häagen-Dazs dan Blue Bell di depan lemari pendingin supermarket, sekadar uang kembalian receh di dalam dompet yang sering diabaikan demi memanjakan diri setelah hari yang panjang. Perbedaan sekecil itu justru menggelitik rasa penasaran kita; sebenarnya apa sih yang sedang kita bayar saat memasukkan koin-koin tambahan itu ke keranjang belanja?
Untuk memahami selisih harga tersebut, kita perlu sedikit menengok ke belakang dan melihat bagaimana dua jenama dengan kepribadian sangat berbeda ini memulai perjalanan mereka. Häagen-Dazs lahir di New York City pada tahun 1960-an, diciptakan oleh seorang imigran asal Polandia yang berimajinasi meracik es krim dengan kandungan lemak lebih padat dan jauh lebih sedikit udara dibanding standar saat itu. Sementara itu, Blue Bell memiliki akar sejarah yang membentang jauh ke tahun 1907 di Brenham, Texas, di mana mereka awalnya mengawali usaha dengan mengaduk mentega, sebelum akhirnya beralih membuat es krim pada akhir tahun lima puluhan dan perlahan tumbuh menjadi favorit banyak orang di puluhan negara bagian.
Ketika kita membalik wadah es krim tersebut untuk membaca daftar bahan di baliknya, ceritanya menjadi jauh lebih hidup dan memikat. Häagen-Dazs memilih jalur yang sederhana namun mewah, mengandalkan bahan-bahan murni seperti krim, susu skim, gula tebu, kuning telur, dan biji vanila Bourbon asli dari Madagaskar yang harum. Sebaliknya, jika kita memeriksa varian vanila buatan Blue Bell, kita akan menjumpai susu, krim, gula, dan susu skim yang berdampingan dengan sirup jagung fruktosa tinggi, zat pengstabil, pewarna, serta perisa vanila umum. Pola yang sama ternyata juga muncul pada rasa-rasa lainnya. Saat wadah pistachio Häagen-Dazs terbukti berisi kacang pistachio asli beserta pastanya, varian pistachio almond ala Blue Bell justru lebih mengandalkan kacang almond, perisa tambahan, serta pewarna buatan seperti pewarna kuning dan biru.
Di luar urusan daftar bahan, ada sebuah konsep industri yang sangat menarik bernama overrun atau tingkat pengembangan es krim, yang sebenarnya hanyalah istilah keren untuk menggambarkan seberapa banyak udara yang dimasukkan ke dalam adonan es krim saat diaduk. Ilmu pengetahuan memberi tahu kita bahwa overrun adalah faktor terbesar yang membedakan satu sendok es krim yang padat serta lembut di mulut dengan es krim yang terasa ringan dan berongga. Karena tingkat overrun yang rendah mampu memberikan sensasi tekstur yang begitu kaya dan mewah di lidah, merek-merek kelas atas sengaja memilih untuk memprioritaskan kepadatan isi ketimbang volume kemasan semata. Häagen-Dazs bahkan secara terbuka menyatakan di situs web mereka bahwa mereka menolak mengisi produk mereka dengan banyak udara, sementara tingkat overrun yang lebih tinggi memungkinkan merek lain menjaga harga tetap ramah di kantong karena kita pada dasarnya sedang membeli lebih banyak udara dan sedikit produk di dalam setiap wadahnya.
Pada akhirnya, memilih antara wadah bertutup emas atau bertutup merah marun tentu kembali pada selera pribadi kita masing-masing, anggaran belanja bulanan, serta seberapa besar kita menghargai bahan-bahan asli seperti biji vanila sungguhan ketimbang perisa tiruan. Kekuatan jenama tentu memegang peranan, tetapi mengetahui apa saja yang masuk ke dalam mesin pengaduk membuat selisih harga dua puluh empat sen itu terasa begitu masuk akal. Lain kali saat kita terpaku menatap jajaran hidangan penutup beku di toko, kita bisa melangkah mengambil keputusan manis dengan berbekal semua fakta lezat ini. Kalau di lemari pembeku rumahmu, wadah es krim mana nih yang biasanya keluar sebagai pemenang?
sumber: tastingtable.com
juga dalam Bahasa Inggris: rika.wordpress.com
Foto: Tasting Table
0 comments:
Post a Comment