Every woman deserves to be loved exclusively

Wednesday, April 04, 2001

Kemarin siang, gue makan siang di gado-gado Kertanegara, setelah jemput yayang di Jakarta Stock Exchange Building. Kebetulan juga kita dapat parkir yang enak pas di bawah pohon rindang. Jadilah kita pesan dua porsi gado-gado dan teh botol. Sewaktu menunggu pesanan, tiba-tiba kita ditawari oleh cowok berusia sekitar awal 20-an. "Semir, Oom," tawarnya. Karena merasa males nyemir sepatu, dan kebetulan sepatu cowok gue memang belum tersentuh semir lagi, serta merta dia menyanggupi.

Kita masih ngobrol terus, sambil nunggu gado-gado datang. Sementara itu si tukang semir sepatu yang sedang bekerja menyemir sempat masuk juga dalam perbincangan kita siang itu. Eh, gado-gadonya udah datang. Ya sambil makan dan ngobrol dong. Belum abis gado-gado, sepatunya udah kelar. Hmm… rapi juga kok kerjaannya. Herannya, anak itu malah ninggalin kita setelah menyerahkan sepatu yang sudah tersemir tadi. "Lho kok malah cabut sih?’ tanya cowok gue. Sambil lalu gue jawab, "Kan dia lagi cari pelanggan lain?"

Ternyata si penyemir sepatu tadi masih jadi salah satu topik pembicaraan. Menilik bajunya yang agak dekil, kayaknya dia enggak mandi beberapa hari. Kami pun mafhum, siapa tahu dia anak jalanan, siapa tahu dia homeless, dan banyak perkiraan lainnya. Gue masih takjub dengan anak ini. Soalnya tiap kali dia menawarkan jasanya, dan orang-orang menolak, dia cuma nyengir. lalu dia kembali ke depan pintu rumah, yang sepertinya dijadikan markasnya sambil menunggu mobil yang datang. Setelah ditolak, dia akan balik ke tempat semula. Lalu dia seolah merenung, matanya agak kosong dan menerawang jauh. Bener juga gue pikir, cowok gue sempat mengomentari pekerjaannya itu. "Untuk anak sebesar dia, harusnya dia sudah alih profesi. Pekerjaan menyemir sepatu terlalu mudah buat dia. Seharusnya dia mungkin sudah jadi kernet, atau tukang parkir. Minimal jadi pak ogah, lah," katanya.

Akhirnya, kita sudah tandaskan gado-gado yang makin ramai pengunjungnya itu. Mungkin udah pada selesai Jumat-an, kali, ya? Sementara itu, mata gue masih menatap si penyemir sepatu tadi. Terlihat dia berdiri dan memandangi mobil-mobil yang keluar masuk. Gue lambaikan tangan untuk memberikan uang semir sepatu tadi. Eh, dia malah memanggil si joki gado-gado. SI penyemir sepatu tadi malah kembali memandangi jalan. Mau dibayar enggak, sih? Kok santai amat, ya? Joki gado-gado yang memanggil anak tadi. Baru dia beranjak ke arah mobil kita dan langsng menuju tempat cowok gue duduk. Gue sendiri masih sibuk membayar makanan yang sudah kami makan. Gue cuma tahu kalau cowok gue lagi menyiapkan dua lembar uang ribuan, karena sempat bertanya-tanya kira-kira berapa harga menyemir sepatu. Barulah gue meoleh ke samping kiri, ke arah cowok gue, karena mendengar kata-kata, "Kebanyakan, Oom. Seribu aja," kata si penyemir. Gue juga sempat melihat cowok gue insist memberikan dua lembar ribuan, tapi anak itu cuma menggeleng ramah. Kata-kata si penyemir sepatu tadi seakan tidak bisa masuk akal gue! Di belantara Jakarta yang kata orang amat kejam ini, untuk bisa menyelesaikan masalah harus pakai uang, anak ini tidak tergoda untuk mengambil uang yang bukan haknya.

Kata-kata tadi sedemikian ‘keras’nya menghantam dinding perasaan gue. Gue merasa diinggatkan olehNya. Betapa sering kita tidak jujur, dia masih bisa memberi dari kekurangannya.

Ya, paling enggak ini bisa buat refleksi buat gue dan yayang. Betapa kecilnya kita nilai ukhrowinya ketimbang penyemir sepatu yang kita yang katanya lebih maju, lebih modern, pintar, bla-bla-bla…
Allah mengirim dia, agar kita bisa belajar dari orang lain.

Jl. Kertanegara, Jumat siang, 21 Juli 2000
(satu lagi tentang kejujuran)

1 comments:

cdgnfg said...

If I were gold für wow a boy again,world of warcraft gold I would practice perseverance wow gold cheap more often,maple meso and never give up a thing because it was or inconvenient. If we want light,Maple Story Account we must conquer darkness. Perseverance can sometimes equal genius in its results.wow gold kaufen “There are only two creatures,”cheap maplestory mesos syas a proverb, “who can surmount the pyramids—the eagle and the snail.” If I were a boy again,wow geld I would school myself into a habit of attention;maple mesos I would let nothing come between me and the subject in hand.maple story power leveling I would remember that a good skater never tries to skate in two directions at once.billig wow gold The habit of attention becomes part of our life, if we begain early enough. I often hear grown up people say maple story items“ I could not fix my attention on the sermon or book, although I wished to do so” , wow powerlevelingand the reason is, the habit was not formed in youth. If I were to live my life over again,wow leveling I would pay more attention to the cultivation of the memory. I would strengthen that faculty by every possible means,wow power leveling and on every possible occasion.maplestory powerleveling It takes a little hard work at first

Latest Comments

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Flickr

Total Pageviews

Powered by Blogger.

Translate

www.CodeNirvana.in

About Me

Contact Form

Name

Email *

Message *

Popular Posts