Kenapa Cangkir Kopi Pagi Kita Terasa Makin Berat

, , No Comments
Kenapa Cangkir Kopi Pagi Kita Terasa Makin Berat

Aroma roti panggang dan seduhan kopi hangat selalu menjadi cara terbaik untuk menyambut pagi, menemani kita melangkah melewati kesibukan harian tanpa banyak berpikir panjang. Kita biasanya hanya menuang, menyeruput, lalu melanjutkan hari, seolah cangkir di tangan kita tidak pernah berubah sejak dulu. Tapi tahukah kita, di balik ritual pagi yang sangat akrab ini, ada sebuah pergeseran diam-diam yang terjadi di dalam cangkir kopi di seluruh penjuru Amerika, dan para peneliti akhirnya berhasil menghitung angka-angka di balik perubahan tersebut?

Cerita ini bermula ketika tim peneliti dari Universitas Tufts meneliti kebiasaan pola makan lewat survei kesehatan nasional yang merentang dari tahun 2003 hingga 2018. Mereka menemukan fakta yang cukup menarik bahwa jumlah rata-rata kopi yang diminum orang sebenarnya tetap stabil di angka sekitar tiga belas ons sehari. Namun, kalori yang bersembunyi di dalam cairan hitam itu justru melompat naik hingga hampir empat puluh persen, merayap dari rata-rata empat puluh tiga kalori menjadi sekitar enam puluh kalori per hari. Kita mungkin langsung menduga bahwa gula atau sirop manis yang menjadi biang keladi bertambahnya energi ekstra ini, tetapi data justru mengungkap cerita lain yang cukup mengejutkan.

Ternyata, gula dan sirop bukan lagi penyumbang kalori terbesar di dalam cangkir kopi kita sekarang. Mahkota penambah kalori terbanyak kini justru dipegang oleh krimer non-susu yang rasanya gurih dan memanjakan lidah. Dari data yang melibatkan tiga puluh ribu orang dewasa Amerika, terungkap bahwa susu sapi memang masih menjadi bahan tambahan yang paling banyak dipakai berdasarkan beratnya, tetapi krimer non-susu mengalami lonjakan popularitas yang luar biasa seiring orang-orang beralih ke pilihan nabati. Selama kurun waktu limabelas tahun tersebut, konsumsi krimer non-susu melonjak lebih dari dua kali lipat, membuat sumbangan kalorinya melesat dari yang tadinya hanya 7,71 kalori menjadi 18,5 kalori, dan sukses mengalahkan gula yang berada di angka 16 kalori serta susu sapi di angka 11 kalori.

Lonjakan kalori ini tentu bukan tanpa alasan, sebab krimer non-susu pada dasarnya memang kaya akan lemak jenuh yang membuatnya begitu padat kalori. Peneliti utama, Yongyi Pan, mencatat bahwa meskipun krimer jenis ini sudah ada sejak tahun 1950-an, lonjakan penggunaannya baru-baru ini mencerminkan perubahan budaya yang lebih luas menuju gaya hidup bebas susu. Menariknya lagi, studi tersebut juga melihat kebiasaan kecil kita sehari-hari, di mana orang dewasa yang bekerja lebih lama atau kurang tidur ternyata cenderung menuang cangkir kopi lebih banyak, meskipun kualitas makanan mereka secara keseluruhan tidak memengaruhi seberapa banyak kopi yang mereka nikmati.

Bukankah selalu mengasyikkan melihat bagaimana kebiasaan kecil kita berubah tanpa kita sadari sepenuhnya? Tidakkah kita terkadang lupa seberapa cepat tambahan sesendok demi sesendok itu menumpuk di dalam cangkir pagi kita? Tentu saja tidak ada keharusan untuk meninggalkan rutinitas yang memberi kenyamanan ini, tetapi memahami apa yang sebenarnya kita tuang ke dalam cangkir tentu membuat waktu minum kopi terasa lebih menyenangkan. Coba ceritakan, apakah kita lebih suka menikmati kopi hitam pekat tanpa tambahan apa pun, atau justru diam-diam menyukai krimer gurih untuk mengawali pagi dengan sempurna?

sumber: sciencedaily.com/261021231224.htm

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: ScienceDaily Nutrition

0 comments: