| Sunday, June 14, 2009 |
| Sedap Sekejap Edisi 11/I-Oktober 2000 |
| P E R N I K C A N T I K Ragam Nampan SERBA -INDAH
Kehadiran nampan sering luput dari perhatian. Toh, fungsinya cuma pengantar gelas atau sekadar makanan kecil. Jadi, kenapa harus cantik dan indah? Kita lupa penampilan pertama haruslah mendatangkan kesan. Karena itulah nampan harus indah supaya makanan yang kita sajikan pun tampak menggiurkan. Nampan sebaiknya dipilih dari bahan yang kuat, tak mudah pecah, namun tetap kelihatan menarik. Selain dipergunakan untuk menyuguhkan minuman atau makanan untuk tamu, nampan bisa dijadikan alas antaran untuk kerabat. Fungsi lainnya? Ya, sebagai wadah buah atau tempat makanan. Nah, ragam nampan yang indah-indah ini bisa Anda pilih salah satu. Nampan Koleksi Galeri Keris Menteng Lantai 4 & Sedap Sekejap- sdp@Rika, foto-foto: Rynol |
posted by Rika @ 1:13 PM  |
|
|
|
|
| Sedap Sekejap Edisi 11/I-Oktober 2000 |
| Berkunjung Ke Pembuat Sosis Badranaya Bertahan 82 Tahun Walau Sering Dapat Hantaman Jakarta betul-betul menawarkan aneka hidangan. Tak ketinggalan juga es krimnya. Dari es krim dengan resep Belanda, Italia, sampai resep luar yang sudah dimodifikasi agar sesuai dengan selera Indonesia. Bentuknya pun makin variatif, begitu juga jenisnya. Nah, mari kita kunjungi kedai demi kedai. Puluhan tahun yang lalu kala Orang Indonesia masih sulit mendapatkan makanan yang namanya sosis, sebetulnya sudah ada perusahaan sosis lokal yang berlokasi di Bandung. Padahal saat itu sosis yang umumnya beredar adalah produk impor dalam kemasan kaleng. Toh, munculnya perusahaan sosis itu bisa diterima masyarakat terutama masyarakat Belanda di Indonesia. Buktinya usianya bisa bertahan panjang bahkan sampai sekarang. Soal usia memang luar biasa. Perusahaan sosis yang kini dikenal dengan nama Badranaya ini sudah berusia 82 tahun! Mungkin ia termasuk satu dari sedikit perusahaan makanan yang berumur begitu panjang. Tentu melewati usia panjang seperti ini tidak mudah. Hantaman demi hantaman harus dihadapi Badranaya. Terutama tentu serangan kompetitor yang datang dengan alat yang lebih canggih, promosi menggebu, dan jenis sosis yang jauh lebih variatif. Perusahaan sosis Badranaya didirikan tahun 1918 oleh tukang daging bangsa Belanda. Saat itu tentu namanya bukan Badranaya. Tujuannya tak lain untuk memanfaatkan daging sisa yang tidak terjual. Mungkin karena saat itu susah mendapatkan makanan ini, sosis buatan Lambert Schroeder langsung diterima kehadirannya. Tetapi tahun 1947 Lambert terpaksa menyerahkan usahanya kepada Pemda Bandung sesuai dengan aturan pemerintah kita yang menasionalisasikan perusahaan asing. Dipegang oleh pemda beberapa tahun, akhirnya Pemda memberi keleluasaan pada P.T. Tirta Ratna untuk memilikinya. Sejak itu perjalanan Badranaya tidak mulus, lo. Apalagi setelah krisis moneter. "Wah, kami betul-betul terhantam. Soalnya sebagian besar bahan dan bumbu masih impor," kata Ir. Sugeng, salah seorang pemilik perusahaan ini. Namun melalui perjuangan keras, toh, sejak 1999, Badranaya kembali menggeliat. Bahkan sejak 11 Mei 2000 sudah menjadi P.T. sendiri dengan nama P.T. Badranaya Putra, lepas dari holding company-nya, P.T. Tirta Ratna. KEMBALI KE BAHAN LOKAL Sejalan dengan itu, Badranaya mulai melancarkan strategi lain. Salah satunya dengan menciptakan "pandatang baru" yakni lidah asap. Ternyata sang "pendatang baru" banyak pula penggemarnya. Bahkan kini jadi selling point, mengalahkan produk Badranaya sebelumnya yakni sosis ayam dan sosis sapi. Produk lain yang menjadi ciri khas Badranaya adalah sosis telur. "Sebenarnya itu produk yang gampang, tak terlalu rumit pembuatannya. Karena hanya berupa adonan telur kuning atau telur putih saja yang dimasukkan dalam selongsong sosis buatan Australia. Pembelinya kebanyakkan katering-katering. Biasanya dipakai untuk pelengkap sup," ujar pengusaha yang memiliki pasokan khusus untuk bahan-bahan sosisnya ini. Selain sosis telur masih ada satu lagi produk unggulan, yaitu, sosis ayam/ sapi kulit usus kambing. Sosis ayam atau sapi yang lainnya diselongsongi plastik. "Rasanya lebih gurih, lo. Penggemarnya kebanyakkan orang-orang yang sudah sepuh," ujarnya setengah berpromosi. Salah satu kiat yang membuat Badranaya mampu bertahan di zaman krismon adalah menerapkan kembali bahan-bahan lokal. Beberapa bumbu-bumbu impor tidak dipergunakan lagi. "Justru dengan adanya bumbu lokal, malah makin diterima oleh pembeli. Maklum, masih lidah daerah. Terlihat ada peningkatan konsumen setelah kami kembali ke rempah-rempah negeri sendiri. Daging pun kita kembali ke lokal," papar Sugeng. DISUNTIK BUMBU Meski bahan baku berasal dari produk lokal, toh, kualitas tetap diperhatikan betul. Di situlah, menurut Sugeng nilai tambahnya. "Kami tidak menggunakan flavour buatan, baik untuk sosis maupun untuk lidah," janji Sugeng. Untuk lidah, katanya, bau asapnya betul-betul karena lidah memang diasapi dalam jangka waktu tertentu. Bumbunya pun terasa sampai ke dalam lidah. "Itu karena sebelum diproses, lidah disuntikkan bumbu lebih dahulu. Hingga bumbu betul-betul sampai di dalam. Salah satu bumbunya adalah sari daun salam. Setelah diberi bumbu, lidah tersebut direndam dalam air garam selama 21 hari. Makanya, untuk beli lidah sapi dalam jumlah besar harus memesan jauh-jauh hari," terang Sugeng yang membawahi 28 karyawan ini. Untuk pembuatan sosis yang diproduksi tiap hari ini, kurang lebih menghabiskan bahan baku daging sebanyak 80 kilogram daging tidak berlemak. "Soal lemak memang kami hati-hati, harus di bawah 30 persen. Kalau kebanyakan akan membuat sosis jadi lembek," jelasnya. Agar mendapat daging yang dikehendaki Sugeng punya pemasok khusus yang memelihara sapi tertentu untuk digemukkan di daerah Garut, Jawa Barat. Daging ini kemudian digiling dan diberi bumbu-bumbu lalu dimasukkan dalam selongsong plastik. Pengikatan dilakukan dengan mesin, tetapi, "Saat ini terpaksa kita kerjakan dengan tangan. Mesinnya sedang rusak, dan karena buatan Jerman, kami harus menunggu datangnya teknisi dari sana," kata Sugeng. Dari 80 kilogram daging tadi bisa menghasilkan 100 kilogram sosis. Jumlah ini ternyata tidak selalu cukup. Kadang mereka juga harus kelabakan mencari bahan baku karena kedatangan banyak pesanan. "Pesanan memang selalu datang. Kalau beberapa tahun kami agak jatuh, bukan karena tidak bisa bersaiang dari soal rasa, lo. Tetapi ada salah satu pembuat sosis yang banting harga habis-habisan. Itu terjadi di tahun 1998. Mereka bisa membuat harga yang murah sekali. Wah, terus terang saja kita keteteran," papar Sugeng. Di tahun 90-an, imbuh Sugeng, memang sempat terjadi bom sosis. Semua orang membuat sosis, sampai ke penjual daging di pasar juga ikut-ikutan membuat sosis. "Sebab saat itu bahan-bahan impor harganya masih murah sekali. Tapi semuanya tidak berlangsung lama. Menurut saya hanya pabrik yang memiliki nama dan modal kuat saja yang bisa bertahan." Namun, sekarang, perusahaan yang dulu banting harga itu juga tidak bisa menjual sosis dengan harga semurah itu. Kini para pelanggan yang dulu meninggalkan Badranaya untuk beralih ke produk lain, sudah kembali lagi. "Soalnya selama ini, kita hanya satu kali melakukan penyesuaian harga. Kalau sekarang dolar naik, kita tidak kelabakan lagi. Karena harganya sudah dipatok dengan rate dolar yang sudah kita tentukan pada saat menaikkan harga. Asal jangan sampai Rp. 15.000 lagi. Kalau rupiah seturun itu, ya, Saya angkat tangan, deh," ujar bapak 2 putra ini sambil terkekeh. Saat ini sebagian besar Sosis Badranaya dipasarkan di kota Bandung saja. Selain melayani pembeli sosis dan daging di bagian belakang supermarket Hero di Jl. Aceh, Badranaya juga melayani pembelian layan antar. "Minimal pembelian di atas 2 kg. Tapi untuk pelanggan-pelanggan khusus, biasanya katering, biarpun hanya beli 1 kg, kalau minta diantarkan, kami siap mengantar," terangnya kembali. Untuk sosis sapi, per kilogram dijual Rp. 28 ribu dan Rp. 26 ribu untuk sosis sapi usus kambing. Sosis ayamnya dijual Rp 28 - Rp.30 ribu per kilogram. Sedangkan lidah asap harganya Rp. 47.500 tiap kilogramnya. Masih ada lagi produk yang ditawarkan Badranaya yakni daging burger yang dijual dengan harga Rp 28 ribu per kilogramnya.sdp@Rika Eridani, foto-foto: Rynol Sarmond |
posted by Rika @ 1:11 PM  |
|
|
|
|
| Sedap Sekejap Edisi 3/II-Maret 2001 |
| Frieda Ismartono Mengajar Gumpaste Sampai Di Luar Negeri Sehari-hari ia berhadapan dengan puluhan murid di kursus masaknya, Dian. Banyak masakan atau kue yang sudah ia ajarkan pada para murid. Tetapi Ny. Frieda Ismartono (53) paling senang mengajar menghias kue. "Saya suka ketrampilan yang berhubungan dengan art." katanya. Alasan itu pula yang kemudian membuatnya meninggalkan pekerjaannya di perusahaan obat beberapa puluh tahun yang lalu. Keterampilan menghias kue ini pun diakui para pakar kue di luar negeri hingga tiap tahun ia diundang ke Amerika untuk mengajar membuat gumpaste, salah satu jenis hiasan kue. Anda sarjana di bidang farmasi, kok, tiba-tiba beralih menjadi guru masak?
Aneh memang. Dibilang tidak suka, ya, kok, saya dulu bisa bertahan di Kimia Farma sampai 7 tahun. Pekerjaannya, sih, saya suka soalnya sebagai ahli farmasi, pekerjaan saya, kan ada proses campur-mencampur, seperti memasak atau membuat kue. Tetapi lama-lama saya jenuh juga soalnya tidak bergaul dengan orang banyak. Satu-satunya yang saya hadapi, ya, cuma botol-botol. Karena itu saya memutuskan beralih ke bidang masak. Kok, bidang masak yang Anda pilih? Karena menurut saya masak ada keterampilan artnya. Lagi pula sejak dulu saya memang sudah senang masak, terutama hias-menghias. Keterampilan menghias makanan sudah saya kuasai sejak umur 10 tahun, lo. Dulu nenek saya sangat hobi bikin pastel tutup. Setiap ada yang ulang tahun ia selalu membuat pastel tutup. Nah, sayalah yang kebagian tugas membuat hiasannya. Di atas pastel itu saya bikinkan bunga atau burung. Selain berbekal keterampilan, apakah Anda belajar memasak, bikin kue atau menghias kue secara formal? Iya, dong. Saya belajar di mana-mana. Mulai dari Hongkong, Bangkok, Filipina, Australia, sampai ke Amerika. Saya mengambil paket-paket yang cukup panjang di negeri orang. Untuk menghias kue, misalnya, saya belajar di Iduna, Surabaya. Ini kursus menghias kue yang paling terkenal di Surabaya. Untuk memperdalamnya saya belajar lagi bikin gumpaste (hiasan kue yang dibuat dari gula, glatine, air, dan tapioka yang kemudian dibuat bermacam-macam bentuk lalu dikeringkan) di Wilton, Amerika tahun 1977, juga di Australia dan Philipina tahun 1981. Dan sekarang ilmu itu Anda bagikan dalam kursus Anda? Betul. Sehari saya mengajar dua kali. Pagi untuk masakan atau kue, sore untuk menghias kue. Banyakkah murid Ibu? Jumlah murid memang selalu saya batasi hingga 20 orang. Tiap hari murid yang datang antara 15 - 20 orang. Berapa mereka harus membayar? Tarif kursus amat bergantung pada faktor kesulitan masakan atau kue yang diajarkan. Tapi tarif saya sama sekali tidak mahal, kok. Ya, sekitar Rp.50 - 60 ribu. Untuk menghias kue saya sudah menciptakan 300 murid, lo. Tujuh puluh lima persen di ataranya sudah berhasil mengikuti ujian negara. Begini-begini tempat kursus saya sudah 11 kali menyelenggarakan ujian negara untuk kategori menghias kue. Cuma saja beberapa tahun terakhir ini saya lebih konsenterasi mengajar di Amerika hingga belum sempat membuka ujian negara lagi. Soalnya untuk ujian seperti ini persiapannya panjang, bisa setahun dimuka, lo. Oh ya, ini yang sejak tadi ingin saya tanyakan. Anda mengajar menghias kue di Amerika. Padahal Anda, kan, belajar juga di sana. Rupanya murid sudah jadi lebih pandai dari gurunya, ya? Ha...ha...ha... Bukan begitu sebetulnya. Di sana saya mengajar membuat gumpaste dan palette painting. Kebetulan saja saya bisa menemukan teknik membuat gumpaste yang lebih praktis secara teknik pembuatan. Gumpaste buatan mereka cenderung simpel, tetapi pengerjaannya lama. Nah, saya menciptakan teknik yang cepat, tetapi hasilnya bisa bermacam-macam. Dan gumpaste kita juga punya keistimewaan, yaitu tahan terhadap kelembapan. Maklumlah kita tinggal di negara tropis yang lembap. Jadi tahan lama, dong? Iya, sejak dibuat bisa bertahan sampai 2 tahun, lo. Dan hasilnya juga bisa dimakan. Tapi bagaimana ceritanya Anda diminta mengajar di sana? Ini ada hubungannya dengan ICES (International Cake Exploration Society), yakni perkumpulan para pakar yang tertarik pada art cake. Anggotanya terdiri dari 4.500 orang yang tersebar di seluruh dunia. Setiap tahun kami berkumpul di negara tertentu untuk berbagi ilmu, diskusi, dan pameran. Saya menjadi anggota perkumpulan ini sejak tahun 1982. Dua tahun kemudian, dalam salah satu pameran yang diselenggarakan ICES, ada yang mengajak saya mengajar. Setelah itu hampir setiap tahun saya diundang, entah untuk mengajar di universitas, tempat kursus, atau di perusahaan bahan kue. Anda pasti bangga? Ha...ha...ha... Betul. Tetapi yang lebih penting sebetulnya, saya ingin membuat Indonesia tidak terlupakan. Saya ingin mereka melihat Indonesia juga oke di bidang ini. Apa, sih, selama ini yang Anda perkenalkan hingga mereka tertarik? Wah, macam-macam. Selain teknik praktis yang saya sebut tadi, juga bentuk-bentuk indah. Mereka amat suka bunga dan bentuk-bentuk lucu. Dulu sekali ketika pameran di Kanada saya bikin gumpaste yang bergaya Jawa. Wah, sambutannya bukan main. Saya diwawancarai di mana-mana dan dapat kesempatan mengajar di Kanada. Tahun 2.000 kemarin, saya membawa hiasan anjing dalam keranjang mawar. Wah, bukan main sukanya mereka. Saya juga mengajar palette painting, yang indah, meski pembuatannya cuma sekadar dicolek-colek. Saya juga pernah diminta mengajar di Johar Baru Malaysia. Tahun ini pun Anda akan terbang ke Amerika lagi untuk keperluan yang sama? Tahun ini convention akan diadakan di Portland, Oregon, 12 Agustus mendatang. Makanya saya sekarang juga sedang mengajak orang yang berminat bergabung dalam ICES. Syaratnya mudah, kok. Yang penting sudah bergerak di bidang art cake minimal 10 tahun. Saya titip pesan lewat Sedap Sekejap, mereka yang ingin menjadi anggota bisa menghubungi saya. Begitu juga mereka yang cuma mau ikut convention. ada, kok, kelas untuk pemula. Mungkin cukup besar honor yang Anda terima di sana, ya? Ha...ha...ha...Tidak juga. Untuk setiap murid saya menerima sekitar 65 dolar Amerika. Ini untuk satu sessi. Kalau diminta mengajar 2 sampai 3 sessi, tentu lebih hasilnya. Tetapi ini tidak penting. Bagi saya, yang utama adalah memanfaatkan pertemuan ini untuk menimba ilmu. Anda sudah mengajar di berbagai negara, tetapi tampaknya tidak pernah membawa masakan atau kue Indonesia ke sana, ya? Bukan tidak mau sebetulnya, tetapi peminatnya yang tidak ada. Bagi masyarakat luar negeri masakan kita terlalu spicy (berbumbu tajam, Red.). Cake buatan kita pun terlalu lembut di lidah mereka. Saya pernah cerita, ini baru cerita, lo, bahwa kita punya kue lapis legit dan lapis surabaya yang enak dan terkenal. Waktu itu dengan bangga saya katakan bahwa bahannya kuning telur saja. Mereka bukan kagum, tetapi terkejut sekali. "Wah, itu kue yang tinggi lemak," kata mereka separuh mengejek. Oh, kalau begitu beda selera, ya? Tepat sekali. Mereka sukanya kue yang keras. Untuk satu loyang kue paling-paling dibutuhkan 2 butir telur. Tetapi pemakaian terigunya banyak sekali. Untuk 2 telur bisa dipakai 200 gram tepung terigu. Makanya mereka suka sekali makan muffin yang padat. Cake yang disukai masyarakat Amerika adalah jenis pound cake, peringkat berikutnya adalah fruit cake. Di Australia sebaliknya. Fruit cake termasuk cake yang paling digemari. Pound cake sesudahnya. Bagaimana dengan kue tradisional? Wah, ini apa lagi. Mereka tidak mau belajar mengenal kue-kue kita. Itulah, susahnya. Ya, tidak usah jauh-jauh, di Malaysia pun mereka lebih suka kue modern. Orang Malaysia paling senang kalau diajarkan membuat tiramisu. Jadi, saya datang ke sana pun antara lain untuk mengajar hidangan penutup tersebut. Untuk bisa menjadi pembuat gumpaste berapa lama kita harus belajar? Untuk pemula, sebetulnya cukup 2 minggu. Hasilnya memang belum luwes betul. Tetapi kelak bentuknya akan semakin indah setelah latihan keras dan teratur. Kembali ke kursus Dian. Meski sudah 26 tahun usianya, kok, ya, tetap laris,sih. Apa rahasianya? Saya rajin menimba ilmu. Sampai sekarang saya masih ikut kursus ke luar negeri. Selain itu saya juga bekerja sama dengan perusahaan bahan kue di luar negeri. Mereka bersedia memberikan pelajaran gratis, asal saya memakai bahan buatan mereka. Nah, dalam pelajaran itu dibeberkan bukan saja teknik baru, tetapi juga kue yang sedang populer saat ini. Anda juga menerima pesanan kue? Iya, tetapi tidak besar-besaran, hanya dipasarkan di tempat kursus. Kue spesialis saya adalah lapis surabaya. Sehari bisalah terjual sampai 20 kue. Saya juga menjual roti. Selama ini, keluarga ikut mendukung kegiatan Anda? Wah, iya, dong, terutama suami yang banyak mendukung di bidang produksi. Dia juga selalu ikut ke luar negeri untuk memberi semangat. Tanpa keluarga, saya kira, saya tidak bisa seberhasil sekarang. sdp@Rika Eridani, Semy/ foto-foto : dok. pribadi. |
posted by Rika @ 1:09 PM  |
|
|
|
|
| Sedap Sekejap Edisi 10/I-September 2000 |
Jajanan Bogor Yang Selalu Dirindukan Banyak Orang
Dahulu kala kota Bogor selalu dikunjungi orang-orang Jakarta atau daerah sekitarnya karena kota ini terkenal keindahan dan udaranya yang nyaman. Kini kota Hujan ini pun masih ramah menyambut "tamu-tamunya" di hari Minggu atau hari libur. Tetapi sekarang orang datang ke sini untuk bersantap. "Jajanannya betul-betul bikin kangen," kata para tamu itu. Nah, inilah seperangkat jajanan yang setia menarik pengunjung datang ke Bogor. ES PALA DAN ES MANGGA Es pala dan es mangga selalu bisa kita temukan di berbagai tempat jajanan. Misalnya, di ruko Siliwangi yang menjual Asinan Sedap. Isinya tentu berupa pala atau mangga yang diserut lalu dimaniskan. Rasanya segar dan asam manis. Per gelas harganya Rp 2.500 atau per kilonya Rp. 6.000. Jimmy salah satu penjual es mangga di Siliwangi itu menyebutkan, ia bisa menghabiskan 15 kilogram mangga dalam sehari. "Belanjanya sih dekat, di Pasar Bogor saja, tapi pernah suatu kali susah sekali dapat mangga, terpaksa beli sampai ke Pasar Kramat Jati, Jakarta," tuturnya. Kalau sedang bukan musim mangga, dan harga mangga menjadi sangat tinggi, Jimmy terpaksa menaikkan harga atau mengurangi isi es mangganya. " Kalau sampai benar-benar kosong, barulah tidak jualan es mangga," terangnya. COLENAK Nah, nama makanan ini rasanya tak asing di telinga kita. Colenak merupakan kepanjangan dari 'dicocol enak'. Makanan yang terdiri dari tapai singkong atau pisang yang dipanggang ini memang disajikan sambil dicocol larutan gula. Kini di atasnya ditaburi kerokan daging kelapa muda. Sebagai makanan khas, Colenak bertebaran di mana-mana. Salah satu warung Colenak yang terkenal dari dahulu sampai sekarang adalah di Jl. Sukamulya II. Untuk menuju lokasi Saung Cholenak Sukamulya II No. 19, Anda harus sedikit jalan kaki karena letaknya cuma di jalan kecil. "Dari dulu (tahun 70-an, Red.) tempat ini jadi tempat nongkrong anak-anak sekolah se-Bogor," ujar Pak Hasym bangga. Selain Colenak pisang atau tapai yang jadi andalan, ada menu lain yang banyak dipesan oleh pelanggan Saung Cholenak, yaitu, asinan jagung dan es moka kelapa muda. Sambil menikmati hangatnya colenak, kita bisa melayangkan pemandangan sekitar. Soalnya lokasi saung ini cukup tinggi. Asinan jagung adalah pipilan jagung bakar dan irisan ketimun yang disiram cuka yang sudah dimasak bersama cabai, garam, dan gula. Dagangan ini pun cukup banyak bertebaran di Bogor. Selain di Sukamulya, asinan jagung yang mangkal terletak di Ruko Siliwangi (di depan Roti Venus). LOTEK Bentuk makanan ini tidak asing buat kita. Ada sayuran kangkung, kol, tauge kacang panjang dan wortel. Ditambah lagi potongan kentang dan tahu, disajikan dengan saus kacang tanah. Untuk orang Jakarta, kita biasa menyebut sebagai gado-gado. "Disebut lotek, gado-gado, atau pecel ya enggak apa-apa. Yang penting pembeli suka dengan lotek ini," ujar Ibu Ikah yang meneruskan usaha neneknya, Ibu Min. Nama Ibu Min selanjutnya menjadi trademark lotek yang ada sejak 32 tahun lalu. "Selain dikenal sebagai Lotek Ibu Min, biasanya orang nyebut juga Lotek Bubulak. Soalnya lokasinya, kan, di daerah Bubulak. Lotek Ibu Min atau Lotek Bubulak ini ada di Jl. R.E. Martadinata. Dari arah air mancur Jl. Jend. Sudirman, warung loteknya ada di sebelah kanan, sebelum jembatan Bubulak. Warung sederhana ini tidak saja menyediakan lotek. Kalau ingin yang segar-segar, kita bisa memesan rujak ulek, keredok, ketoprak atau baso. Saking banyak penggemar lotek ini, Ibu Ikah harus menyediakan 50 kg kacang tanah setiap 4 hari. "Dulu sebelum krisis, mah, kacang 50 kilogram bisa habis dalam 2 hari saja," jelasnya. ES PUTER Es puter tentu bukan minuman khas Bogor, tetapi ada es puter yang salalu diminati pengunjung kota Bogor. Yakni Es Puter Mas Doto. Letaknya di Jl. Sukasari. Tak usah heran kalau es ini demikian terkenal karena Mas Doto sudah berjualan es sejak tahun 60- an. Rasa manis esnya benar-benar dari gula. Tiap kali produksi, per hari, Doto bisa membuat sampai 100 liter. Biasanya tiap hari rasanya dibuat berganti-ganti. Kadang kelapa muda, kadang avokad, nangka, dan durian. "Ya, tergantung musimlah," jelas Pak Doto. Menikmati es puter ini tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Bila disantap bersama roti harganya cuma Rp.1.000. Tetapi bila ingin diminum ramai-ramai, Anda bisa membeli per liter. Nah, yang ini harganya Rp. 8.000. Es puter yang kini juga ngetrend di Bogor adalah es puter durian. Uniknya si durian masih dibiarkan bersama bijinya dan diletakkan di dasar gelas. Jadi, makan es krim durian serasa makan durian sambil disendoki. NGOHIANG, LOMI, DAN PANGSIT PENGANTIN Ketiganya sering kali mangkal bersamaan. Ngohiang adalah daging yang digulung dalam kulit dan digoreng bersama adonan tepung. Tentu sesuai namanya, ada rasa bumbu ngohiang yang cukup tajam dan khas. Ngohiang Bogor agak berbeda dengan ngohiang yang kita kenal selama ini. Selain adonan dan komposisi bahan yang berbeda, cara penyelesaiannya lain, yakni digoreng dalam larutan tepung. Sausnya pun khas, lo. Warnanya cokelat muda dan kental, bukan saus sambal seperti yang kita kenal selama ini. Irisan ngohiang disantap bersama kentang goreng, tahu goreng, dan asinan lobak. Harga satu lonjor ngohiang Rp. 6.000, sementara tahu dan kentang gorengnya masing-masing Rp. 2.000. Lomi pun memiliki saus yang mirip, tetapi tentu lebih gurih karena dibuat dari kaldu daging dan ebi. Isinya seperti mi kangkung, yakni mi, kangkung, dan taoge. Tetapi kuahnya kental. Pangsit pengantin adalah sup yang isinya terdiri dari irisan ayam, irisan sayuran, soun, dan rolade ikan/ udang. Rasanya tentu saja sedap. Ketiga makanan ini dapat Anda nikmati di Jl. Sukasari, Jl. Siliwangi (di seberang Ruko Asinan Sedap), dan masih banyak tempat lain. sdp@Rika Eridani, foto-foto: Veri Valensi |
posted by Rika @ 1:07 PM  |
|
|
|
|
| Sedap Sekejap Edisi 7/I-Juni 2000 |
| Kedai-kedai Es Krim di Jakarta Menawarkan Es Krim Lezat Sekaligus Tempat Yang Nyaman Jakarta betul-betul menawarkan aneka hidangan. Tak ketinggalan juga es krimnya. Dari es krim dengan resep Belanda, Italia, sampai resep luar yang sudah dimodifikasi agar sesuai dengan selera Indonesia. Bentuknya pun makin variatif, begitu juga jenisnya. Nah, mari kita kunjungi kedai demi kedai. ES KRIM RAGUSA, TEMPAT UNTUK BERNOSTALGIA Dahulu di Batavia tahun 1932, es krim Ragusa dijual hanya setahun sekali selama satu bulan di acara Pasar Gambir, semacam pasar malam. Cara menjualnya pun menggunakan gerobak dorong. Karena peminat makin banyak, tahun 1947 Ragusa bersaudara memutuskan membuka kedai es krim secara menetap di Jl Veteran I no. 10 sampai saat ini. Pemiliknya adalah dua bersaudara asal Italia Luigi dan Vincenso. Begitu sibuknya mereka melayani pelanggan, sampai-sampai keduanya mendatangkan adik-adiknya dari Italia. Salah satu adik bungsu Luigi jatuh cinta pada sang kasir yang orang Indonesia. Pasangan ini kemudian diserahkan meneruskan usaha yang kian berkembang itu. Kakak sang kasir, Buntoro Kurniawan yang semula guru pun diajak serta membantu. Akhirnya malah Buntoro-lah yang memegang kendali ketika kakaknya memutuskan hijrah ke Italia. Tantangan terberat yang dihadapi Buntoro saat itu, bagaimana mempertahankan jumlah pengunjung bahkan kalau bisa meningkatkannya. Untuk itu ia berusaha agar tidak terlihat ada perubahan sedikit pun di ruangan tersebut. "Ruangan ini apa adanya dari tahun 40-an. Baik dekor tembok maupun kursi rotan. Kalau rusak, kita perbaiki saja. Bahkan cash register-nya pun masih sama. Saya menganggap semua barang di sini bersejarah," cetus Buntoro. Keadaan yang tidak diubah ini membuat pelanggan masih bisa bernostalgia dengan lengkap. Pelanggan Ragusa yang sudah tua pun masih senang datang ke situ. "Beberapa di antaranya diantar cucu. Bahkan ada, lo kakek nenek Belanda yang menangis terharu karena masih bisa menemukan kedai Ragusa dan bersantap di sini," jelas Buntoro bangga. Sambil meladeni mereka kadang Buntoro mendengar cerita pelanggannya yang sedang bernostalgia. "Mereka menyebut, di balik tembok itu mereka berpacaran dulu," kata Buntoro menunjuk salah satu dinding sambil tertawa. Selain dekorasi yang tetap dipertahankan, ada satu hal lagi yang membuat kita ingin kembali dan kembali, yakni rasanya yang tetap enak. "Saya jamin, deh, kalau mau betul-betul makan es krim, ya, Ragusa-lah tempatnya," janji Pak Buntoro. Ciri khas es krim Ragusa , jelas Buntoro selalu dibuat dalam keadaan segar. Hari ini dibikin, habis pula saat itu. Kalau habis, mereka membuatnya kembali. "Cara ini terpaksa kami lakukan karena tanpa bahan pengawet," tandasnya. Banana split dan es krim spageti merupakan es krim yang paling laris. Jangan mengira ada campuran pasta di dalam es krim. Ini cuma es krim yang dibentuk panjang-panjang mirip spageti lalu ditaburi nogat dan sukade. Untuk bisa menikmati es krim Ragusa, tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam. Satu scoop es krim hanya berkisar Rp.4000. Tahun 1976, Buntoro dan istrinya, Sias Mawarni memutuskan menambah kedai baru di Duta merlin. Kini cabang-cabang Ragusa tersedia di mana-mana. Antara lain di Slipi, Ratu Plaza, dan Klender. "Beberapa di antaranya memang terpaksa di tutup karena pertokoannya tutup dan beberapa lagi terkena kerusuhan Mei 1997 lalu," papar Buntoro. Promosi es krim Ragusa sendiri hanya dari mulut ke mulut. Dari orang tua ke anak, dari teman ke teman. "Mereka saling ajak teman, ajak saudara. Tentu saja juga karena peliputan pihak pers." Akibatnya kini kedai Ragusa selalu penuh. Bahkan di hari Sabtu dan Minggu sudah bagi para pelanggan mencari tempat duduk. Meskipun begitu Buntoro enggan mencari tempat yang lebih luas. Kecuali soal keamanan dan kemudahan transportasi, alasannya, ya itu tadi, tempat ini selalu jadi tempat untuk bernostalgia bagi para pelanggannya. ES KRIM LA REASSA, BERMAIN DI BENTUK CANTIK Untuk menarik minat pembeli, agaknya tak cuma diperlukan resep es krim andal yang lezat. Pengaruh bentuk pun turut berperan. Pasangan Ny. Lilliani dan Ny. Yoko H. Sulistio, pemilik perusahaan es krim La Reassa sangat menyadari hal itu. Makanya ketika mereka beralih dari perusahaan katering ke perusahaan es krim sekitar tahun 1991, mereka lantas membuat es krim dalam bentuk unik. "Sebetulnya kami sudah mulai dengan Ice Cake (es krim dalam bentuk cake) tahun 1988," ujar Lilliani. Namun, lanjutnya, karena tidak terpegang, sementara keluarga pun menuntut perhatian, keduanya lantas memutuskan untuk betul-betul berkonsenterasi pada usaha es krim. Kreativitas Lilliani maupun Yoko tak sampai di situ. Mereka terus memikirkan bentuk-bentuk yang lebih inovatif, tentu juga resepnya yang sampai sekarang pun masih terus diperbaiki dan dikembangkan. Lewat pemikiran yang matang, mereka pun kemudian menciptakan es krim dalam bentuk potongan kecil yang disiram cokelat lalu dihias di bagian atas. Hasilnya memang luar biasa. Es krim mini bentuk kotak, setengah lingkaran, dan segitiga ini terdiri dari rasa cokelat, moka, dan vanila. "Es krim cantik ini betul-betul ciptaan dan ciri khas kami. Karena itu kami ingin memberi nama yang betul-betul spektakuler. Maka saya menghubungi dosen bahasa Inggris saya di Atmajaya, kalau-kalau ia tahu nama yang pantas," kisah Yoko. Sang dosen kemudian memang menghadiahkan sebuah nama cantik sesuai dengan bentuk es krimnya yakni dainty ice cream. Artinya, kecil, cantik, enak, dan lucu. Meski sudah dapat menghasilkan es krim spektakulier, Lilliany dan Yoko tidak mau berhenti mencipta. Belakangan mereka menciptakan beragam variasi seperti low calory ice cream, diabetic ice cream, es putar, crunchy ice cream sampai es krim yoghurt nan segar. "Dengan begitu mereka yang sudah gemuk maupun sakit gula tak perlu takut menyantap es krim," jelas Liliani. Bagaimana dengan resepnya? Keduanya mengaku belajar dari berbagai ahli di samping ikut seminar. "Dari berbagai ilmu yang sudah kita dapat itu, kita olah dan sesuaikan dengan citarasa Indonesia dan Jawa. Maklumlah kita orang Jawa, kan? Ha...ha...ha...," canda Lilliani. Untungnya pula, tambah Yoko, mereka punya teman yang belajar food technology. "Kami minta saran, bagaimana membuat es krim yang enak dengan campuran yang tepat. Tapi sampai sekarang, kita terus memperbaiki resep. Soalnya, kan, banyak bahan baru dan teknologi baru. Jadi terus ada pengembangan, termasuk pengembangan resep agar pelanggan tidak bosan." Harapan mereka untuk membuat pelanggan tidak bosan memang berhasil. Lihat saja es krim jenis low calorie-nya yang banyak macamnya seperti cokelat, moka, stroberi, jeruk, blueberry, jambu biji, fancy, dan leci. Belum lagi jenis lainnya. Untuk es putar saja tersedia kopyor kombinasi antara lain dengan ketan item, moka, advokad, durian, dan jagung. "Untuk cokelat kombinasi kami padankan dengan kelapa muda, nangka, kacang hijau, kacang merah, dan tape kelapa," jelas Yoko bangga. Bantuk es krim pun divariasikan sedemikian rupa. Ada yang berbentuk oval (ini untuk jenis cake es krim), persegi untuk cake es krim dari kelapa. Es krim jenis cake ini dijual antara Rp 115.000- hingga Rp 315.000, tergantung besar ukurannya. Sementara untuk jenis dainty dijual antara Rp 100.000 hingga Rp 190.000, tergantung jumlahnya. Minimal pembelian harus 45 buah. La Reassa juga menyediakan cup-cup kecil yang berisi satu atau dua scoop. Harga per cup juga bervariasi antara Rp 2500 - Rp 3500. Meski melakukan bisnis es krim lebih mudah karena waktu pembuatan bisa diatur, toh, ada juga hambatannya. "Yang paling susah, ya, menyediakan dry ice. Kalau sudah kosong, kami tidak bisa mengantar pesanan," kata Lilliani. Karena hambatan ini, mereka sampai-sampai membayar di muka bila memesan dry ice di hari raya. "Habis pabriknya, kan, cuma dua di Palembang dan Lampung. Begitu pabrik berhenti produksi karena listrik mati, misalnya, susahlah kita," keluh Yoko. Perkara listrik juga tentu jadi masalah untuk La Reassa. Kalau matinya cuma setengah hari masih lumayan. Karena suhu freezer di bawah 45 derajat Celcius. Karena pertimbangan ini pula La Reassa segan membuka outlet di supermarket, misalnya. "Kami pernah lihat es krim yang cair karena listrik mati. Nah, kalau di luar pengawasan kami seperti ini, kami takut mutunya tidak terkontrol," kata Yoko yang sehari bisa menghasilkan 50 liter es krim ini. sdp@Rika Eridani, foto-foto: Veri Valensi |
posted by Rika @ 1:05 PM  |
|
|
|
|
|